
"Jagalah apa yang telah kamu miliki saat ini, jangan sampai kamu membuang apa yang kamu miliki demi yang kamu inginkan.
Karena kamu memerlukan yang kamu butuhkan, bukan sesuatu yang belum tentu kamu dapatkan"
Jam makan siang telah tiba tapi asya masih sibuk berkutat dengan berkas-berkas dihadapannya, berulang kali ia mendecih kesal ketika melihat berkas-berkas yang menurutnya berantakan
Asya adalah orang yang teliti, ia sedikit menemukan keganjilan pada laporan yang telah disusun oleh pegawainya yang entah siapa namanya, dan hal itu berhasil menngelitiknya untuk mengusut tuntas sampai beres. hingga akhirnya lupa waktu
Tok tok tok
Asya mengerutkan kening, siapa gerangan orang yang datang. Setaunya sekretarisnya sudah ia suruh pergi makan siang lebih dulu dan rasanya tidak mungkin ada orang yang datang menemuinya tanpa melalui sekretarisnya.
Sepertinya juga tidak mungkin jika sekretarisnya datang dan mengetuk pintu, wanita itu biasanya akan langsung masuk keruangannya setelah melakukan panggilan lewat telepon kantor yang tersedia dimejanya
"Siapa?" Tanya asya dengan suara yang dibuat agak keras
"Ini saya nyonya"
Asya langsung bisa mengenali suara orang yang mengetuk pintu ruangannya, orang itu adalah anne sang pengawal pribadinya
"Masuklah anne"
Entah ada hal apa gerangan sehingga anne datang kekantornya, seingat asya ia tadi pagi hanya diantarkan oleh anne ketika berangkat dan meminta wanita itu kembali lagi nanti sore hari saat ia pulang
"Nyonya, tuan dirgantara meminta saya datang untuk mengantarkan makan siang" kata anne menjelaskan perihal kedatangannya
"Bagaimana dia tau aku belum makan siang" ucap asya penasaran, apa kira-kira suaminya itu adalah cenayang.
menepis semua pemikiran yang muncul diotaknya Asya segera beranjak dari kursinya dan melepas kacamatanya, ia menghampiri anne yang berdiri didekat sofa
"Tadi tuan menghubungi saya, kata tuan nyonya tidak dapat dihubungi dan tuan menanyakan keberadaan nyonya. Saya mengatakan bahwa nyonya masih berada dikantor, lalu tuan menyuruh saya segera mengantarkan makan siang untuk nyonya"
Asya hanya terdiam melihat menu makanan yang sudah tersusun rapi dihadapannya, ia masih terus berfikir bagaimana suaminya itu bisa tau jika ia belum makan.
Apakah kira-kira dirgantara menaruh kamera tersembunyi dalam ruangannya?, begitulah pertanyaan yang masih berputar-putar diotaknya
"Tadi tuan berkata jika nyonya mungkin belum makan siang karena nyonya masih sibuk, biasanya nyonya akan sangat sibuk dan lupa makan jika berada dikantor" anne meneruskan ucapannya
Asya hanya mengangguk menanggapi ucapan anne, ternyata pikirannya salah. mungkin ia memang terlalu seudzon pada suaminya itu.
