
"Aku ini suamimu ra, kenapa kau ketakutan dan melihatku seperti monster? Aku sangat tersinggung dengan tindakanmu" tegur dirga tegas dengan intonasi yang cukup tinggi
"Maaf"
ucap asya dengan pelan bahkan hampir berbisik dengan setumpuk rasa bersalah yang menyudutkannya
"Kenapa kau jadi penakut semacam ini, bukankah biasanya membunuhku pun kau berani" tanya dirga dengan nada kesal yang kental terdengar
"Mungkin akibat dari film horor yang kutonton tadi" asya hanya nyengir hingga tampak gigi gingsulnya
Dirga hanya menghela panjang nafasnya karena menyadari tingkah asya, biasanya istrinya itu akan begadang ketika ia tidak berada dirumah dan beralasan tidak bisa tidur atau menunggunya. Sebenarnya dirga tidak percaya dengan alasan bahwa asya menunggunya, hal itu karena asya bukanlah tipe wanita romantis, tetapi tentang asya yang tidak bisa tidur karena ketakutan itu memang wajar dan mungkin terjadi mengingat saat ini asya mungkin menjadi incaran para musuh dirga diluar sana karena dianggap sebagai kelemahan seorang Dirgantara.
Dikarenakan kemungkinan buruk itulah setiap kali dirga harus meninggalkan asya ia akan meningkatkan penjagaan bahkan meminta mike untuk menjaga asya
"Lalu kenapa kau berdiri didepan kamar mike?" Tanya dirga penasaran
"Aku baru saja menutup jendela dan pintu kamarnya, mungkin tadi ia tergesa-gesa sehingga lupa menutupnya" sahut asya dengan santai
"Bukankah aku menyuruhnya menginap untuk menemanimu? Lalu ia terburu-buru hendak kemana?" Alis dirga terangkat sebelah menunjukkan kebingungannya
"Dia sepertinya mendapat panggilan darurat sehingga harus segera pergi" jawab asya sambil mengedikkan bahunya
"panggilan darurat? Bukankan biasanya dia akan jadi **** rakus ketika berada disini, bahkan mengabaikan seluruh urusannya"
sahut dirga yang merasa keheranan dengan penjelasan asya tentang mike
Biasanya mike akan banyak makan ketika berada dirumah ini, ia dengan senang hati menghabiskan makanan yang dibuat oleh asya, dan asyapun dengan senang hati akan membuatkan berbagai macam hidangan untuk adik iparnya itu, karena menurut asya itu hal yang menyenangkan ketika ada yang menghargai hasil karyamu dan menurutnya adik iparnya itu memang kekurangan asupan olahan khas rumahan
"Katanya tadi sih ada tamu penting yang tiba-tiba datang" sambung asya, digandengnya tangan dirga sambil berlalu menuju kamar mereka
"Tamu penting macam apa sebenarnya?"
