
Sekali lagi aku terbawa oleh ilusi,
terjerat oleh sesak dan terbelenggu oleh sakit yang menyiksa diri
Gelap itu meraup semua yang kupunya,
menenggelamkannya hingga dasar tak berwarna
Hitam dan kelam,
memaksaku untuk terjebak didalamnya hingga tak bisa beranjak.
Menyiksaku untuk merasakan pilu yang menyayat-nyayat kalbu
Aku menangis,
aku berteriak dan aku terisak.
Namun semuanya membisu
Seakan tuli dengan penderitaanku
Tolong! Jika benar ini mimpi maka bangunkanlah aku,
Jangan biarkan aku terus menunggu dalam kegundahan yang memporak-porandakan hatiku
Tolong aku yang tak mampu kembali kepermukaan
***
Netra indahnya yang biasa berkilau itu kini meredup, tenggelam basah oleh luapan air mata yang tak mau sejenak berhenti
Ia sendirian berada diruangan itu, menutup diri dari semua orang yang menunggu. Hanya bertemankan Isakan tertahan yang timbul olehnya hingga menyesakkan dada
Tangannya lunglai tak mampu diangkat, pesan yang masuk diponselnya beberapa detik yang lalu telah menghancurkannya hingga kedasar
Sejak semalam ketika pria itu pergi ia tak bisa tidur kembali, hatinya dilanda gelisah. Rasa tak nyaman yang terus menggerogoti hatinya itu telah ia tepis tanpa perduli, berusaha tegar menanti
Seharian hingga kini waktu menjelang malam, ia meyakinkan dirinya sendiri juga semua orang bahwa pria itu akan segera kembali sesuai dengan janji
Dengan kepercayaan diri penuh ia mengenakan gaun cantiknya, memoles diri untuk terlihat lebih mempesona, menunggu dengan keyakinan. Pria itu telah berjanji dan tidak mungkin ia akan mengkhianati
__ADS_1
Jam terus berlalu dan semuanya telah tersusun rapi seperti rencana awal mereka dan pria itu belum tiba, semuanya berlalu hingga telah dipenghujung waktu dan rasa resah mulai mengganggu. Namun pesan itu seakan merajamnya dari dalam
Suamimu si pria brengsek itu telah mati ditempat pertempuran, jangan kau tunggu lagi untuk datang!
Jika kalian yang mendapat pesan itu bagaimana perasaan kalian? dihari resepsi pernikahan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh keluarga, dikala hatimu perlahan mulai menerima keberadaannya. Lalu pesan itu seakan melemparkan bom yang menghancurkan segalanya
Asya tak ingin percaya, ia masih disana menunggu. Tak mau keluar apabila sang suami belum tiba, berulang kali ia menghubungi dirga untuk memastikan segalanya. Bahkan ia sudah menghubungi adik iparnya juga, akan tetapi tidak ada jawaban seakan mereka meyakinkan bahwa keduanya telah tiada
Air mata itu sudah lebih dulu menetes mencairkan hati seorang Zara yang telah lama membeku, ia berusaha menghubungi juan yang merupakan Asistan sekaligus pengawal pribadi suaminya. Bukannya membaik malah fikirannya semakin kalut, dirgantara bepergian tanpa membawanya. Bahkan pria yang bernama lengkap juandany itu tidak tahu-menahu tentang adanya keributan semalam
Asya terduduk lemas dilantai, seakan tulang-belulangnyapun tidak lagi bersisa. Seakan semua penunjang kehidupannya telah dilucuti dengan paksa, rasanya ia ingin mati saja saat ini juga.
