Setan Posesif

Setan Posesif
Calon


__ADS_3

Malam semakin larut, rembulan semakin bercahaya dengan terang memancarkan cahayanya yang memukau mata


Gelap masih tak mau kalah dengan terus merengkuh semua yang ia bisa, berusaha mengalahkan cahaya rembulan yang tengah bertahta. Gegap gempita menjebak siapapun dalam kesunyian yang melenakan


Membawa siapapun ia kedalam lamunan dan angan-angan, menjerat dalam fikiran yang tengah mengembara semakin jauh.


Layya terdiam menatap asya yang berada dihadapannya, wanita itu tadi sempat mengatakan akan membicarakan suatu hal yang penting menyangkut masa depannya. Entahlah rasanya layya telah menyerah, ia akan menuruti saja semuanya seperti yang mereka inginkan


Ia sudah sangat lelah dan kehilangan semangat dalam hidup, hatinya terguncang dan hancur ketika mendengar bahwa keluarganya telah tiada. Mungkin mereka memang menyembunyikan hal ini untuk melindunginya namun layya bukanlah orang bodoh yang tidak akan mengerti maksud dari ucapan mereka sebelumnya


Keluarganya tiada karena berusaha menyelamatkan dan melindunginya, untuk saat ini hanya orang-orang inilah yang bisa menyelamatkannya. Yang perlu dilakukan layya hanyalah menurut dan mengikuti semua rencana sebagai mana yang telah disiapkan


Ia sudah tidak perduli lagi jika dirinya nanti akan mati terbunuh, namun selagi ia masih hidup ia tidak akan menyia-nyiakan semua pengorbanan yang telah dilakukan untuknya. Ia tidak akan memberontak dan membuat orang-orang yang berada disekelilingnya semakin kesulitan


Air matanya sudah tidak lagi mau jatuh, mungkin saja telah mengering dan lelah. Sorot matanya meredup dan kosong menatap asya, nyawanya seakan melayang diudara terombang ambing tanpa bisa ditahan


Sebelumnya luka-luka ditubuhnya tidaklah terasa begitu menyakitkan dibanding hatinya saat ini, tubuhnya juga seakan semakin mendukung dengan terasa nyeri hingga kedalam tulang. Jika sudah begini ia harus bagaimana


Berulang kali Layya beristigfar mengikuti instruksi dari asya supaya hatinya merasa lebih tenang, untuk saat ini hanya wanita itulah temannya yang berusaha menyokongnya agar tidak rubuh


Entah dia pantas menyebut wanita dihadapannya ini dengan teman ataukah tidak, yang ia tau saat ini hanya ada asya seorang yang sedang berusaha mengentaskannya dari keterpurukan dan lebih mendekatkan diri kepada Allah ta’ala yang maha agung. Meyakinkan dirinya untuk bangkit


“nyonya asya, saya harus bagaimana?” tanyanya diiringi sesak yang menghantam dada


“saya sudah tidak bisa menitikkan air mata lagi, hati saya rasanya sangat sakit” dipukul-pukul pelan dadanya yang terasa sesak hingga kehabisan oksigen


Asya mendekat, direngkuh tubuh rapuh itu supaya merasa tenang dan nyaman


“saya tidak tau mengapa bisa sampai seperti ini, bahkan saya sangat jarang bisa bertatap muka dengan keluarga saya. Lalu kenapa mereka harus pergi dengan cara seperti ini?”


tiada lagi air mata yang tersisa hanyalah sakit, ia terisak. Ia berusaha meluapkan kepedihannya dengan tangisan namun yang ada hanyalah suara tanpa bukti


laungannya terasa memilukan ketika menyapa pendengaran, siapapun ia akan ikut merasakan sakitnya apabila mendengar suaranya, laksana sakit yang tak tampak mata.


Sebagai mana tangisan tanpa adanya rintik air mata. lagi-lagi rasa sakit itu mengiris layaknya belati yang menggores hati, akan lebih menyakitkan lagi apabila bisa merasakan sakitnya namun tiada satu hal pun yang mampu dilakukan untuk meredakannya. Dan akhirnya ikut tersayat hingga terkoyak-koyak, rapuh dan akhirnya meluruh itulah yang mampu terlihat dari sosok sabar nan tegar seorang Layya Nur Wahid


ia telah mencapai titik lemah dari dirinya sendiri selama ini, mungkin jika pemahaman tentang agama yang diterimanya selama ini tidaklah kuat ia akan memilih bunuh diri, sebab siapa sanggup didera perih jua lelah yang rasanya begitu kuat merajai.

