
Rindu
Laksana aksara
Tak mampu kumembaca
Tak mampu kumemahaminya
Hampa
Begitulah rasa jika engkau tak ada
Pedih
Ketika engkau jauh
Sakit
Ketika bayangmu tak mampu kulihat
Engkau laksana Aksara
Yang membuatku terpesona
Membuatku jatuh cinta
tanpa bersuara
Tanpa kata
(Puisi karya author sendiri)
***
***
Sayup-sayup lantunan ayat suci mulai terdengar, mengalahkan udara yang masih dingin dan nyanyian makhluk malam mempertandakan waktu yang sedang menuju subuh
Lantunannya terdengar merdu dan mendayu, seakan mengusik dalamnya rengkuhan sang mimpi
Dengan gerakan acak asya mulai menggerakkan tubuhnya dengan tak nyaman yang seakan merespon lantunan ayat suci yang terdengar melalui pengeras masjid agar beranjak dari tempat tidur
Ia terus bergerak gelisah berusaha menepis hawa dingin dan semakin menenggelamkan diri dalam pelukan yang terasa hangat
Tunggu,tunggu,tunggu... Hangat? Pelukan? Kok rasanya ada yang salah sih!
Siapa yang memeluknya? Mas adam! Ah rasanya tidak mungkin karena kakaknya itu masih diluar negeri. Abi? Lebih tidak mungkin lagi karena sejak ada adam ayahnya itu tidak pernah tidur dengannya. Lalu apakah nathan? Sudah jelas bukan! Karena adiknya itu paling tiduk suka jika tidurnya diganggu. Jadi yang memeluknya ini siapa?!
Dengan gerakan cepat asya memutar tubuhnya guna melihat siapa gerangan yang sedang memeluknya. Ia terkejut ketika melihat orang yang memeluknya
Masih tak yakin dengan penglihatannya akhirnya ia sentuhkan jemari mungilnya untuk menelusiri rahang kokoh pemilik wajah itu
Dengan gerakan yang lemah orang itu membuka mata, dengan tatapan sayu seakan masih terjerat alam mimpi ia tersenyum menyapa
__ADS_1
Tatapan sayu, pandangan berkabut karena kantuk, wajah kusut masai, rambut acak-acakan, dan suara serak khas orang bangun tidur. Astagfirulloh ini sih menggoda iman
Aihh senyum itu, sudah tentu tidak salah lagi milik siapa
"Dirgantara...??" Gumam asya
"Ada apa?" Sahutnya dengan suara serak khas bangun tidur, nyatanya gumaman asya masih mampu didengar olehnya
Dirga menyahut dengan gerakan mengeratkan pelukannya, jujur ia masih mengantuk dan ingin melanjutkan mimpinya yang tertunda
"Bagaimana bisa mas disini?"
"Memangnya tidak boleh!" Sebelah alis dirga terangkat dengat raut wajah tak suka mendengar pertanyaan istrinya itu
"Bagaimana mas bisa tau aku disini?" Tanya asya dengan penasaran
"Karena kau tidak ada dirumah ketika aku pulang dan anne yang memberitahuku bahwa kau disini" katanya dengan ekpresi dingin khas miliknya itu lagi
"Kapan mas dateng? Kok aku nggak tau"
"Mungkin skitar tengah malam atau dini hari" ucapnya cuek
Asya hanya terdiam menanggapi, dilihatnya wajah dirga yang tampak berantakan dan lelah pastinya.
