Sia-sia

Sia-sia
Aku ada untukmu


__ADS_3

Alki tertidur di kamarnya hingga menjelang sore.


"Aduh, kepalaku sakit sekali. Jam berapa ini"


Alki melihat jam menunjukan pukul 3 sore. Matanya seperti berkunang-kunang.


Ia keluar kamar hendak menggambil air tapi ia lalu pingsan


Raki mencoba menghubungi Alki tapi tak ada jawaban, sms nya pun tak ada balasan akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah Alki.


~tok. .tok. .


"*Alki...Alki. . ." Raki berulang kali memanggil Alki tanpa ada jawaban dari dalam rumah. Ia mencoba membuka pintu tapi terkunci. Ia lalu menengok ke jendela dapur yang terbuka meski harus susah payah naik ke jendela itu karna tingginya.


Raki terkejut melihat Alki yang terbaring di depan pintu kamar. Ia pun berusaha keras untuk masuk lewat jendela itu karna semua pintu terkunci dari dalam.


~Bruk. .


Raki lalu menggendong Alki ke dalam kamarnya dirasa keningnya begitu panas. Raki mengambil air hangat kuku untuk kompres.


~ting. . Suara handphone Alki di atas meja kamarnya. Raki memngambil dan bisa melihat sms yang masuk karna tidak perlu pasford.


*Nak, maaf malam ini ibu dan bapak ga pulang. Ada pekerjaan tambahan. Baik-baik di rumah ya sayang ibu.


Raki membaca dan membalasnya


*Iya ibu tidak apa apa


Raki mengompres kening Alki dan mengelap wajahnya yang berkeringat.


"Alki, hatimu pasti saat ini tidak tenang ya. Kamu akan aku jaga sebisa mungkin, semampu aku. Aku akan selalu ada untukmu"


Raki mengecup tangan Alki.


"Hm, kenapa aku bisa di kasur? bukannya tadi aku mau ke dapur ya. Eh, kok ada handuk di keningku"


Alki duduk, ia melihat ada seorang pemuda disampingnya


"Siapa ya?" ( posisi Raki tidur duduk dan kepala menunduk )


Alki memegang pundaknya untuk membangunkannya.


"Hei, bangun"


"Hm ( Raki bangun dan melihat Alki sudah bangun ) kamu udah bangun? Apa masih panas ( Raki mengecap kening Alki ) oh, syukurlah panasnya sudah turun aku sudah khawatir setengah mati"


"Jadi kamu yang membawaku ke kasur dan memgompresku?"


"Iya Ki, tadi aku lihat kamu tergletak didepan kamar. Aku panik sekali tadi"


"Makasih ya Ra, kamu begitu baik padaku dan ada disaat aku seperti ini" ( Alki memegang tangan Raki )


"Iya Ki sama-sama. Apa yang bisa aku lakukan akan aku lakukan untukmu"


"Sekali lagi terima kasih. Tapi ini sudah malam, apa kamu tidak pulang?"


"Kalo aku pulang, kamu gimana? Dirumah kamu ga ada siapapun"


"Ayah ibuku nanti pulang"


"Ayah ibu mu tidak pulang malam ini. Mereka ada tambahan kerja"

__ADS_1


"Kamu kok bisa tahu?"


"Maaf, tadi aku baca sms ibu mu"


Alki mengambil handphonenya memang benar ibu ayahnya tidak pulang.


"Kamu pulang aja Ra, aku udah baikan sekarang. Ga enak kalo tetangga tahu disini hanya kita berdua"


"Oke aku nanti pulang. Apa perlu aku bawa mantri ke sini untukmu?"


"Tidak perlu, nanti aku minum obat saja yang ada di rumah"


"Baiklah. Katakan dimana obatnya biar aku ambilkan"


"Ada di dalam lemari paling atas di dapur dekat kulkas"


Raki langsung mengambilkan obat dan air untuk Alki


"Nih, minum dulu"


Alki meminumnya


"Udah, kamu pulang sana"


"Iya, kamu mau makan dulu ga?"


"Nanti aku ambil sendiri"


"Ga bisa, biar aku yang ambil"


"Kamu ni ribet amat sih. Aku bisa sendiri"


"Kalo gitu aku ga mau pulang"


"Biarin"


"Kalo kita kepergok berdua dan disuruh nikah gimana?"


"Aku fine aja kalo harus nikah ma kamu"


"Ih, kamu ni maunya gitu. Tapi aku masih mau sekolah"


"Iyalah, aku juga masih mau sekolah kali. Nikahi kamu kalo aku dah ada kerja"


"Raki, kamu ngomong apa sih" Alki terkekeh tertawa


"Nah, gitu dong senyum. Kan jadi cantik lagi"


"Kamu ni"


"Cepet bilang mau makan apa? Atau aku buatin bubur aja"


"Emang kamu bisa buat bubur?"


"Eh, jangan remehkan aku ya. Gini gini mandiri tahu"


"Oke oke. kamu masakin aku bubur aja"


"Sip. Tunggu bentar ya cantik"


~Trang. . .Treng. . .

__ADS_1


Alki terkejut lalu berjalan ke dapur


"Kamu ngapain Ra berisik amat"


"Buatin kamu bubur ni. Aku lagi nyari mangkuk tapi ga ketemu"


"Oh, ada di lemari bawah meja kompor"


Raki mengambil mangkuk dan menuang bubur.


"Duduk kamu Ki, biar aku suap"


"Aku bisa makan sendiri"


"Eit tak boleh, aku yang suapi kamu makan. Kalo ga aku ga mau pulang"


"Hm, malas debat ma kamu. Oke deh"


Raki menyuapi Alki bubur hingga habis


"Lumayan juga rasa bubur buatanmu ini. Tapi ga ada sayurannya"


"Gimana mau ada sayurnya, dikulkas ga ada apapun selain daging ayam"


"He. .he. .emang belum belanja sih. Makasih ya buburnya"


"Iya Ki welcome"


mereka berbincang-bincang dengan ceria tak terasa hampir pukul 9 mlm.


"Ki, apa ga apa kamu sendirian disini?"


"iya ga pa pa"


"Ya udah, aku pulang ya. Dadah my sweety"


"Dah. ."


Raki keluar rumah Alki dan Alki menutup pintunya. Raki duduk dimobil hendak pulang tapi ia khawatir terjadi sesuatu lagi pada Alki. Ia putuskan untuk tetap tinggal dan tidur di mobilnya.


~Keesokannya


Alki membuka pintu dan melihat mobil Raki ada didepan rumahnya. Ia berjalan mendekati mobil itu ditengoknya dari jendela mobil yang terbuka. Raki tertidur dimobilnya dan kaki tangannya penuh bintik merah gigitan nyamuk.


Alki mengambil selimut dan minyak kayu putih untuk Raki.


Saat Alki menyelimuti Raki. . .


"Ki, kamu ga usah khawatir ada aku disini untukmu. kamu ga sendiri"


Raki mengigau.


Alki tersenyum tipis mendengarnya.


Alki pun berbalik. . .


Raki menarik tangan Alki dan. . .


Mata mereka bertemu, Raki menarik kepala Alki mendekat padanya dan mengecup bibirnya. Alki sekuat tenaga menolak tapi tak mampu melawan tenaga pria ini. Akhirnya ia pasrah saja.


Raki melepaskan Alki

__ADS_1


"Maaf Ki, tadi aku spontan aja"


"sudahlah anggap sebagai ucapan terima kasih saja"


__ADS_2