
Lisa terus tertawa geli sepanjang perjalan pulang karena baru tahu Erkan takut ulat. Sedangkan yang ditertawakan cuma bisa mendengus kecil.
"Duh... perut Lisa sampe sakit, Mas. Kok gak ngomong sih dari dulu kalau Mas teh takut ulat. Kan seru kalau kasih kejutan."
"Gak usah macem-macem," tegur Erkan.
"Hihi... bercanda atuh Mas." Lisa merangkul lengan Erkan dengan mesra. "Tapi tadi itu beneran lucu loh, Mas."
"Ck, orang geli kok malah dibilang lucu." Kesal Erkan. Lisa tertawa kecil.
"Gemesin tahu gak seorang Mas Erkan takut sama ulat."
"Bukan takut, tapi geli aja pas liat dia jalan. Gak bisa dijelasin pokoknya mah."
"Hihi.... Lisa malah seneng mainin ulet pas kecil dulu."
Erkan menatap istrinya. "
Keduanya pun masuk ke rumah orang tua Lisa. Karena seperti janjinya, Lisa bakal bawa Erkan ke pasar buat cari nanas.
"Assalamualaikum," ucap Lisa.
"Waalaikumsalam." Sahut Mama dari dalam.
Lisa dan Erkan pun langsung masuk.
"Lah, kok cepet banget ke sininya? Gak pada istirahat dulu?" Tanya Mama.
"Ini abis jajan, Mah." Lisa menunjukkan plastik jajanan pada sang Mamah.
"Dih, masih aja doyan jajan." Ledek Mamah.
"Hehe, lagi pengen, Mah." Lisa melihat kiri dan kanan. "Loh, bocil mana?"
"Itu, ikut si Aa jemput Teh Devi."
"Owalah, pantesan gak keliatan batang hidungnya." Lisa dan Erkan pun duduk di sofa. "Mah, Eneng mau ke pasar bentar sama Mas Erkan. Mau pinjem motor, hehe."
"Loh, ngapain ke pasar?"
"Ini, Mas Erkan teh ngidam nanas."
"Ck, ngapain capek-capek ke pasar sih. Noh dibelakang kebetulan ada nanas masak. Petik aja kalau mau."
Mendengar itu wajah Lisa langsung berbinar. "Wah... beneran, Mah?"
"Enya atuh, ngapian Mamah teh bohong. Sana petik aja, ada Abah juga dibelakang."
"Alhamdulillah, gak perlu capek ke pasar. Yuk kita petik, Mas." Dengan semangat Lisa menarik Erkan kebelakang. Mamah yang melihat itu cuma bisa menggeleng pelan. "Dasar, masih aja pecicilan."
"Abah!" Panggil Lisa saat melihat si Abah sedang sibuk dengan ayam jagonya. Spontan mantan kepala desa itu pun menoleh.
"Aya naon, Neng?"
Lisa tersenyum manis. "Kata si Mamah ada nanas mateng nya? Di mana?"
"Ngidam, Neng? Itu di dekat kandang kambing, ada dua mun teu salah mah. Petik aja kalau mau." Jawab si Abah kembali fokus pada ayam kesayangannya.
"Udah beralih profesi ke ayam ya, Bah?" Tanya Erkan.
Sontak Abah pun tertawa. "Enggak, Abah mah emang seneng sama binatang teh. Makanya semua ada, kambing, sapi, empang."
"Rajin Abah mah, kalau saya boro-boro piara gituan. Lebih tepatnya gak sempat ngurusnya." Kata Erkan tersenyum geli.
"Beda lah kamu mah orang sibuk. Lah Abah kerjaanya cuma jaga empang sekarang." Abah memasukkan si jago ke dalam kandang. "Ya udah atuh sok dipetik aja nanasnya, itu kedondong juga lagi berbuah, Neng."
"Mau juga, Mas?" Tanya Lisa.
"Enggak ah, nanas aja."
"Loh, jadi nu ngidam teh saha? Si Eneng apa Erkan?" Tanya Abah bingung.
"Mas Erkan, Bah. Tiba-tiba pengen nanas dicocol sama kecap."
__ADS_1
"Pake cabe dikit, sayang." Ralat Erkan.
"Duh, ada-ada aja kalian. Nya sok atuh, lanjut aja. Abah teh mau ke depan dulu ambil pakan ikan."
