
.
.
In another place, maheswara group office
Udara memang masih diselimuti oleh hawa dingin yang senantiasa setia menyapa manusi yang telah terjebak aktivitas dipagi hari yang indah ini
Namun rasanya rasa dingin itu menjadi ribuan kali lipat sebab adanya sosok Dirgantara yang duduk dengan tenang, sosok kokohnya yang tampak mengimintidasi berhasil membuat ketakutan bagi siapapun yang melihatnya
Seperti biasa Dirgantara mengadakan rapat bersama dengan para pemegang saham diperusahaannya setiap akhir bulan guna meninjau hal apa sajakah yang telah mampu mereka raih selama sebulan dan kira-kira hal apa sajakah yang mesti mereka perbaiki.
Kediaman seorang Dirgantara selalulah membawa rasa kecanggungan yang sangat menyiksa bagi siapapun yang berada dihadapannya, seperti yang terjadi saat ini
“selamat pagi tuan Dirgantara, saya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan anda. Maaf saya tidak dapat hadir karena sedang dalam perjalanan bisnis” ucap seorang pria yang tampak berusia 40 an
“hm, ya terimakasih” sahutnya dengan nada dingin seperti biasanya
Lagi-lagi suasana menjadi lebih canggung setelah Dirgantara menyelesaikan ucapannya, mereka mulai mengira-ngira bahwa mungkin pria itu sedang berada dalam suasana hati yang tidak baik.
Mungkin jika pria itu tidak menjawab pertanyaan salah satu dari pemegang saham yang ada disana, mereka akan berfikir bahwa ia sedang tertidur. Dirgantara sungguh hanya terdiam seribu bahasa dan rapatpun juga tidak segera dimulai
Mungkin saja jika tidak mengingat bahwa rapat ini sangatlah penting, para orang yang berada disana lebih memilih untuk lari segera menjauh dari sosok yang semenyeramkan Dirgantara. Apalagi sosok itu sekarang ini sedang menggunakan kaca mata hitam yang membuatnya lebih menakutkan
Tatapannya yang lurus kedepan tampak lebih angkuh dan mengintimidasi.
Sesungguhnya hal tersebut terdengar cukup aneh apabila dilakukan oleh orang lain, yang benar saja ada yang mengenakan kaca mata hitam didalam ruangan. Akan tetapi hal ini teralihkan sepenuhnya oleh efek yang ditimbulkan oleh penampilannya
Ia tampak lebih angkuh dan menguarkan aura menyeramkan yang sangat mengganggu dan membuat ketakutan.
“berhentilah menatapku seperti itu, juan segeralah mulai rapatnya” ucapnya gusar, rupanya ia mulai merasa terganggu dengan perhatian semua orang yang menatapnya dengan berbagai macam pandangan
Juan yang sedari tadi berada disampingnya segera mengambil posisi dan siap melaksanakan tugas
***
Dirgantara kembali keruangannya dengan tergesa-gesa, langkahnya yang lebar dan tegas membuat semua orang menyingkir menjauhinya. Aura yang menguar dari tubuh pria itu cukup pekat dan terasa berbahaya
Sehingga siapapun itu tidak akan berani memancing keributan yang dapat memicu amarah seorang Dirgantara, entah mengapa bos mereka hari ini selain terkesan sedikit aneh dengan kaca mata hitam yang senantiasa bertengger dihidung mancungnya
Masih ada nuansa tidak mengenakkan yang akan langsung muncul jika berada disekitar sang atasan, sepertinya suasana hatinya sedang sangat buruk dan mudah terpancing emosi, jadi demi keamanan dan keselamatan mereka lebih memilih menyingkir.
