SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Kolam Renang


__ADS_3

"Masuk." Lisa membukakan pintu untuk Elkan dan Bella. Lalu mereka pun beranjak menuju ruang tamu.


"Duduk aja dulu, aku masih ada kerjaan di belakang dikit lagi. Mas Erkan bentar lagi juga keluar. Kalian teh udah makan?"


"Udah." Jawab Elkan. Lisa pun mengangguk dan berlalu pergi.


"Udah sampe rupanya?" Sapa Erkan yang baru saja muncul. Lalu ia pun ikut duduk. Ditatapnya dua sejoli itu lamat-lamat. "Gimana kelanjutannya?"


Elkan menghela napas berat. "Aku udah layangin surat gugatan cerai, lusa sidang pertama kita."


"Terus hubungan kalian gimana? Sampe kapan mau ditutupin? Ayah kamu juga udah hubungin Papa, Bel. Beliau ngancam bakal laporin Bang Elkan ke polisi karena udah bawa kabur anak gadisnya." Jelas Erkan.


Bella tampak kaget karena ia belum mendengar kabar itu. Ditatapnya sang suami lekat. "Kenapa gak bilang?"


"Mas akan urus semuanya, percaya aja. Kita bisa tuntasin semuanya. Zia cuma mau manfaatin kondisi kita supaya dia tetap dapat harta gono-gini."


Bella memijat keningnya. "Papa sama Mama pasti kecewa banget sama aku, Mas. Tapi aku gak mau dijodohin. Aku udah terlanjur cinta sama kamu. Kalau aku pulang pasti mereka tetap lanjutin perjodohan itu. Aku gak tahu apa-apa soal perjodohan, tiba-tiba aja mereka udah nentuin tanggal pernikahan. Siapa yang gak shock?"


Elkan merengkuh pundak istrinya. "Secepatnya kita akan selesaikan masalah ini. Dan urus pernikahan kita secara resmi."


Bella mengangguk.


Lisa pun kembali dan duduk di sebelah suaminya. Ditatapnya Bella dengan tatapan penuh arti. "Apa kabar lo? Lama gak ada kabar."


Bella memasang wajah sedih. Ia tahu arti pertanyaan sahabatnya itu. "Sorry."


"Lo udah lupain persahabatan kita dengan sembunyi kayak gini."


"Sa, lo gak akan paham kondisi gw."


"Kita mana paham kalau lo gak ngomong. Jahat lo lupain kita. Lo gak mikir apa kita bertiga khawatirin lo terus." Semprot Lisa kesal dengan sikap Bella.


"Sorry, Sa. Gw gak mau kalian terlibat dalam masalah ini. Biar nama gw aja yang jelek."


Lisa menghelan napas berat. "Kejora bakal cacat kalau diantara kita ada yang cacat."


Bella menunduk lesu.


"Sayang, biarin mereka istirahat dulu. Pasti gak mudah kan datang ke sini?" Ujar Erkan saat melihat aura dingin di antara mereka.


Lisa pun mengangguk patuh. "Terserah kalian mau tidur di kamar mana, atas atau bawah, bebas. Asal satu kamar aja, soalnya sayang kasur barunya, hehe."


"Kita ambil di lantai atas aja." Sahut Elkan.


"Iya deh paham, biar kita gak denger kan suara berisik kalian? Tenang aja, kamarnya kedap suara. Jadi kalian bebas mau teriak-teriak sekali pun," celetuk Lisa.


"Ck, bisa aja kamu, Sa." Balas Elkan.


"Bisalah, orang sama-sama punya pasangan juga. Udah hal lumrah buat pasutri mah. Udah sana ke kamar, istirahat dulu tar turun pas makan siang. Abis itu terserah mau lanjut ngobrol apa yang lain."


"Oke, makasih banyak lo udah mau nampung kita." Ucap Elkan.


"Kayak sama siapa aja, Bang." Balas Erkan. "Santai aja, anggap rumah sendiri."


