
“semua orang tua pasti memikirkan kebaikan dan keselamatan anak-anaknya apalagi jika itu anak semata wayang, apalagi jika orang tuanya sudah lama berkecimpung dalam dunia bisnis dia tentu mengetahui dengan jelas segala ancaman yang mungkin dapat membahayakan nyawa keluarganya”
***
Senyap langsung merayapi ruangan itu seketika setelah asya menyelesaikan kalimatnya, dirgantara tertegun, ia faham betul makna terdalam ucapan asya. Begitupun mike yang langsung bungkam seribu bahasa, mereka telah mampu menangkap sinyal bahaya dari ucapan asya
Tidak satupun dari mereka yang memulai membuka suara guna menghentikan keheningan yang membentang hinnga menimbulkan kecanggungan yang mengganggu itu, sedikit saja dari mereka ada yang salah berbicara maka dapat dipastikan akan dapat menimbulkan masalah baru
Mike menghembuskan nafas kasar, tangannya bergerak memijit batang hidungnya yang tiba-tiba saja terasa nyeri. Ada banyak hal yang langsung berpuar-putar memenuhi otaknya hingga membuatnya pusing seketika, sebelumnya tidak pernah terfikirkan olehnya bahwa masalah ini akan menjadi semakin rumit hingga seperti ini
Ia berfikir bahwa misinya kali ini akan segera beres dan ia akan mendapat banyak keuntungan seperti biasanya, namun sepertinya kali ini ia salah besar.
Semuanya jadi semakin rumit dan berbeit-belit hingga menjebaknya dan tak bisa lepas, mike tak bisa maju apalagi mundur.
Sedikit saja mereka salah langkah maka mereka akan hancur seketika itu pula, apalagi jika sampai mike salah dalam mengambil keputusan maka sudah dapat dipastikan kekacauan ini tidak akan pernah berakhir karena sedari awal dialah yang sudah salah mengambil keputusan.
“sekarang aku harus bagaimana kakak ipar?” mike mengeluh dengan mengacak-acak rambutnya frustasi
“tenangkan dirimu mike, semua ini tergantung pada keputusanmu” ucap asya berusaha memberikaan ketenangan dan kepercayaan pada mike yang mulai tampak lelah
Sebisa mungkin mereka harus tenang dan tidak boleh memangcing emosi michael, keadaan akan menjadi semakin buruk apabila sampai mike tidak bisa mengontrol dirinya lagi, ia akan berubah layaknya binatang buas yang terselubungi oleh naluri membunuh yang menggelora dan sulit dipadamkan, monster haus darah itu akan muncul dan menciptakan masalah baru yang semakin rumit dan tak berujung
“kita akan memikirkan jalan keluarnya, tenanglah karena kami yang ada disini akan berusaha membantumu” ucap dirga meyakinkan
Tidak ada yang tau tentang betapa buruknya kondisi psikis mike lebih dari dirinya, selama ini asya telah berusaha menyembuhkan mike dengan berbagai cara bahkan hingga wanita itu mengunjungi psikolog demi mike, dirgantara tidak akan membuat usaha keras istrinya selama ini menjadi sia-sia.
“aku sangat bingung saat ini, aku sangat menyesali tindakan tergesa-gesa yang telah kulakukan. Masalah ini benar-benar telah menjebak kita” ucapnya dengan suara berat
Asya yang menyadari tingkat emosi mike yang sudah sampai dititik bahaya dimana pria itu akan segera lepas kendali bergegas mendekatinya. Ia mendudukkan dirinya disamping mike dan mengusap-usap puncak kepalanya berusaha menenangkannya
Dibisikkannya kata-kata penghibur yang menenangkan seperti saran dari sang dokter, nyatanya kalimat asya perlahan namun pasti benar-benar mampu menenangkan mike. layaknya mantra yang diucapkan mike telah tersihir dan tampak lebih tenang, raut wajahnya menunjukkan pancaran yang lebih bersahabat dan bisa diajak membicarakan masalah dengan serius
“apa kau tau siapa yang menjadi musuh kita kali ini?” tanya dirgantara
“tidak, itulah masalah kita saat ini” jawab mike
“kau hanya memangkas rumput tanpa mencabut akarnya?” tanya dirga lagi
__ADS_1
“benar, aku sungguh terlalu menganggap remeh misi kali ini” sahutnya dengan penuh penyesalan
“kau terlalu ceroboh mike” ucap dirga dengan tenang menanggapi ucapan mike, ia harus tenang karena saat ini jika dirinya panik maka masalahnya akan bertambah berat
“maafkan aku, lagi-lagi hanya membuat masalah” ucap mike dengan menunduk
“menurutku kita butuh bantuan tuan juan untuk saat ini” ucap asya dengan tiba-tiba
