
Bulan tampak indah menghiasi langit, ditemani bintang yang senantiasa berkerlap-kerlip. Eksistensinya mampu mengalahkan dinginnya udara dan gelapnya suasana
waktu masih menunjukkan pukul 01 dini hari, dirga dan asya baru saja selesai melaksanakan sholat tahajud dan bersiap kembali melanjutkan tidurnya
Ketika mereka mendengar sesuatu dari luar sana yang cukup mengusik keadaan diwaktu saat ini yang masih gelap-gulita, sehingga akhirnya melimih mencari tau, mereka tengah berdiri dibalik jendela kaca besar kamar mereka untuk memantau keadaan dalam diam.
"Mas?"
"Hn" sahut dirga
"Sepertinya ada sesuatu yang kurang baik terjadi, lihatlah kewaspadaan penjaga yang tampak meningkat" ucap asya yang menyadari keadaan
terlihat dari banyaknya penjaga yang saling bergantian berkeliling dan berjaga
"Ini sudah terjadi sejak beberapa hari yang lalu ra" sahut dirga tenang dengan tatapan yang masih lurus kedepan
"Sungguh?" Tanya asya, seingatnya hal ini baru disadarinya. apakah mungkin perihal peningkatan keamanan itu memang sudah terjadi selama beberapa hari
Segera ia berbalik menatap dirga dengan seksama, dirga memang berdiri tepat dibelakangnya dan ikut melihat apa yang terjadi
"Tenanglah sayang, tidak apa semuanya baik-baik saja" ditatapnya asya dengan sedikit tersenyum agar wanita itu tidak khawatir
dirga berusaha meyakinkan asya bahwa hal seperti ini bukanlah hal yang buruk dan sudah sering terjadi
"Apakah selalu seperti ini hari-harimu dilalui?" Tanya asya
Entah mengapa ucapan itu terdengar sederhana namun menyiratkan sesuatu yang sulit dan mendalam, secara tidak langsung asya bertanya apakah selalu seperti ini hari-hari yang kau lalui, hari menegangkan dan berbahaya, dipenuhi rasa was-was dan kewaspadaan.
"Tenanglah sayang, aku akan memastikan kau tetap aman dan baik-baik saja"
Dipeluknya asya dengan mengusap lembut helaian rambutnya, berusaha menyalurkan rasa nyaman
"Apa yang akan terjadi jika ada sesuatu, apa mas akan pergi dan menyelesaikan semuanya?" Tanya asya lagi, tersirat kekhawatiran dibalik suaranya
"Akulah yang memegang kendali atas mereka, jika terjadi keributan tentu aku harus turun tangan" jawab dirga dengan tenang
"Haruskah seperti itu? Tidakkah ada cara lain"
Asya membalas pelukan dirga dengan perlahan. hatinya merasa takut
"Kau harusnya sudah tau ra, sejak kau menabrakku didalam Bar Club malam itu. Kaupun harusnya sudah faham betul ketika aku menodongkan pistol dikepalamu dan juga para penjaga yang mencarimu ketika kau berusaha kabur"
(Emang susah ya ngomong sama orang pinter, ucapannya berasa question dilembar ujian semua. Isinya analisis ;be_Author)
Asya tentu saja tidak akan lupa dengan semua hal mengerikan menurutnya itu, bukankah dari sanalah awal kehidupan baru dengan pengalaman baru yang memicu adrenalin itu berawal.
Dimana dia tau bahwa pria yang saat ini menjadi suaminya adalah seseorang berdarah dingin dan salah satu penguasa dunia bawah yang terkenal bengis dan arogan, Dialah pria posesif namun layaknya setan yang menakutkan itu.
dan harusnya ia juga sudah tau bahwa kehidupan dirga dipenuhi bahaya yang selalu siap mengintai, tiba-tiba hal itu membuat asya menundukkan kepala dengan tatapan sendunya.
"Baiklah kesayanganku, ini masih tengah malam untuk mengobrol jadi sebaiknya kita lanjutkan istirahat kita" Ucap dirga sambil melepaskan pelukannya
"Apakah benar-benar aman?" Tanya asya berusaha meyakinkan
"Iya ra" sahut dirga berusaha meyakinkan asya bahwa semuanya memang baik-baik saja
__ADS_1
"Yakin?"
