
Sepanjang perjalanan pulang, Erkan dan Lisa terus terdiam seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing. Lisa mendekap Rayden yang sudah tertidur dalam pangkuannya.
Apa Mas Erkan masih marah ya? Pikir Lisa. Ia sedikit melirik suaminya yang terlihat fokus menyetir.
"Mas." Akhirnya Lisa pun memberanikan diri untuk berusara. "Masih marah ya?"
Erkan menoleh sekilas. "Cuma kesel aja."
Lisa menyentuh lengan suaminya. "Mas, udah atuh. Kan semuanya teh udah selesai. Jangan marah-marah, tar keliatan tuanya." Lisa mencoba untuk mencairkan suasana. Dan itu berhasil, Erkan tersenyum.
"Mas lagi marah juga kamu malah bikin lucu."
Lisa tersenyum senang. "Gak baik atuh mas marah-marah terus. Bikin gak sehat, mending senyuma aja biar awet muda."
Erkan meraih tangan Lisa. "Sakit tangannya gak?"
"Eh?"
"Kamu nampar dia kan? Sakita gak tanganya?" Tanya Erkan memperjelas.
"Dikit." Jawab Lisa sambil tersenyum kecil.
"Kayaknya Mas harus sewa bodyguard mulai sekarang, Mas gak mau kejadian ini terlulang lagi, sayang."
Lisa melotot mendengarnya. "Mas, itu gak perlu ah. Gak usah pake bodyguard-bodyguardan. Lisa teh bisa jaga diri kok."
"Jaga diri apanya? Buktinya pipi kamu bengkak sekarang. Mas gak suka orang lain nyakitin kamu, Sa. Mas selalu jaga kamu dan berusaha buat kamu bahagia. Dan dengan enaknya orang lain nyaktin kamu. Mas gak bisa terima, Sa."
Lisa tersenyum dan merasa tersanjung mendengarnya.
"Jangan membantah lagi, mulai sekarang kalau kemana-mana kamu bawa ajudan."
"Udah kaya istri presiden aja atuh, Mas." Protes Lisa.
"Jangan lupa, suami kamu ini memang presiden direktur."
Lisa tertawa renyah. "Iya ya, Lisa hampir lupa. Ya udah deh terserah Mas aja, dari pada Mas kepikiran nantinya."
"Gitu dong. Itu barunya istri presdir. Makin cinta deh."
Lisa memukul lengan Erkan pelan. "Kamu mah bisa aja. Tapi kan Mas, tadi tuh Lisa takut tahu. Mas marahnya ngeri ih. Baru tahu Lisa."
Erkan berdeham kecil. "Namanya juga istri diganggu, ya pasti marah lah. Semua suami juga pasti gitu."
Lisa tersenyum. "Makasih ya, Mas. Mas udah belain Lisa. Lisa merasa terhormat tahu."
"Sama-sama, udah seharusnya Mas hormatin kamu. Kamu kan calon Ibu anak-anak Mas."
"Mas." Lisa terlihat malu-malu.
Erkan tersenyum geli sambil melirik Lisa sekilas. "Pipi kamu merona, padahal cuma digoda dikit."
"Ih, jail kamu mah. Udah ah, jangan bikin Lisa malu terus."
Erkan tertawa renyah. "Kamu itu sehari aja gak bikin gemes gak bisa ya?"
"Lah, kok malah nanya Lisa sih? Lisa aja gak tau di mana gemesnya." Sahut Lisa terkekeh lucu.
"Semuanya gemesin. Pengen gigit manja terus."
"Ih... mulai kan mesumnya. Udah ah, fokus nyetirnya."
Erkan tertawa renyah.
"Oh iya, Mas. Kamu udah bikin Rayden kaget tadi. Harus minta maaf loh, takutnya dia malah gak berani ngomong sama Mas lagi."
Erkan menatap putranya sekilas. "Iya, nanti Mas minta maaf sama dia. Mas sampe lupa di sana ada Ray."
Lisa menghela napas berat. "Lain kali kontrol emosinya, Mas. Lisa gak mau Mas kenapa-napa."
"Iya, sayang. Mas janji."
Lisa tersenyum lega. Dan tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka sampai mobil yang dinaiki itu memasuki pekarangan rumah.
"Mama." Rengek Rayden terbangun dari tidurnya saat Lisa keluar dari mobil.
