
"Aku sudah membereskannya, sesuai keinginanmu aku tidak meninggalkan sidikitpun bukti yang mengarah pada tuduhan keseseorang. Kulakukan sehingga seakan-akan ****** itu mengalami kecelakaan"
ucap pria berambut pirang itu dengan santai menyeruput segelas teh ditangannya
Tanpa ia dan lawan bicaranya sadari ada seseorang didepan pintu yang terdiam mematung mendengar pembicaraan mereka
"Baguslah, dia itu sungguh merepotkan" ucap lawan bicaranya dengan nada datar
"****** itu bahkan sudah beberapa kali melemparkan diri padaku, menjijikkan sekali" tersirat nada jijik dari ucapan pria berambut pirang
"Aku tidak suka pada wanita pembangkang, dia sudah terlalu sering mengabaikan ucapanku dan bersikap semaunya" sahut lawan bicaranya lagi
"Dia itu hanya wajahnya saja yang polos, tapi perilakunya lebih menjijikkan dari pada binatang" timpal pria berambut pirang itu lagi
"Aku bahkan tidak ingin disentuhnya, dan dia bisa-bisanya mengaku sebagai tunanganku. Sungguh sangat murahan tidak sebanding dengan gaya hidup kalangan bangsawannya itu" ucapnya dengan nada mencemooh yang kentara sekali
"Asal kau tau saja, kemarin saat bertemu denganku di bar dia berusaha menggodaku untuk naik keatas ranjang bersamanya. Membuatku dengan segera menikam tubuhnya tanpa belas kasihan" ucap pria berambut pirang lagi menumpahkan seluruh ketidak sukaan dalam dirinya
"Apa yang kalian bicarakan?" Ya! Wanita yang sedari tadi berdiri mematung didepan pintu adalah asya, yang saat ini sedang bertanya dengan lantang
"Siapa ****** yang kalian maksud?" Imbuhnya lagi dengan raut penuh kecurigaan yang kentara
Dirga dan mike yang tidak menyadari keberadaan asya langsung refleks menoleh ketika mendengar suara lantang wanita itu yang terdengar menggema di dalam ruangan.
"Kakak ipar" ucap mike,
ia segera berdiri hendak mendekat namun seketika itu ia mengingat bahwa wanita itu takut kepadanya
Asya masih terdiam mematung tak bereaksi, ia hanya menatap dua orang dihadapannya itu dengan kecurigaan yang nyata
"Sayang, sejak kapan kau datang?" Dirga langsung mendekat, ia berusaja menjangkau tangan mungil istrinya itu namun segera ditepis
"Jawab aku?" Suara asya terdengar tajam menuntut
"Kakak ipar, dengarkan aku!" mike berusaha menjelaskan pada asya yang memandang mereka dengan tajam, tetapi dihentikan oleh dirga dengan isyarat tangannya
"Kalian yang membunuh yasmin. Benar bukan?" Tuduh asya pada dua orang pria dihadapannya
"Benar!" Jawab dirga dengan santai
"Kalian memang pembunuh" mata asya memicing menatap adik ipar dan suaminya, ia tidak menyangka bahwa merekalah dalang dibalik kematian mengerikan yang dialami wanita malang itu
"Kakak ipar, ini tidak seperti yang kau fikirkan" sanggah mike cepat
"Tidak mike! Biarkan dia mengetahui yang sebenarnya" ucap dirga membantah perkataan mike
"Mengapa kalian melakukan hal sekejam itu!" teriaknya marah
"Dia pantas mendapatkannya" sahut dirga dengan sinis
"Apakah kalian tidak memikirkan perasaan orangtuanya yang harus kehilangan putri mereka dengan cara tidak adil begini!" nada bicara asya seketika meninggi, meluapkan gejolak kemarahan dalam dirinya
"Lalu bagaimana denganku!" Dirga berteriak tak terima dengan tuduhan asya yang terus saja memojokkannya
"Aku tak memiliki siapapun, dan dia telah membuatmu pergi dariku"
__ADS_1
Dirga mencengkeram dagu asya dengan kuat, mendongakkan wajah istrinya itu agar menatapnya
"Jangan kau fikir aku tidak tau, jika bukan karena nyonya kathrina menghentikanmu! Kau pasti sudah kabur keluar negeri saat ini" ucapnya tajam menyuarakan ketidak senangannya pada istri mungilnya yang pembangkang
Asya membulatkan matanya tak percaya, bagaimana suaminya itu bisa tau bahwa kemarin ia memang berusaha kabur keluar negeri lalu kathrina datang menghalanginya.
