SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Hot News


__ADS_3

Sorry ya guys... kemarin aku gak update. Semoga kalian selalu setia menunggu cerita ini... happy reading guys


****


Baru saja Erkan dipindahkan ke kamar inap setelah penanganan pertama tadi di IGD. Lisa duduk di sisi brankar, menggenggam tangan suaminya dengan erat. "Sabar ya, hasil labnya belum keluar."


Erkan mengangguk. "Dingin, Sa."


Lisa pun ikut berbaring dan memeluk Erkan. Erkan yang butuh kehagatan pun memeluk dan membenamkan wajahnya di dada Lisa. "Kamu itu kecapekan, Mas. Lisa teh udah sering bilang harus istirahat. Jangan maksa diri. Kamu mah bandel sih. Nyaho kan sekarang."


"Mas lagi sakit, Sa. Jangan diomelin." Protes Erkan yang berhasil membuat Lisa terkekeh lucu. Diusapnya kepala Erkan dengan lembut. "Kamu teh lucu pisan kalau lagi sakit. Udah kayak anak kecil. Padahal umur udah mau setengah abad."


"Sa." Erkan memperingati. Pasalnya kepala Erkan sakit dan Lisa terus mengomel.


Lisa terkekeh lucu. "Iya deh, maaf. Habis Masnya bikin gemes. Lisa teh jadi kepikiran Rayden. Tadi Lisa suruh Mbak Chelyn antar dia ke rumah Mama. Udah Lisa wa juga Mama tadi. Gak tahu deh sampe apa belum."


"Hm." Erkan semakin merapatkan diri. Sedangkan Lisa masih di posisinya dan tak berhenti mengusap rambut halus suaminya. Tidak lama terdengar suara dengkuran halus, menandakan Erkan sudah tertidur.


"Duh... udah kayak punya bayi besar aja. Tapi lucu juga Mas Erkan kalau lagi sakit. Lebih gemesin dari Rayden, manja pisan." Lisa terkekeh lagi sembari memainkan telinga suaminya yang memerah dan terasa panas. "Kasian, pasti kecapean kerja terus buat nafkahin anak istri." Sebuah kecupan hangat ia hadiahi di pucuk kepala Erkan.


Karena bosan, Lisa pun malah ikut terlelap. Sampai kehadiran dokter yang visit pun mengejutkannya.


"Eh, maaf dok." Ucap Lisa bergegas turun dari brankar.


Dokter itu tersenyum. "Maaf ganggu sebentar ya, Buk. Saya dokter dalam, mau lihat kondisi pasien."


"Ah, silakan dok. Tapi suami saya masih tidur."


"Kita bangunin sebentar ya? Supaya bisa tahu keluhannya lebih jelas." Dokter itu pun membangunkan Erkan. "Maaf ya, Pak. Tidurnya keganggu. Apa keluhannya sekarang, Pak?"


Erkan membenarkan posisi tidurnya agar lebih nyaman. "Pusing, demam, manggigil, dok. Terus perut juga agak gak enak, nyeri."


"Oke, biar saya cek dulu ya?" Erkan pun mengangguk. Lalu sang dokter pun mulai memeriksanya. Lisa yang melihat itu cuma bisa menggigit ujung jari karena takut suaminya itu mengidap penyakit mematikan seperti di film-film.


Ya Allah, lindungi suami hamba. Saya teh belum siap jadi janda kembang.


"Berhubung hasil labnya belum keluar, saya tidak bisa mengatakan dengan pasti Bapak sakit apa. Tapi jika dilihat dari gejalanya kemungkinan besar ini gejala tipes. Selama ini kerja lembut terus ya, Pak? Kurang istirahat, telat makan mungkin?"


"Iya, dokter. Suami saya itu bandelnya gak ketulungan. Melebihi anak tk. Saya teh udah bilang jangan kerja rodi. Eh masih aja kekeh. Padahal mah kerja di kantor sendiri." Sambar Lisa. Dokter dan suster yang mendengar jawaban Lisa pun tertawa kecil. Sedangkan Erkan cuma bisa menghela napas.


"Si Bapak terlalu semangat buat bahagiain istri ya? Boleh aja sih, tapi istirahat juga penting ya, Pak. Terutama makanan, agak di jaga pola makannya. Jangan sampe terlambat. Kalau sakit kan malah kasian istrinya." Ujar sang dokter.


"Tuh dengerin, Mas. Lain kali istri ngomong itu denger."


"Sa." Lagi-lagi Erkan memperingati istrinya itu.


"Ya udah, Bapaknya istirahat aja dulu. Setelah keluar hasilnya kami baru bisa kasih tindakan lanjut. Untuk sementara kami kasih obat demamnya dulu ya?"


"Iya, dok." Sahut Erkan.


"Buk, ini diminumkan sama Bapaknya," suster memberikan obat pada Lisa. Setelah itu mereka pun beranjak pergi.