__ADS_1


***


Asya mengangsurkan segelas air pada layya, dengan tangan gemetar ia menerimanya. Diteguknya agar mampu membasahi tenggorokannya yang telah terasa sakit hingga hampir tercekik, ia sudah lebih tenang


Setelah mampu mengendalikan perasaannya sendiri ia bisa berfikir lebih jernih, wanita dihadapannya saat ini benar-benar bagaikan seorang peri yang datang untuk membantunya


“bagaimana perasaanmu, sudah lebih baik?” tanya asya dengan lembut


Layya menganggukkan kepalanya


“mungkin yang kukatakan ini memang tidaklah diwaktu yang tepat, namun meski bagaimanapun aku harus menyampaikannya padamu” ucapnya perlahan, terselip nada penyesalan yang samar dari suaranya


Layya masih tak menjawab, ia hanya menyentuh tangan asya dan mengusapnya lembut. Meyakinkan wanita itu bahwa ia baik-baik saja


“kau tentunya sudah sempat mendengar keinginan mike atau yang mungkin kau kenal sebagai michael untuk menikahimu bukan?”


Layya tertegun, ia tau bahwa pria itu telah mengatakan bahwa ia akan menikahinya untuk menyelamatkannya.


Lalu apakah sekarang kakak-kakaknya akan menentangnya?


Layya tak mampu mengendalikan kegugupannya ketika asya menatapnya dengan tatapan menelisik penuh penilaian,


Bahkan hidupnya saja masih terjebak dalam abu-abu, tiada yang tau seberapa lama para pemburu itu akan mampu menemukannya hingga akhirnya mencabut nyawanya dengan paksa. Berusaha menggantikan malaikat dengan tidak tau dirinya


“tidak, jika kau berfikir aku akan menentang pernihakan kalian, maka itu tidak akan kulakukan” ucapnya penuh keyakinan ketika menangkap cahaya keraguan dari sorot mata layya


“aku hanya ingin menanyakan pendapatmu? Perasaanmu? dan keinginanmu? Aku akan membantumu sebisaku, jadi kuharap kau mengatakan yang sejujurnya padaku” sambungnya lagi


Layya tampak tertegun lama, ia sedang menimbang-nimbang apa yang diinginkannya. Entah bagaimanapun ia berfikir akhirnya menyerah juga, ia tak punya keinginan dan tujuan lagi


Jika sudah begini ia bisa memilih apa! Memangnya dia bisa apa meskipun asya telah menjanjikan dukungan atas keputusannya


“s-saya rasa akan mengikuti keputusan tuan michael saja” ucapnya terbata


“apa kau yakin? Ini adalah keputusan penting menyangkut masa depanmu” asya menanyakan keputusan layya lagi


“ambillah keputusan sesuai dengan yang kau inginkan, jangan takut pada michael karena aku akan mendukung segala keputusanmu. Tidak akan ada yang melawan jika aku berkata tidak” ucapnya meyakinkan

__ADS_1


“ti-tidak nyonya, saya akan menikah dengan tuan michael jika itu adalah cara terbaik dan pilihan paling aman untuk kami” sahut layya


“cobalah memilih berdasarkan dirimu sendiri jangan demi orang lain lagi, aku tidak ingin kau menyesal dikemudian hari. Apalagi jika kau menjalaninya dengan penuh keterpaksaan” asya berusaha meyakinkannya lagi


“saya yakin dengan keputusan saya nyonya, saya akan menerima dan menjalaninya dengan keikhlasan sepenuh hati” layya tampak begitu yakin ketika mengucapkannya


“baiklah jika begitu, aku mengucapkan terimakasih sebagai kakak dari michael karena kau menerima pernikahan ini”


asya mengucapkannya disertai dengan senyum lembut penuh rasa syukur


Layya membalas asya dengan senyuman lembut pula, ia merasa bersyukur karena nantinya wanita sebaik inilah yang akan menjadi kakak ipar juga keluarganya


“karena kau telah menerimanya maka sebaiknya aku memperkenalkan diriku, aku adalah Asya Zara Sulthan kakak ipar michael. Kau boleh memanggilku kakak ipar seperti michael memanggilku atau cukup kakak saja


Yang tidak boleh kau lakukan hanyalah memanggilku Zara, karena tidak ada yang boleh memanggilku begitu kecuali keluarga inti atau suamiku yang menyebalkan itu akan membidikmu dengan timah panas” asya tampak menghela nafas kasar ketika membahas tentang suaminya itu


“lalu suamiku, Dirgantara Fatir Maheswara. Dialah kakak michael


Pria menyeramkan yang tadi kau lihat, orang itulah kakak michael. Aku tidak akan menyalahkanmu jika sampai takut padanya karena dia memang semenakutkan itu, tapi sessungguhnya dia orang yang baik” sambungnya lagi


Layya tampak mengangguk menanggapi, ia juga tersenyum kikuk ketika asya menyebutkan tentang perihal suaminya sekaligus kakak michael, hal itu berarti merekalah orang yang akan menjadi keluarganya.


Seorang wanita cerdas juga baik dan suaminya pria tampan namun menakutkan


.


.


.


.


.


PRAKATA DARI PENULIS:


Penulis mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan pembaca sekalian hingga detik ini

__ADS_1


Penulis harap kalian tidak bosan dengan cerita ini dan bersedia meninggalkan sedikit jejak, karena respon anda adalah semangat saya.


__ADS_2