
Asya dan dirga sedang asyik main ayunan ditaman kediaman maheswara, mereka hanya berusaha menikmati hari libur dengan bersantai
Pagi-pagi sebelumnya asya dan dirga berkebun dan membersihkan taman setelahnya baru mereka membersihkan diri dan menikmati hari
Jangan fikir mereka tidak punya tukang kebun karena kenyataannya sang tukang kebun tidak berani berkutik ketika dirga memerintahkannya untuk pergi dan tidak boleh menyentuh taman untuk hari itu, ini semua sudah tentu ulah asya.
Ketika asya dengan santai berkata ingin berkebun dipagi itu tentunya dirga menolak karena tidak ingin melihatnya kelelahan dan penuh tanah, tapi tentunya asya dengan keras kepala membuat alasan untuk menghabiskan waktu berdua dan dirgantara yang mendapati istrinya tengah meminta sesuatu padanya sudahlah pasti akan menuruti
Saat ini mereka tengah duduk diayunan dengan posisi asya dipangkuan dirga, mereka bercengkerama dan memakan camilan yang disediakan pelayan
Jangan fikir jika acara mengobrol mereka akan kaku tanpa interaksi jika dilihat dari pembawaan dirga yang pendiam dan dingin karena asya dengan beraninya terus memancing dirga agar menyahut setiap topik yang dibicarakan olehnya, dan hebatnya tanpa sadar dirga selalu menyahut dan menanggapi
"Zara" panggil dirga ketika asya akhirnya terdiam cukup lama dan lebih sibuk dengan toples dipangkuannya
"Hm" gumam asya
"Apakah kue itu sangat enak?"
"Memangnya kenapa?" Tanya balik asya yang merasa bingung
"Kau sudah menghabiskan satu toples dan sekarang sudah mulai makan untuk toples yang kedua"
"Rasanya memang enak, mas mau?" Tanya asya dengan menyodorkan sepotong kue coklat kering pada dirga
"Tidak" tolak dirga
"Kenapa tidak mau?" Tanya asya lagi dengan tangan yang mulai mencomot lagi kue dalam toples
"Kuyakin itu sangat manis"
"Memang manis, seperti diriku" ucap asya santai
"Kenapa kau sangat PD" dirga terkekeh tidak percaya melihat tingkah istri yang tengah duduk dalam pangkuannya itu
"Itu kenyataan kok" ucap asya dengan santai
"Zara"
"Ada apa?" Sahut asya masih sibuk dengan kuenya
"Cium aku"
"Kenapa harus kucium?"
"Karena kau sangat manis"
"Kalau aku manis kenapa memangnya?"
"Kau tentu harus menciumku" sahut dirga tidak terima didebat oleh istrinya
"Kalau aku memang manis ya mas saja yang menciumku" masih dengan santai dan sibuk dengan toples berisi kue dipangkuannya
"Cium aku"
"Tidak mau"
"Apa susahnya sih menciumku"
"Pokoknya tidak mau"
"Cium aku zara" rengek dirga
__ADS_1
"Aku sibuk" sahut asya cuek
"Sibuk apa" sewot dirga yang mulai kesal
"Sibuk makan kue"
"Kau bisa gemuk jika terus memakannya" kata dirga dengan melirik toples yang isinya tinggal separuh itu
"Memangnya kenapa jika aku gemuk, aku akan terlihat jelek dan mas merasa ilfeel begitu!" Tukas asya dengan galak penuh tuduhan
"Bukan begitu sayang..."
"Lalu apa!" Sewot asya dengan sengit
"Biasanya perempuan akan menjaga tubuhnya, jadi....." ucapan dirga menggantung karena dipotong asya
"Perempuan mana yang mas maksud" tegur asya dengan tatapan tajam
"Bukankah para perempuan memang begitu, klienku biasanya melakukan diet...."
"Aku bukan dia" potong asya dengan tegas
"Sayang....."
"Aku tidak akan gendut meski sebanyak apapun aku makan, dan aku tidak akan berpura-pura untuk menjaga image. Itu bukan gayaku"
"Sungguh?"
"Karena aku doyan makan makanya aku tau banyak resep makanan" ucap asya santai sekenanya menanggapi pertanyaan dirga yang sebenarnya ambigu
"Mengapa bisa begitu, maksudku bagaimana bisa kau tidak gemuk meski banyak makan?"
Dirga rupanya mulai terpancing oleh rasa penasaran mengenai ucapan asya yang menurutnya terdengar tidak masuk akal
"Entahlah, yang pasti menurutku ini anugrah dari Allah subhanallahu wata'ala" ungkap asya dengan senyumnya
"mas mau memungkiri kuasa Allah gitu! Akupun tidak mengerti kemana perginya semua makanan itu, jika aku terlalu banyak makan maka hanya akan terlihat beberapa lapisan tumpukan lemak diperutku dan bukannya dibagian lain tubuhku" ungkap asya menjelaskan
"Omong kosong, aku tidak pernah melihat lemak disana" sangkal dirga dengan melirik perut asya
"Karena aku menyiasatinya dengan olahraga" Asya mengikuti arah pandangan dirga
"Oh ya?"