Lisa dan Erkan pun mengangguk. Lalu si Abah langsung pergi. Sedangkan mereka pun mulai bergerak untuk mengambil buah nanas.
"Wah, gede-gede, Mas. Kenyang ini mah."
"Katanya orang hamil gak boleh makan." Ucap Erkan.
"Mitos itu mah, yang gak boleh itu makannya kebanyakan. Masak makan dua potong aja gak boleh?" Jawab Lisa terkekeh lucu.
"Mas denger dari orang sih. Gimana cara metiknya ni, Yang?" Tanya Erkan.
"Tinggal petik aja, Lisa juga gak pernah sih metik nanas. Dipotek aja kali, Mas. Tapi awas itu daunnya berduri gitu."
"Kamu anak kampung tapi ginian gak bisa, gimana sih?"
"Lah, Lisa kan mana pernah metik ginian. Kalau manjat pohon, masuk empang baru jago. Kalau kekebun mah paling anti, Mas. Lagian pas udah gede Lisa di kota, terus nikah lagi sama orang kota." Oceh Lisa.
"Dasar."
Lisa tertawa kecil. "Ini si Mamah kapan nanamnya ya? Udah mateng aja buahnya. Mana subur lagi."
"Mungkin karena deket sama kandang kambing, pupuknya alami," kata Erkan.
"Bisa jadi, udah sok atuh dipetik terus. Kalau dikampung kamu harus jagoan." Lisa terkekeh lucu.
Erkan menggeleng, lalu dengan susah payah ia berusaha memetik buah nanas dan akhirnya berhasil meski tangannya harus lecet karena terkena ujung daun.
"Perih gak?" Tanya Lisa saat tangan Erkan sedikit mengeluarkan darah.
"Perih dikit."
"Ck, ya udah hayuk atuh. Mas tunggu di gubuk aja ya? Lisa ambil alat dulu."
Erkan mengangguk. "Jangan lama, tar kangen."
"Ish, kayak mau ke mana aja. Bisa aja kamu, Mas."
"Tuh banyak," sahut Lisa menunjuk pohon cabai.
"Wih, kok gak keliatan tadi. Banyak banget buahnya, Yang?"
"Tangan Mamah sama Abah itu dingin, nanam apa pun tumbuh dan buahnya bagus-bagus. Cobak aja Lisa yang nanam, boro-boro tumbuh. Yang udah tumbuh aja mati."
Erkan tertawa lagi. "Mas juga kemaren nanam terus. Alhamdulillah sekarang udah tumbuh."
"Ihhh... kamu mah nyambungnya ke tempat lain. Udah ah, ngaco kalau ngobrol sama kamu, Mas." Lisa pun bergegas masuk ke rumah. Meninggalkan Erkan yang masih senyum-senyum sendiri. Lalu ia pun beranjak ke gubuk.
Tidak perlu lama Lisa pun kembali. "Mas, kupas sendiri ya?"
"Mana bisa, Sayang. Mas mah tahunya makan doang."
"Ck, gini nih kalau nikah sama anak kota. Semua gak bisa, untung aja cinta." Omel Lisa mengambil buah nanas tadi dan memotong ujungnya. "Nah, ini tuh bisa ditanam lagi."
"Masak sih?"
"Cobak aja."
"Tar Mas tanam di depan rumah deh. Kan masih ada tuh pot yang kosong."
"Boleh." Lisa pun mulai mengupasnya dengan hati-hati. Sedangkan Erkan hanya menonton sambil sesekali melirik wajah serius Lisa.
"Pelan-pelan, tar kena tangan."
"Hm." Lisa mengangguk patuh.
Cukup lama keduanya terdiam. Lisa terlihat serius mengupas nanas, sedangkan Erkan menahan air liurnya agar tidak tumpah.
"Wih... di sini rupanya. Kirain ngilang kemana tadi?" Seru Elkan yang tiba-tiba muncul bersama istrinya. Spontan Lisa dan Erkan pun menoleh.
"Lah, kok berdua aja. Si kembar mana?" Tanya Erkan.
__ADS_1
"Masih bobok, aku titip ke Mama tadi." Jawab Bella ikut bergabung. Sedangkan Elkan melihat-lihat kolam ikan. "Duh, mau ngerujak? Gak ngajak-ngajak ya?"
