
Dulu aku pernah berdo'a agar dia bisa mencintaiku, dan kini dia memang mencintaiku.
Tetapi aku lupa mendetailkan do'aku, karena sekarang cintanya datang disaat yang tidak tepat
Seringkali hati mengungkapkan tetapi sayangnya logika lebih mendominasi
Seringkali hati ingin menetap, namun logika memilih pergi
***
Asya merasa putus asa oleh hati dan fikirannya yang mulai tak sejalan
Mungkin ada banyak orang yang berfikir bahwa ia plin-plan, tapi percayalah. Jika kalian berada diposisinya mungkin kalian juga akan merasa gundah dan dilema
Dirgantara memang bersikap cukup baik padanya dan asya menerimanya juga, tapi hal itu bukan berarti asya juga mencintainya. Asya sama seperti wanita pada umumnya yang senang jika diperlakukan dengan lembut dan tersipu ketika menerima perlakuan manis
Sebaik apapun itu, Jika itu kalian yang mengalaminya mungkin kalian akan memilih lari kepelukan orang yang selama ini kalian cintai daripada berada disisi seorang penjahat yang dengan senang hati akan segera memenggal kepalamu jika dia mau
Asya juga hanyalah manusia biasa, ia menginginkan bahagia dan begitu mendambakan cinta, apalagi sekarang zeus datang kembali kehidupnya. Seorang pria yang dulu dicintainya,
Secara logika tentu asya akan memilih hidup dengan cintanya, mengingat pernikahan macam apa yang dibangunnya dengan dirgantara. Tetapi lagi-lagi hatinya juga bersuara, pemahaman agama yang selama ini diajarkan oleh orangtuanya membuat setiap langkahnya terseret-seret begitu berat dan terasa pedih
Entah sudah berapa kali asya menghembuskan nafas dengan kasar, berusaha menguapkan segala beban yang menyumbat didadanya
Semua fikirannya membuat dirinya ingin bunuh diri saja, tetapi ia juga takut. Bukankah bunuh diri termasuk tindakan mendahului takdir
Diantara kegelisahan yang tak berujungnya tiba-tiba saja asya mendengar suara yang amat familiar tengah memanggil-manggil namanya dengan suara cukup keras, dengan segera ia beranjak dari ranjangnya untuk melihat
Ternyata benar tebakannya, dengan senyum lembut tersungging dibibirnya ia mulai melangkah dengan pelan menuruni anak tangga
Sedangkan tamu tak diundang tersebut hanya nyengir tak jelas ketika melihat orang yang dicarinya mulai berjalan menuruni tangga
"Ada apa mike? kenapa kau berteriak-teriak seperti itu" tanya asya dengan senyum ramahnya ketika langkahnya semakin dekat
"Hehe, aku hanya lapar" mike masih saja nyengir tak jelas
"Apa dikediamanmu tak ada makanan?" Ada nada sedikit mengejek diantara kalimatnya
"Aku hanya ingin memakan masakanmu kakak ipar" mike mengerucutkan bibirnya merajuk
"Baiklah, kau ingin makan apa?"
"Nasi goreng" jawab mike cepat dengan mata berbinar
"Setauku kau baru saja kembali dari luar negeri, lalu apa ini? Kau ingin makan nasi goreng?" asya terkikik geli dengan menggelengkan kepala tak percaya
"Nasi goreng disana itu tidak enak kakak ipar, tapi harganya sungguh mengguncang dompet"
"Ahahaha, jangan bersikap sok dramatis mike. Uangmu bahkan tidak akan habis meski kau membeli 20 jet pribadi" asya tertawa keras karena tingkah konyol adik iparnya itu
"Haiissh kakak ipar ini, aku serius tau" ucap mike tidak suka
__ADS_1
"Memang berapa sih harganya mike?" Tanya asya disela usaha untuk menahan tawanya
"Setara dengan 200 ribu, porsinya sedikit dan rasanya mungkin lebih baik masakan pedagang kaki lima"
"Kuakui soal rasa mungkin lidah Nusantara kita lebih cocok makanan buatan rumahan"
"Tentu saja, kakak ipar pasti juga tau akan hal itu"
"He'em, untuk harga disana itu memang hal yang biasa"
"Biasa apanya, disini mungkin hanya perlu selembar uang sepuluh sampai dua puluh ribu dan sudah kenyang. Disana terlalu lama akan buruk untuk kesehatan dompetku" ucap mike dengan kesal
"Btw, memangnya kau pernah makan diwarteg atau pedagang kaki lima mike?"