Ia bahkan bisa melihat kantung mata yang tampak menghitam, rambut halus disekitar wajah dan kumis yang tampak tak terawat
Sekelabat rasa bersalah langsung menjalari hatinya
"Mas pasti capekkan, jadi tidur lagi aja"
Asya menarik selimut agar menutupi tubuh suaminya itu dan berharap mampu membuatnya nyaman
"Tapi dengan syarat kau harus tetap disini dan memelukku" ucapnya dengan tatapan setajam elang
***
***
Saat ini asya tengah berusaha lepas dari rengkuhan dirga yang cukup erat, sedangkan kepala pria itu ia sembunyikan diantara leher sang istri
"Mas lepaskan aku, aku harus membantu uma masak" rengek asya
"Nanti saja" jawab dirga dengan dingin seperti biasa
"Nanti uma nyariin loh"
"Uma pasti ngertiin" ucap dirga menggantung tak jelas
"Ngerti apanya?" Sahut asya tak faham
"Ngerti keadaan orang kangen-kangenan"
"Apaan sih" ucap asya gak nyambung dengan ucapan suaminya yang dirasa gak jelas
__ADS_1
Baru saja asya hendak membuka mulut melancarkan keluhan yang berikutnya tapi terhenti karena mendengar pintu kamar yang diketuk
"Zara, sudah bangun nak?" Suara sity dari balik pintu yang tertutup rapat
"Sudah uma"
"Cepat turun nak kita sarapan bersama dulu"
"Iya uma, zara akan segera turun" sambung asya cepat
Lalu tak lagi terdengar suara sity yang sudah dapat dipastikan bahwa ia sudah turun kelantai bawah lebih tepatnya ruang makan
"tuhkan uma bahkan sudah selesai memasak" ucap asya bersungut-sungut
"biarin" sewot dirga
"Mas, lepas gih kita udah ditungguin lho" asya melirik suaminya yang masih asik menyembunyikan wajahnya
Asya bahkan sempat berfikir mungkin dirga kembali tertidur namun ternyata dugaannya salah, karena dengan enggan dirga melepas pelukannya
Saat ini asya masih menggunakan mukenah sedangkan dirga masih menggunakan baju koko dan sarung lengkap dengan pecinya, mereka berdua memang baru siap sholat subuh ketika dengan spontan dirga menarik asya dalam pangkuannya dan memeluknya erat cukup lama bahkan enggan melepasnya
"Sebaiknya kita segera turun dan sarapan, lalu segera pulang dan bersiap-siap kekantor" ucap asya seraya bangkit dan melepas mukenahnya
"Hm" sahut dirga malas
Asya sekilas menoleh melihat reaksi dirga yang cukup aneh menurutnya. Orang gila kerja model dirga baru saja menyahut dengan malas ketika ia sedang membahas masalah kerja, WOW ini luar biasa bukan
Asya sudah tampak rapi dan siap, ia melihat suaminya yang juga sudah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai. Kemarin ternyata dirga tiba dirumah mertuanya itu masih dengan membawa koper yang sesungguhnya hanya berisi empat potong pakaian, entah apa maksudnya
"Ada masalah mas?" Tanya asya bingung ketika melihat dirga yang terlihat murung dan lesu
"Hm" gumamnya tidak jelas
"Hm apa mas?" Tanya asya yang masih bingung
Tapi sayangnya dirga masih tidak menyahut ia malah memeluk asya dari belakang cukup erat
"Mas lepas dong, kita sudah ditunggu buat sarapan bareng loh" rengek asya disertai usaha melepaskan diri
"Cium dulu" rajuk dirga yang saat ini tampak seperti anak kecil
Asya mendengus keras menanggapi tingkah suaminya yang kekanak-kanakan menurutnya
Cup. Asya mencium singkat pipi dirga
Dirga lalu tersenyum tak jelas dan melepaskan pelukannya pada asya, bahkan dirga berjalan lebih dulu untuk menuju ruang makan dengan wajah riang secerah mentari pagi. Asya yang melihatnya cukup terkejut bahkan ia tercengang menanggapi emosi suaminya yang mudah berubah-ubah melebihi cuaca
Selama pernikahannya dengan dirgantara asya memang telah melihat berbagai ekspresi yang ditunjukkan dirga sebagai bentuk penggambaran emosinya, dan hebatnya lagi Emosi dirgantara mudah berubah-ubah. Bahkan perubahannya sangat drastis membuat asya kebingungan olehnya
meskipun suaminya itu sering menampilkan tampang datar dan dingin, namun dirga juga mampu bertindak lembut, terkadang manja dan terkadang Ceria. meskipun itu hanya ditunjukkan dirga pada asya seorang, bahkan terkadang dirga bisa bertindak jahil dan usil untuk mengusik asya
meskipun begitu dirga cukup baik, buktinya ia membiarkan asya menaruh rak besar dikamar mereka, bahkan ia juga membantu asya memenuhi rak itu dengan koleksi buku-buku sesuai kebutuhan asya
menepis segala pemikiran yang lalu lalang asya segera menyusul langkah suaminya yang sudah jauh didepannya
__ADS_1