
"Mas"
"Hn?"
"Menurutmu mike itu bagaimana?" Tanya asya pada dirga
Dirga terdiam sejenak, ia hanya memandang asya yang tampak fokus pada kemudinya. Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit dan asyalah yang saat ini sedang mengemudi, istrinya itu tadi bersikeras ingin mengemudi dan akhirnya dirga setuju
"Sesungguhnya dia anak yang baik, namun mentalnya yang memang sudah rusak sulit untuk diperbaiki sehingga meninggalkan bekas yang cukup dalam" ucap dirga dengan tenang
Asya hanya sekilas menoleh dan melihat dirga tanpa mengeluarkan sepatah katapun
"Kau tau ra, sejak ada kau keadaan mike lebih stabil. Apalagi sekarang ada keluargamu juga yang bersikap ramah dan menganggapnya keluarga keadaannya menjadi lebih baik, aku sangat berharap ia bisa terus menjadi manusia normal begini" dirga menjeda kalimatnya sejenak
"Dia sedari awal hanya anak tunggal, lalu setelah orang tuanya tiada ia menjadi sebatang kara. Kehilangan semangat hidup, kehilangan harapan, sendirian, dan kesepian.
Mike bertahan untuk hidup karena percaya bahwa ia masih memiliki aku, lalu setiap kali kegelapan mengerikan dari trauma itu menghantui. Kemudian iapun menyakiti dirinya sendiri
Selama ini ia bertahan hidup dengan menghancurkan dirinya sendiri yang memang sudah rusak dari dalam. Aku tidak pernah berhasil menolongnya dari kegelapan yang merengkuh jiwanya, sejujurnya setiap kali mike menyakiti orang lain ia juga merasakan sakit. Namun itu adalah caranya bertahan dari sayatan dalam jiwa yang ia rasakan". Sorot mata dirga menggambarkan rasa sedih dan sakit yang terasa memilukan
Asya yang ikut merasakan kepedihan dari ucapan dirga berusaha menguatkannya, ia meraih tangan dirga dengan tangannya yang bebas dan menggenggamnya. Dirga yang menyadarinya tersenyum dan mencium tangan asya, berusaha meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.
"Lalu sosokmu yang terlihat seperti seorang ibu bagi mike merubahnya" sambung dirga
"Aku? Seperti ibunya?" Tanya asya yang kebingungan
"Benar ra. Dulu Mami, ibunya mike selalu menegurnya tetapi juga selalu mengkhawatirkannya. Sosoknya yang hangat dan selalu berusaha menebarkan hal positif pada semua orang sangat mirip denganmu" sahut dirga dengan anggukan ringan darinya
"Apa benar-benar mirip?" Tanya asya meyakinkan
"Iya, bahkan sikap cerewetmu ketika marah dan cuek jika tidak perduli sangat persis" dirga terkekeh ketika mengucapkannya
"Dasar" asya yang kesal memukul tangan dirga yang sebelumnya ia genggam
"Aku jujur ra" sahut dirga masih dengan terkekeh. Sedangkan asya yang masih kesal tak menanggapinya
"Itulah sebabnya mike menjadi anak penurut padamu, sebelumnya dia tak pernah mau jika kuajak mengaji atau kemasjid, tetapi karna kau yang mengajak mike tidak akan menolak. Ia bahkan dengan senang hati pergi bersamamu keacara kajian, kalau kulihat lagi sepertinya ia juga sholat dengan inisiatif sendiri tanpa harus dipaksa" ungkap dirga dengan tersenyum tulus
"Memangnya dulu harus dipaksa?" Tanya asya dan Dirga mengangguk sebagai pembenaran
"Itulah sebabnya dia tak mau tinggal dirumahku dan memilih tinggal dirumahnya sendiri, karna dia tak mau aku memaksanya hanya untuk sekedar melaksanakan ibadah"
"Aku hampir tidak percaya mengingat bagaimana ia bersemangat ketika aku mengajaknya mengaji dan betapa seringnya ia menginap dikediaman kita" ungkap asya dengan keterkejutannya setelah mendengar penjelasan dirga
"Ia akan sangat berusaha membuatmu senang" sahut dirga
__ADS_1
"Seperti ia melakukan untuk ibunya?" Tanya asya lagi
"Benar" jawab dirga disertai anggukan yakin
"Aku jadi terdengar hebat" asya tertawa ringan ketika mengatakannya
"Akhir-akhir ini aku juga melihat psikisnya semakin membaik"
Asya yang mendengarnya hanya menoleh dengan tatapan bertanya-tanya
"Selain dia yang tampak lebih rajin beribadah, mike juga tidak pernah pergi ke club untuk minum-minum lagi dan emosinya juga lebih stabil" ucap dirga dengan raut bahagia yang tergambar jelas diwajahnya
"Dari mana mas tau?" Tanya asya yang penasaran kira-kira dari mana suaminya itu bisa mendapat informasi yang seharusnya menjadi hal pribadi seperti itu
"Selain aku yang memang melihat sendiri karena dia menginap dikediaman kita aku juga selalu mengawasi kemana ia pergi, aku juga akan segera mendapat informasi jika ia datang ke club. Selain itu juga tidak ada kabar bahwa pelayan dikediamannya berkurang" ujar dirga
"Jika kau bertanya darimana informasi itu kudapat, maka biar kuberi tahu padamu bahwa pemilik club yang selalu didatangi mike adalah geonino teman kami. Jadi dia akan segera memberitahuku jika mike disana
Karena mike bisa sangat berbahaya jika mabuk dan itu akan merugikannya, sehingga aku bisa menjemputnya sebelum ia membuat onar. Lalu setiap kali mike merasa emosi dia akan melampiaskannya dengan segera, jika dia tidak punya musuh yang bisa dijadikan sasaran, maka ia akan melampiaskannya pada pelayan yang ada dirumahnya.
