
"Kamu bilang apa tadi?" Tanya Erkan masih dalam mood kaget.
"Kembar, Mas. Makanya ayo ke rumah sakit buat mastiin. Lisa teh gak sabar pengen tau anak kita ada berapa."
Erkan masih termangu sangking kagetnya.
"Mas... kok malah diem aja sih. Ayo ke rumah sakit, mau usg biar tahu anak kita ada berapa?" Rengek Lisa sambil menggoyangkan tangan Erkan. Sontak Erkan pun kaget.
"Anak kita bukan cuma dua? Lebih gitu?" Tanya Erkan masih tak percaya.
"Katanya sih, makanya buat mastiin ayo ke rs biar usg. Biar pasti juga berapa usianya." Ajak Lisa sedikit merengek.
"Ya udah ayo, pake lagi jaketnya." Dengan sigap Erkan memakaikan jaket pada sang istri.
"Mas, sebentar. Lisa pake lisptik dulu biar gak pucet."
Erkan yang sudah terlalu senang pun cuma mengangguk patuh. Setelah bersiap, keduanya pun keluar dari kamar.
"Lah, mau pulang?" Tanya Asep yang masih duduk di tempat tadi.
"Enggak, kami mau ke rumah sakit." Jawab Erkan.
"Siapa sakit? Kamu, Neng? Perasaan tadi sehat-sehat aja, apa si Mbah bilang kamu sakit? Ya Allah, sakit apa Neng? Gak parah kan? Kunaon tadi gak ngomong sama Aa?" Sembur Asep mulai panik.
"Sayang, Abang kamu belum tahu?" Bisik Erkan.
Lisa menggeleng. "Nanti aja kasih taunya."
Erkan pun mengangguk paham.
"A, doain Eneng ya?"
Wajah Asep semakin sendu. Ditariknya Lisa dalam dekapan. "Neng, jangan tinggalin Aa atuh. Walaupun Aa teh sering jahilin kamu, sering cari ribut sama kamu. Aa teh sebenarnya sayang pisan sama kamu, Neng. Kalau dokter bilang kamu perlu pendonor ginjal atau yang lainnya. Aa rela, Neng. Aa rela jadi pendonor, asal kamu teh tetap hidup. Aa gak rela adek Aa nu geulis teh sakit parah."
Lisa tersenyum geli. "A, Eneng juga sayang sama Aa. Doain Eneng ya?"
"Neng." Lirih Asep semakin memgeratkan pelukannya.
Erkan juga mengulum senyuman geli melihat kekonyolan Abang iparnya itu.
"A, lepasin Eneng atuh. Sesek ih." Lisa berusaha menarik diri dari dekapan asep.
"Maaf, Aa teh jadi panik." Ucap Asep melepaskan pelukannya. "Sok atuh sana ke rumah sakit, jangan lupa kabarin Aa nya?"
Lisa tersenyum lagi. "Iya, Aa. Eneng pergi ya? Bilang sama Mamah, Eneng ke rumah sakit."
"Iya. Erkan, jagain adek Aa nya?"
"Iya, A." Sahut Erkan menahan tawanya. Padahal ingin sekali rasanya ia tertawa kencang sangking lucunya wajah Asep.
"Yuk, Mas. Keburu siang." Lisa pun menarik Erkan keluar dari rumah.
__ADS_1
"Ya ampun, Yang. Aa kamu lucu juga kalau lagi cemas. Gemesin."
Lisa tertawa kecil. "Gak papa, sesekali kita yang kerjaian. Yuk, takutnya poli keburu tutup."
"Ke klinik aja lah biar cepet, rumah sakit lama."
"Terserah kamu aja, Mas."
"Ada klinik bangus kan di sini?"
"Ada, dokter Septi, yang dideket gerbang masuk itu, Mas." Sahut Lisa.
"Oke."
Mereka pun bergegas naik ke dalam mobil. Seketika tawa Erkan pecah. Membuat Lisa kaget dan bingung. "Kamu kenapa, Mas? Jangan bilang kamu teh mulai gelo nya?"
Erkan masih saja tertawa. "Mas gak nahan buat ketawa, A Asep beneran lucu, Yang. Duh... ekspresinya itu bikin sakit perut."
Lisa ikut tertawa kecil. "Udah atuh ketawanya, kapan mau berangkat kalau Mas teh ketawa terus?"
"Beneran lucu, drama abis."
"Iya, udah ayo."
Erkan pun menghidupkan mesin mobil, lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat keluar gerbang, Erkan melirik rumahnya. "Jadi kangen rumah ini. Tar liburan kita ke sini ya? Ray juga pasti seneng."
Lisa mengangguk antusias. "Pengen, Mas. Kangen juga. Tar kita main lagi ke danau ya? Ajak Mama sama Papa juga biar seru. Kita makan sama-sama di sana. Pasti seru."
"Oh iya, Mas. Kita buat syukuran dikit yuk. Undang anak yatim piatu gitu. Udah lama kita gak buat santunan." Usul Lisa.
"Boleh juga, nanti kalau Mas udah agak senggang kita langsung gelar acaranya."