"Tentu saja pernah"
"Oh ya?" Tanya asya tak percaya
"Aku dan dirgantara pernah mengalami masa sulit sebelum akhirnya berhasil bangkit"
"Emm. Yang soal itu kan ya" ucap asya tampak berfikir
"Apa kakak ipar mengetahui sesuatu?" Tanya mike penasaran
Asya tak lekas menjawab, dilangkahkan kakinya menuju ruang diseberang tangga tempat mereka berdiri. Asya tampak santai ketika mengambil beberapa bahan untuk membuatkan nasi goreng yang diinginkan mike
Sedangkan adik iparnya itu hanya mengekor dibelakangnya dengan penasaran tanpa menuntut penjelasan, karena mike tau jika ia terlalu brisik mungkin asya malah tidak akan memberitahunya sehingga ia harus menanggung beban rasa ingin tau yang menyiksa
Setelah menemukan semua bahan yang diperlukan perlahan asya mulai berbicara kembali pada mike
"Dari mana kakak ipar tau?"
"Anne yang memberitahukannya padaku" sahut asya dengan menolehkan kepalanya menatap mike sesaat
"Ooh, baiklah"
"..."
"Aku bahkan hampir bunuh diri saat itu" kata mike dengan suara merendah dan tatapan yang meredup
"Sungguh?" Tanya asya dengan terkejut
"Aku sangat terpuruk kakak ipar, aku kehilangan segalanya dalam waktu bersamaan. Aku hanyalah anak muda yang tidak tau apa-apa, apakah menurutmu aku yang saat itu akan kuat menghadapi keadaan? Apalagi ditambah dengan mentalku yang tidak baik"
Asya menatap mike dengan kesedihan, dilihat dari sorot matanya jelas jika mike memiliki kepedihan dan kedukaan yang mendalam
"Tapi beruntung karena dirgantara berhasil mencegahku, aku bahkan sempat berkelahi dan berusaha membunuhnya juga" mike tampak tersenyum getir ketika mengatakannya
Asya hanya terdiam menanggapi ucapan mike, ia hanya terus menyimak sebelum akhirnya berani menyimpulkan
"Tapi dirga dengan sabar terus meyakinkan bahwa aku tidak sendirian, dia akan selalu bersamaku sebagai kakak yang selalu menjagaku dan semua ucapannya memang sudah ia buktikan"
"Jadi, bagaimana akhirnya kalian bisa tau bahwa semua itu konspirasi?"
__ADS_1
"Aku dan dirga termasuk anak dengan kecerdasan diatas rata-rata, kami tentu langsung bisa merasakan keganjilan dalam kejadian itu. Dirgalah yang menelusuri kejadian yang menimpa orangtuaku dan ternyata benar bahwa mereka dicelakai"
"..."
"Aku menelisik masalah yang menimpa perusahaan kami hingga akhirnya aku tau bahwa ada orang dibalik layar yang telah memanipulasi keadaan sehingga kami mengalami kesalahan fatal yang berimbas buruk bagi banyak orang"
"..."
