
Pagi telah menapaki bumi dengan dengan anggun, menyapa dengan kehangatan lembut yang memukau
Udara dingin masih menyelimuti atmosfer, merayu anak manusia supaya tetap terlelap dalam gelungan selimut yang hangat dan nyaman. Burung-burung berkicau merdu mengiringi semburat cahaya yang menapaki dengan malu-malu
Hari masih pagi namun asya tampak sudah sibuk, wanita itu telah memanggil sekretarisnya untuk datang dan membantunya bersiap. Semua pelayan hanya menatapnya dengan pandangan penuh perhatian
Mereka berharap bahwa asya akan memanggil mereka dan memerintah untuk melakukan sesuatu, namun sepertinya hal itu hanya menjadi angan-angan karena asya malah sibuk sendiri dengan sekretarisnya
Asya hanya memberikan satu perintah yaitu untuk menyiapkan sarapan untuk dirgantara dan kedua adik iparnya. Hal tersebut tentu hanya perlu dilakukan oleh beberapa pelayan saja sedangkan pelayan lain hanya mampu menunggu dengan harapan kosong
Mereka suadah sangat lama tidak pernah melayani seorang nyonya besar ataupun orang lain selain michael dan sekarang ini mereka seperti mendapat angin segar dengan keberadaan asya, tapi sayangnya lagi-lagi mereka harus menelan pil pahit kekecewaan karena ternyata sang nyonya besar terlalu mandiri untuk dibantu
Seakan mereka hanyalah pelayan pajangan yang hanya cukup dilihat namun tak pernah perlu bekerja, mungkin memang benar jika sekarang ada nyonya lain yang bisa mereka layani akan tetapi layya juga tidak kalah mandirinya dengan asya, apalagi wanita itu tidak berani mengambil satu keputusanpun tanpa persetujuan asya
Jadi sekarang ini apa yang bisa mereka lakukan, mereka seperti ada namun tidak nyata. Michael dan dirgantara juga sudah diurus segala kebutuhannya oleh asya. Tiba-tiba saja para melayan jadi merasa tidak berguna
Apalagi sekarang ini asya sedang merajuk dengan dirgantara dan tidak ingin satu ruangan dengan suaminya itu, tidak ada yang bisa para pelayan lakukan karena hampir segala hal dirumah itu berada dibawah kendali sang nyonya besar
“nyonya besar apa ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pelayan pada asya yang tampak lalu-lalang mengurus segala keperluannya dengan rani
“tidak, terimakasih. Kalian pergilah dan istirahat” ucapnya
Para pelayan hanya terdiam saja tak menjawab, ini masihlah pagi hari dan mereka belum mengerjakan hal apapun tetapi asya sudah menyuruh mereka untuk istirahat. Semua pelayan dirumah ini memiliki tugasnya masing-masing dan yang paling terasa menyedihkan adalah pelayan yang bertugas untuk melayani asya
Mereka merasa berulang-kali patah hati karena asya selalu menolak untuk menerima bantuan dari mereka
“ah baiklah, sekarang semua berkas sudah siap dan kita bisa segera berangkat” ucap asya dengan rasa kelegaan yang tergambar nyata dari wajahnya
Asya berpakaian rapi dan tampak formal hari ini, ia bahkan mengikat rambutnya dengan rapi juga. Ia juga menggunakan riasan tipis yang membuatnya tampil semakin cantik
Rok span dibawah lutut dan juga kemeja berwarna biru muda membuatnya tampak anggun, jas berwarna putih senada dengan roknya, lalu sepatu berwarna putih dengan hak rendah juga mendukung penampilannya yang tampak bersinar layaknya cahaya mentari dipagi hari. Lembut nan cantik menawan
Satu hal yang harus para pelayan dikediaman ini akui selama keberadaan asya, sang nyonya besar amatlah pandai memilih dan memilah pakaian untuk menunjang penampilannya. Tidak heran jika sang tuan besar sampai jatuh hati padanya yang selalu tampil cantik dalam kesederhanaan.
“oh, bisakah kau membantuku untuk memberitahu anne?” tanya asya pada pelayan yang sedari tadi berdiri disisinya
“tentu saja nyonya” sahutnya dengan semangat
“sampaikan pada anne untuk segera bersiap dan mengantarku secepatnya”
“baik nyonya” ucap sang pelayan dengan patuh
“ada apa dengannya?” tanya asya kebingungan melihat pelayan yang tampak begitu bersemangat, bahkan pelayan itu sudah menghilang didetik kesekian asya selesai mengucapkan kalimatnya
Asya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena kebingungan, sedangkan rani sudah tersenyum geli dengan menunduk. Tidak berani mengatakan hal apapun pada atasannya yang tampak lucu baginya
Bagaimana bisa ada seseorang yang setidak peka asya, mungkin wanita itu memang terlalu cuek dengan keadaan sehingga tidak mampu merasakan keberadaan para pelayan yang ingin membantunya dengan sepenuh hati.