Elkan mengangguk. Kemudian ia pun pamit ke kamar bersama istrinya.


"Hah, ada-ada aja ya?" Keluh Lisa.


"Namanya juga hidup, sayang. Kita ke kamar juga yuk, lanjut mesra-mesraan. Selagi Mas libur."


"Hih, kamu mah pengennya gitu aja. Ya udah ayo, Lisa juga mau lanjut ngedrakor."


Keduanya pun beranjak ke kamar. Lisa benar-benar melanjutkan nonton dan Erkan ikutan kali ini. Lisa tiduran dengan kedua paha Erkan menjadi bantal.


"Uh... sweet banget." Seru Lisa saat melihat adegan mesra. Di mana kedua protagonis saling berciuman mesra.


"Praktek yuk." Ajak Erkan yang berhasil membuat Lisa mendelik.


"Kamu mah gak bisa liat yang mesra-mesra dikit, pasti minta praktek. Aneh ih."


"Praktek sama istri sendiri, dapat pahala loh."


"Ck, lagi serius nonton juga. Nanti aja, tadi malam juga udah. Gak ada puas-puasnya ih." Kesal Lisa.


"Maklum, kelamaan puasa. Bawaanya haus terus." Erkan tersenyum geli.


"Dih... haus mah ke dapur, minum. Haus kok mintanya gituan."


"Beda dong, kalau haus yang ini mah bikin ketagihan. Kamu juga keenakan, malah sampe minta nambah."


Lisa terdiam beberapa saat. "Tapi kan, Mas. Lisa teh pensaran gimana rasanya main di kolam renang. Gara-gara kemarin baca cerbung Bella sih. Katanya enak, Mas. Cobak yuk."


Mendengar itu wajah Erkan langsung berbinar. "Hayuk, dengan senang hati."

__ADS_1


"Ish... cepet banget kalau gituan mah. Emang gak capek ya, Mas? Kamu kan baru sembuh."


"Gak capek kalau masalah gituan, Mas jagonya. Tinggal goyang doang. Yuk sekarang." Ajak Erkan dengan semangat.


"Tar dulu, nanggung ini dikit lagi abis."


"Lah, ngasih harapan palsu kamu ya?"


"Enggak, bentar lagi. Ini beneran nanggung, Mas. Dikit lagi tuh."


"Udah berdiri juga." Kesal Erkan.


Lisa terkekeh lucu. "Sabar, dikit lagi."


"Yang, ayo." Rengek Erkan seperti anak kecil minta mainan.


"Ih, iya ayo. Ganti baju dulu atuh." Akhirnya Lisa pun mengalah.


"Gak usah ganti, lagsung buka aja."


Lisa menggeleng. "Gak sabaran banget sih, Mas?"


Erkan mesem-mesem dan langsung bangun dari duduknya. Dan tanpa aba-aba ia menggendong Lisa.


"Aaaa... kenapa main gendong aja sih, Mas? Bikin jantungan." Kaget Lisa.


"Kamu kelamaan."


"Masnya aja yang gak sabaran ih, bikin jantungan aja."


"Sekalian belajar renang."


"Nanti airnya kotor atuh, baru juga dikuras kamari ku si Mamang."


"Tinggal kuras lagi aja, lagian sekarang udah ada keponakannya yang bantu. Jangan rugi Mas gaji mereka di atas umr."


"Dih... kamu mah perhitungan."


"Harus dong, kalau gak perhitungan bisa rugi."


Lisa memutar bola matanya malas. "Langsung nyemplung aja nih? Gak pake bikini dulu? Biar kayak di film-film."


"Punya gak bikininya?" Erkan menurunkan Lisa saat mereka sudah masuk ke dalam kolam.


"Ya udah gak usah pake apa-apa lagi. Langsung celup aja."


"Ish... mulut kamu itu loh. Pintu udah di kunci kan?"


"Lupa ya pintunya kekunci otomatis?"