Tidak mungkin jika kathrina yang mengatakan hal ini pada dirga,
ia tau benar sifat sahabatnya itu
"Jika kau sampai berani pergi lagi dariku! Aku akan menghancurkan seluruh keluarga, sahabat dan orang terdekatmu. Akan kuhancurkan sampai jejak merekapun tak tersisa, jadi jangan pernah sekalipun kau berfikir untuk melepaskan diri dariku! Atau aku akan menemukanmu dan melakukan sesuatu yang diluar fikiranmu" ucapnya tegas dengan raut wajah keras dan tatapan mata penuh kemarahan yang menusuk,
Dirga melepas cengkramannya dengan kasar, menatap wajah istrinya itu dengan pandangan mengintimidasi.
Satu hal yang diketahui dirga sejauh ini bahwa istrinya adalah orang yang keras kepala. Buktinya wanita itu berani berteriak padanya meski tubuhnya bergetar penuh ketakutan, asya juga mempunyai jiwa pembangkang yang besar. Hal ini patut diwaspadai, ia harus menambah skala pengawasannya jika tak ingin kehilangan wanita mungil alasannya tertawa itu
Dirga bergerak menyentuh wajah asya dengan lembut, mengusapnya perlahan. Dilihatnya ruam kemerahan hasil dari tindakannya barusan yang telah meninggalkan bekas
"Jadilah istri yang baik dan jangan menentangku, maka akan kuberikan segalanya untukmu" ucapnya melembut dengan tatapan sendu
Sedangkan asya hanya diam membisu, ia sedang berusaha mengatasi ketakutan pada dirinya sekaligus mengatur kinerja hatinya agar tak tertipu oleh perubahan sikap dirgantara yang drastis
Sejujurnya saat ini ia ingin lari sejauh mungkin yang ia bisa, mengingat betapa mengerikannya dirga saat ini. Tapi apalah daya ia bahkan tidak bisa meninggalkan ruangan itu tanpa seizin pria yang menjabat jadi suaminyanya itu jika ia masih sayang kepada nyawanya
"Kemarilah, sebaiknya kita segera memakan makan siang yang telah kau bawakan" dirga menuntun asya untuk duduk disofa ruang kerjanya,
posisi mereka saat ini berhadapan dengan mike
"Emm... sebaiknya sekarang aku pergi" ucap mike mengingat bagaimana asya yang tidak akan nyaman dengan keberadaanya
"Tidak! Ka...kamu disini saja, kita....kita makan siang bersama. Aku sudah masak banyak" ucap asya terbata
Suaminya itu bisa melakukan apa saja yang berada diluar nalar jika tak ada orang lain disana. Sedangkan mike yang mendengar ucapan asya tentu senang bukan main, ia tau kakak iparnya itu masih ketakutan dan berusaha untuk menekan ketakutan pada dirinya. Ia sungguh sangat senang karena akhirnya istri dirgantara itu akan menerima akan keberadaannya
Aku senang, karena akhirnya memiliki anggota keluarga baru. Kakak ipar berusaha menerima dan tidak takut lagi padaku
Begitulah fikir mike,
dengan senyum lebar ia duduk dengan tenang membantu asya menata makanan yang tadi dibawanya
Mata mike seketika itu berbinar melihat makanan yang tersaji dihadapannya
"Kakak ipar, bagaimana kau tau makanan kesukaanku" mike berucap dengan terkagum-kagum tanpa mengalihkan pandangan dari makanan dihadapannya
Asya hanya membalas menatap tak mengerti
"Apa kau mempelajarinya juga ketika di jerman?" Tanya dirga pada asya yang tampak bingung dengan ucapan mike
"Tidak, aku baru mempelajarinya tadi dari koki yuda" jawabnya
"Kau tau apa nama makanan ini?" Tanya dirga lagi
Asya hanya menjawab dengan menggeleng,
ia memang tidak tau makanan jenis apa yang dibuatnya. Yang jelas salah satunya sejenis pasta itu saja yang ia tau
"Itu adalah pasta carbonara dan ayam saltimbocca, makanan favorite mike" ucap dirga menjelaskan
__ADS_1
Sedangkan mike malah menatap asya dengan wajah yang sangat-sangat kagum
