Sia-sia

Sia-sia
sendiri


__ADS_3

Raki berhenti di ujung gang rumahnya, ia ragu untuk pulang. Sedang Alki duduk cemas di tepi ranjangnya hingga pagi.


Alki menelfon Raki tapi tak diangkat, ia coba kirim pesan juga tak dibalas.


*Ra, segitunya kamu marah ma aku ampe tega biarin aku sendiri dirumah? oke gpp kamu puas-puas aja di luar sana, aku akan tetep nunggu kamu dirumah.


Alki pun merasa sakit kepala karna tak tidur sepanjang malam, akhirnyapun tubuhnya tak mampu menahan letihnya lagi, ia pun terduduk lemas dan pingsan di depan pintu kamar.


Raki pun pulang karna ia harus ke kampus,


Raki membuka pintu rumah dan ia dapati istrinya tergeketak di lantai tak sadarkan diri.


Raki langsung membopongnya ke mobil dan membawanya ke klinik terdekat.


Begitu sampai Alki langsung ditangani dan diperiksa,


Raki duduk di ruang tunggu dengan panik dan cemas,


"Maaf sayang, gara-gara aku kamu kaya gini"


Raki sangat cemas juga bingung, ia memberanikan diri untuk menghubungi keluarganya.


~*drrt. . .


*halo bu


*iya nak ada apa?


*Alki pingsan bu


*kok bisa?


*ini salah Raki yang biarin dia sendirian di rumah sepanjang malam,


suara Raki bergetar,


*tenang nak, bawa Alki ke klinik


*sudah bu, sekarang dia sedang dirawat


*syukurlah, semua akan baik-baik saja


*iya bu

__ADS_1


*posisi kamu dimana? nanti ibu ke sana


*di klinik xx


*baiklah, kamu jangan panik ya


*iya bu.


Alki sudah sehari semalam belum juga sadar, Raki sangat cemas, keluarganya juga belum datang.


"nak, gimana Alki"


"ibu, Alki belum sadar"


"apa kata dokter?"


"Alki kecapean dan stres bu"


"stres? karna kamu ka?"


"maaf bu, aku ninggalin Alki sendiri dirumah tanpa beri dia kabar apa-apa"


"kamu ini, kamu ga tahu apa perempuan yang lagi hamil itu rentan, kalo dia keguguran gimana?"


"maaf bu"


Datang ayah Raki langsung memukul anaknya dan memarahinya,


"kamu ini suami brengsek, bisa-bisanya ninggalin istri sendiri dirumah dan senang-senang ma cewek lain"


Raki hanya pasrah dipukul ayahnya, sudut bibirnya berdarah.


"Ayah sudah, ini diklinik jangan gaduh"


"Iya bu, ayah hanya memberi sedikit pelajaran pada anak ini"


"Sudahlah, sekarang kita lihat Alki dulu"


"iya bu"


Mereka masuk ke ruangan Alki dirawat.


"cepat bangun nak, jangan stres kasihan anak dalam perutmu, perempuan yang hamil harus bahagia agar anaknya juga bahagia"

__ADS_1


Ibu Raki duduk mengelus rambut Alki dan memegang tangannya.


"Bu, jika Alki sudah sadar dan sehat nanti, ibu ikut tinggal saja dengan mereka, kasihan Alki selalu sendirian di rumah jika Raki keluar"


"Iya ayah, tapi ayah bagaimana"


~tak. .tak. .tak. .


Listra berlari menuju resepsionis


"mbak, ada pasien bernama Alki?"


"Ada dek, di ruang perawatan 02 kelas mawar.


"makasih mbak"


"iya dek"


Alki langsung membuka pintu ruangan Alki,


"kak, bangun kak, ini Listra, kak Raki bodoh"


Listra mendekap tubuh Alki tanpa menyadari jika ada ayah dan ibunya disana.


"Lho nak, kamu kok bisa disini? bukannya kamu lagi ujian?"


Listra terkejut ternyata ada ayah dan ibunya diruangan itu,


"Udah selesai bu, maka Listra langsung ke sini"


"oh,"


"ayah, ibu, izinin Listra tinggal ma kakak Alki ya?"


"Sekolahmu gimana?"


"kan udah ujian tinggal kelulusan dan nunggu ijazah keluar"


Ayah ibu Raki saling pandang,


"Gimana yah?"


"Ya sudah terserah kamu saja nak"

__ADS_1


"Terimakasih ayah ibu"


"Iya"


__ADS_2