"Eh iya, lupa hehe. Dingin airnya, Mas."


"Ini yang bakal buat sensaninya jadi beda. Hadep belakang, Yang. Biar Mas masuk lewat belakang aja."


"Lah, langsung main? Gak ada pemasaan dulu gitu?" Tanya Lisa menuruti perintah suaminya.


"Pemanasan dulu dong. Mana boleh langsung celup aja. Minyak aja kalau mau goreng dipanasin dulu."


"Uhh...." Lisa menggigit bibirnya saat tangan Erkan tidak sengaja menyenggol bukit kembarnya.


Erkan tersenyum nakal. "Cuma kesenggol dikit aja langsung keras, Yang."


"Hm... enak soalnya aahhh... jangan dimasukin dulu." Keluh Lisa saat jari besar Erkan masuk tanpa permisi ke dalam lubangnya."


"Udah licin banget, Yang."


"Orang kamu godain terus, Mas. Uhhh... enak, Mas." Lisa merem melek menikmati sentuhan nakal suaminya. Erkan yang mendengar suara merdu Lisa pun semakin semangat melanjutkan aksinya. Sampai Lisa pun mendapat pelepasan pertamanya.


Erkan membalik tubuh istrinya. Lalu membantu Lisa membuka pakaian. Begitu pun sebaliknya. Sampai keduanya pun sama-sama naked.


"Cantik." Bisik Erkan mencium bibir Lisa. Dan Lisa yang sudah dalam gairah pun memebalasnya. Lidah keduanya saling membelit dan bertukar saliva. Tangan Erkan tidak tinggal diam, memijat lembut dua daging kenyal yang pas ditangannya itu.


"Ahhh...." suara decapan bibir mereka terdengar begitu merdu.


Kini ciuman Erkan turun ke leher Lisa, memberikan tanda kepemilikan di sana.


"Jangan banyak-banyak, malu kalau di liat Bella sama Bang Elkan." Lisa meremat rambut suaminya untuk menyalurkan rasa nikmat yang sulit diungkapkan hanya dengan kata-kata.


Erkan tidak menanggapinya, kini ciuman itu semakin turun ke bawah. Ia mengecup pucuk daging kenyal itu dengan lembut. Lalu kecupan itu berubah menjadi hisapan dan gigitan kecil.


"Oh... jangan digigit atuh, Mas. Linu ih."


Erkan mendongak. "Abis gemesin sih. Pengen **** terus."

__ADS_1


Lisa terkekeh lucu.


"Untung Mama jemput Ray, jadi hari ini kita bakal bebas tanpa ada pengganggu." Imbuh Erkan yang kembali melahap daging kenyal itu dengan rakus. Cukup lama mereka melakukan pemanasan, dan kini sampailah ke permainan inti. Erkan membalikan tubuh Lisa kembali membelakanginya. Lalu dengan sekali hentakan ia berhasil menerobos masuk liang hangat itu.


Baik Lisa maupun Erkan mengerang bersamaan saat merasakan nikmat dunia yang luar biasa. Meski mereka sudah sering melakukannya, tetapi keduanya seolah tak pernah puas. Erkan terus bergerak liar, membuat Lisa menjerit tak karuan. Hingga keduanya pun meledak bersamaan.


Erkan memeluk Lisa dari belakang, tanpa melepas penyatuan.


"Gimana rasanya main di kolam renang? Enak kan?" Tanya Erkan dengan napas memburu.


Lisa yang masih menikmati sisa pelepasannya pun cuma bisa mengangguk. Erkan tersenyum, diraihnya bibir Lisa dengan lembut. "Kita lanjut ronde berikutnya."


Keduanya pun kembali melanjutkan kegiatan panas itu sampai puas. Bahkan tidak cukup di kolam renang, Erkan membawa istrinya ke kamar karena ia ingin Lisa yang memimpin. Sungguh pagi yang indah untuk pasangan yang satu itu.


****


Siangnya dua pasutri terlihat menikmati makan siang di gazebo belakang.


