
Kufikir aku mencintaimu,
Namun ternyata tidak juga.
Lalu kufikir rasaku menderu,
Namun ternyata tidak begitu.
Ini hanya tentang malam yang berlalu
Tentang aku yang menyalahi makna,
Lalu tersesat sendiri tanpa sadar
***
Dirgantara fatir maheswara pria tampan mempesona telah berubah menjadi monster yang mengerikan dalam hitungan detik
Tak ada seorangpun yang berani menentangnya, tak ada seorangpun yang berani menghalangi langkahnya. Ia terlalu menakutkan untuk siapapun yang melihatnya saat ini
Langkahnya yang lebar begitu kokoh tampak dari sosoknya yang begitu tergesa-gesa melewati tiap-tiap ruangan rumah sakit, juan masih setia mengikutinya dari belakang demi menghindari hal buruk apapun yang mungkin bisa saja terjadi.
Braakkkk
Dengan kasar dirgantara membuka pintu kamar perawatan itu, ia berhambur menghampiri sosok mungil yang terduduk diranjang rumah sakit dengan tatapan polos melihat kehadirannya
"Zara, mana yang luka sayang?" Tanya dirgantara dengan cepat memeriksa seluruh tubuh istrinya tanpa terlewat satupun
"Hei! Hentikan itu. Asya akan merasa terganggu" tegur zeus dengan kasar
"Siapa kau! Berani-beraninya ikut campur" Dirgantara berucap dengan dingin menusuk
"Tenanglah, aku baik-baik saja" sahut asya menengahi
"Apa ini sakit?" Tanya dirgantara mengusap lembut luka didahi kiri asya, perhatiannya kembali tertuju pada istrinya sepenuhnya
"Tidak, ini sudah diobati" sahutnya tenang
"Apa kata dokter tadi, lukanya tidak parah kan?" Dirgantara menatap asya sendu
"Seperti kataku tadi, aku baik-baik saja dan ini hanyalah luka kecil" asya menjawab ucapan dirgantara dengan senyuman, meyakinkan suaminya itu bahwa ia baik-baik saja
"Kenapa kau sampai bisa terluka ra, kemana para penjaga yang kutugaskan untukmu? Kemanakah kemampuan berkelahimu menghilang?" Dirgantara memberondong asya dengan pertanyaannya
"Apa yang kau bicarakan? Orang-orang itu jelas adalah musuh-musuhmu yang berusaha melukai asya" zeus lebih dulu menyahut sebelum asya sempat berucap, nada suaranya kental akan ketidak senangan
"Apa maksudmu sesungguhnya? Aku menghormatimu sebagai sahabat istriku tapi bukan berarti kau pantas menghardik dan mencelaku" dirgantara bangkit dari posisinya yang duduk disamping asya
Ia berdiri tegak menantang dihadapan zeus, amarahnya telah tersulut oleh ucapan pria dihadapannya itu
__ADS_1
"Kenapa? Kau pasti faham maksudku, Ya! Kau itu pria yang tidak berguna dan tidak bisa melindungi asya" Zeus berucap dengan lantang
"Zeus!" Bentak Dirgantara marah
"Benar bukan! Kaulah sumber masalah itu, asya terus saja berada dalam bahaya karena berada disisimu" Tuding zeus semakin berani
"Jaga ucapanmu! Aku..."
"Diam!" Asya berteriak menyela apapun ucapan yang hendak dilontarkan dirgantara
Jika tidak segera dihentikan maka bukan tidak mungkin jika suami dan temannya itu akan membuat keributan, atau bahkan kemungkinan terburuknya mereka akan menghancurkan rumah sakit ini
"Berhentilah berkelahi, kepalaku jadi sakit mendengar pertengkaran kalian" asya berucap dengan memegangi kepalanya, berusaha mengalihkan perhatian keduanya
Zeus dengan cepat merangsek mendekat kearah asya, namun belum jua ia sempat menyentuhkan tangannya yang terulur dirgantara sudah lebih dulu berdiri dihadapannya seperti tembok yang menghalangi antara dirinya dan asya.
"Maafkan aku sayang" ucap dirgantara menangkup lembut wajah istrinya itu untuk memastikan keadaannya
"Apa aku perlu memanggil dokter kemari?" Tanyanya khawatir
"Tidak perlu, kurasa aku hanya butuh istirahat" sahutnya meyakinkan
"Tapi tadi katamu merasa pusing?" Tanyanya lagi, menyuarakan keraguan yang ia rasakan
"Aku hanya tidak ingin kalian menyebabkan keributan" Ucap asya dengan masih memegangi kepalanya
Dengan gerakan cepat namun penuh kehati-hatian dirgantara merunduk dan langsung meraup tubuh asya dalam gendongannya
"Kita akan pulang supaya kau bisa beristirahat" ucapnya tak terbantahkan
Asya hanya terdiam saja tak menanggapi, dikalungkannya lengannya pada dirgantara. Ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang sang suami
Asya tau benar bahwa ia tidak akan mampu menentang keputusan dirgantara yang tengah membawanya dengan langkah lebarnya itu, dan ia tau bahwa ia akan mendapat hujan tatapan mencemooh dari orang-orang yang melihat mereka.
