SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Kecemburuan Erkan


__ADS_3

Keesokan harinya. Lisa terlihat membuka kamar putranya, lalu mengintip ke dalam. "Ray." Panggilnya.


Rayden yang sedang asik bermain pun menoleh. Matanya langsung berbinar saat melihat Lisa. "Mama... mau main sama Ray ya?"


Lisa tersenyum dan langsung masuk ke kamar si kecil Rayden. "Main apa sih asik banget?" Tanyanya seraya menghampiri Rayden.


"Main robot-robotan, Mama." Jawab Rayden masih serius bermain robot-robotan.


Lisa duduk di sebelah Rayden. "Sayang, mau ikut Mama ke kantor Papa gak?"


Sontak Rayden pun langsung menoleh. "Mau, Mama mau ke tempat Papa?"


Lisa mengangguk. "Kalau gitu siap-siap yuk, bentar lagi jam makan siang. Entar kalau kelamaan Papanya keburu makan siang di luar."


Rayden pun bergegas bangun dan berlari ke kamar ganti. "Lah, terus siapa yang beresin mainannya?" Lisa menghela napas berat dan mulai merapikan mainan anaknya itu.


Beberapa menit kemudian Lisa dan Rayden pun sudah berangkat menuju kantor Erkan menggunakan taksi. Padahal di garasi ada dua mobil yang menganggur. Karena tidak bisa menyetir terpaksa taksi jalan pintasnya.


Sesampainya di sana, Rayden terlihat senang. Begitu pun dengan Lisa. Beberapa karyawan pun menyapanya saat berpapasan dengan Lisa.


"Siang, Buk."


"Siang." Sahut Lisa dengan ramah. Lalu keduanya pun melangkah pasti menuju lift khusus presdir. Tidak perlu lama mereka pun sampai di lantai tujuan. "Papa kamu masih sibuk gak ya?"


"Gak tau." Jawab Rayden sekenanya.


"Ih, kamu mah gak bisa diajak ngobrol." Gumamnya.


"Mama ngomong apa?"


"Gak ada, Mama cuma ngedumel tadi." Jawab Lisa ngasal.


"Ngedumel itu apa, Mama?"


"Apa ya? Ngomel kali ya?"


"Oh." Sahut Rayden meski tak paham. Lisa yang mendengar itu terkekeh lucu. "Kayak ngerti aja."


Langkah Lisa tiba-tiba saja tertahan ketika berpapasan dengan seorang laki-laki tampan dengan stelan jas yang rapi.


Kayak kenal. Pikirnya.


Dan hal yang sama pun terjadi pada lelaki itu. Ia ikut menahan langkahnya dan berbalik. "Lisa?"


Sontak Lisa pun berbalik. "Bima nya?"


Lelaki itu tersenyum yang diiringi anggukan.


"Aaa.... Meni sombong ih." Pekik Lisa dengan senyuman yang mengembang.

__ADS_1


"Gak mau peluk?"


Lisa meletakkan lunch box di atas meja dan langsung berhambur memeluk Bima. "Aku teh kangen tahu gak?"


Dan di waktu bersamaan, Erkan keluar dari ruangannya. Ia terkejut saat melihat Lisa memeluk rekan kerjanya yang baru saja bertemu dengannya. Sedangkan Rayden langsung berlari ke arah Erkan dan memeluk kakinya sambil melihat ke arah Lisa.


Bima tersenyum dan membalas pelukan Lisa. "Aku juga kangen, Sa. Maaf belum sempat main. So, selamat buat pernikahan kamu. Aku sempat kaget loh pas liat foto kamu di dalam. Hebat bisa dapatin Pak Erkan." Bisiknya.


Erkan mengepalkan tangannya. "Sa."


Mendengar suara barithon suaminya Lisa pun langsung menjauh dari Bima tanpa berbalik. Lalu ia pun melayangkan tatapan tajam pada sahabat kecilnya itu. "Bima! Kenapa gak bilang kalau suami aku ada di belakang." Geramnya.


"Sengaja, selamat berjuang. Miss you, honey." Tanpa permisi Bima mengecup pipi Lisa dan beranjak pergi dengan langkah mundur. "Meet up? Tar aku hubungin lagi. See you, baby."


Erkan terkejut mendengarnya.


"Bima!" Kesal Lisa. Sayangnya lelaki itu sudah masuk ke dalam lift, bahkan dengan berani mengedipkan matanya.


Aaa... pasti Mas Erkan salah paham. Lisa pun langsung berbalik. Benar saja, Erkan terlihat memasang wajah datar dengan tatapan yang menusuk.


"Masuk." Titahnya seraya menggendong Rayden dan bergegas masuk. Meninggalkan Lisa yang masih berdiri sambil menggigit ujung bibirnya.


Duh... gimana kalau Mas Erkan teh benaran marah nya?


Cepat-cepat Lisa mengambil lunch box tadi dan bergegas masuk. "Mas." Panggilnya. Sayangnya Erkan mengacuhkannya dan terlihat asik bermain dengan Rayden.