__ADS_1
***
Disuatu ruangan khusus sebuah restoran tampak duduk empat orang yang tengah menikmati sarapan dengan tenang, menyantap hidangan dengan diam tanpa adanya percakapan yang merusak kesopanan dan adab diatas meja makan
Mereka menyelesaikannya dengan waktu yang hampir bersamaan, dengan sikap hormat mulai mengakhirinya dengan do’a berdasarkan kepercayaan masing-masing
“ehemm” seorang pria dari salah satunya mulai membuka pembicaraan
“bagaimana kabarmu sya?” tanyanya
“kabarku baik kok sawi” balas asya dengan nada yang akrab
“sudah lama tidak bertemupun kau masih saja seperti dulu ya” ucapnya dengan sindiran kental
“hoho tentu saja, memangnya aku harus berubah seperti apa?” tanya asya dengan konyol
“seperti bunglon” sahut seorang lagi dengan tak kalah konyolnya
“kenapa bunglon?” tanya asya
“berwarna-warni, hahahahahaaaa”
asya dan pria tersebut tertawa bersamaan, padahal sesungguhnya itu hanyalah guyonan yang tidak lucu
“kau masih saja seperti dulu pari, selalu membuat lawakan yang garing” ucap asya yang mampu membuatnya langsung terdiam seketika
“tentu saja aku tertawa melihat ekspresi diwajahmu ketika mengatakannya” asya menjawabnya dengan wajah serius sebelum akhirnya terkikik geli
“hey, hey. Padahal kau tadi ketika membicarakan bisnis tampak sangat serius hingga aku hampir saja salah mengenalimu, tapi lihatlah sekarang ini” ucapnya pada asya
“tentu saja aku serius karena tadi kita sedang rapat, aku haruslah profesional. Nah jika sekarang ini kita kan sedang mengadakan reuni, benar bukan pari dan sawi?” tanyanya dengan nada menjengkelkan yang khas
“padahal aku punya nama yang bagus, tetapi bisa-bisanya kau memanggilku sawi” ucap pria yang dipanggil sawi
“memangnya kenapa, itukan panggilan kesayangan yang kuberikan padamu” ucap asya dengan nada menantang
“namaku ini SHARAWI bukan SAWI!, tau tidak” ucapnya kesal
“iya, iya aku tau bila namamu sharawi husaen. Tapi aku lebih suka memanggilmu sawi” asya mengatakannya dengan santai
“untuk apa semua panggilan kesayangan itu ha? Tidak ada gunanya sama sekali” ketus sharawi
“ada apa denganmu, biasanya tidak memperdulikan hal ini?” tanya asya menyelidik
“apa gunanya kau memberi kami panggilan kesayangan jika menikahpun tidak mengundang” sharawi tampak marah ketika mengucapkannya
“bukan begitu sharawi, patrani. Aku sebernarnya......”
__ADS_1
Brakkk
Ucapan asya terpotong ketika tanpa diduga ada sekelompok orang yang masuk secara paksa dalam ruangan tersebut, asya yang merasakan firasat buruk langsung mengambil langkah cepat
“sawi, pari, zee segera kalian keluar dari sini” teriak asya sebelum orang-orang asing tersebut selesai memasang formasi
Sharawi dan patrani segera keluar, sedangkan zeus malah bersikeras disana tak mau pergi
“Pergilah zee, cepat!” titah asya yang sudah mulai tersudut
“tidak, aku akan tetap disini bersamamu” ucap zeus keras kepala
“fang ihn lebend! (tangkap dia hidup-hidup!)” ucap seseorang dari kelompok tersebut
“sial!” asya langsung faham posisi mulai waspada terhadap setiap pergerakan orang-orang yang sudah mengepungnya
“anne segera hubungi yang lain” titah asya pada anne yang sudah siap dengan pistol ditangannya
Dengan cepat anne langsung menekan sebuah tombol khusus pada jam tangannya, memanggil pengawal lain yang sedang bersembunyi. Dirgantara selalu menempatkan pengawal rahasia disekeliling asya selain anne dan asyapun sesungguhnya tau, ia hanya tidak terlalu memperdulikannya
Asya yang terpecah konsentrasinya oleh zeus menjadi tidak menyadari ketika seseorang bergerak dari belakangnya, sedangkan anne juga disibukkan oleh beberapa orang yang telah mulai menyerangnya
“Asya awas!” ucap zeus memperingati
Asya segera berbalik dan
Praakkk
Kesadaran asya terenggut oleh kegelapan ketika sesuatu berhasil menghantam kepalanya dengan keras, sejenak ia masih dapat mendengar suara anne dan zeus yang memanggil namanya. Sebelum akhirnya kegelapan berhasil menjatuhkannya
.
.
.
.
.
.
.
PRAKATA DARI PENULIS:
Penulis mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan pembaca sekalian hingga detik ini
__ADS_1
Penulis harap kalian tidak bosan dengan cerita ini dan bersedia meninggalkan sedikit jejak, karena respon anda adalah semangat saya.