SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Istri Saya Memang Hebat


__ADS_3

"Mas, jemput Ray dulu ya sebelum ke tempat kursus. Ray seneng banget pas masak loh, Mas." Adu Lisa sambil memoles wajahnya. Karena hari ini ia akan membawa Erkan ke tempat kursus masaknya. Selagi Erkan masih meliburkan diri.


"Hm." Erkan terus memperhatikan istrinya. Lisa terlalu cantik hanya untuk belajar memasak hari ini. "Sayang."


"Ya?" Lisa menoleh.


"Kayaknya kamu gak cocok pake baju itu, ganti gih." Titah Erkan. Sebenarnya bukan karena tidak cocok, tetapi itu terlalu cocok untuk Lisa. Sampai kecantikan istrinya itu terpancar jelas.


"Loh, gak cocok gimana sih, Mas?" Tanya Lisa bingung.


"Udah, ganti aja. Pokoknya gak cocok."


"Ish... iya deh Lisa ganti." Lisa pun bangun dan melangkah pasti ke ruang ganti. Tentu saja Erkan ikut masuk.


"Pake kaos sama rok selutut aja. Rambutnya gak usah diikat." Erkan membantu Lisa melepas ikat rambutnya. Tentu saja Lisa keheranan.


"Mas, nanti kita mau masak loh. Rambutnya harus di ikat."


"Gak papa, lepas aja. Nanti Mas yang ikatin di sana." Sahut Erkan.


Lisa pun berbalik. Ditatapnya Erkan penuh curiga. "Kamu teh aneh pisan, Mas. Gak biasanya Mas teh protes soal penampilan Lisa. Kayaknya ada yang aneh ini mah?"


"Gak ada yang aneh. Mas cuma kasih masukan aja. Masak iya mau masak pake dress cantik. Kan sayang bajunya." Alibi Erkan.


Lisa menghela napas. "Mas, di sana kita ganti seragam lagi loh."


Erkan terdiam sejenak. "Emangnya kenapa? Udah ganti aja, pake kaos sama rok selutut kayak Mas bilang tadi."


"Ih, aneh pisan kamu mah." Meski merasa heran, Lisa pun tetap mematuhi perintah suaminya.


Erkan tersenyum geli saat melihat dada Lisa yang dipenuhi bercak merah hasil karyanya malam tadi.


"Liat tuh, banyak banget. Kamu mah gak kira-kira kalau mau ngelukis. Untung dileher gak ada, Mas. Kalau ada masak iya Lisa harus pake syal."


Erkan terkekeh lucu. "Kan kamu juga ikut ngelukis. Mau liat?"


"Ih, gak usah. Udah telat kita, kamu sih pake acara minta ganti kostum segala. Mana belum jemput Rayden lagi." Omel Lisa.


"Santai aja, orang kita yang bayar mereka juga."


"Tahu, tapi gak enak kalau telat. Kayaknya Desi sama Mona udah duluan deh."


"Gak papa, kita nyusul belakangan." Erkan mulai jahil, menelus perut istrinya. Spontan saja Lisa langsung memukulnya.


"Jangan macem-macem, gak puas-puas kamu mah." Protes Lisa bergegas memakai bajunya dan meninggalkan Erkan. Cepat-cepat Erkan menyusulnya.


"Yang, masih ada waktu nih. Olahraga dulu bentar yuk."


"Enggak, sisa tadi malam aja masih kerasa, Mas. Bisa encok kalau digempur terus. Pokoknya besok Lisa mau istirahat full. Gak ada jatah lagi."


"Lah, mana bisa gitu?"


"Bisa lah, harus diatur. Kata dokter juga gak bagus buat tulang tiap hari main terus. Setidaknya kasih jeda sehari kek."


Erkan menghela napas berat.


"Entah kalau Mas teh mainnya bentar, lah ini kalau belum lemes terus aja. Gak mikir istri udah tepar. Nih, cangkeng Lisa teh masih sakit. Encok, Mas." Sambung Lisa seraya menunjuk pinggangnya yang sakit karena ulah sang suami.