"Iya, Mas." Lisa tersenyum senang. Ia dan Erkan memang selalu kompak. Mungkin Erkan lah yang selalu mengiyakan keinginan istrinya selagi masih masuk akal. Dan selama pernikahan juga, Lisa tidak pernah meminta hal yang macam-macam dan selalu memahami kesibukan Erkan. Karena itu rumah tangga mereka selalu harmonis dan manis. Meski kadang ada pertengkaran kecil karena salah paham, tetapi itu tidak akan berlangsung lama karena keduanya selalu berinisiatif untuk meminta maaf meski tidak salah sekali pun. Yah, wajar jika dalam rumah tangga dibumbui pertengkaran kecil. Katanya sih itu yang membuat hubungan lebih erat.
****
"Selamat ya, Neng. Positif hamil, bener ini mah anaknya kembar. Hasil lab menunjukkan jika hormon HCG-nya tinggi banget. Biasanya kalau begini bayinya lebih dari dua. Wah, mantap." Ucap dokter menunjukkan hasil labnya pada Lisa dan Erkan.
Mendengar itu, Lisa kembali menitikan air mata bahagia. Bahkan tangannya meremat erat lengan Erkan.
"Apa mau di usg sekarang?"
"Boleh, dok. Penasaran juga."
"Oke, memang dari hasil prediksi dan melihat hpht Neng Lisa, usianya baru 9 minggu. Mudah-mudahan aja bisa keliatan jelas. Nanti kalau emang belum jelas, bulan depan di cek lagi ya?"
"Siap, dok." Sahut Erkan tidak kalah antusias untuk melihat jumlah calon anaknya. Bahkan jantungnya berdetak tak karuan.
"Sok, baring dulu Enengnya." Pinta dokter Septi. Dengan sigap Erkan membantu Lisa naik ke atas brankar, dan membaringkan Lisa.
Dokter Septi pun meyibak kaos Lisa, karena jaket yang Lisa pakai sudah dilepas sejak tadi.
__ADS_1
"Duh... udah keliatan ya perutnya. Padahal belum tiga bulan. Nanti jangan kaget ya kalau berat badannya cepet naik. Biasanya kalau hamil kembar itu cepet banget naik berat badan. Lebih cepet dari yang tunggal. Tapi gak semua juga sih. Ada yang beratnya gak terlalu naik drastis."
"Iya, dok." Lisa tersenyum senang. Jantungnya bertalun-talun tak sabar ingin mengetahui ada berapa makhluk hidup dalam perutnya saat ini. Bahkan tangannya menggenggam tangan Erkan dengan erat. "Mas, Lisa seneng."
"Iya, sayang. Mas juga seneng. Setelah penantian panjang akhirnya kita dapat lebih dari dua."
Dokter yang mendengar itu tersenyum sambil mengoleskan jell di perut Lisa. "Emang nikahnya udah berapa tahun, Neng?"
"Lima tahun, dok."
"Lumayan juga, ini namanya buah kesabaran, Neng. Harus banyak bersyukur."
"Iya, dok."
Dokter itu tersenyum lagi. "Fokus ke layar monitor, kita lihat ada berapa kecebongnya yang tumbuh."
"Kok kecebong, dok?" Tanya Erkan baru mendengar hal itu.
"Kan asalnya dari kecebong milik situ, Mas." Sahut sang dokter.
"Iya sih." Erkan terkekeh lucu. "Kecebong ya? Lucu juga."
Sang dokter menggelengkan kepala. Kemudian pandangnnya fokus ke monitor. "Wah, udah keliatan tuh. Cobak dihitung sendiri ada berapa titiknya."
"Yang mana, dok?" tanya Erkan bingung sangking gugupnya.
"Ini." Tunjuk sang dokter. Lalu Erkan dan Lisa pun mulai menghitung.
"Lima, dok." Ucap Erkan dan Lisa kompak. "Lima pandawa." imbuh Erkan.
"Iya, itu artinya janinnya ada 5. Bisa aja lebih, ini yang baru keliatan. Kalau pengen lebih jelas lagi tunggu sampe usia 12 minggu, pasti lebih keliatan lagi."
"Duh... jangan kebanyakan juga atuh, dok. Bisa kewalahan saya." Sahut Lisa tidak bisa membayangkan anaknya lebih dari lima.
"Loh, malah saya mah seneng, Neng. Cukup sekali lahiran aja."
"Iya, sih."
"Yang, tar kita cetak lagi yah? Biar bisa bentuk tim sepak bola." Ajak Erkan yang berhasil mengundang tawa bu dokter dan Lisa.
"Terus Rayden jadi wasitnya ya, Mas?"
"Setuju." Sahut Erkan yang kemudian tertawa renyah. "Duh... gimana gendongnya ya kalau lima? Belum kebayang."
"Satu-satu atuh, Mas." Sahut Lisa.
"Kalian ini pasangan kompak, lucu banget. Sekali lagi selamat ya? Semoga Neng Lisa sehat, para dedek bayinya juga sehat sampe lahiran."
"Aamiin." Sahut Erkan dan Lisa kompak.
Tbc...
__ADS_1