__ADS_1
Asya segera melahap makanan dihadapannya karena sudah merasa lapar
"Saya harap nyonya segera menghidupkan ponsel, tuan sangat mengkhawatirkan nyonya" kata anne menyampaikan pendapatnya
"Aku akan menghidupkannya setelah selesai makan" jawab asya
Setelah selesai makan siang asya segera menghidupkan ponsel yang ia simpan ditasnya, seketika itu pula banyak notif yang masuk dalam ponselnya
Dan dari dirgantara adalah yang paling banyak, asya menghela nafas keras
Belum juga ia membuka isi notif tiba-tiba saja ponselnya sudah berdering
"Halo assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam sya, kau sudah makan?" Tanya dirga cepat
"Sudah, Baru saja anne mengantarkannya" jawab asya santai
"Jangan telat makan, aku tidak mau melihatmu dirumah sakit jika aku pulang" kata dirga dengan ketus
Asya memutar bola matanya dengan malas, dirga memang selalu bisa membangkitkan amarahnya. Dan satu lagi yang begitu membuat asya muak, yaitu cara bicara dirga yang selalu ketus, dingin dan kadang arogan. nada bicaranya yang terkesan datar tanpa tikungan apalagi tanjakan
"Jangan terlalu keras bekerja sya"
"Tentu saja aku harus bekerja keras, kau ini bagaimana!" Sahut asya dengan kesal
"Kau tidak bekerjapun tidak masalah" jawab dirgantara dengan santai
"Lalu bagaimana caranya aku dapat uang" ucap asya dengan kesal
"Kau adalah istriku sya, hartaku tidak akan habis meski kau menghambur-hamburkannya. Kau tidak harus membuat dirimu kelelahan dan mengundang penyakit seperti itu, tinggal sebutkan saja berapa yang kau inginkan dan aku akan langsung memberikannya padamu"
"Aku tidak mau, aku lebih suka uang dari hasil kerja kerasku sendiri" ucap asya tegas penuh penolakan
"Apakah semua yang kuberikan padamu selama ini kurang? Atau kau tidak suka dan menginginkan yang lain?" Tanya dirga masih dengan nada datarnya yang khas
"Tidak, semua yang kau berikan padaku sudah berlebihan malah" jawab asya
Jujur ya, asya itu bukannya senang karena diberikan segalanya oleh dirga tapi ia malah kesal. Ia merasa seperti wanita simpanan yang diberikan segala kemewahan asal mau memenuhi nafsu pria hidung belang
__ADS_1
Dan rasanya nasibnya memang tak jauh beda dengan wanita simpanan
Dirgantara memberikan segala kemewahan padanya, pria itu menikahinya secara paksa bahkan pria itu juga memaksakan kehendak padanya. Dirgantara akan memberikan apapun yang asya mau asalkan ia mau dengan sukarela melayaninya, entahlah sejauh ini dirga hanya menuruti keinginan asya dengan cara diatas ranjang
Bahkan kebebasan asya beberapa hari ini juga didapat setelah bercinta dengannya, kebebasannya selama beberapa hari ini tanpa adanya bodyguard dan pasukan khusus yang selalu mengawasi langkahnya. Semua itu tak lepas dari urusan ranjang, yang jelas asya merasa seperti tengah menjual dirinya demi sebuah kebebasan kecil
"Sya?" Panggil dirga yang merasa bahwa istrinya itu terdiam cukup lama
"Hm"
"Apa susahnya sih kau meminta? Aku akan sangat senang jika kau meminta sesuatu padaku" ucap dirga dengan serius, ada rasa kecewa yang terselip diantara kalimatnya
"Karena aku tidak mau" jawa asya dengan ketus
"Apa sebenarnya yang membuatmu begitu keras kepala"
"Aku bukan simpananmu yang akan langsung merengek menginginkan hartamu" sahut asya dengan ketus dan tajam
"Kau memang bukan simpananku, kau adalah istriku sya" ucap dirga dengan lembut
"Tapi aku merasa seperti ****** yang hanya perlu mengangkang untuk mendapatkan keinginanku" nada suara asya terdengar meninggi penuh emosi
"Kau itu istriku sya, bukan hal yang salah jika kau meminta padaku"
Asya hanya terdiam berusaha meredam emosinya
"Aku tidak pernah menganggapmu ******, kau adalah nyonya maheswara, istriku yang terhormat"
"Aku masih harus kembali bekerja" ucapnya dingin, masih terasa hawa kemarahan dari ucapannya
Dari ucapan asya saja sudah terlihat bahwa ia sedang mengalihkan pembicaraan
"Jangan pulang malam, aku akan segera kembali"
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" dirga menjawab salam asya dengan suara tenang khas miliknya
Asya segera mengakhiri sambungan ponselnya setelah mengucapkan salam, suasana hatinya masih begitu berantakan
Belum juga suasana hatinya membaik tiba-tiba saja zeus sudah mengiriminya begitu banyak pesan, zeus ingin mengajaknya makan siang ataupun hanya sekedar bertemu dan mengobrol
__ADS_1