"Lah, tadi malem kan kamu yang minta duluan." Protes Erkan.

__ADS_1


"Salah Mas lah. Siapa suruh milih film dewasa. Bilangnya film romantis, isinya gituan doang."


Erkan tertawa geli. "Kirain kamu gak kepancing, hehe."


"Lisa teh masih normal atuh, Mas." Lisa meraih slingbagnya. "Udah, hayuk."


Erkan menggenggam tangan istrinya dan hendak keluar. Namun, tiba-tiba Lisa manahan langkahnya. "Kunci mobil udah belum?"


"Ih iya lupa." Erkan cengengesan dan langsung mengambil kunci mobil di laci nakas.


"Uh, pikun kamu mah, Mas. Belum juga kepala empat."


"Namanya juga manusia, Yang. Pasti ada lupanya." Erkan kembali menggenggam tangan istrinya, lalu mereka pun beranjak pergi.


****


Sesampainya di tempat kursus, Erkan tak sedikit pun melepaskan genggaman tangan istrinya.


"Duh, maaf ya aku telat." Ucap Lisa pada yang lain. Di sana Desi dan Mona ternyata memang sudah hadir. Keduanya memusatkan perhatian pada Erkan, Lisa dan Rayden.


"Gak papa, baru mulai juga." Sahut Nichole.


"Widih... jadi sekarang keluarga kecil mau belajar masak nih? Mantap dah." Puji Desi mengacungkan jempol.


Lisa tersenyum malu.


"Udah, sana ganti baju. Dari tadi loh Mas Nich udah nungguin." Titah Mona. Spontan Erkan pun menilai penampilan lelaki itu dari ujung kaki sampai kepala.


Jadi ini orangnya, kerenan juga aku. Model kayak gini paling bisanya masak doang. Awas aja kalau berani godain istriku. Gerutu Erkan dalam hati.


"Mas, yuk ganti baju dulu. Ayo, sayang." Lisa pun langsung menarik suami dan anaknya ke ruang ganti. Tidak perlu pakai lama mereka pun sudah kembali.


"Om ganteng, Ray mau masak kue lagi boleh kan?" Tanya Rayden yang langsung naik ke atas kursi.


Nichole pun menghampiri Rayden. "Boleh, sini Om bantu ya?"


"Iya, Om ganteng."


Nichole pun membantu Rayden lebih dulu. Setelah itu ia fokus pada Lisa dan Erkan. "Maunya masak apa hari ini?" Tanyanya.


"Duh... kalau ditanya mau masak apa aku mah gak tau atuh, Mas." Sahut Lisa mulai bingung.


"Ayam geprek aja biar cepet." Jawab Erkan behasil membuat orang yang mendengarnya tertawa.


"Ih, kamu mah malu-maluin, Mas. Masak iya masak ayam geprek. Kalau gitu mah buat apa kursus? Minta diajarin aja sama kang geprek. Yang elit dikit napa?" Celetuk Lisa.


Nichole tersenyum geli. "So... masak apa yang bener?" Ia memandang keduanya bergantian.


"Mama! Liat, bentuknya kayak ikan." Seru Rayden yang berhasil menarik perhatian mereka.


"Iya, sayang. Pinter banget sih." Lisa tersenyum tulus. Rayden pun tersenyum senang dan kembali fokus mengadoni kuenya. Lebih tepatnya ia hanya bermain tepung.


"Steak." Jawab Lisa dan Erkan kompak.


"Cie... emang beda ya kalau pasutri, kompak bener." Ledek Mona.


"His... nyamber aja. Udah sana fokus masak." Ketus Lisa. Mona pun menyebik dan kembali fokus dengan perkejaannya.


"Oke, kita siapin bahannya. Mungkin orang pikir buat steak itu gampang karena cuma kasih bumbu, terus dipanggang. Gak gitu konsepnya." Ujar Nichole mulai menjelaskan tahapan membuat steak yang enak dengan cara memasak yang benar. Juga cara pemilihan daging yang benar untuk dijadikan steak nantinya.