Lisa duduk di sisi brankar, lalu diambilnya air putih di atas nakas. "Minum dulu obatnya."


"Gak mau. Paiht, Sa." Tolak Erkan membuat Lisa terperangah.


"Lah, baru tahu Mas teh cemen sama rasa pahit. Udah dipaksa aja, dari pada menggigil terus."


Erkan menggeleng.


"Ih... kayak anak kecil beneran kamu, Mas." Kesal Lisa seraya membuka pembungkus obat. "Nih, minum dulu."


Erkan yang sedari dulu benci dengan yang namanya obat pun malah berpura-pura tidur.


"Mas! Ih... diminum atuh." Kesal Lisa. Karena tidak mendapat sahutan. Lisa pun jadi ingat adegan drakor.

__ADS_1


Duh... ini mah harus rela kepaitan juga. Tapa berpikir lagi Lisa memasukkan obat itu ke mulutnya dan langsung menyambar bibir Erkan. Tentu saja Erkan terkejut dan membuka matanya. Berhubung tidak tahu di mulut Lisa ada obat. Erkan malah menikmati belitan lidah istrinya sampai...


Glek!


Uhuk!


"Yes, berhasil." Ucap Lisa langsung menyambar air putih dan meminumnya sedikit. "Pahit banget, minum dulu Mas."


"Jahat kamu, Sa. Di kasih manis dulu baru pahitnya." Protes Erkan cepat-cepat meneguk air.


Lisa tertawa kecil. "Habis Mas kayak anak kecil. Udah tidur lagi."


Erkan menatap Lisa. "Makasih, sayang. Tapi enak kalau minum obatnya kayak tadi."


"Dih... kalau gitu terus mah Lisa yang bakal sakit atuh, Mas. Tadi aja pahitnya masih lengket."


Erkan tersenyum tipis. "Hm. Sini baring lagi, Mas mau dipeluk."


Lisa pun menurut, keduanya pun kembali berpelukan. "Cepet sembuh, ya? Lisa teh gak tega liat kamu gini, Mas."


"Hm." Erkan menyelusupkan tangannya ke dalam kemeja Lisa. "Ck, geli. Lagi sakit juga masih aja nakal." Protes sang empu karena Erkan menggerayangi perutnya.


"Kangen kamu, Sa. Lima hari gak jenguk kamu rasanya lima tahu. Kalau Mas udah sembuh kamu udah selesai haid kan?" Gumam Erkan.


Lisa terperangah mendengarnya. "Mas, lagi sakit loh. Kenapa kepalanya masih mikir ke sana aja sih? Lisa pikir orang sakit gak bisa mikir gituan. Ih... ngeselin. Gak usah banyak mikir yang aneh-aneh, pikirin gimana caranya supaya Mas teh cepet sembuh."


Erkan tidak menyahut, tidak lama kembali terdengar suara dengkuran halus. Menandakan ia kembali tertidur. "Lah, aku teh ngomel sendiri dong."


Lisa terdiam, perlahan matanya pun terasa sangat berat. "Duh... pasti efek obat tadi ini mah. Malah ikutan ngantuk jadinya. Gak papa deh tidur bentar." Setelah itu ia pun ikut terlelap.


****


"Gimana, udah mendingan, Er?" Tanya Mama Dinar saat menjenguk putranya. Hari ini adalah hari ke dua Erkan berada di rumah sakit. Kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Erkan sendiri memang terkena penyakit tipes karena terlalu lelah dan kurangnya istirahat.


"Pasti udah lah, apa lagi ada mantu kita yang jagain." Sahut Papa Zayn merengkuh pundak Lisa. Istri dari Erkan itu cuma bisa tersenyum sambil menatap suaminya.


"Duh... main nyosor aja. Baru juga Mamah tah sampe." Protes Mamah.


"Ih... Eneng teh kangen atuh, Mah."


"Jangan di jalan, Abah mau liat mantu yang sakit dulu." Abah pun masuk tanpa menghiraukan keduanya.


"Dih... Abah gak kangen kitu ka Eneng?"


"Enggak atuh, Abah datang ke sini juga cuma mau nengok mantu doang." Shaut Abah disambut tawa oleh yang lainnya.


"Mamah, Abah mah makin pikasebelen bae. Ya udah sok sana temuin mantunya aja, Eneng teh moal ngomong dei ka Abah." Ancam Lisa.


"Sabodo, nu penting mah masih aya mantu nu kasep." Abah tersenyum geli. Sedangkan Lisa tampak kesal setengah mati.


"Mamah, liat suami Mamah itu. Udah punya mantu anak sendiri teh dilupain." Rengek Lisa mengadu pada sang Mamah.


"Kamu mah si Abah diladenin. Kayak baru kenal sehari aja."