Alis dirga saling bertaut ketika mendengar ucapan asya yang entah mengapa tiba-tiba saja jadi membicarakan asistan pribadinya itu
“kita perlu mencari informasi, kalian pasti faham maksud dari ucapanku sebelumnya bukan!” ucap asya meyakinkan mereka
“aku akan segera menghubunginya” sahut dirga yang langsung tanggap maksud dari ucapan istrinya itu
Awalnya ia akan menghubungi juan lewat sambungan panggilan, namun diurungkannya supaya yang ia sampaikan nanti tidak bisa didengar oleh orang lain, dan untuk saat ini dirgantara akan semakin enggan berjauhan dengan asya. Akhirnya ia putuskan untuk mengirimkan pesan singkat saja
“aku tidak tau hal apa saja yang telah kau lalui nona, tapi kuharap kau dapat menguatkan hatimu. Karena mulai sekarang akan ada lebih banyak masalah yang harus kau hadapi” ucap dirga dengan suara tegas
Gadis dihadapannya itu hanya terdiam tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti dengan ucapan dirga
“banyak-banyaklah berdo’a dan lebih mendekatkan diri kepada Allah , karena demimu telah banyak orang yang berkorban. Kau tidak boleh jatuh dan menyerah” sambung dirga lagi ketika kembali hanya mendapati anggukkan patuh sebagai respon
***
“mike?” tanya dirga mengembalikan mike kepermukaan dari lamunannya yang telah berkelana entah sampai mana
“ya?” sahutnya gelagapan
“apakah mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan?” tanya dirga
“aku tidak tau, karena kufikir tugasku telah selesai dan akan lebih baik jika tak sampai bersinggungan dengannya” sahut mike tampak berfikir
“belum” sahut asya membuat mereka menatap dengan bingung padanya
“mereka jelas masih mengejarnya, ini berarti mereka belum mendapatkan apa yang mereka inginkan. Target mereka masih ada pada kita dan mereka akan terus mengejar untuk mendapatkannya” asya berucap dengan serius
“apa mereka mengetahui identitasmu mike?” tanya dirga
__ADS_1
“tidak, mungkin mereka akan lebih fokus pada tigris” jawab mike dengan yakin
“akan tetapi, mereka memang masih terus memburu dan mencari informasi”
“apa mereka, para penjahat itu mengenalimu?” tanya asya pada layya
“tidak nyonya, aku masih dalam perlindungan para pengawal khusus sampai tuan michael datang” sahut layya dengan bersungguh-sungguh
“lalu dari mana luka-luka itu kau dapatkan” tanya asya gusar
“luka ini saya dapatkan selama melarikan diri dari mereka, mereka melakukan segala cara untuk menangkap saya. Bahkan mereka sempat meledakkan gedung tempat kami bersembunyi dari mereka” layya berusaha menyampaikan informasi tentang apa yang dialaminya sebaik mungkin supaya mereka dapat menemukan jalan keluarnya
“mereka bahkan berani meledakkan sebuah gedung, sungguh hebat” ucap asya dengan berdecak kagum
“suamimu juga pernah melakukannya kaka ipar” sahut mike dengan enteng
Asya menoleh menatap dirga mencari penolakan ataupun sanggahan yang mungkin akan ditunjukkan oleh suaminya itu, namun sayangnya dirgantara hanya diam saja seakan mengiyakan ucapan mike
.
.
.
.
.
PRAKATA DARI PENULIS:
Penulis mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan pembaca sekalian hingga detik ini
Penuis harap kalian tidak bosan dengan cerita ini dan bersedia meninggalkan sedikit jejak, karena respon anda adalaah semangat saya.
Penulis juga mengucapkan terimakasih yang teramat dalam kepada pembaca karena telah sabar menunggu cerita ini yang lama tidak up sebab kesehatan penulis yang menurun, oleh sebab itu sebagai hadiah untuk pembaca penuis akan mempersembahkan crazy up yang pertamakalinya dari novel ini.
Dengan berakhirnya bulan juni ini juga rindu yang dibawa pergi oleh hujan yang syahdu, penulis ingin menyampaikan bahwa penulis mungkin akan sedikit mengecewakan pembaca, penulis meminta maaf untuk itu. Cerita ini mungkin akan sedikit lambat dalam up nya, hal ini dikarenakan penulis ingin mengembara untuk mencari referensi dalam upaya melanjutkan cerita ini
__ADS_1
Seperti biasa pembaca sekalian tetap bisa meninggalkan pesan dalam kolom komentar maupun chat grup yang disediakan oleh aplikasi untuk berkomunikasi dengan penulis, karena meskipun sedang mengembara penulis akan tetap memperhatikan kalian
Salam sayang penulis (SETAN POSESIF) ALS/ALFIYAH SULTHAN