__ADS_1
"Iya sayang. Kita udah sampe di rumah." Lisa membenarkan posisi Raydan. Tidak lama Erkan pun keluar dari mobil. Sontak Rayden mengeratkan pegangannya pada Lisa. Sadar akan hal itu, Lisa langsung menatap suaminya.
"Mas."
"Sini, Ray biar aku yang gendong." Erkan menghampiri Lisa.
"Ray mau sama Mama aja." Rengek Rayden dengan mata berkaca-kaca.
Erkan mengusap kepala putranya itu. "Papa minta maaf, sayang."
Rayden menatap Erkan dengan seksama. "Papa gak marah lagi?"
Erkan tersenyum. "Papa gak pernah marah sama kamu."
"Tapi tadi Papa marah-marah, Ray takut."
Erkan membawa Rayden dalam gendongannya. Dikecupnya pipi menggemaskan putranya itu dengan penuh cinta. "Maaf, Papa janji gak akan marah-marah lagi."
"Janji?" Rayden memeluk leher Erkan dengan erat.
"Iya, sayang. Papa janji."
Lisa tersenyum senang melihatnya. "Ayo masuk, Mas. Kasian Ray masih ngantuk."
Erkan mengangguk, lalu mereka pun memasuki rumah sambil tersenyum bahagia. Amarah Erkan pun sudah meluap tanpa sisa. Apa lagi Lisa selalu berhasil membuatnya tersenyum.
****
Sudah dua hari setelah kejadian itu. Baik Erkan dan Lisa pun tidak pernah menyinggungnya lagi.
"Mas, gak kerja?" Tanya Lisa saat melihat suaminya masih santai menonton berita pagi. Padahal sudah hampir jam delapan.
"Kamu lupa ya ini hari sabtu?"
Lisa terkejut. "Hehehe... lupa, Mas. Maklum udah gak sekolah lagi, mana inget hari apa." Ia ikut duduk di sebelah suaminya, lalu meneluk Erkan dari samping.
"Ray belum bangun?" Tanya Erkan.
"Belum, Mas. Mana ada dia bangun pagi, paling cepat juga jam sepuluh. Hasil didikan kamu, Mas."
"Mas."
"Iya, sayang?"
"Mama ngajak Lisa ke arisan. Boleh kan?"
Erkan terdiam sejenak. "Jadi Mas ditinggal nih?"
"Emang Mas mau ikut ke arisan? Kalau mau sih ayok." Lisa terkekeh lucu.
"Mas sih mau aja, asal kamu rela suami kamu ini dikerumunin Ibu-ibu arisan. Biasanya mereka juga bawa anak gadisnya."
Lisa terkejut mendengarnya. "Ih... Mas udah pernah ikut ya?"
"Hm, sesekali aja sih sekalian anterin Mama."
"Ck, gak usah kalau gitu. Gak ikhlas Lisa kalau Mas dikerumunin cewek-cewek. Udah di rumah aja."
"Tapi Mas gak mau sendirian."
"Kan ada Rayden, Bibik sama Mang Ujang."
"Gak seru, mereka gak bisa ngasih apa yang biasa kamu kasih."
Lisa memukul dada suaminya pelan. "Kamu mah itu aja yang diingat. Jadi kumaha atuh, boleh gak Lisa teh pergi? Kasian Mama nunggu jawaban."
"Gak usah lah, temenin Mas aja. Hari ini Mas mau mesra-mesraan sama kamu." Jawab Erkan.
"Ya udah, Lisa kasih kabar Mama dulu. Takutnya Mama ngarep lagi." Lisa hendak bangun, tetapi Erkan menanahannya.
"Nanti aja, sekarang senengin suami kamu dulu. Mandi yuk." Ajak Erkan.
"Ck, mandi apa mandi-mandian?"
"Dua-duanya." Erkan mematikan televisi dan langsung membopong Lisa ke kamar mandi. Tidak lama dari itu terdengar suara aneh di dalam sana. Dan itu berlangung lumayan lama. Sepertinya Erkan benar-benar akan menghabiskan waktu libur seperti keinginannya.
__ADS_1
****
Sepulangnya dari arisan, Mama Dinar pun mampir ke rumah Erkan. Tentu saja Lisa menyambutnya dengan ramah.
"Mama mau minum apa?" Tanya Lisa saat mereka sudah duduk di ruang keluarga.
"Gak usah, Mama cuma mau mampir aja bentar. Sekalian mau nanya sama Erkan."
"Soal apa, Ma?" Tanya Erkan yang tiba-tiba muncul. Ia pun duduk di samping Lisa.