"Gak gitu, Mas Erkan tiba-tiba aja pengen nanas, Bel. Pas kali ada dua buah nih. Baru aja dipetik. Padahal tadi teh lagi asik makan es krim di depan sana." Jelas Lisa.
"Dih, ngidam ceritanya?" Bella tertawa kecil.
"Ya gitu lah." Jawab Erkan.
"Pengen dong, emang gak ada buah lain?" Tanya Bella.
"Noh ada kedondong, petik aja sendiri." Jawab Lisa.
"Ih, males ah. Pengennya tinggal makan."
"Kalau pengen tinggal makan, lo beli sono tempat tukang rujak. Manja banget jadi orang." Ketus Lisa.
"Hehe, sesekali dimanjain sama adek ipar gak pala kali, Sa. Gak pernah kan lo manjain gw?"
"Manja aja sama suami lo, sekarang gw juga punya orok gede yang kudu di urus." Lisa melirik suaminya.
"Yang, cepetan dong. Jangan kebanyakan ngobrol." Kata Erkan yang berhasil mengundang tawa Bella.
"Sabar atuh, Mas. Emangnya Lisa teh mesin?"
"Udah ngiler, Yang."
"Ish, emang mau gerogotin gini terus? Kalau mau nih makan aja." Kesal Lisa.
"Yang... tega banget ih." Erkan menyebikkan bibirnya.
"Dih, kayak anak kecil beneran suami lo, Sa. Ngeri gw liatnya."
"Kalau ngeri gak usah liat, sana mending pergi aja." Kesal Erkan sensi.
"Lah, diusir gw. Durhaka loh sama Kakak ipar."
"Dih... tua saya dari pada situ," sinis Erkan.
"Yee... emang tua situ. Tapi kan saya istri Abang situ. Dosa loh debat sama orang tua."
"Maaf orang tua," ucap Erkan sinis.
Lisa yang mendengar itu tertawa kecil. Sedangkan Bella menyebikkan bibirnya karena kesal.
"Bel, ke depan yuk? Jalan-jalan mumpung si kembar tidur." Ajak Elkan.
"Nah, bagus itu. Bawa aja, Bang. Di sini juga malah ngerecokin." Kata Erkan menatap Bella sinis. Entah kenapa ia mendadak kesal pada wanita itu. Mungkin karena Bella terlalu banyak bicara.
"Dih, sensi banget sih. Emang beda kalau bawaan ngidam mah. Udah yuk, Mas. Di sini takut kena semprot." Bella pun beranjak turun dari gubuk. Lalu menggandeng suaminya. "Jagain suaminya ya, Sa. Jangan sampe kambing juga kena sensi."
"Bel." Lisa memperingati.
Bella tertawa geli. "Ya udah, gw pergi jalan-jalan dulu yah? Selamat menikmati." Setelah mengatakan itu Bella dan Elkan pun beranjak pergi.
Lisa pun menatap suaminya. "Mas, kok kamu sensi banget sih sama Bella?"
"Gak tahu, kesel aja pas liat muka dia."
"Duh, jangan gitu atuh Mas. Tar kalau anak kita mirip Bella gimana?"
"Lah, gimana ceritanya mirip Bella. Orang yang buat kamu sama Mas."
Lisa terkekeh lucu. "Emang susah kalau ngomong sama yang lagi sensi mah."
"Hm. Masih lama gak sih, Yang?"
"Dikit lagi, sayang. Sabar atuh. Tar Lisa cuci dulu."
"Gak usah, biar aja gitu. Kelamaan kalau dicuci." Protes Erkan.
"Lah... gimana ceritanya. Tar gatel kalau gak dicuci. Sabar, sebantar doang." Cepat-cepat Lisa turun dan mencucinya.
Menit berikutnya, Erkan terlihat menikmati nanas yang dicelup ke dalam kecap. Lisa yang melihat itu sampai menelan air liur. Bahkan tadi ia sempat mencobanya, bukannya enak malah muntah karena rasanya yang aneh menurutnya.
__ADS_1
Duh... suami akuh teh aneh-aneh aja ngidamnya. Dari mana enaknya cobak nanas dicocok kecap sama cabe doang gitu? Hah, turutin aja deh dari pada anak-anak ngences. Lisa mengusap perutnya dengan lembut sambil terus memperhatikan Erkan yang begitu lahap menyantap buah nanas segar itu.
Tbc....