SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Seperti kesepakatan, Erkan dan keluarga besar pun datang tepat pukul sembilan malam. Suyukurnya semua persiapan di rumah Lisa sudah sempurna. Bahkan Lisa terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya modern berwarna lilac.


Erkan sempat terpana dengan kecantikan calon istrinya itu. Meski riasan Lisa tidak terlalu berlebihan, tetapi tetap saja cantiknya bertambah seratus kali.


"Duh... cantik banget calon mantu." Puji Mama Dinar duduk di sebelah Lisa. Semua orang yang mendengar itu pun tertawa kecil.


"Gimana Erkan? Masih ragu buat jadiin Lisa istri?"


Erkan cuma tersenyum menganggapinya. Sedangkan sang empu cuma bisa tersenyum malu.


"Sudah gak perlu banyak basa-basi, biar semuanya cepat dan lancar. Sebaiknya kita utarakan saja niat baik kita datang ke sini. Toh niat baik gak boleh ditunda-tunda." Ujar Papa Zein. Tentu saja semua orang setuju.


"Mohon maaf sebelumnya jika kami datangnya terkesan dadakan. Tapi semua itu tidak menutup keseriusan kami untuk meminang putri Ibu dan Pak Kades untuk putra kami, Erkan." Lanjut Papa sesopan mungkin.


Mamah Endang dan Pak Wawan pun saling melempar pandangan dan tersenyum sumringah.


"Tidak jadi masalah, Pak, Buk. Kami sangat menghargai niat baik kalian semua. Dan kami juga mau minta maaf kalau sambutan kami kurang memadai. Namanya juga dadakan ya, tadi si Eneng pulang-pulang langsung kasih kabar bahagia ini. Siapa yang tidak terkejut sangking bahagianya kan?"


Lagi-lagi rumah Pak Kades itu dipenuhi suara tawa bahagia.


"Alhamdulillah kalau kedatangan kami menjadi sumber kebahagiaan. Semoga kedepannya hubungan kita semakin erat dengan menikahkan anak-anak kita. Jadi... bagaimana keputusan Nak Lisa sekarang? Kira-kira sudi atau tidak menerima putra kami yang serba kekurangan ini?"


Jantung Lisa berdentum kencang saat semua mata ditujukan padanya. Bahkan mulutnya mendadak rapat sangking gugupnya.


"Saya... saya bersedia." Jawab Lisa dengan cepat karena gugup. Sontak semua orang pun bernapas lega mendengarnya.


"Alhamdulillah." Ucap semuanya kompak.


"Ayok pasang cincinnya, Erkan." Perintah Mamah begitu antusias.


"Bangun dulu, Neng." Titah Mamah dengan lembut. Kemudian Lisa dan Erkan pun berdiri.


"Maaf." Ucap Erkan meminta tangan Lisa. Dan dengan segenap rasa gugup Lisa mengulurkan tangannya. Kemudian Erkan pun mengambil cincin dari dalam kotaknya dan hendak menyematkannya di jari manis Lisa. Namun....


"Assalamualaikum." Ucap seseorang.


"Waalaikumsalam." Sontak semua mata pun tertuju ke arah pintu. Tentu saja semuanya terkejut saat melihat Bayu bersama beberapa orang dibelakangnya. Begitupun sebaliknya.


"Bayu? Ngapain kamu teh di sini bawa orang tua segala?" Tanya Mamah Endang merasa kaget dengan kehadiran lelaki itu. Terutama Bayu datang bersama orang tuanya dan mereka juga berpakaian formal.

__ADS_1


Mata Bayu pun bergerak ke arah Lisa dan Erkan. Melihat itu, Erkan langsung menyematkan cincin di tangan Lisa. Kemudian menautkan jemarinya di tangan Lisa. Seolah menunjukkan jika Lisa sudah menjadi miliknya. Erkan pun tersenyum penuh kemenangan.


"Loh, ini teh kumaha atuh Bayu? Kamu bilang Neng Lisa teh masih single. Ini teh naon?" Sambar Mamahnya Bayu terlihat kebingungan.


"Emang Neng Lisa masih single Mah, duda ini aja yang nyerobot Eneng dari Bayu." Jawab Bayu menatap Erkan penuh permusuhan.


"Eh? Tunggu dulu. Ini kalian datang mau ngapain?" Kali ini Mama Dinar ikut nimbrung.


"Lamar Neng Lisa lah." Sahut Bayu dan Mamahnya kompak. Sedangkan Ayah Bayu cuma bisa menghela napas berat karena sudah tahu situasi dan kondisi.


"Owh... tentu saja tidak bisa. Sekarang Lisa udah resmi jadi calon mantu kami. Tuh lihat sendiri, cincin lamaran udah tersemat di tangannya. Kalian telat." Sahut Mama Dinar dengan gaya angkuh.


"Bayu, kamu teh mau malu-maluin Mamah sama Bapak?" Kesal Mamah Bayu memukul anaknya pelan.


"Mah, Bayu gak tahu kalau malam ini mereka juga bakal lamar si Eneng." Bisik Bayu.


"Terus gimana sekarang?"


Bayu pun menatap Lisa. "Neng, kamu teh beneran tega sama Aa? Kita kan udah kenal dari orok, Neng. Masak iya kamu lebih milih duda ini. Dia udah gak perjaka loh, punya anak lagi."


Lisa dan Erkan pun saling melempar pandangan. Kemudian keduanya kembali menatap Bayu.


Mendengar itu Bayu langsung memasang wajah sedih. "Neng, kamu teh beneran tega sama aku? Kamu kan tahu dari dulu aku teh naruh hati sama kamu."


