
Tririiingg.....triiiingggg...... Berulang kali suara ponsel yang berdering terabaikan, sang pemiliknya sedang terlelap dalam mimpi
Didering yang entah keberapakalinya barulah asya bergerak meraih ponsel yang diletakkannya dinakas samping tempat tidurnya, tapi tangannya tak bisa meraih karena gerakannya terbatas
"Gaa..... bangunlah, aku tidak bisa bergerak" ucapnya sambil berusaha menyingkirkan tubuh dirga yang menindihnya
Wajar saja!
dengan ukuran tubuh dirga, meski pria itu hanya tengkurap dengan separuh tubuhnya yang menindih. Tetap saja asya yang mungil sudah pasti tenggelam dalam tubuh pria itu
"Errnggghhh" dirga hanya mengerang tak jelas,
ia malah semakin menenggelamkan wajahnya diantara tengkuk istrinya itu
"Menyingkirlah sedikit" asya masih berusaha menyingkirkan kungkungan dirga meskipun gagal
"Mau kemana sih!, nanti saja mandinya sekalian sholat subuh" gumam dirga tak senang tidurnya diganggu
"Ponselku berbunyi" asya sedikit menjauhkan wajahnya untuk mengusik dirga yang menyembunyikan wajah ditengkuknya
"Biarkan saja! Ini masih dini hari, siapa juga yang dengan tidak sopannya mengusik tidur orang dijam segini" dirga sedikit mengangkat wajah ketika mengatakannya
"Entahlah, tapi sudah berbunyi sedari tadi mungkin saja ada hal penting" ucap asya mengira-ngira
"Abaikan itu" jawabnya dengan egois
"Gaa.... mungkin ada hal yang sangat penting dan mendesak sehingga harus disampaikan sekarang" sanggahnya
"Yang benar saja" tolak dirga semakin menenggelamkan wajahnya
"Gaa.....Kumohon. Menyikirlah sebentar, aku perlu mengangkatnya"
"Panggil aku MAS! baru akan kukabulkan" ucap dirga dengan dinginnya
"Haisshhh" asya menatap suaminya itu dengan jengkel
"Tidak mau! ya sudah" sahut dirga cuek, ia lebih mengeratkan pelukannya lagi
"Mengapa harus begitu!" Tanya asya dengan nada kesal yang tak ditutup-tutupi
"Aku suamimu jadi sewajarnya kau menghormatiku, lagipula sepertinya itu cukup bagus" jawabnya santai, ia sudah mulai mengecup tengkuk asya
Satu hal yang pasti, jika asya tidak segera menghentikan suaminya itu, sudah pasti dirga tidak akan berhenti hanya disitu. Ia akan semakin sampai kemana-mana dan itu jelas menyulitkan asya
"Gaa.... hentikan!" Asya berusaha menjauhkan dirinya dari dirga
"No!"
"Aku masih ada rapat besok pagi!" Pekik asya kesal,
dirga bahkan sudah mulai menggerakkan tangannya kemana-mana
"Apa perduliku"
"Kumohon hentikan, ponselku sudah berbunyi lagi"
"Hm" gumam dirga ambigu
"Mas, kumohon hentikan. Aku harus mengangkat panggilan pada ponselku" ucap asya menyerah,
jika ia masih bersikeras tak mau memanggil suaminya itu dengan sebutan MAS maka sudah bisa dipastikan dirga tidak akan membiarkannya bergerak meski hanya sedikit saja.
__ADS_1
Dirga dengan malasnya sedikit bergerak menyingkir, catat! Hanya sedikit
Asya memutar bola matanya bosan, bagaimana mungkin ada orang semenyebalkan dirga. Bahkan bergerakpun hanya sedikit, jelas sekali bahwa dia enggan membiarkan asya beranjak
Dengan gerakan cepat asya meraih ponselnya
"Halo.." jawabnya cepat tanpa melihat nama penelfonnya
"Halo, dek?" Sahut orang diseberang
Asya langsung membeku ketika mendengar suara dari seberang sambungan ponsel mereka, ia tak menduga jika orang tersebut yang telah menghubunginya
"Mas adam" panggil asya dengan suara pelan
"Kamu nggak papa kan dek?" Tanya orang diseberang dengan nada khawatir
Deg..... hatinya langsung terasa ngilu, bagaimana mungkin kakaknya itu bisa bertanya seperti itu
Apakah mas adam mengetahui yang sebenarnya terjadi? Bagaimana dia bisa tau?