"Mengapa ini terjadi?" Tanyanya disela-sela isak tangis
"Ketika kufikir semuanya akan berjalan baik-baik saja" usai mengucapkan itu tubuhnya menyandar pada sisi ranjang karena tubuhnya yang lemah tidak lagi mampu menopang berat badannya
Suara bising keramaian dari lantai satu kediaman itu bahkan tak terdengar lagi olehnya, otaknya serasa kosong dan hampa. Ia bahkan mendapat kiriman foto-foto mengerikan dari lokasi dimana seharusnya dirgantara berada
"Aku mau mati saja" ucapnya dengan putus asa
Ia tau segala resiko menjadi istri seorang dirgantara, untuk bersanding dengannya maka diperlukan mental yang sekuat baja. Tetapi ia juga manusia biasa, sama dengan perempuan pada umumnya. Keadaannya saat ini nampak utuh namun rapuh
Rasanya ia tak sanggup jika harus gagal untuk yang kedua kali, apalagi dengan keadaan yang lebih parah. Kenapa ia harus hancur lagi, bahkan dihari penting seperti saat ini
Traakkk. Suara jendela yang dibuka tersebut mampu mengalihkan fokus asya, matanya terbelalak melihat sosok dengan suara berat nan tegas dihadapannya itu. Tubuhnya yang sebelumnya lemah tak berdaya seketika langsung mendapatkan kekuatan untuk berdiri tegak
Greep
Asya langsung menerjang tubuh itu yang baru saja menapakkan kakinya dilantai kamar, ia memeluknya seakan takut bahwa sosok itu akan segera menghilang
"Jangan pernah mengucapkan itu lagi, bagaimana aku bisa hidup tanpamu? Hah jawab aku ra, jawab! Aku bisa sekarat dan mati. Tau tidak!" Dirga mencengkram lengan asya dengan kuat, ia guncangkan dan berucap dengan nada marah
Sedangkan asya tidak menjawab sama sekali, ia masih terisak dan malah semakin mengeratkan pelukannya
"Jangan pergi" hanya kata-kata itu yang terucap dari bibirnya yang gemetar
Dirga menghela nafas kasar, hatinya melunak mendengar suara itu. ia melepas cengkramannya dan beralih memeluk serta mengusap pundak istrinya pelan
"Hei, jangan menangis lagi" ucapnya lembut
Ia berusaha melepas pelukan asya supaya bisa melihat wajahnya, namun sayangnya asya tak mau melepasnya meski hanya sesaat saja
__ADS_1
"Aku disini dan tidak kemana-mana ra, jangan menangis lagi ya sayang" bujuknya perlahan
Dirga merasa cukup bingung melihat tingkah istrinya itu, dirga tidak pernah melihat istrinya itu berinisiatif memeluknya terlebih dulu. Apalagi menangis dan memeluknya hingga enggan pergi, seluruh pertanyaan dari dalam dirinya terus saja bermunculan memenuhi otaknya
"Kenapa denganmu ra? Tidak biasanya kamu begini" tanya dirga dengan mencium lembut puncak kepala istrinya itu
Asya hanya menggeleng dan semakin menenggelamkan diri dalam pelukan dirga yang mampu menenangkan jiwanya
"Sebenarnya aku suka kamu peluk gini, tapi coba lepasin dulu deh ra" ucap dirga
Namun lagi-lagi asya tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepala
"Zara, bajuku ini berlumuran darah sayang. Jadi lepasin dulu ya" Dirga berusaha membujuknya lagi
Tidak biasanya asya memeluknya seperti ini apalagi dengan keadaan tubuhnya yang sekarang, mengingat asya biasanya membenci bau darah dan tidak akan membiarkan dirga sedikitpun menyentuhnya sebelum pria itu membersihkan diri. hal ini tentu saja membuatnya bertanya-tanya
Ketukan dipintu kamar mereka akhirnya mampu mengalihkan perhatian asya
"Zara, sudah siap belum? Itu para tamu sudah menunggu" tanya suara dari balik pintu itu, dirga menebak bahwa mungkin itu suara dari fauzia. Karena suara itu berbeda dari suara yang biasa ia dengar yaitu suara ibu mertuanya
Asya tampak panik mendengar suara itu, dengan perlahan ia melepaskan pelukannya pada dirga dan langsung tergesa-gesa menghapus air matanya.
"Sebentar mbak, ini masih siap-siap" sahut dirga untuk menghapus rasa khawatir yang mungkin timbul akibat mereka yang terdiam membisu
"Baiklah, kalau sudah siap segeralah turun" sambung suara dari luar pintu
"Iya mbak, kami segera turun" sahut dirga lagi
Setelah suara dari balik pintu tak terdengar lagi akhirnya dirga memandang asya
"Kita bicara lagi nanti ra, kita harus bergegas" ucap dirga kemudian segera bergegas meninggalkan asya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri
Asya hanya mengangguk tak menjawab, perlahan ia berusaha merapikan kembali penampilannya supaya tidak menimbulkan kecurigaan orang yang melihatnya
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan jejak, karena respon anda semangat saya😊