
Elkan dan wanita yang dikejarnya itu berhenti saat mendengar teriakan Lisa dan Erkan. Sontak Elkan pun menoleh dan terkejut bukan main saat melihat keberadaan Lisa dan Erkan saat ini.
"Uncle." Teriak Rayden yang langsung berlari ke arah Elkan dan memeluk kakinya.
"Tunggu!" Seru Lisa pada wanita bertopi besar itu saat hendak pergi dari sana. Namun, wanita asing itu kembali melanjutkan langkahnya. Lisa bergegas bangun dan mengejarnya. Dan keduanya pun terlibat kejar-kejaran, tentu saja Lisa yang cukup gesit itu berhasil menangkapnya.
"Mau kemana lo huh?" Ketus Lisa menepik topi itu hingga terjatuh.
Wanita itu menggigit ujung bibirnya. "Sa, gw...."
"Apa? Lo mau jelasin apa ke gw huh? Jadi lo beneran pelakor, Bel?"
Bella menggeleng kuat. "Gak gitu, Sa. Lo gak akan ngerti situasinya."
Lisa melipat kedua tangannya di dada. "Apanya yang gw gak ngerti huh? Pantes aja lo hilang bak ditelan bumi beberapa hari ini. Jadi di sini rupanya bareng Bang Elkan? Abis ngapain aja lo huh?"
Bella tampak gugup. "Sa... gw.... gw...."
"Gw, Desi dan Mona udah pernah ingatin lo kan? Lo boleh ngejar Bang Elkan kalau dia udah cerei. Lo tahu gak sih kalau istri Bang Elkan itu gila? Gw gak mau terjadi seuatu sama elo, Bel. Gw sayang sama elo. Gimana kalau dia nyerang elo kayak apa yang dia lakuin ke gw huh?" Sela Lisa panjang lebar.
Mata Bella pun berkaca-kaca dan langsung berhambur dalam pelukan Lisa. "Maaf, tapi gw butuh dia, begitu pun sebaliknya."
"Lo udah tidur kan sama dia?" Tanya Lisa yang berhasil membuat Bella menegang. "Jawab gw jujur, Bel."
Bella mengangguk kecil. "Gw terlanjur cinta sama dia, Sa."
"Terus gimana sama Bang Elkan? Dia cinta sama elo atau cuma jadiin lo pelampiasan huh?"
Bella terdiam.
"Dasar bodoh. Mungkin Bang Elkan memang ipar gw, tapi gw tetap sahabat lo, Bel."
Bella semakin mengeratkan pelukannya. "Sa, jangan kasih tahu Mona sama Desi ya?"
"Gw gak janji."
"Sa, please."
"Kita perlu ngomong habis ini. Selesein dulu masalah lo sama Bang Elkan."
Bella mengangguk pasrah.
Sidang dadakan pun benar-benar terjadi. Saat ini baik Elkan maupun Bella sudah duduk di kamar Erkan dan Lisa. Sedangkan si kecil Rayden sudah tertidur sehabis mandi tadi karena kecapekan.
Erkan menatap Abangnya lekat, sedangkan Lisa fokus pada sahabatnya.
"Jelasin." Titah Lisa dan Erkan kompak.
Elkan menghela napas berat. "Kita udah nikah siri."
__ADS_1
"Apa?" Kaget Lisa dan Erkan yang kembali kompak.
"Kita sama-sama membutuhkan." Jawab Elkan.
"Membutuhkan gimana? Kalian sadar gak sih kalau kalian itu nyari masalah. Bang Elkan juga, gimana kalau misalnya Teh Zia nyerang Bella? Kalian itu belum resmi cerei. Udah siap nanggung resikona?" Sembur Lisa.
"Kita udah mikirin semuanya, Sa. Soal Zia, dan keluarga besar juga. Kita bisa hadepin semuanya sama-sama. Cuma untuk sekarang kita masih butuh waktu privasi." Elkan menggenggam tangan Bella yang sejak tadi terus menunduk.