Lisa menghela napas berat, ia meletakkan bawaanya di atas meja kerja Erkan. Lalu menghampiri suaminya itu. "Mas, makan siang dulu yuk?" Ajaknya.


"Udah, Papa. Tadi Mama yang suap."


"Oh ya? Ray mau kfc gak?"


"Mau, Papa."


"Tar Papa pesenin dulu." Erkan berjalan pasti menuju meja kerja dan meraih ponselnya.


Lisa kembali menghela napas berat. Dan segera menghampiri suaminya. Memeluknya dari belakang. "Mas, Bima itu sahabat Lisa dari kecil. Tapi dia pergi ke luar negeri pas smp. Ini pertama kali kita ketemu lagi. Lisa kesenengan makanya peluk dia tadi."


Erkan terdiam sejenak. Namun, ia masih mengabaikan Lisa.


Tidak ingin kehabisa akal, Lisa pun berdiri di depan suaminya dan merebut ponsel Erkan. Sontak Erkan pun memberikan tatapan tajam.


"Jangan cuekin Lisa atuh, Mas." Lisa mengerucutkan bibirnya. "Lisa teh gak ada niat buat Mas cemburu."


Erkan memalingkan wajahnya.


"Mas." Lisa menarik dagu Erkan. "Makin ganteng deh kalau lagi ngambek kayak gini."


Erkan sama sekali tidak terpancing.

__ADS_1


"Mas, udah dong. Lisa teh gak tahan kalau di diamin gini." Lisa memainkan dasi Erkan dengan bibir mengerucut. Dan itu membuat Erkan gemas sendiri.


Sial! Kenapa dia gak bisa bikin aku marah. Udah jelas-jelas dia meluk cowok lain. Ck, gak boleh nyerah gitu aja. Kita liat seberapa jauh dia membujukku.


"Sayang, udah yuk marahnya. Lagian dihati Lisa teh cuma ada Mas Erkan seorang. Mas kan yang paling kasep, baik, gemesin lagi." Bujuk Lisa. Mendengar itu Erkan harus dengan susah payah menahan tawanya.


"Mama, Papa, kok kfcnya belum datang sih?" Tanya Rayden merusak suasana.


"Sebentar, sayang. Papa belum pesan." Erkan merebut ponselnya dari tangan Lisa, kemudian berlalu meninggalkan Lisa. Dan duduk di dekat Rayden.


Ck, kalau gini mah lama atuh ngambeknya. Gak boleh kehabisa akal, ayo pikirin caranya Lisa.


Lisa terus berpikir keras. Sampai sebuah ide muncul di kepalanya. Seulas senyuman terbit di bibirnya. Lisa bergegas mengambil ponselnya dan terlihat mencari sesuatu. Beberapa saat kemudian wajahnya langsung bersinar.


Erkan yang sejak tadi mencuri pandang pun semakin curiga.


Siapa yang dia hubungi? Pake senyum-senyum lagi.


"Ray, kamu mau main ff gak?" Tanya Lisa mengembangkan senyuman lebar.


"Mau!" Seru Rayden langsung berlari ke arah Lisa.


"Nih, main sana di kamar. Jangan lupa kunci pintunya ya?" Lisa pun memberikan ponselnya pada Rayden.


Haha, dijamin aman. Untung aku cas hpnya sampe penuh.


Rayden mengangguk antusias dan langsung berlari ke ruang istirahat Erkan.


Kini Lisa pun bebas bergerak. Ia tersenyum miring dan langsung berlari ke arah Erkan. Bahkan tanpa aba-aba ia duduk dipangkuan Erkan.


"Awas, saya harus kerja." Tolak Erkan.


Ih, beneran marah ini mah. Lisa meringis dalam hati.


"Jangan marah lagi atuh, Mas." Lisa mengecup bibir Erkan sekilas. "Lisa teh udah bilang kalau Bima itu cuma bestie doang."


Erkan mendengus sebal. "Gak pernah ada persahabatan antara perempuan dan laki-laki. Pasti ada salah satunya yang jatuh cinta."


Lisa tersenyum. "Gimana mau jatuh cinta. Dianya aja kabur pas mau masuk sma."


"Itu udah termasuk dewasa, bisa aja dia naksir sama kamu. Buktinya dia berani cium kamu di depan saya."


"Ck, Mas gak tahu aja dia itu jahilnya gak ketulungan. Dari dulu aja gitu. Ih... Mas teh cemburunya jangan lama-lama atuh. Lisa gak tahan Mas diemin."


"Saya gak bisa nerima bekas bibir orang lain." Erkan menurunkan Lisa dan beranjak menuju meja kerjanya.


Lisa menyebikkan bibirnya. Ih, susah ini mah. Gak ada cara lain. Semoga cara ini teh manjur. Bissmillah.


Tbc....

__ADS_1


Duh... apa ya rencana Lisa? Aku gantung dulu ya... soalnya lagi di rs. Besok lanjut lagi.


__ADS_2