"Tentu saja"
"Aku belum pernah melihatmu berolah raga"
"Karena mas jarang dirumah"
"Jadi kau melakukan olahraga ketika aku tidak ada dirumah?" Sebelah alis dirga terangkat tidak mengerti
"Tidak juga, hanya saja mas jarang dirumah jadi tidak melihat ketika aku berolahraga. Sebenarnya Setiap pagi setelah sholat subuh aku selalu menyempatkan lari-lari berkeliling sebelum akhirnya mandi dan menyiapkan sarapan" jelas asya kemudian
"Hanya berlari pagi saja?" Tanya dirga memastikan
"Tentu saja tidak, aku juga melakukan push up dan sit up"
"Ooh pantas saja kau kuat"
"Hah?" Sahut asya yang tidak faham
"Pantas saja kau sangat kuat ketika diatas ranjang" seringai dirga menatap istrinya yang tampak kesal
Ctaakkk. jentik asya dikening suaminya itu dengan kesal
__ADS_1
"Dasar mesum"
Seketika itu juga tawa dirga menggelegar bagai guntur, ia terbahak-bahak melihat ekspresi kesal dan cemberut istrinya itu. Dengan gemas dieratkannya pelukan pada asya dan sedikit digoyang-goyangkan saking gemasnya
"Ahh indahnya hari ini, kau adalah alasanku tersenyum dan tertawa"
"Auuww mesranya pasangan ini" tiba-tiba saja suara mike menginterupsi keduanya dan sudah berdiri dibelakang mereka, membuat asya dan dirga seketika itu menoleh
"Bukankah kediaman ini sangat sepi?" Tanya mike yang sebenarnya membingungkan
"Bukankah ada banyak orang dikediaman ini" ucap dirga
"Memang, tetapi pelayan dan penjaga tidak ada yang mau mengobrol denganku" ungkap asya dengan cemberut
"Kau sudah punya teman mengobrol yang cukup berisik sayang" jawab dirga
"Siapa maksudmu?" Tanya asya tidak mengerti
"Tentu saja Michael, suaranya bahkan bisa mengalahkan toa masjid"
"Hey dirgantara, mengapa kau menghinaku didepan kakak ipar"
"Itu kenyataan mike" ucap dirga
"Itu tidak benar" teriak mike merasa tidak terima
"Itu benar" sangkal dirga
"Tidak"
"Iya"
"Tidak"
"Iya"
"Tidaaaaaakkk" teriak mike dengan tangan menutup telinga
"Kenapa kau tidak mau menerima kenyataan mike" cemooh dirga
Mike yang mendengar perkataan dirga berusaha menyangkalnya namun baru saja mulutnya terbuka tetapi suara tawa asya sudah menghentikannya
Dirga dan mike sama-sama melihat asya dengan tatapan kagum dan raut yang melembut, bagi dua pria itu asya adalah wanita penting dalam hidupnya. Wanita yang mampu memberi warna pada hidup mereka yang sebelumnya kehilangan warna
Bagi mike asya adalah wanita kedua setelah ibunya yang ia sayangi, sosok asya seperti ibu yang selalu menyayangi dan mengkhawatirkannya. Hatinya selalu merasa lembut dan damai setiap kali melihat senyuman diwajah asya, dalam hati mike ia telah berjanji akan selalu menjaga wanita yang telah membuat ia merasakan kembali sebuah keluarga itu
Mike bahkan menurut saja ketika asya mengajaknya mengaji ataupun menghadiri kajian, ia akan pergi dengan senang hati. Hal yang luar biasa lagi adalah mike tidak lagi pergi ke club untuk minum-minum dan ia juga tidak merasakan lagi adanya tekanan emosi bergejolak yang menyebabkannya ingin membunuh orang. Mike dengan senang hati telah mengakui bahwa asya adalah kakak iparnya dan orang yang membuatnya merasa baik-baik saja
***
***
Suara asya berhasil mebuyarkan lamunan kedua pria dihadapannya
"Hey, kalian kenapa sih?"
Kedua pria yang ditanyai tidak menjawab dan hanya tersenyum lembut
"Kenapa kalian melamun dan senyum-senyum tidak jelas"
"Karena kami bahagia kakak ipar" sahut mike masih dengan senyumannya
"Apa yang membuat kalian begitu bahagia?"
__ADS_1
"Karena kami memilikimu zara, dan kita adalah keluarga" giliran dirga yang berucap dengan lembut dan senyuman tulusnya