Fikir asya, jangtungnya berdetak keras serasa maraton. Fikirannya langsung berkecamuk memikirkan segala kemungkinan yang membuatnya ketakutan
"Mas tadi mimpi buruk, makanya langsung nelfon adek" ucapnya penuh kekhawatiran
Asya yang mendengarnya langsung menghela nafas lega, ternyata dugaannya salah dan kakaknya itu hanya mengkhawatirkannya tanpa tau keadaan yang sebenarnya terjadi
"Adek baik-baik aja kok mas" jawab asya dengan lembut, berusaha menenangkan lawan bicaranya
"Alhamdulillah kalau gitu, mas takut adek kenapa-napa selagi mas pergi" terdengar rasa kelegaan dari suara diseberang
"Mungkin mas adam cuma kangen aja, makanya sampe mimpi kayak gitu" jawab asya dengan kekehan kecil
"Iya mungkin dek"
"Iya dong, pasti karena itu"
"Nggak papa, mas adam jaga kesehatan aja disana. Jangan terburu-buru sampe gak merhatiin kesehatan"
"Iya adek mas yang paling cantik, pokoknya nanti mas bawain oleh-oleh yang banyak deh" janji adam pada adiknya itu
"Bener ya mas!" Suara asya riang
"Iya sayang. Pokoknya kamu baik-baik aja disana" sahut adam dengan lembut meyakinkan adik kesayangannya itu
Dirga hanya memperhatikan dan menyimak pembicaraan asya dengan seseorang yang diduganya adalah adam, kakak iparnya.
Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya itu dengan perlahan yang membuat asya menolehkan kepalanya melihat dirga yang masih terdiam dengan wajah datarnya
"Kemarin kamu nelfon nathan kan, tpi gk nelfon mas" rajuk adam
"Takut ngeganggu, kata nathan mas adam lagi sibuk banget" jawab asya dengan nada bersalah
"Sesibuk apapun itu harusnya adek juga nelfon mas, bukan nathan aja"
"Ma'af mas, adek cuma takut kalau ngeganggu"
"Nggak bakalan ngeganggu, mas malah seneng banget kalo adek nyariin" ungkap adam menjelaskan
"Iya, lain kali pasti adek bakalan nelfon mas juga" jawab asya penuh keyakinan
"Dek?"
"Iya mas?"
__ADS_1
"Kamu kenapa?"
"Maksudnya?" Tanya asya tak mengerti dengan pertanyaan yang diajukan kakaknya itu
"Suara kamu kedengeran kayak berat tertahan gitu lho dek" ungkap adam menyampaikan pendapatnya
"Ohh itu gara-gara ketindihan mas" jawab asya sekenanya, jawaban asya membuat dirga mengangkat sebelah alisnya bingung
Apa dia nggak nyadar kalo jawabannya itu bakal menimbulkan masalah?
Fikir dirga bertanya-tanya
"Pasti adek tidurnya tadi gak do'a" tuduh adam pada asya
"Do'a kok tadi" sanggah asya dengan cepat
"Kalo do'a gak mungkin ketindihan dek"
"Ihh... betul kok, adek tadi pas mau tidur do'a dulu" bela asya tak terima dituduh
"Mana ada setan nindihin orang yang sebelum tidur do'a dulu" jawab adam menyangkal ucapan adiknya itu
"Ini bukan setan mas, tapi udah rajanya setan makanya bisa" jawab asya sambil tertawa
Dirga mendelik mendengar jawaban istrinya itu, bagaimana mungkin tidak. Secara tidak langsung asya telah mengatai suaminya itu sebagai rajanya setan
"Hhh... dasar kamunya aja yang banyak alasan" sahut adam dengan kekehan ringannya
"Mas adam aja yang gak percaya" sahut asya dengan sewot
"Dek, udah dulu ya"
"Lho Kok buru-buru mas?" Tanya asya tak terima
"Mas yakin sekarang disana masih dini hari, kamu mending tidur lagi kan besok masih harus kerja" ucap adam penuh pengertian
"Yahhhhhh" ungkap asya kecewa
"Lain kali kita sambung lagi dek, jangan bandel" tegas adam
"Iya deh, iya" sahut asya penuh ketidak relaan
"Assalamu'alaikum adek mas yang paling cantik" adam mengucapkan salam khas mereka
"Walaikumsalam mas adam kesayangan adek" balas asya mejawab salam kakaknya
Tuutttttt.....tuuuuttttt suara sambungan panggilan yang diakhiri
Asya masih saja menggerutu tak jelas, rasanya ia masih merindukan kakaknya itu yang sudah lama pergi. Tapi ia takut jika harus menghubungi duluan
"Tidur sya" ucap dirga pada asya
Namun tak ada jawaban, istrinya itu masih sibuk dengan gumaman tak jelasnya
"Tidur sya,Kamu besok masih harus bekerja"
Masih tak ada jawaban
"Tapi kalau kamu nggak mau kerja sih no problem juga" dirga menggantungkan ucapannya
"Aku dengan senang hati akan menemani kamu bergadang sampai pagi"
Seketika itu asya menolehkan kepala menatap dirga dengan tajam, dirga hanya menanggapinya dengan mengedipkan sebelah mata lalu tersenyum menyeringai
__ADS_1
Dengan kesal asya menoleh kearah lainnya dan segera menutup matanya jika tak ingin membuat dirga sungguhan melakukan apa yang dikatakannya, dirga yang melihat reaksi asya hanya tersenyum dan segera kembali menenggelamkan wajah dalam tengkuk istrinya itu yang menurutnya nyaman, bersiap melanjutkan mimpi indahnya yang tertunda