"Ya ampun ra, berapa kali aku harus mengatakannya agar kau percaya" entah mengapa pertanyaan asya terdengar lucu bagi dirga hingga menimbulkan kekehan ringan darinya
"Ini tidak lucu" sahut asya bersungut-sungut
Wanita mana yang tidak takut dan gelisah jika berada diposisinya, mereka sedang menghadapi musuh yang cukup lihai dalam bermain petak umpet karena hingga saat ini mereka belum berhasil menangkap si penyebab keributan.
Nyawa merekalah taruhannya dan dirga menganggap hal ini biasa saja atau mungkin dianggapnya sebagai lelucon
"Asal kau tau saja ra, dulu hampir disetiap malam aku tak pernah pulang" ucap dirga sambil bergerak menyelimuti tubuh asya
Mereka memang sudah berada diatas ranjang bukan didepan jendela lagi dan bersiap kembali tidur
"Mas memangnya kemana?" Tanya asya yang mulai terpancing ucapan dirga
"Aku selalu sibuk membereskan para tikus-tikus pengganggu itu, lalu dipagi hari aku harus sudah kembali mengurus perusahaan"
"Kapan istirahatnya dong?"
"Ya Kalau sempat ra, terkadang diperjalanan menuju kantor"
"Lalu untuk apa rumah besar ini? hanya dihuni pelayan yang rutin membersihkannya setiap hari?"
"Rumah ini adalah rumah keluargaku, dulu terasa nyaman dan hangat dengan kehadiran mereka" ucap dirga dengan senyuman tipis menghiasi wajahnya, menunjukkan kebahagiaan dari serpihan masa lalu
Asya hanya terdiam menyimak setiap ucapan dirga
"Namun semuanya berubah sejak orang itu menghancurkan semuanya, rumah ini terasa hampa dan sunyi hingga aku selalu merasa kosong ketika berada didalamnya. membuatku enggan pulang karena hanya akan menimbulkan sesak didada" sambung dirga
"Ehmm, siapa sebenarnya orang itu?" Tanya asya merasa tidak mengerti
"Kenapa dia melakukan semua ini, apa masalahnya yang sebenarnya?"
"Entahlah ra, tapi yang jelas dia menginginkan kekuasaan tak terbatas untuk itu ia harus menghancurkan semua orang yang dianggap menghalangi jalannya" sahut dirga
"Kurasa dia punya kesalahan besar yang harus membuatnya bertindak seperti ini agar hal itu tidak terbongkar" ucap asya berusaha mengungkapkan pendapatnya
"Mungkin saja, bukankah jika kita mengetahui apa kesalahannya itu maka kita akan mudah menghancurkannya" ucap dirga dengan antusias
"Iya tapi masalahnya DIA itu siapa!"
"Itu juga masalahnya, sampai saat ini aku belum menemukannya"
"Haish entahlah" dengus asya merasa buntu
"Terimakasih ra"
"Hah?"
"Terimakasih"
"Untuk apa?"
"Untuk kehadiranmu disini, berkatmu aku punya alasan pulang"
"Sebenarnya aku tidak mau disini" ketus asya
__ADS_1
"Tapi kau harus disini" titah dirga
"Aku juga tidak mau jadi istrimu"
"Dan kau memang jadi istriku sekarang" ucap dirga dengan angkuh
"Jadi jangan berterimakasih, karena sebenarnya kau sendirilah yang membuat alasan itu untuk pulang" ketus asya dengan kesal
"Setidaknya aku senang ketika sampai dirumah dan melihatmu"
"Heuuhhh, rasanya aku ingin menghilang saja dari muka bumi ini" keluh asya
"Kau tidak akan bisa kemanapun selama ada aku ra" bantah dirga
"Dasar setan posesif" tuding asya kesal karena merasa dirga selalu saja menentangnya
"ZARA!" Tegur dirga
"Kenapa!" Ketus asya
"Aku ini suamimu"
"Lalu?" Tantang asya
" kau tidak boleh berkata seperti itu" larang dirga
"Kenapa tidak boleh"
"Tidak baik ra"
"Boleh-boleh saja"
"Raa...." tegur dirga lagi
"Apasih"
Dan perdebatan itupun terus berlanjut hingga melunturkan ketakutan asya
.
.
.
.
.
"Jika aku salah maka perbaiki, Jangan malah berpaling lalu pergi.
Bukankah begitu seharusnya seorang pria (Suami) membimbing seorang wanita (Istri)"
.
.
.
__ADS_1
~ jangan lupa vote, like dan coment ya readers😊 karena respon anda adalah semangat saya😘