"Dengan tertatih-tatih aku dan dirga yang masih muda berusaha bangkit kembali, tak perduli lelah dan letih kami bekerja. Tanpa kusadari dirgantara telah berubah"
"Berubah?" Tanya asya tidak mengerti
"Iya kakak ipar, dirgantara yang kukenal adalah anak polos yang periang, ia juga penakut layaknya anak biasa. Tetapi tragedi yang menimpa orangtua kami dan kenyataan pedih yang ia ketahui akhirnya merubahnya menjadi pria dingin, kaku, arogan dan sadis. Semua sikap ramah yang ditunjukkannya hanyalah manipulasi untuk menjatuhkan lawannya tanpa ada perlawanan. Tidak ada lagi sifat tulus dari dirinya"
Asya hanya terdiam berusaha memahami setiap ucapan mike tanpa kesalahan
"Dia bahkan masuk dalam dunia bawah, aku memang punya gangguan mental jadi bukan hal yang mustahil bagiku untuk menjadi psikopat. Tetapi ternyata dirgantara mampu melampauiku, dia lebih mengerikan dari iblis. Setiap kali seseorang membuatnya marah maka dengan senang hati ia akan mencabut jantung dari rongga dada pemiliknya"
Asya yang mendengar penuturan mike jadi merinding, ia seketika itu jadi mengingat peristiwa ketika dirga menodongkan pistol dikepalanya dan diam-diam membidikkan pada orangtuanya. Ia mengucap syukur dalam hati, setidaknya keputusannya waktu itu cukup benar. Karena menurut cerita mike jika saja waktu itu ia memilih memberontak sudah pasti kedua orangtuanya akan mengalami hal yang mengerikan
"Tapi kakak ipar, beberapa waktu belakangan aku bisa kembali melihat senyum dirga, senyum yang muncul dari dalam dirinya dan bukanlah kepalsuan" mike tersenyum tulus ketika mengatakannya
Asya hanya menatap mike dengan penasaran, didekatinya mike lalu ia letakkan sepiring nasi goreng yang telah selesai dibuatnya itu dimeja makan tepat dihadapan adik iparnya itu
"Aku merasa kembali menemukan kakakku yang hilang" ucap mike dengan gembira
"benarkah?" Tanya asya penasaran
"Berkatmu dirgantara lebih sering tersenyum tulus, aku sungguh bersyukur untuk itu"
"Omong kosong" asya tertawa tak percaya mendengar ucapan mike yang menurutnya mengada-ngada
"Aku serius kakak ipar, dirgantara tersenyum bahkan tertawa dengan tulus oleh karenamu"
Asya malah membuka suara untuk mengalihkan pembicaraannya dengan adik iparnya itu, mike yang menyadari keadaanpun tidak melanjutkan lagi pembahasannya
"Makanlah mike, sebelum makanannya jadi dingin" asya tersenyum lembut pada mike yang masih memandangi makanan dihadapannya
"Tidak masalah jika makanannya menjadi dingin, asal bukan anne saja yang bersikap dingin padaku" ucap mike dengan senyum jahil, anne yang mendengar itu hanya tersenyum kikuk
Anne memang selalu mendampingi asya, sebenarnya anne sudah beranjak istirahat tadi ketika mendengar suara keras mike yang membuatnya siaga dan dengan gerakan cepat berada disamping sang nyonya
"Berhenti menggoda pengawalku, atau kujitak kepalamu itu" entahlah, mike memang selalu mampu menghiburnya meskipun dengan cara konyol yang menjengkelkan
"Kakak ipar" panggil mike sambil menghentikan gerakan tangannya yang menyendok nasi goreng
"Ada apa lagi mike?"
"Pokoknya apapun yang terjadi hadapilah, jangan pernah lari. Karena lari tidak akan pernah menyelesaikan masalah, yang ada hanya menambah masalah"
"Iya iya. Dasar adik ipar cerewet, segera habiskan makananmu"
Mike bukannya tersinggung malah tergelak, ia sangat suka sikap terang-terangan kakak iparnya. Ia merasa menyesal karena dulu pernah hampir membunuhnya
__ADS_1