"Wahhh. Kau luar biasa kakak ipar, bisa mempelajari resepnya hanya dalam sekali buat" matanya berbinar dengan sorot kagum yang nyata
"Kamu berlebihan sekali, ini hanya resep simple" kekehnya dengan raut merendah
Mike segera menyuapkan makanan dihadapannya tanpa memperdulikan dirga yang belum mulai makan, ia sudah sangat terpesona pada makanan dihadapannya. Seketika itu matanya terbelalak, rasa makanannya tak seperti tampilannya
"Waooo. Kakak ipar rasa masakanmu luar biasa, ini sudah seperti rasa buatan koki restoran italia asli" ucapnya dengan pergerakan tangan memasukkan pasta dengan banyak kemulutnya
"Pelan-pelan saja, kamu bisa tersedak" asya sedikit khawatir melihat mike ketika makan
"Kau benar-benar memalukan mike, seperti tidak makan satu bulan" ucap dirga ketus
"Biar saja, Kufikir tadi tidak seenak ini ketika melihat penampilannya tapi ternyata aku salah. Rasanya sangat-sangat enak"
"Telan dulu makananmu, jangan jorok seperti itu" tegur dirga ketika melihat mike yang berbicara dengan mulut penuhnya, bahkan sisa makanan itu mengotori pipinya
"Tenanglah, kamu bisa tersedak nanti" asya masih khawatir menatap mike yang tampak seperti anak kecil dengan makan terburu-buru
Dengan santai dirga melahap makanannya, ia mengangguk-angguk sejenak ketika merasakan makanan dalam mulutnya. Yang dikatakan mike memang benar, masakan buatan istrinya ini memang enak. Tidak kalah dari masakan koki restoran ternama
"Kakak ipar, boleh aku minta kau membuatkannya lagi" mike nyengir menampakkan deretan rapi giginya dan lesung pipi yang membuatnya lebih menawan, ia sebenarnya malu untuk mengungkapkannya tapi mau bagaimana lagi. Ia merasa ketagihan saat ini
"Kau sudah menghabiskan sebanyak itu mike, yang benar saja masih mau lagi" ungkap dirga tak percaya ketika melihat mike sudah menghabiskan makanannya dan masih ingin lagi
"Aku merasa kurang" mike melengos menatap dirga dengan tak suka
"Besok aku akan membuatnya, biar anne yang mengantarkan kekantormu" ucap asya dengan tersenyum, baru kali ini ia melihat orang yang memakan masakannya dengan begitu senang seperti mike.
Ada sesuatu yang bergerak dalam relung hatinya ketika melihat binar polos pada wajah mike yang biasanya mengerikan
"Kau bisa makan masakan asya, jika kau ingin datanglah kekediamanku untuk makan malam" sahut dirga,
dia faham betul bahwa mike menyukai masakan istrinya itu sama seperti dirinya.
Jujur saja Mereka berdua adalah makhluk kurang perhatian yang merindukan masakan rumahan
"Benarkah?" Mike terpekik senang sekaligus tak percaya.
Ia bertambah senang lagi ketika melihat dirga menganggukkan kepala
"Yeeeeeyyyyyy" mike bersorak kegirangan dengan melompat-lompat layaknya anak kecil
Asya yang melihatnya dibuat melongo tak percaya
"Mike. Kau bisa merobohkan ruanganku bodoh" teriak dirga berusaha menghentikan tingkah kekanakan mike
"Kakak ipar, nanti aku akan datang dan makan malam" teriaknya lagi
"Aku sudah tidak sabar untuk menikmati Makan malam buatanmu" ucap mike lagi dengan wajah tak sabar
"Iya, iya sekarang cobalah bersihkan wajahmu dulu" asya tersenyum kecil melihat tingkah mike yang layaknya anak kecil,
hatinya sedikit terhibur setelah ketegangan yang terjadi tadi
Ia sudah bisa menerima keberadaan mike, meskipun dirinya masih tidak bisa terlalu dekat karena ingatan mengerikan ketika pertamakali bertemu dengannya dan kenyataan bahwa pria itu jugalah yang menghilangkan nyawa yasmin
__ADS_1