
Asya tak tau lagi ini sudah jam berapa karena ia sibuk dengan fikirannya sendiri hingga tak sadar akan waktu ketika pintu dibelakangnya bergerak dan terbuka.
Dirga berdiri disana dengan pakaian yang lebih santai dan penampilan yang sederhana dengan celana jeans dan kaos hitam panjang miliknya.
"Jadi nona. Apa pilihanmu?" Dirga membuka suara kemudian ia lanjutkan lagi "dan jangan terlalu lama memutuskan karena fajar telah menyapa" dirga kembali berucap dengan tak sabar
"Aku akan menikah denganmu" asya berucap dengan tegas
"Tapi dengan syarat jangan pernah berani kau lukai keluargaku" ucapnya lagi meyakinkan
"Tentu saja" dirga mengulas senyumnya
"Kuharap kau tak mengingkari ucapanmu tuan" asya menatap dirga dengan penuh intimidasi meski seluruh tubuhnya masih bergetar ketakutan.
"Kemarilah sayang. Kita akan kerumahmu untuk meminta izin menikah" dirga mengulurkan tangannya kepada asya. Dengan gerakan ragu-ragu akhirnya asya menyambut uluran tangan itu
"Dan jangan coba-coba melarikan diri, teteplah diam dan tenang! intinya menurutlah padaku. Karena jika tidak! anak buahku akan langsung melepaskan tembakan untuk menghabisi orang tuamu" dirga kembali mengingatkan asya
***
Tepat pukul 07:14 pagi mereka tiba dirumah asya. Dirga menuntunnya untuk turun dari mobil dan berjalan menuju kedalam rumah, dirga memberikan isyarat agar asya mengetuk pintu rumahnya
Tokk tokk tokk
"Ib..ibu aku pulang"
Ceklekk... suara pintu yang terbuka
"Ya Allah! sayang akhirnya kamu pulang" wanita paruh baya itu memekik terkejut. Ia bahkan langsung memeluk putri kesayangannya tersebut
"Ayaahhh. Turunlah! Lihat putri kita telah kembali" teriaknya lagi
Tak lama setelah itu seorang pria paruh baya tampak lari menuju arah pintu untuk melihat apakah benar putrinya telah kembali
"Putri kecil ayah... alhamdulillah ya Allah" ucap pria paruh baya tersebut dengan raut penuh syukur langsung memeluk putrinya
"Sayang apa yang terjadi padamu, mengapa kamu tak pulang dan tak bisa dihubungi?. Kami telah mengerahkan orang untuk mencarimu tapi tak ada yang berhasil menemukanmu. Dan siapa pria disampingmu ini?" sity yang merupakan ibu asya mulai memberikan pertanyaan yang telah membuat hatinya risau semalaman dengan tatapan tajam kearah pria yang hanya tersenyum disamping putrinya. Namun asya hanya membalasnya dengan senyum penuh ironi, hatinya benar-benar perih saat ini
"Ibu, biarkan mereka masuk kedalam rumah dulu. Baru kita bicarakan" ahmad menengahi pertanyaan putrinya. Namun matanya masih menatap pria disamping putrinya
__ADS_1
Mereka kini telah duduk disofa ruang tamu. Dengan posisi asya diapit sity dan dirga menghadap langsung kearah Ahmad ayahnya asya
"Ma'af sebelumnya om. Sebenarnya semalam saya bertemu dengan asya yang tengah melarikan diri dari segerombolan penjahat yang hendak membunuhnya" dirga memberikan jeda pada kalimatnya dan menghembuskan nafas panjang, seakan ia begitu menyesal dan tertekan
"Saya berusaha menolongnya dan kami bersembunyi disebuah rumah yang tampak kosong, lalu ketika pagi tadi saya hendak membawanya keluar namun sialnya kami kepergok oleh pak rt yang tengah bersama warga" dirga mengusap wajahnya kasar saat ini ia tampak begitu frustasi
"Lalu kami digiring warga om. Kami hendak dinikahkan paksa, tapi sungguh om saya tak melakukan apapun dengan asya kecuali bersembunyi dari para penjahat yang terus mengejar kami itu om, saya juga telah menjelaskannya kepada pak rt tersebut namun ia tak percaya"
dirga sedikit melirik asya yang saat ini duduk disampingnya dengan tatapan seakan tak percaya
Dalam hati asya sungguh terkejut dengan akting dirga yang tampak begitu meyakinkan dan nyata. Bila ada penghargaan mungkin dirga akan menjadi penerima penghargaan tertinggi sebagai AHLI SANDIWARA!