"Aku tidak tau" timpal asya
"Apa kita perlu mengacau dirumahnya, entah mengapa aku mulai penasaran" ucap dirga dengan menggebu-gebu
"Mending sekarang mas mandi sana, biar nggak kelihatan serem"
didorongnya dirga masuk kekamar mandi padahal dirga sendiri masih tidak sadar bahwa istrinya itu menuntunnya menuju kamar mandi
***
"Ra? Apa perlu kuhubungi mike" tanya dirga setelah keluar dari kamar mandi, tampilannya saat ini sudah lebih segar dan santai dengan piyama berwarna biru tua yang senada dengan asya
"Ini sudah tengah malam mas, gak sopan" sahut asya dengan posisi berhadapan dengan dirga yang masih duduk ditepi ranjang
"Memangnya dia sopan waktu tengah malam datang kesini mengganggu tidur kita hanya untuk minta makan" sungut dirga merasa tidak senang
"Ya kita jangan ngikutin dong mas, taukan kalau itu mengganggu"
Dirga hanya terdiam karena jengkel
"Ini lukanya cukup lumayan deh mas" ucap asya sambil menyentuh perlahan dagu dirga
"Ini bakal butuh waktu buat pulih, mana besok kita harus pergi kerumah abi lagi. Bisa salah faham orang yang melihatnya"
ucap asya dengan masih mengamati luka yang tampak membiru agak keunguan dengan warna merah terang dibeberapa sisi. Asya masih saja menggumamkan kata-kata entah apa
"Emangnya kenapa sih ra"
"Ini yang lihat bisa ngira aku yang buat tau ga..." jawab asya dengan nada yang semakin memelan diakhir kalimatnya ketika menyadari bahwa suaminya itu sedang menggodanya
"Emang kenapa sih ra, kalau emang membekas gitukan jadi kelihatan aku punya siapa" ucap dirga dengan nada sensual dan kedipan mata menggoda
__ADS_1
"Aku tonjok nih" geram asya sambil mengepalkan jari-jarinya
"Galak banget sih istri aku" goda dirga lagi
"Gak usah bercanda, gak lucu tau" ucap asya dengan intonasi tinggi
"Yok ra, sesekali kamu gitu kek yang aksi bosen nih aku mulu"
Dicoleknya dagu asya dengan sedikit kedipan mata, nyatanya hal itu sukses membuat asya mengalihkan wajah karena merona malu
"Sekali lagi ngomong gitu aku tidur dikamar lain nih" ancam asya
"Ya jangan dong, aku pulang kan karena mau barengan sama kamu" sanggah dirga dengan cepat
"Makanya gausah aneh-aneh"
"Sama istri sendiri mah gapapa, halal kok" sanggah dirga
"Aku pindah nih" asya langsung beranjak dari duduknya
"Iya deh iya, nggak lagi" diraihnya tangan asya dengan cepat
Asya adalah tipe orang yang tidak suka basa-basi jadi ketika ia mengatakan sesuatu maka sudah pasti akan segera dilakukannya
"Diem biar aku obatin dulu" ucap asya sambil melanjutkan langkahnya
"Mau kemana ra?" Tanya dirga melihat asya yang berlalu
"Kebawah ngambil kompres sama obat, itu lukanya perlu dirawat mas" tunjuk asya pada pelipis dan dagunya sebagai contoh keadaan letak luka dirga
"Aku ikut"
"Ngapain, mending mas tetap disini" tolak asya
"Mas aku kan udah bilang maaf, aku gak sengaja tadi tuh" rengek asya yang merasa bersalah sekaligus malu dengan insiden teriakan histerisnya akibat melihat suami sendiri
"Untuk mengantisipasi itu terulang lagi mending aku ikut turun kebawah" kekeuh dirga
"Lagian siapa sih yang nggak takut lihat orang berlumuran darah ditengah suasana temaram gitu" sungut asya merasa terpojok
"Orang normal mungkin akan pingsan ra" dirga tergelak ketika mengucapkannya
"Dibilang juga apa" ucap asya dengan kesal
Mereka berjalan beriringan turun kelaintai bawah untuk mengambil obat sambil berbincang ringan
"Memangnya semenyeramkan itu ya?" Tanya dirga
"Hm, serem banget malah"
"Memangnya ada ya hantu seganteng ini" senyum dirga dengan menaik turunkan alisnya
"Astagfirulloh narsisnya" sahut asya terheran-heran
Mungkin oranglain tidak akan percaya dengan sikap usil dan narsisnya yang tidak tertolong lagi itu, dirga yang diluar sana adalah orang dengan sikap dingin, kaku dan mendominasi serta tidak menerima kesalahan. Berbeda dengan dirga yang dihadapan asya, menurutnya sang suami bisa berperan sebagai orang idiot jika didekatnya, selama asya tidak menunjukkan sikap memberontak maka dirga tidak akan menampakkan taring dan cakar untuk menunjukkan kekuasaannya.