Dirgantara membuka pintu ruangannya dengan kasar bahkan terkesan membantingnya
“ada apa?” tanyanya galak, menyapa tamu tak diundang yang begitu santai diruangannya
“apanya yang apa, aku kan sudah sering kemari. Kenapa dengan hal ini” tanya Mike dengan tak kalah santainya
“jangan kemari jika ingin makan siang, karena akupun tidak mendapatkan makan siangku untuk hari ini” ucapnya ketus
__ADS_1
Ia mendudukkan dirinya pada kursi yang berhadapan dengannya, Dirgantara menjatuhkan tubuhnya dengan keras. Dilepasnya kaca mata yang sejak tadi ia kenakan lalu melemparnya pada meja yang berada dihadapannya
“tidak, tidak. Aku berencana makan siang diluar dengan calon istriku” ucapnya disertai senyum menggoda
“jangan terlalu menampakkannya kehadapan publik sebelum kalian menikah, ini bisa berbahaya untuknya mike” Dirgantara berusaha menasehati
“iya aku mengerti, kami hanya sekalian keluar saja kok. Sekalian mendekatkan diri” ucapnya dengan santai
“kalian dari mana?” tanya Dirgantara penasaran
“kami sungguh akan segera menikah” tiba-tiba saja Mike berucap dengan sangat semangat
“aku tidak tanya itu Mike, aku tanya kalian dari mana ha?” Dirgantara menjadi kesal pada adiknya itu sebab menjawab pertanyaannya dengan ucapan tidak nyambung sama sekali
“hehe maaf, aku hanya terlalu bersemangat” ucapnya dengan disertai cengiran khasnya
Dirgantara mendengus kasar menanggapinya, entah mengapa sepertinya semua hal mampu memancing emosinya hari ini
“tadi kami dari rumah sakit untuk melakukan beberapa pemeriksaan, seperti kata kakak ipar semalam” ucap Mike lagi
“kau selalu menurut jika kakak iparmu yang menyuruhmu ya” sindir Dirgantara pada mike yang seringkali membangkang padanya
“tentu saja” sahutnya dengan bangga
“padahal kau selalu membangkang padaku” ucap Dirga makin sengit
“tidak juga, terkadangkan aku menurut padamu” protes Mike merasa tidak setuju dengan ucapan Dirga
“aku akan selalu menurut pada ibu ratu, karena untuk membuatnya menerimakan keberadaanku sangatlah sulit” ucap Mike dengan ekspresi kagum diliputi rasa bangga
“kau menganggapnya ibu Ratu tetapi tak pernah menganggapku sebagai Raja” protes Dirga lagi
“hei berhentilah memprotesku, lihatlah dirimu. Kau juga selalu menuruti kemauan kakak ipar dan memperlakukannya seperti Ratu kan!” tuding Mike yang mulai tersinggung
“ya, ya, ya kau memang benar” sahut Dirgantara dengan malas
“BTW, apa yang terjadi dengan wajahmu?” tanya Mike yang penasaran
“memangnya ada apa dengan wajahku?” tanyanya balik
“lihatlah lingkaran hitam yang mengelilingi matamu, mungkin bila orang lain itu bisa tampak lucu. Tapi Entah mengapa jika itu dirimu yang memiliki mata panda malah jadi sangat menakutkan” mike berujar dengan gamblang tampa aling-aling
“hey kau! Dasar adik kurang ajar” bentak Dirgantara yang marah
“ahahahahahaha, mengapa bisa ada yang seperti itu diwajahmu?” Mike memperagakan ucapannya dengan telunjuk yang bergerak melingkari matanya
“ini karena Zara” ucap Dirganta yang membuat mike semakin penasaran
“loh kenapa jadi kakak ipar sih” Mike kembali menunjukkan kebingungannya setelah berhasil mengandalikan tawanya
__ADS_1
“semalam dia merajuk dan tidak mau tidur bersamaku, sialnya lagi aku jadi tidak bisa tidur dan berakhir seperti ini” Dirgantara menghembuskan nafasnya lelah
“ck,ck,ck. Insomniamu pun kambuh” Mike berdecak dengan menggelengkan kepalanya tidak percaya, ia memandang dirgantara dengan tatapan kasihan
“ya begitulah kira-kira” ucap dirgantara tak berdaya
“itukah alasan mengapa sejak tadi pagi kau memakai kaca mata karena tidak ingin orang lain melihat mata panda menyeramkanmu itu kan” tatapan Mike pada Dirgantara berubah menjadi tatapan menyedihkan, sedangkan Dirgantara hanya menanggapinya dengan gumaman
Ceklekkk
“tuan” Juan membuka pintu dengan tiba-tiba
“dimana sopan santunmu, ketuk pintu dulu sebelum masuk” Dirgantara menegur tingkah laku sekretarisnya itu yang dirasa tidak benar
“maaf tuan, tetapi ini masalah darurat” ucapnya gusar
“ada apa?” tanya Dirgantara mulai was-was
“nyonya diserang dan beliau terluka” ucapnya dengan lugas
“Apa katamu! Kemana para penjaga yang telah kuperintahkan untuk melindunginya, mengapa hal seperti ini bisa terjadi”
Dirgantara bangkit dari duduknya dengan rahang mengeras tanda kemarahan tengah menyelubunginya
“para penjaga telah bergerak sesuai dengan arahan nona anne, dan sekarang orang kita tengah melakukan operasi demi menyelamatkan nyonya” ucap Juan lagi menyampaikan informasi yang telah ia dapat
“bagaimana bisa Zara terluka, apa yang terjadi?” dirgantara bergegas keluar ruangan tak memperdulikan lagi orang lain
“Juan, kita segera kelokasi sekarang juga” titahnya
“baik tuan” sahut Juan dengan sigap
“dan segera cari tau siapa orang bodoh yang telah berani mencelakai Sang Ratu” ucap Mike yang telah berhasil mensejajarkan diri disamping Dirgantara
.
.
.
.
.
PRAKATA DARI PENULIS:
Penulis mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan pembaca sekalian hingga detik ini
Penulis harap kalian tidak bosan dengan cerita ini dan bersedia meninggalkan sedikit jejak, karena respon anda adalah semangat saya.
__ADS_1
penulis juga ingin menyampaikan rasa bersalah karena ada episode/part yang akhirnya diputuskan untuk dihapus, hal ini dikarenakan dirasa tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai sehingga dapat melanggar peraturan
Demi berlangsungnya cerita ini akhirnya dengan berat hati penulis memilih untuk menghapusnya, atas pengertian pembaca sekalian penulis ucapkan banyak terimakasih.