"Lalu bagaimana akhirnya kalian bisa dibebaskan oleh mereka?" Ahmad bertanya dgn raut wajah yang luar biasa tegang. Jujur saja ia masih terkejut dengan ucapan dirga yang berkata putri kecilnya dikejar pembunuh dan ditangkap warga
"Saya berjanji kepada mereka akan menikahi asya hari ini juga om, oleh karena itu kami dilepaskan agar bisa mencari orang tua asya" dirga tertunduk dengan suara yang tampak tertekan
"Apa katamu!? Kamu tahu apa konsekuensi dari ucapanmu itu?" Ahmad terkejut bukan main bahkan nada suaranya ikut meninggi
"Saya akan bertanggung jawab atas kesalahan saya karena dengan lancang membawa asya bersembunyi semalam om" jawab dirga dengan penuh keyakinan
"Tapi nak, ini adalah masalah besar mana bisa diputuskan sembarangan. Ini menyangkut masa depan kalian! Belum lagi nanti bagaimana keadaan keluargamu bila mengetahui hal ini" ahmad berusaha bersikap tenang dan bijak saat ini
"Saya sebagai lelaki akan bertanggung jawab oleh masalah yang saya timbulkan. Dan lagi saya ini sebatang kara om" dirga benar-benar seperti melemparkan bom
"Sayang katakan pada ibu apa yang terjadi?" Sity bertanya pada putrinya sungguh ia tak ingin mempercayai hal ini
"A....asya semalam melihat pembunuhan bu. La.....lalu mreka menyadarinya dan mengejar untuk membunuh asya sebagai saksi mata...." asya tak sanggup melanjutkan kata-katanya ia benar-benar merasa sakit dan hancur, ia sesekali melirik arah jendela dan benar saja disana telah ada orang yang membidikkan senapan kearah orang tuanya.
Semua orang mengarahkan pandangannya kepada asya, sity langsung memeluk putrinya yang saat ini tampak rapuh air matanya ikut menetes merasakan pedih yang dirasakan putrinya. Tubuh asya bergetar hebat seiring dengan ketakutannya yang mendera
"Ya Allah. Apa yang harus kulakukan" ahmad tampak benar-benar frustasi
"Yang penting saat ini kami harus segera menikah om! Sebelum beritanya menyebar dan menghancurkan reputasi kami. Untuk masalah resepsi kita adakan bulan depan saja tak apa-apa om" dirga kembali mengatakan hal yang semakin menekan keadaan ahmad dan keluarganya
"Baiklah jika memang ini yang terbaik. Saya akan menikahkan asya denganmu, segala persiapan akan kami siapkan dengan cepat" ahmad mengambil keputusan yang membuat semua orang menatapnya dengan terkejut.
"Jadi kalian persiapkan mental kalian" ahmad beranjak dari duduknya dan memeluk putrinya, saat ini ia hanya ingin menguatkan putrinya. Ia harus menyelamatkan masa depan putrinya karena media akan segera mengetahui berita ini
Inilah susahnya menjadi orang terkenal, karena setiap gerak gariknya di awasi oleh orang-orang yang siap memuji ataupun menghujat mereka.
__ADS_1
Dengan cepat ahmad telah menghubungi butik langganan mereka untuk mengirimkan kebaya untuk putrinya, bahkan ia memesan satu set perlengkapan pernikahan yang harus segera siap dalam waktu dua jam.
\\*
Saat ini mereka telah siap di hadapan penghulu, asya yang mengenakan kebaya putih dan rok kain batik coklat keemasan, rambutnya disanggul dengan hiasan bunga-bunga dan make up yang membuatnya tampak cantik. Dirga duduk disampingnya dengan setelan jas khas jawa berwarna putih dan tapih kain batik yang senada dengan rok asya. Wajahnya tampak tegang saat ini ketika orang tua asya menjabat tangannya
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Dirgantara fatir maheswara bin Malik maheswara dengan putriku Asya zara sulthan dengan maskawin cincin 10gram dan uang 5juta rupiah dibayar Tunai" ahmad berucap dengan tegas, ada getaran dihatinya ketika melihat putrinya yang terdiam menunduk dengan aliran air mata, sungguh hatinya tak merelakan putri kecilnya dengan cara seperti ini
"Saya terima nikahnya Asya zara sulthan binti Ahmad rian sulthan dengan maskawin cincin 10gram dan uang 5juta rupiah dibayar Tunai!!" Ucapnya dengan sekali tarikan nafas
Kemudian penghulu pun bertanya "Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAH" para saksi yang kebanyakan merupakan kerabat dekat dan karyawan keluarga sulthan tersebut menjawab serentak.
"ALhamdulillah....." penghulu pun mulai membaca do'a
\\*
Saat ini dirga dan asya telah berada di kediaman maheswara, setelah melalui pembicaraan yang sulit akhirnya dirga berhasil membawa asya pulang kerumahnya dengan Alasan bahwa ada tamu dari luar negeri yang akan datang kerumahnya, dan tentunya tidak sopan bila membatalkan janji tiba-tiba dan sekaligus mengenalkan asya yang akhirnya membuat mertuanya itu mengalah.
"Ahahahahahaha... kau lihat sya! Keluargamu percaya padaku" dirga saat ini tertawa dengan suara keras karena merasa menang
"Dasar penjahat yang pandai bersandiwara" asya bergumam dengan kesal
"Kau mengatakan sesuatu sayang? Aku tak bisa mendengarmu"
"Tidak. Aku tak berkata apapun" asya menjawab dengan nada datar dan dingin. Sungguh sebenarnya ia ketakutan saat ini tapi ia sangat kesal pada pria yang saat ini menjadi suaminya itu.
TBC
jangan lupa klik like dan tinggalkan komennya ya pembaca yang budiman😊 saya masih butuh kritik dan saran dari kalian untuk menjadi semakin baik dalam berkarya
__ADS_1