"Kapan mau ketemu Mama?" Tanya Erkan memulai pembicaraan.


"Mungkin besok, aku gak bisa hindarin Mama terus." Sahut Elkan.


Bella dan Lisa pun cuma menyimak.


"Ya, lebih baik kalian rampungkan urusan keluarga dulu. Supaya dukungan lebih banyak."


"Ya." Elkan kembali melahap makan siangnya.


"Mas, Sore ini Lisa mau keluar sama Bella boleh kan? Kita mau ngumpul bentar." Lisa menatap Erkan.


"Boleh."


"Boleh kan, Bang?" Kali ini Lisa beralih pada Elkan.


Elkan menatap istrinya, wajah Bella memancarkan harapan penuh. Elkan menghela napas berat. "Boleh, tapi jangan lama."


"Tenang aja, kita teh gak bakal ngumpul di tempat umum kok. Bella pasti aman. Lagian Lisa teh bawa Mbak Chelyn," jelas Lisa.


Elkan pun mengangguk. Bella tersenyum bahagia. Elkan mengusap kepala istrinya. "Maaf udah ngurung kamu terus, Mas cuma gak mau kamu ketemu Zia."


Bella menatap Elkan penuh cinta. "Gak papa, Mas. Bella paham kok."


"Habis ini Mas janji, kita gak akan menutupi apa pun lagi. Mas bakal umumin sama dunia kalau kamu itu istri Mas seorang."


Lisa tertawa renyah. "Duh... bikin baper aja. So sweet."


"Mas juga gak kalah sweet kok, Yang. Udah Mas buktiin kan tadi?" Sambar Erkan ikutan nimbrung.


"Ish... kamu mah bukan sweet lagi. Udah kepalang manis, jadinya diabetes. Terlalu manis, hehe."


"Kalian habis gituan ya? Itu banyak banget tanda di leher Lisa." Tanya Elkan tanpa rasa canggung sedikit pun. Tentu saja hal itu berhasil membuat Lisa kalang kabut dan berusaha menutupi lehernya.


Elkan tertawa renyah melihat tingkah adik iparnya itu. "Santai aja kali, Sa. Gak perlu panik gitu. Udah maklum kalau suami istri. Gak gituan mana bisa harmonis. Bahkan abis berantem aja ujungnya di atas ranjang. Iya gak, sayang?" Elkan melirik istrinya.


"Ish... dasar mesum." Cibir Bella.


"Perasaan elo yang mesum, Bel. Cerbung lo makin panas aja." Cibir Lisa.


"Kan tema gw emang dewasa, gak aneh itu mah." Jawab Bella tanpa beban.


"Hm, makanya dia pinter kalau di atas ranjang. Bikin loyo." Sembur Elkan yang berhasil mendapat cubitan dari Bella. "Ck, gak perlu bongkar aib, Mas."


Elkan tertawa renyah.


"Makasih loh, Bel. Gara-gara kamu istri aku ini makin pinter puasin suami. Buku panduan kamu kayaknya cocok buat pengantin baru." Ujar Erkan.


"Gimana gak pro, bacaan mereka itu 21+ semua, Er. Tapi gak rugi juga sih buat kita ya kan?"


"Hm, asal gak main sama orang lain aja." Erkan melirik istrinya.


"Dih... Lisa mana berani atuh, Mas. Lisa teh masih takut dosa. Makanya Lisa nikah, biar gak kebablasan." Sahut Lisa.


"Udah nikah malah dibablasin ya, Sa?" Tanya Elkan.


"Iya, tahu aja Bang El mah kalau adiknya suka ngebablasin diri."


"Tahulah, orang mereka satu cetakan, Sa. Mas Elkan juga gitu, kalau udah main bablas gak inget waktu." Sambar Bella.


"Maklum, udah lama gak dapat belaian." Sahut Elkan.


Mereka pun tertawa bersama dan sejenak melupakan masalah.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2