
Langkah kaki telah membawanya kesana, tanpa ia sadari ia hanya menatap pintu besar kamar itu dengan kebingungan
Tadi karena terbawa oleh emosi yang telah menguasainya ia melangkahkan kakinya asal kesembarang arah, nalurinya mendorong untuk menghindari sang suami dan kini ia sudah berada disana dengan kebingungan menatap pintu besar namun megah itu
"Apa yang kulakukan disini?" Tanya asya disela kebingungannya
"Bahkan mike tidak tidur disini. astagfirulloh hal'adzim, mungkin saja alam bawah sadarku masih mengingat jika aku harus mengingatkan mike untuk makan malam" asya terkekeh ringan menyadari tingkahnya
Mungkin saja dirinya lupa bahwa semenjak kaki mike terluka adik iparnya itu pindah kamar kelantai satu, supaya tidak memperburuk lukanya jika harus naik-turun tangga.
Dilantai dua rumah besar kediaman michael ini hanya ada dua kamar, yang satu adalah kamar mike dan yang satunya lagi adalah kamar mendiang kedua orang tuanya dulu. Kamar itu sekarang dialih fungsikan sebagai ruang kerja mike, meski begitu tidak ada yang berubah dari dahulu kecuali adanya penambahan rak-rak buku serta beberapa lemari khusus untuk mike menyimpan berkas miliknya
Mike bilang hatinya merasa tenang dan kerinduannya sedikit terobati ketika berada disana, jadi dengan sengaja ia tidak ingin merubah apapun yang ada disana
Dibanding kediaman maheswara maka kediaman mike terlihat lebih mewah didalamnya, baik dari dekorasi, desain sampai furniture yang mengisi setiap ruangannya
Kediaman Maheswara didominasi oleh sentuhan khas nusantara, berbeda dengan kediaman Edrisson yang didominasi oleh kebarat-baratan yang megah nan glamour.
Asya menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengembalikan kesadaran dari terpaan kebingungan. Ketika dirinya hampir melangkahkan kaki untuk berbalik dan pergi tiba-tiba saja ia mendengar suara lembut nan merdu melantunkan ayat suci dengan begitu indahnya
Seakan terhipnotis oleh keindahan dan haru yang langsung menyelimuti hatinya asya terdiam dan memejamkan mata, mengurungkan segala niatannya untuk beranjak dari sana.
Seketika itu pula mata asya terbuka dengan keterkejutan yang begitu nyata,
Siapakah gerangan orang yang tengah melantunkan ayat suci dengan begitu indahnya?
Rasanya tidak mungkin jika itu mike mengingat bagaimana adik iparnya itu masih terbata-bata ketika membaca dari tiap-tiap ayat suci, suaranya juga tidak selembut ini, apalagi rasa-rasanya ini tidaklah suatu bacaan. Namun lantunan yang berasal dari suatu Hafalan, terlebih lagi ini adalah suara seorang wanita
Tetapi siapakah gerangan yang berada disana, dibalik pintu megah ini
yang merupakan kamar dari adik iparnya. Apalagi jika itu seorang wanita
Wanita manakah kiranya yang begitu berani memasuki kamar pribadi seorang michael?
Apakah sekiranya orang itu tidak takut dimutilasi jika memasukinya?
Kamar adik iparnya itu adalah suatu tempat terlarang dirumah ini, hanya beberapa orang saja yang memiliki izin untuk memasukinya, Bahkan mike sengaja membersihkan sendiri kamarnya agar tidak ada yang perlu memasukinya
Jadi jika seperti itu adanya bagaimana mungkin ada orang yang berada disana, bahkan itu seorang wanita.
Bagi mike wanita adalah makhluk merepotkan yang hanya bisa ia manfaatkan saja, selebihnya ia tidak memperdulikannya.
Terkecuali itu adalah orang yang memang sangat berarti baginya.
Menyingkirkan segala pertanyaan yang menggelayuti hatinya asya langsung mendorong keras pintu itu hingga terbuka, hal yang ia dapati setelahnya amatlah mengejutkan hingga menggetarkan jiwanya
__ADS_1
Disana diujung ruangan ada seorang wanita yang terbalut oleh mukena berwarna putih tengah duduk tenang diatas hamparan sajadah dengan melantunkan ayat suci yang indah mendayu
Wanita itu seketika mengakhiri lantunannya ketika menyadari keberadaan orang lain disana dan menatap asya yang masih berdiri membeku didepan pintu dengan keterkejutan, mereka sama-sama terkejut hingga tak mampu berkata-kata.
Wanita itu tampak baik-baik saja secara psikis dilihat dari sorot matanya, namun amat buruk jika dinilai dari kondisinya yang bahkan jika dilihat ada beberapa luka dan lebam diwajahnya bekas dari kekerasan yang mungkin diterimanya
Asya menatap wanita itu lekat dari ujung hingga keujung untuk mengenali siapakah gerangan orang yang bahkan dengan tenang dan nyaman berada diarea terlarang kediaman ini.