Lisa menghela napas berat. Begitu pun dengan Erkan. "Jadi mau sampe kapan kalian sembunyi gini? Setidaknya hubungin Mama, Bang."
Elkan menatap adiknya lekat. "Bantu Abang buat ngomong sama Mama, Er. Abang udah malu banget mau pulang ke rumah. Dari dulu Abang cuma buat Mama sama Papa malu terus."
Lagi-lagi Elkan menghela napas berat. "Aku gak bisa larang hubungan kalian. Asal kalian bahagia itu udah lebih dari cukup, Bang."
Elkan tersenyum lega. "Makasih, Er."
"Terus, gimana sama bonyok lo, Bel?"
Bella menatap suaminya dan Lisa bergantian. "Gw bakal ngomong pelan-pelan, Sa."
Lisa mengusap wajahnya dengan lembut. "Gw gak tahu mau ngomong apa lagi sekarang. Kalau emang ini keputusan kalian, gw cuma bisa dukung. Tapi... saran gw secepatnya lo kasih tahu orang tua. Jangan sampe semuanya malah jadi runyem. Bang Elkan juga, harusnya mikirin Teh Zia dulu. Gimana kalau dia tahu terus buat hal mecem-macem sama Bella?"
"Karena itu kita sembunyi untuk sementara waktu, Sa." Jawab Elkan.
"Sembunyi bukan keputusan yang baik atuh, Bang. Ih... kumaha nya da bingung ngomongnya geh. Terserah kalian aja deh, orang kalian yang jalanin juga." Pasrah Lisa gak tahu harus bicara apa lagi.
"Untuk sementara waktu, biarin aku sama Bella di sini dulu." Pinta Elkan.
Elkan menatap Bella penuh arti. "Ada saatnya kita nikah secara resmi. Untuk sesaat biar gini aja dulu. Bella juga udah setuju."
Bella menggigit ujung bibirnya, ditatapnya Lisa lamat-lamat. "Tolong jangan kasih tahu Mona sama Desi dulu ya, Sa. Biarin gw sendiri yang ngomong tar."
"Bodo ah, itu mah urusan lo, Bel. Gw mah ngurus suami sama anak aja udah lupa sama yang lain. Iya kan, sayang?" Lisa memeluk Erkan dari samping.
Bella mendengus sebal. "Dasar bucin."
"Yee...bucin sama suami sendiri gak papa kali. Lah situ bucin sama lakik orang. Dasar pelakor." Cibir Lisa.
"Namanya juga udah cinta, mana kenal suami orang atau bukan. Lagian suami orangnya juga ngasih lampu ijo, ya maju lah gw. Setidaknya gw gak nerobos lampu merah." Oceh Bella masih membela diri. "Lagian kesempatan mana datang dua kali, Sa."
"Ya... iya sih. Tapi tetap aja kalian salah. Yang atu pelakor yang atu lagi jablay. Cocok lah kalian."
"Ish... ngeselin. Terus aja lo ngatain gw pelakor. Di dunia ini mana ada pelakor kalau lakiknya gak welcome."
"Dih... udah salah, ngeyel lagi. Dasar pelakor akut."
"Dasar bucin akut."
"Bodo."
__ADS_1
"Gw juga bodo." Sahut Bella tidak mau kalah. Alhasil keduanya pun berlanjut adu mulut sedangkan para suami cuma bisa saling pandang-pandangan dan menggelengkan kepala.
****
"Mas, setuju gak sih Bang Elkan sama Bella?" Tanya Lisa berbaring di pelukan Erkan. Saat ini posisi Erkan berada di tengah dan di apit oleh Lisa dan Rayden.
"Kalau Bang Elkan bahagia kenapa Mas harus larang?" Sahut Erkan seraya mengusap rambut halus istrinya.