Tak terasa mereka telah sampai diparkiran, juan dengan sigap langsung membukakan pintu penumpang dan dirgapun segera mendudukkan dirinya dengan nyaman
Asya bergerak hendak beranjak namun dirgantara menahannya dengan kuat agar ia tak beranjak sedikitpun dari pangkuannya
"Mas aku bisa duduk sendiri" ucap asya yang merasa tak nyaman, namun ucapan dirgantara yang dingin mampu mematahkan niatannya hingga tak mampu berbuat apa-apa
"Tapi aku tidak bisa membiarkanmu duduk sendiri"
***
Sang surya tengah berkuasa diluar sana, hari tengah terik-teriknya dan dijam seperti ini seharusnya dirgantara tengah sibuk-sibuknya bekerja dan berada dikantor
Namun hari ini berbeda, Dirgantara tengah diam seribu bahasa didalam kamarnya dan menyibukkan dirinya dengan pisau dan buah apel digenggamannya. Ia bersikeras akan menjaga dan menemani asya, pria itu menguarkan aura tidak menyenangkan sehingga tak seorangpun ada yang membantahnya, bahkan asya yang biasanya menentangnya pun hanya diam menurut.
Asya tau dengan jelas bahwa kemungkinan terbesar bahwa saat ini dirgantara sedang kesal bukan main pada zeus, pria itu juga bersikeras dengan keinginannya karena tersinggung ucapan zeus. Meskipun begitu asya tak sedikitpun berani mengatakannya secara langsung pada dirgantara
__ADS_1
Apalagi tadi asya juga sempat mengirimi pesan berisi ucapan terimakasih pada zeus ketika masih berada dimobil, sebagai teman lama sekaligus rekan kerja asya merasa perlu untuk sekedar mengucapkan rasa terimakasih karena zeus sempat menemaninya selama penanganan dokter karena zeus juga tau bahwa asya takut sakit dan terlebih lagi takut rumah sakit.
Asya merasa bahwa keramah-tamahan dan bersikap sopan pada zeus diperlukan, apalagi ia pergi tanpa sempat berpamitan dengannya. Akan tetapi berbeda dengan dirgantara yang tingkat kecemburuannya berada diatas rata-rata manusia pada umumnya
Bagi dirgantara sebisa mungkin ia harus menjauhkan pria yang berpotensi akan mencuri asya darinya. ia marah, ia kesal dan ia cemburu tapi ia tak bisa melakukan apapun itu karena tak ingin asya kembali melakukan percobaan melarikan diri darinya
Dirgantara menyadari bahwa dirinya bukanlah pria yang baik sehingga asya pantas memilihnya dari pada zeus yang jelas ribuan kali lebih baik darinya, namun kali ini saja biarkan ia menjadi seorang pria egois yang tidak tahu diri.
Biarkan ia berusaha mempertahankan asya disisinya, biarkan seorang iblis seperti dirgantara memiliki asya meski ia tak akan pernah dicintai meski setitik saja
Tak mengapa, asalkan asya bersedia tetap berada disisinya ia sudah merasa cukup. Ia akan mempertaruhkan segalanya hanya demi seorang asya
Dirgantara tersentak, lamunannya buyar ketika tangan mungil asya menyentuh pipinya. Asya bahkan memiringkan kepalanya untuk melihat wajah murung dirgantara yang tertunduk lesu
"Aku sungguh tidak kenapa-napa, aku hanya terluka kecil. Mas tidak perlu khawatir begitu" ucapnya
"Kau terluka ra, sekecil apapun itu karena aku yang tidak mampu melindungimu" ucapnya dengan suara berat
"Jangan bicara begitu, aku terluka karena ada orang lain disana sehingga aku tidak bisa banyak melawan" sahut asya dengan rasa bersalah
"Aku tau" dirgantara merengkuh asya dalam pelukannya, sejenak saja tolong biarkan ia merasakan pelukan hangat yang menenangkannya ini
Ia tau benar bahwa asya bisa sampai terluka karena ada zeus disana yang mengalihkan perhatiannya, dirgantara tau benar seberapa kemampuan istrinya itu makanya asya seringkali berani memberontak padanya. Entah mengapa hatinya terasa nyeri ketika memikirkannya
Dirgantara terkejut ketika asya membalas pelukannya, ia tak menyangka bahwa asya akan balik merengkuhnya dengan erat
"Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan Cintamu untuk siapa. (Sujiwo tejo)" ucap asya dengan lembut
Dirgantara kembali dihantam oleh keterkejutan ketika mendengar ucapan wanita yang tengah berada dipelukannya itu,
Apa maksud dari ucapan asya?
.
.
.
.
.
PRAKATA DARI PENULIS:
Penulis mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan pembaca sekalian hingga detik ini
Penulis harap kalian tidak bosan dengan cerita ini dan bersedia meninggalkan sedikit jejak, karena respon anda adalah semangat saya.
Penulis ucapkan banyak terimakasih kepada pembaca sekalian yang masih setia menunggu, Sekaligus ingin memberitahu bahwa penulis MengUp cerita ini diantara hari Senin/Jum'at.
__ADS_1