Sia-sia

Sia-sia
sendiri


__ADS_3

Alki sendirian di rumah dan ibunya belum pulang juga.


~tok. . .tok. . .


Alki ketakutan, siapa itu pikirnya. Ia bangkit dari duduknya dan menuju pintu mengintip dari balik celah pintu untuk melihat siapa yang datang


~deg, . perawakannya seperti Fery hitam, tinggi tapi gaya pakaiannya sepertinya beda. Ia tak bisa melihat dengan jelas siapa di balik pintu itu karna lampu di luar tidak begitu terang sedang ruang tamunya gelap


~tok. .tok. .


Alki masih berdiri di balik pintu tak membukanya


~tok. . .tok. . . "apa ada orang di dalam"


Alki tak menyahut


"haih, lampu menyala tapi tak ada orang rupanya, aku pulang saja"


orang itu pergi dengan motor crossnya


Alki menarik nafas lega.


~drrt. . .


*Kamu dimana? aku ke rumah kok ga ada?


Alki membaca tanpa membalas pesan itu


*Hei adek manis, ini aku Jery


'Jery? berarti yang datang tadi itu Jery bukan Fery? aku sudah ketakutan setengah mati karna perawakan mereka hampir sama, motor juga sama'


hey, apa hal ni tak balas, maaf ini nomor baruku, simpan ya


lagi-lagi Alki tak membalasnya.

__ADS_1


~tring. . .


*Hey Alki, kamu sekarang dimana? boleh ketemu sekarang? maaf atas kata-kata aku kemarin


Fery


Alki tak membalasnya


*Al, izinkan aku ketemu ma kamu sekali aja udah itu terserah kamu


*beri aku kesempatan


Fery*


Alki bingung harus bagaimana, ia duduk di belakang pintu menunggu orangtuanya pulang tapi sudah hampir jam 9 juga belum ada tanda-tanda orangtuanya pulang.


Ia menuju dapur hendak minum,


~tok. .tok. ."Alki, buka pintunya"


Alki ragu-ragu membuka pintu itu dan ia tak mengenal suara itu


~kriet. . . pintu terbuka hampir setengah dan Alki melihat bahwa itu ternyata deg. . . Fery, hatinya jadi risau dan tak karuan, ia hendak menutup pintu kembali tapi ditahan oleh Fery


"tunggu Al, izinkan aku ngobrol ma kamu sebentar aja, aku kangen"


"maaf, ga bisa Fer" Alki mendorong pintu sekuat tenaga tapi tenaganya kalah oleh tangan Fery yang kekar itu.


"Al, kamu yakin mau dorong terus ni pintu ntar q dorong sekuat tenaga pintumu rusak lho"


Alki menyerah dan membuka pintu.


Alki duduk di sebelah pintu yang terbuka, Fery melihat-lihat rumah Alki itu sampai ke dapur.


"ngapain kamu ke sini ngapain juga nengokin rumahku ampe ke dapur segala"

__ADS_1


"aku mau lihat bagaimana hidupmu disini, ternyata lebih parah dari dulu, ga ada apa-apa di rumah ini"


"iya, emang namanya juga baru pindah"


"baru? ini udah beberapa bulan tahu, masa kursi aja ga ada, Raki ga beri kamu apa-apa ya?"


"maksudmu apa?"


"dia kan cowok kamu masa ga bisa belikan kamu kursi buat di sini"


"ga perlulah, biar aja kaya gini"


"hm, sederhana ya. tapi aku tetap suka ma kamu"


"kamu tahu rumahku dari mana?"


"ada deh, buat kamu aku bisa cari tahulah"


Fery duduk jongkok di depan Alki, mata saling bertemu tapi pandangan mata itu sudah berbeda, bukan pandangan sayang tapi kebencian.


Fery hendak mengecup bibir Alki tapi Alki menghindar


"heh, sombong kamu sekarang ya?"


Fery duduk leseh depan Alki dan menarik wajah cantik Alki menatap wajahnya.


"Al, kamu itu cantik banget tahu aku nyesel sia-siain kamu dulu"


"tapi aku bersyukur udah putus ma kamu"


"tapi aku ga. . ."


Fery mencium Alki dan Alki hendak mengelak tapi Fery tahan wajah itu dengan jari jemari tangannya yang panjang. cup, ciuman mendarat dipipi Alki dan keningnya kemudian hidung dan bibir Alki.


"aku sayang ma kamu Alki"

__ADS_1


Alki tak menjawab dan hanya diam menatap Fery menahan air matanya keluar.


__ADS_2