"Tetep aja ngeselin, Mamah. Ih... udah ah, si Aa mana?"


"Gak ikut masuk, di luar aja katanya sama teh Devi."


"Dih... pasti pacaran tuh. Ya udah atuh yuk masuk." Ajak Lisa seraya menutup pintu.


"Apa kabar, Mah?" Tanya Erkan.


"Alhamdulillah sae." Jawab Mamah dengan sopan. "Ini teh kamu bisa sakit pasti karena Lisa kurang perhatian ya?"


Erkan tersenyum, sedangkan Lisa melotot mendengar itu.

__ADS_1


"Enggak, Mah. Saya yang salah karena gak dengerin anak Mamah. Lisa itu perhatian banget, bahkan tiap hari rumah rame sama ocehan dia." Erkan melirik istrinya.


"Mas! Jangan buka aib, malu sama Mama dan Papa. Kalau sama Abah sama Mamah mah udah tahu, hehe." Lisa menatap kedua mertuanya dengan senyuman malu.


"Mama justru seneng ada yang merhatiin Erkan sekarang. Erkan itu emang doyan kerja, sama kayak Papanya. Kadang Mama pusing mikirin mereka berdua. Sebelas dua belas soalnya." Ujar Mama Dinar.


"Iya, Ma. Kayak gak ada hari lain aja kalau udah kerja, sampe lupa waktu." Timpal Lisa sambil duduk di sebelah Erkan.


"Namanya juga harus profesional." Ujar Papa Zein.


"Bukan peofesional kalau gitu, nyiksa diri."


"Kayak saya atuh, kerjanya cuma main di empang." Canda si Abah yang berhasil mengundang tawa yang lainnya. Kedatangan mereka memang membuat suasana semakin rame.


"Terus si kasep kamana?" Tanya Mamah saat tak melihat keberadaan Rayden.


"Lisa titipin sama Bibik di rumah, Mah. Kasian atuh dia masih kecil kalau mainnya di rumah sakit. Kemarin seharian di sini pengen temenin Papanya." Jelas Lisa.


"Iya, gak baik juga anak-anak di rumah sakit." Imbuh Mama Dinar.


"Mamah sama Abah nginep kan?" Tanya Lisa.


"Enggak kayaknya, besok Abah ada rapat umum." Jawab Abah. Seketika wajah Lisa pun merengut.


"Kalau gitu Mamah aja ya?"


"Lain kali aja, Mamah juga ada arisan besok di rumah."


"Ih... padahal mah udah nanggung ke sini masak gak pada nginap." Ujar Mama Dinar.


"Heem." Lisa ikut menimpali.


"Nginep gimana? Yang punya rumahnya aja di rumah sakit." Celetuk Mamah.


"Iya sih, ya udah atuh gak papa lain waktu aja Mamah sama Abah ke sini lagi." Kata Lisa.


"Iya, tar Mamah teh balik lagi kalau Erkan udah sembuh."


"Wah... saya mau ikutan ah. Seru kalau ada Buk Endang. Saya kangen makan bareng loh, enak banget pas di kampung itu."


Mamah Endang tertawa renyah. "Iya boleh, nanti kita bacakan. Sekarang mah Erkan harus sembuh dulu. Biar bisa ngumpul semua."


Yang lain pun mengangguk setuju.


****


Setelah keluarganya pulang dan Erkan pun terlelap. Lisa berbaring di sofa sambil membuka sosial medianya. Saat sedang asik menggulir sosial media, tiba-tiba Lisa mendapat panggilan video grup. "Loh, tumben mereka video callan."


Dengan ragu Lisa menerima panggilan itu. Dan layar ponselnya pun diisi oleh wajah Mona dan Desi. Namun, ada yang aneh di raut wajah mereka.


"Hey, kenapa pada tegang gitu?" Tanya Lisa bingung.


"Sa, lo belum dengar berita?" Tanya Desi


"Berita apaan?"


"Bella masuk berita, dia digosipin jadi perusak hubungan rumah tangga orang."


"Apa?" Kaget Lisa. "Di mana kalian liat beritanya?"


"Baru aja beritanya muncul, Sa. Dia jadi hot news sekarang. Udah nyebar di mana-mana. Di berita foto Bella terpampang jelas, tapi cowoknya enggak. Istri cowoknya juga udah laporin Bella ke kantor polisi. Gw rasa rumah dinas bokap Bella udah dikerumunin media. Gw udah hubungin Bella, tapi gak bisa." Jelas Desi.


Jantung Lisa berpacu hebat. "Kok bisa gini sih, gimana ceritanya bisa ketauan?" Celetuk Lisa.


"Maksud lo?" Pekik Mona dan Desi kompak. Sontak Lisa pun sadar akan ucapannya.

__ADS_1


Duh... ini mulut kok gak bisa direm sih?


Tbc....


__ADS_2