Mike tidak bisa mengendalikan emosinya setiap kali rasa sakit dari traumanya muncul kepermukaan. Dan fakta bahwa kondisi psikisnya membaik juga didukung oleh kenyataan bahwa dia selalu berada disekitarmu, sehingga aku bisa mengawasinya secara langsung" dirga segera menjelaskan sebelum asya kembali bertanya
"Saat ini yang perlu kita lakukan adalah membuat mike selalu memandang dari sudut positif, karena jika sedikit saja ada hal negatif yang terlihat dari pandangannya itu bisa berbahaya" peringat dirga
"Sifat posesif dan sisi psikopatnya bisa muncul, hal ini dikarenakan mike tidak ingin kehilangan keluarganya" asya yang faham ucapan dirga langsung menyahutinya
***
Asya dan dirga telah tiba dirumah dan fauzia langsung menyambut mereka, ibu hamil itu tampak gembira ketika melihat asya membawakan makanan favorit mereka sekeluarga
"Taraaa... Aku membawa sate untuk makan malam kita hari ini" asya mengatakannya dengan mengangkat kantung besar digenggamannya dihadapan fauzia
"Masyaallah, mbak udah kangen banget suasana makan sate bersama dek" fauzia berucap dengan mata yang berbinar-binar
"Kakak ipar, itu sate apa?" Tanya mike yang baru muncul karena mendengar suara ribut fauzia
"Ada sate ayam favorite uma sama nathan, sate kambing untuk abi, mas adam dan mbak fauzia. Sate daging untuk kita yang alergi kambing" asya mengucapkannya dengan alis yang naik turun menggoda
"Kakak ipar memang pengertian" ucapnya dengan gembira
"Lah terus gimana sama dirga dek?" Tanya fauzia yang mengoreksi ucapan asya
"Mas dirga mah aman kok mbak, dia bisa makan semua jadi bebas milih mana yang mau dimakan nanti" ungkap asya dengan santai
"Oh okay. Yaudah sini kasih mbak sama mike aja biar kita siapin" tawar ibu hamil itu dengan mengambil bungkusan yang dibawa asya
__ADS_1
"Biar kubantu mbak"
"Nggak usah ra, mending kalian mandi gih. Trus nanti kita makan bersama" tolak fauzia
"Bener tuh. Kalian bau rumah sakit" ledek mike dengan menutup hidungnya
Asya dan dirga yang melihatnya hanya memutar mata bosan, lalu segera bergegas dari sana setelah mike mengambil kantung yang dibawa oleh dirga
***
Mereka tampak akrab ketika dimeja makan, sesekali bergurau dan saling berbagi cerita. Acara makan malam mereka telah usai namun acara berbincang-bincang mereka belum usai. mereka masih tetap disana, disuasana yang membuat nyaman
Ditengah perbincangan menyenangkan itu tiba-tiba saja ponsel mike berdering, membuat mike terpaksa undur diri untuk menerima panggilan tersebut.
Selang tak beberapa lama mike kembali dengan pandangan bersalah
"Maaf semuanya, tapi aku harus segera pergi karena ada tamu dirumahku"
"Baiklah nak, lain hari datanglah lagi. Toh kakakmu juga akan disini selama seminggu" ucap ahmad dengan ramah
Berdasarkan budaya tradisi jawa maka anak yang baru menikah akan pindah kerumah suaminya setelah tujuh hari. Tidak boleh kurang dari itu kecuali orangtua dari pihak mempelai pria mengadakan acara unduh mantu, dimana setelah acara temu manten dirumah mempelai wanita maka akan langsung diboyong kekediaman pihak mempelai pria.
Setelah berpamitan mike pun segera berangkat pulang dengan mengendarai mobilnya
"Hati-hati dijalan mike, jangan mengebut ketika berkemudi" asya dan dirga mengantar mike hingga depan teras
"Baik kakak ipar" mike berucap dengan tersenyum manis sebelum akhirnya masuk kedalam mobilnya
"Tenanglah ra" dirga mengusap punggung asya untuk menenangkan istrinya itu, ia bisa menangkap rasa khawatir dari tatapannya
"firasatku tidak enak mas"
.
.
.
.
.
PRAKATA DARI PENULIS;
**Penulis mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan pembaca sekalian hingga detik ini.
__ADS_1
penulis harap kalian tidak bosan dengan cerita ini dan bersedia meninggalkan sedikit jejak, karena respon anda adalah semangat saya**.