Wanita itu dengan cepat bangkit dan melepas mukena yang ia kenakan, lalu segera beranjak mencari hijab sederhanya yang ia ambil dari dalam lemari. Saat itulah asya semakin terbelalak melihat banyaknya bekas luka yang bukan hanya ada pada wajahnya namun berada hampir disekujur tubuhnya, luka-luka itu begitu tampak nyata dari permukaan kulitnya yang tidak tertutup oleh pakaian.
Asya yang marah langsung berbalik keluar dan ia mendapati bahwa dirga dan mike sudah berdiri disana tidak jauh darinya,
Dengan gerakan cepat ia menghampiri adik iparnya itu, mencengkeram erat kemejanya dengan penuh amarah
"Katakan padaku siapa dia?" Ucapnya dengan nada lantang
Mike terbelalak, ia terkejut ketika asya membentaknya
"Kakak ipar, di-dia. Dia" ucap mike terbata tak jelas
"Katakan padaku siapa dia mike, kenapa dia ada disini" bentak asya semakin berkobar oleh amarah
"Zara lepaskan ini" diarga langsung menengahi, ia melepaskan cengkeraman asya dan segera memeluknya menjauhi mike
"Jangan sentuh aku!" Asya melepaskan diri dari pelukan dirga dengan kasar, sedangkan dirga hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan
***
Mereka berada disana, menatap mike dengan tajam menuntut penjelasan. Sedangkan mike dan wanita itu hanya terduduk dengan diam membisu, tidak ada seorangpun dari keduanya yang berani memulai pembicaraan
Apalagi gadis itu yang bahkan sudah gemetar ketakutan kala melihat sorot mata tajam mengintimidasi dari seorang dirgantara ketika menatap keduanya
Entah mengapa ruang keluarga yang amat luas itu terasa begitu menyesakkan hingga hampir membuat keduanya kesulitan bernafas
"Sekarang jelaskan padaku mike" ucap dirgantara dengan tegas, suaranya menggaung memecah kesunyian
"Ja-jadi, jadi, a-aku, aku" mike terbata tak bisa melanjutkan ucapannya
"Bicara yang jelas michael" bentak dirga
Mike langsung terdongak, menatap dengan keterkejutan ketika orang yang dianggap kakak olehnya itu memanggil namanya secara utuh, bukan mike seperti biasanya
"Kenapa kau tidak berbicara ha!, tidak tahukah dirimu seberapa marahnya aku!" Bentaknya lagi
"Ini tidak seperti yang kalian fikirkan" sanggah mike menyadari tatapan tajam kedua kakaknya
__ADS_1
"Lalu apa? Siapa wanita yang kau sembunyikan dikamarmu?"
"Di-dia a-adalah" jawab mike dengan terbata
"Bicaralah yang jelas" hardik dirgantara
"Berapa kali kukatakan kepadamu Jangan membawa seorang wanita pulang kerumah" dirga mekankan kalimatnya dengan tajam menusuk
"Kakak, " panggilnya terputus
"Aku tidak perduli jika kau berkencan dengan seorang wanita untuk bermain-main, aku juga tidak perduli dengan apa yang kau lakukan pada mereka. Tapi bukankah sudah kuperingatkan kepadamu berulang kali untuk tidak membawanya pulang kerumah" dirga berucap tanpa memberi kesempatan pada mike untuk berbicara
Tatapan mata dirga menunjukkan kekecewaan yang dalam hingga langsung mengiris batinnya begitu saja
"Dia bukan salah satu wanita yang kukencani, a-aku hanya menolongnya. Tolonglah percaya padaku" ditatapnya dirga dan asya bergantian, namun yang ia temukan hanyalah tatapan kekecewaan
"Apa kau juga yang melakukan itu padanya?" Tanya asya menunjuk luka-luka pada tubuh gadis dihadapannya
"Tidak kakak ipar" sangkal mike dengan cepat
Gadis itu sudah menangis dalam diam, asya mengerti bahwa mungkin ia ketakutan karena berada dalam situasi seperti ini
Dari penampilannya asya tidak yakin jika gadis itu adalah salah satu mainan mike, tetapi jika gadis itu adalah wanita yang diculik paksa lalu disiksa mike itu sangatlah memungkinkan, mengingat bagaimana pertama kali asya bertemu dengan adik iparnya itu
Asya mendekat dan merengkuh gadis lemah itu dalam pelukannya
"Tidak usah takut, katakan saja pada kami apa yang dilakukan mike padamu" diusapnya perlahan punggung itu supaya merasa tenang
"Tu-tuan michael sungguh hanya menolongku" ucapnya dengan nada lemah dan suara yang bergetar
Dirga dan asya langsung menatapnya dengan seksama, mencerna ucapan pembelaan yang barusan dilakukan olehnya
.
.
.
.
PRAKATA DARI PENULIS;
penulis mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan pembaca sekalian hingga detik ini
penulis harap kalian tidak bosan dengan cerita ini dan bersedia meninggalkan sedikit jejak, karena respon anda adalah semangat saya.
__ADS_1
sesungguhnya penulis ingin segera meng Up cerita ini dan memenuhi target, namun disaat-saat genting seperti ini kesehatan penulis malah tidak mendukung
Ditambah lagi dengan adanya kesibukan yang terus-menerus menyita waktu penulis. oleh karena itu penulis meminta maaf yang setulus-tulusnya kepada pembaca setia SETAN POSESIF