"Iya sih. Tapi Lisa teh takut Teh Zia tau. Terus dia teh buat masalah besar yang bakal rugiin banyak orang."
Erkan terdiam sejenak. "Zia itu kayaknya emang udah gila."
Lisa mendongak. "Lisa teh jadi penasaran, Mbak Chelyn bilang dia gak kenal sama Teh Zia. Terus kapan Mas pacarannya sama dia? Apa jangan-jangan Mas selingkuh ya pas pacaran sama Mbak Keyla?"
"Ck, enggak lah. Mas gak pernah main belakang pas pacaran sama Keyla. Zia itu selingkuhan Mas pas masih pacaran sama Nana kalau gak salah. Ketemunya juga gak sengaja sama dia. Kalau gak salah kita gak sengaja tabrakan pas di bioskop. Terus tukeran nomor hp. Dulu kan Mas masih suka main-main, ya udah Mas pacarin aja dua-duanya. Bukan cuma Nana aja sih yang Mas selingkuhin, semuanya mantan juga gitu. Orang Mas macarin mereka juga karena penasaran aja, gak pake cinta. Mas cuma mau tahu gimana pacaran sama cewek-cewek cantik. Tapi ujung-ujungnya malah kepincut sama yang kalem dan manis." Jelas Erkan panjang lebar.
Lisa pun manggut-manggut. "Terus bisa putus sama Teh Zia kenapa?" Sepertinya Lisa memang belum puas jika pertanyaan di kepalanya masih tersisa.
"Dia tahu dia Mas jadiin selingkuhan. Zia datang ke sekolah dan labrak Nana, padahal yang harusnya marah itu Nana. Di situ Mas tahu kalau perangai Zia itu gak baik. Jadi mas putusin dia di depan banyak orang. Soalnya dia hampir nyelakain Nana. Gimana pun saat itu kan Nana masih pacar Mas. Tapi di hari yang sama Mas putusin Nana karena dia juga rupanya selingkuh."
Lisa tertawa geli. "Jadi ceritanya buaya dikadalin nih?"
"Entahlah, yang jelas Mas gak masalah putus sama Nana karena masih punya banyak target. Cuma sampe itu sih cerita Zia. Habis itu kita gak pernah ketemu lagi. Ketemu-ketemu pas dia mau nikah sama Bang Elkan."
Lisa pun manggut-manggut. "Udah tahu kamu teh buaya darat kok mereka masih pada mau ya sama kamu, Mas?"
"Iya, Mas juga gak paham. Buktinya kamu juga kepincut kan?"
"Ih... Lisa mah gak asih atuh, Mas. Kan kamunya udah tobat." Lisa mengusap rahang suaminya.
Erkan tersenyum. "Udah cukup ngocehnya. Sekarang kita tidur. Kamu juga capek main terus."
Lisa mengangguk patuh. "Mau dicium dulu sebelum bobok." Rengeknya seperti anak kecil.
"Cium di mana, sayang?"
"Sini." Lisa menunjuk bibirnya.
Cup!
Erkan mengecup bibir istrinya dengan lembut.
"Sini lagi." Lisa kembali menunjuk pipinya.
Cup!
Erkan pun mengecup pipi Lisa. "Masih ada?"
Lisa mengangguk. Dan itu membuat Erkan gemas dan langsung mendaratkan ciuman lembut bibir istrinya. Tentu saja Lisa menyukai dan membelasnya tak kalah lembut. Ciuman hangat itu pun berlanjut sampai beberapa saat. Sampai Lisa pun berhenti bergerak karena mulai terlelap. Erkan tersenyum geli karena istrinya itu sangat lucu. Bisa-bisanya ia terlelap saat sedang berciuman.
__ADS_1
"Gadis tengil, tapi sering ngangenin. Selamat malam, sayan." Erkan mengecup kening Lisa dan Rayden bergantian. Lalu ia pun ikut terlelap.
Tbc....