__ADS_1


"Tingkat kematangan steak ada ada lima, yaitu rare, medium rare, medium, medium well dan well done. Tergantung selera kalian mau yang mana." Imbuh Nichole. Lisa pun mangangguk paham. Sedangkan Erkan berusaha menjaga jarak antara Lisa dan Nichole, bahkan tidak terlalu peduli dengan pelajaran memasaknya.


"Aku sih lebih suka medium, kalau kamu, Mas?" Tanya Lisa pada Erkan.


"Sukanya kamu doang." Sahut Erkan.


"Ih... orang lagi serius juga."


Erkan tersenyum geli. "Medium juga."


"Oke, kita mulai aja masaknya ya?"


"Iya." Sahut Lisa. Lalu ia pun mulai serius. Berbeda dengan Erkan, ia malah lebih serius memgawasi Nichole supaya tidak menyentuh istrinya. Dan itu membuat Nichole bingung sendiri. Lisa yang menyadari itu pun berhenti.


"Mas, kamu teh ngapain sih? Bukannya bantuin malah ngerecokin. Dari pada ganggu konsentrasi Lisa, Mas main aja gih sama Rayden." Kesal Lisa.


"Yang, masak Mas di suruh main sama Ray sih? Mas mau bantu kamu di sini. Awas, kamu jangan deket-deket istri saya." Ancam Erkan memelototi Nichole.


Duh... kalau tahu gini mah gak mau aku teh ajak Mas Erkan ke sini. Heran, cemburunya gak liat kondisi. Ih... malu-maluin ini mah.


"Mas, gimana Lisa mau pinter kalau kamu halangin Mas Nichole buat ngajarin Lisa? Udah sana Mas main aja sama Rayden. Tuh temenin anaknya, kasian main sendirian. Jangan ganggu Lisa ah, lagi seru juga." Kali ini Lisa benar-benar mengusir suaminya secara gamblang.


"Tega kamu, Yang."


"Biarin, siapa suruh kamu recokin. Udah sana ah."


Dengan dongkol Erkan pun beralih ke meja Rayden. Ia menarik kursi dan duduk di sana, sambil mengawasi istrinya. "Awas, jangan pegang-pegang. Istri saya itu, capek saya ijab kabul sampe keringetan."


"Mas!" Kesal Lisa memelototi suaminya.


"Mas cuma ingetin aja, Yang."


"Diem."


Erkan pun langsung bungkam. Dan itu membuat Nichole tersenyum geli.


"Lucu juga suami kamu." Bisiknya.


"Maaf ya, dia emang cemburuan banget. Makanya aku bawa ke sini."


"Gak papa, aku paham. Aku juga pasti gitu kalau punya istri."


Lisa tersenyum.


"Jangan senyum-senyum, fokus aja masaknya." Lagi-lagi Erkan mengomentari.


"Mas, justru kamu yang bikin kita gak fokus." Kesal Lisa.


Erkan mendengus sebal. Lisa pun menggeleng pelan melihat tingkah suaminya.


"Papa, bantu Ray dong." Rengek Rayden. Spontan Erkan pun menoleh. "Papa juga gak bisa masak, sayang."


Dan akhirnya perhatian Erkan pun terisata pada putranya. Keduanya terlihat asik bermain sambil sesekali tertawa. Lisa yang melihat itu tersenyum lega.


Menit berikutnya Lisa berhasil membuat steak pertamanya. "Ah... ternyata butuh tenaga ekstra juga ya cuma buat yang kayak gini? Hebat ih para chef. Tapi seru pisan, bikin ketagihan."


Nichole yang mendengar itu tersenyum seraya mencuci tangannya. "Kamu hebat loh, langsung paham semuanya."


Erkan yang mendengar itu menoleh dengan wajah yang dipenuhi tepung. "Istri saya memang hebat. Apa lagi kalau di atas ranjang. Iya kan, sayang?"

__ADS_1


Lisa melotot mendengar perkataan frontal suaminya. "Mas!"


Tbc....


__ADS_2