"Maaf, Bay. Aku gak bisa maksa hati buat nerima kamu. Dari dulu aku juga udah bilang kan ke kamu?"


"Tuh, udah dengar kan? Lisa itu calon mantu kami, gak bisa lagi diganggu gugat." Tegas Mama Dinar.


"Alah, bilang aja kamu teh milih duda ini karena kaya kan? Mentang-mentang kami orang biasa." Cibir Mama Bayu menatap Lisa sinis. Sebenarnya ia kepalang malu karena kedatangannya di tolak.


"Eh? Kunaon kamu teh jadi nyolot dan nuduh anak saya kayak gitu? Lagian kalian teh datang gak ngasih kabar, eta namina teh teu sopan." Sahut Mamah Endang tidak terima anaknya dikatain. "Emangnya kenapa kalau Lisa teh milih yang lebih kaya? Iri kamu karena gak bisa dapat mantu kayak Lisa? Secara kan anak saya lulus kuliahan, sedangkan anak kamu cuma lulus smp, kerjaannya juga kuli. Wajar aja Lisa milih yang kaya, mana ada cewek yang mau di ajak susah? Enak aja hina-hina anak saya. Saya sleding baru nyaho."


"Mamah." Lisa mencoba memperingati.


Mama Bayu mendengus sambil menatap Mamah Endang penuh permusuhan. "Emak sama anak sama-sama matre."


"Mah." Kali ini Bayu ikut memperingati Mamahnya.


"Emangnya kenapa kalau calon mantu saya matre? Kalaupun dia mau harta keluarga kami, kami kasih semuanya." Ujar Mama Dinar mendekati Lisa dan menggandeng tangannya.

__ADS_1


Mendengar itu emosi Mamanya Bayu memuncak. "Gak nyangka keluarga Pak Kades sombong ya? Nyesel saya milih situ dulu. Jangan lupa, kalian jaya juga karena warga. Hayuk balik, Bay. Orang kayak gini mah gak cocok jadi besan."


"Lah, bukannya situ yang nyinyir dan hina anak kita duluan? Heran pisan, mulut kok kayak ember bolong." Omel Mamah Endang.


"Sudah-sudah, kok jadi ribut gini sih. Nak Bayu dan keluarga, sebelumnya kami sekeluarga minta maaf karena tidak bisa menerima lamaran Nak Bayu karena anak kami sudah lebih dulu nerima Nak Erkan. Jadi saya harap Nak Bayu bisa menerima ini dengan lapang dada. Sekali lagi kami minta maaf atas nama keluarga Pak Kades." Ujar Abah mencoba melerai pertengkaran. Meski sebenarnya ada rasa tersinggung juga dengan perkataan Mamahnya Bayu.


Bapak dari Bayu pun berdeham kecil. "Saya juga minta maaf, Pak. Karena sudah mengacaukan acar kalian. Terutama ucapan istri saya, sebagai kepala keluarga saya merasa malu. Tolong jangan diambil hati, Buk, Pak." Ucapnya dengan tulus.


"Pak, ngapain juga minta maaf. Kita gak salah. Mereka aja yang terlalu sensi." Kesal Mamahnya Bayu yang berhasil mendepat tatapan sinis dari Mama Dinar dan Mamah Endang.


"Kalau begitu kami pamit, silakan dilanjutkan acaranya. Assalamulaiakum."


"Waalaikumsalam."


Bapak Bayu langsung memboyong anak dan istrinya pulang meski Mamah Bayu sempat mengerling ke arah Lisa.


"Astagfirullah, kok ada ya orang kayak gitu?" Mama Dinar mengusap dada.


"Emang kayak gitu orangnya dia mah, Buk. Biang gosip soalnya, belum dapat karma aja dia." Sahut Mamah Endang.


"Sudah jangan ribut lagi. Semuanya sudah aman. Ayok lanjut acaranya." Tegur Papa Zein. Kemudian mereka pun melanjutkan acara dan mulai membahas rencana pernikahan. Dan semuanya sepakat pernikahan akan dilangsungkan bulan depan.


****


Setelah acara selesai, Lisa langsung masuk ke kamarnya. Kemudian melompat-lompat kegirangan. "Ya Allah, ternyata sebahagia ini ya di lamar sama pujaan hati? Duh... jantung Eneng teh dag dig dug kayak bedug."


Lisa tersenyum lebar dan sedikit memekik sangking bahagianya. Bahkan anak itu sampai joget disko untuk mengutarakan kebahagiaannya. Setelah lelah, Lisa pun menjatuhkan dirinya di atas kasur.


Karena terlalu bahagia, Lisa pun mulai menyanyikan lagu 2dewi yang judulnya sianida (siap nikah sama duda). "Saat bertemu kamu. Berbeda yang ku rasakan. Hatiku Dag dig dug. Bila ku menatap wajahmu."


"Sepertinya diriku. Sedang jatuh cinta.


Jatuh cinta... dengan seorang duda." Lisa tersenyum sendiri sambil membayangkan wajah tampan Erkan sebelum lanjut bernyanyi.


"Aku sianida... aku siap nikah sama duda. Punya anak tak masalah. Yang penting duda kaya...."


"Ku tak peduli kata orang. Yang ini yang itu. Yang penting aku sianida. Siap nikah sama duda.... Sianida."


"Neng udah malam." Tegur Mamah dari luar. Sontak Lisa pun berhenti nyanyi dan langsung bangun untuk ganti baju.

__ADS_1


"Duh... Mamah mah ganggu kesenangan aja. Tapi gak Papa, yang penting mah sianida. Eneng siap nikah sama duda, hehe."


__ADS_2