"Itu, udah dua hari Abang kamu gak pulang. Dia ada kasih kabar ke kamu gak? Mama cemas, sejak hari itu dia gak pulang ke rumah."
"Enggak ada, Ma. Emang Mama udah cobak telepon dia?"
"Udah, tapi nomornya gak aktif. Mama takut Elkan kenapa-napa. Dia itu lagi tertekan sama keadaan."
Lisa dan Erkan pun saling memandang.
"Apa Bang Elkan punya rumah lain?" Tanya Lisa.
"Setahu Mama gak ada, dia itu gak pernah mau jauh dari Mama."
"Mungkin dia lagi butuh ketenangan, Ma. Postif aja. Abang gak mungkin punya pikiran buat bunuh diri. Lagian kan mereka lagi ngurus perceraian."
Mama menghela napas berat. "Zia juga hilang entah kemana. Pusing Mama mikirin mereka. Zia juga, kurang apa Elkan selama ini? Kalau masalah keturunan Mama yakin mereka masih bisa usahin. Zianya aja kayak gak ada niat buat punya anak."
"Ma, gak usah terlalu kepikiran. Nanti Mama sakit. Nanti aku bantu cari dia, mungkin aja dia emang lagi butuh waktu sendiri."
Mama pun mengangguk. Sedangkan Lisa masih terdiam. Entah kenapa ia malah teringat Bella.
Apa aku hubungin dia aja ya? Mungkin aja Bang Elkan lagi sama Bella.
"Sayang." Panggil Erkan saat melihat istrinya termenung.
"Eh! Iya, Mas?"
"Mama pamit mau pulang."
"Ah, iya Ma. Hati-hati di jalan." Lisa bangun dari posisinya dan langsung mendekati sang Mama mertua. Memberikan pelukan hangat seperti biasanya.
"Sa, jangan berkecil hati ya? Mama tahu kamu masih syok karena baru beberapa hari jadi keluarga kami, kamu udah dapat banyak cobaan. Mama minta maaf mewakili keluarga besar Erkan."
Lisa tersenyum ramah. "Ma, Lisa gak pernah berkecil hati. Lisa paham kok. Udah, Mama teh gak usah mikir apa-apa ya? Lisa gak mau Mama sakit. Masalah Bang Elkan, Lisa sama Mas Erkan bakal bantu cari."
Mama tersenyum lega dan kembali memeluk menantu kesayangannya itu. "Mama beruntung bisa dapet menantu sebaik kamu, Lisa. Gak rugi Mama maksa Erkan buat nikahin kamu."
Lisa tertawa renyah. "Lisa sama Mas Erkan teh emang udah jodoh aja, Ma. Lisa teh sayang Mama, kayaknya susah dapat mertua kayak Mama. Lisa rasa satu dari sejuta perbandingannya."
Mama pun ikut tertawa dan melerai pelukan mereka. "Bisa aja kamu. Ya udah, Mama pulang dulu ya? Kalian semangat terus produksi baby. Mama gak sabar mau gendong cucu lagi."
"Mama gak usah raguin kemampuan anak Mama ini. Tiap detik kalau bisa kita produksi." Sahut Erkan yang berhasil mendapat tatapan membunuh dari istrinya.
Mama tertawa lagi. "Udah ah, Mama pulang dulu. Gak usah antar Mama ke depan. Kamu urus aja suami mesum kamu itu. Kelamaan jadi duda otaknya makin ngeres."
"Lah, kan Mama yang suruh aku semangat produksi baby. Sekarang malah ngatain anaknya ngeres, gimana sih?" Protes Erkan.
"Mas, udah ih." Tegur Lisa yang disambut tawa oleh Mama Dinar.
"Ya udah, Mama pulang. Kelamaan di sini Mama bakal jadi anak muda lagi."
"Iya, Ma. Hati-hati di jalan."
"Mama itu pembalap andal, Sa. Gak usah diraguin kemampuannya. Polisi aja kalah sama Mama mah." Ledek Erkan.
"Mas." Lisa memperingati.
"Emang anak durhaka dia, Sa. Mama sumpahin banyak anak baru tahu kamu."
"Aamiin." Sahut Erkan dengan semangat.
"Lah, itu mah keenakan di Mas Erkannya atuh, Ma. Lisa yang pingsan ngelahirin." Sahut Lisa.
Mama pun langsung beranjak untuk pulang. Kalau kelamaan di sana bisa-bisa jadi anak muda lagi.
Tbc....
__ADS_1