"Mas duduk disini, biar aku ambil obatnya" ucap asya sambil menunjuk sofa yang ada diruang tamu
"Aku ikut kamu" sanggah dirga
"Disitu aja mas"
"Aku mau ikut ra" kekeuh dirga
__ADS_1
"Duduk diam disitu aja mas"
"Aku mau ikut kamu"
"Nurut aja kenapa sih mas, aku males debat tau nggak!" Asya rupanya mulai kesal dengan sikap dirga yang keras kepala
Akhirnya dirga hanya terdiam dan menurut lalu duduk disalah satu sofa dengan santai, ia tau asya sudah mulai kesal dan jika ia memancingnya lebih lagi mungkin amarahnya akan meledak, dan itu tidak baik untuk malamnya
Dari kamar mereka memang tangga langsung terarah diujung ruangan antara ruang tamu dan agak kebelakang lagi adalah area dapur yang cukup luas lengkap dengan ruang makannya.
Tak lama kemudian asya kembali dengan membawa kompres berisi es dan obat untuk luka, ketika asya sudah semakin dekat iapun menariknya agar duduk dipangkuannya
Asya hanya diam dan mulai mengoleskan obat pada luka dipelipis dirga secara perlahan, lalu mulai mengompres luka lebam yang tampak jelas didagu suaminya itu, Sedangkan dirga juga diam dan menatap istrinya itu dengan saksama.
Untung saja keadaan sudah tengah malam dan para pelayan sudah beristirahat serta mike pun sudah pulang, jadi tidak ada yang melihat dan menjadi korban keromantisan mereka. Karena biasanya jika ada mike ia akan protes tidak terima ataupun ada pelayan yang menunduk malu dan mengalihkan pandangannya karena sikap dirga yang sering bertindak sesukanya.
Cup. Tiba-tiba saja dirga mencium asya dengan sekilas lalu
"Itu bibirnya gausah gragas ya" ucap asya kesal
"Dikit ra" sangkal dirga
Asya tak menjawabnya dan hanya sedikit menekankan kompres pada luka dirga hingga pria itu mengaduh
"Ra?" Panggil dirga
"Hm"
"Kenapa kamu nggak panik melihat aku terluka?" Tanya dirga
"Emm, gatau mungkin udah terbiasa sih" jawab asya tanpa menghentikan gerakan tangannya untuk mengompres dagu dirga
"Terbiasa bagaimana?" Tanya dirga lagi
"Ya kan aku udah sering ngeliat mas pulang sambil luka-luka gini, bahkan kemarin sempat lebih parah lagi kan" sahut asya
"Orang lain tentu panik jika melihat suaminya pulang dengan terluka ra" ucap dirga
"Panik hanya memperburuk keadaan, lagipula mas sendiri yang bilang kalau aku harus terbiasa dengan hal-hal seperti ini kan" ungkap asya kepada dirga
"Kamu nggak khawatir gitu?"
"Ya khawatir, tapi gak mungkinkan kalau aku heboh dan bikin ribut cuma gara-gara hal yang sudah sering terjadi gini" jawab asya
"Kenapa kamu khawatir?"
"Gak mau aja jadi janda muda" sahutnya enteng
Dirga segera mencubit pipi istrinya itu dengan gemas hingga ia mengaduh kesakitan, salah asya juga yang menjawab dengan jawaban nyeleneh dan membuat kesal dirga
.
.
.
.
.
Terimakasih autor ucapkan kepada pembaca sekalian, silahkan tinggalkan like, komen, vote, dan rating bintang 5 juga boleh😆 karena respon anda semangat saya.
Jangan lupa jaga kesehatan, kebersihan dan tetap waspada serta tidak panik berlebihan supaya kita semua terhindar dari wabah virus yang akhir-akhir ini melanda Nusantara kita tercinta. Saling menjaga, perduli, dan mengikuti instruksi pemerintah demi kebaikan kita
__ADS_1
Semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin