SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Kejutan Buat Paksu


__ADS_3

"Mah, Eneng teh beneran hamil? Mbah Inem gak salah kan?" tanya Lisa saat mereka keluar dari rumah si Mbah.


"Beneran atuh, Neng. Si Mbah mah gak pernah salah. Pengalamannya udah di atas rata-rata. Dari muda soalnya kerjaannya itu."


"Hah, Eneng teh masih gak percaya. Sekarang perut Eneng udah ada isinya. Mana dibilang Mbah bakal lebih dari dua."


Mamah tersenyum. "Tuh, kurang baik apa Allah sama kita. Lima taun kamu teh nunggu pengen punya anak. Harus nahan cemoohan orang. Sekarang Allah kasih langsung banyak. Kudu banyak bersyukur, Neng."


"Iya, Mah. Kayaknya Eneng mau undang anak yatim ke rumah buat syukuran. Mau bagi-bagi kebahagian." Ujar Lisa.


"Iya, tapi jangan lupa kasih tahu Erkan dulu."


"Iya, Mah. Jangan kasih tahu siapa-siapa dulu ya? Biar Mas Erkan tahu dulu."


"Heeh, sok kasih tahu Erkan. Mamah gak bakal ngomong sama siapa-siapa."


"Makasih, Mamah."


Mamah merangkul Lisa. Lalu keduanya pun masuk ke mobil.


"Kumaha? Apa kata Mbah?" Tanya Asep mulai kepo.


"Gak kenapa-napa."


Asep menoleh ke belakang. Ia merasa iba saat melihat wajah murung Lisa. Tidak tahu saja itu sedih yang dibuat-buat. "Sabar nya, Neng. Nanti juga hamil. Mungkin belum waktunya aja."


"Iya, A." Sahut Lisa. Asep pun mengangguk lesu. Lalu menghidupkan mesin mobil, dan mobil mewah itu pun segera meninggalkan kediaman Mbah Inem. Sepanjang perjalan pulang, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Sampai di rumah pun, Lisa langsung masuk ke kamar. Begitu pun dengan Mamah. Membuat Asep merasa iba.


"A, gimana?" Tanya Teh Devi yang baru turun dari kamarnya.


"Gak tahu, pada diem aja. Si Eneng juga makin murung."


Teh Devi menatap pintu kamar Lisa. "Eneng teh ngerti perasana Lisa, A. Pasti sedih banget. Apa lagi kemaren Eneng liat sendiri gimana ibu-ibu ledekin dia."


"Hah? Siapa yang berani ledekin adek Aa neng?" Kaget Asep.


"Biasa atuh, A. Ibu-ibu komplek. Biang gosip. Malah mereka ngatain Lisa janda dadakan. Eneng aja kesel."


Asep menghela napas berat. "Udah, kamu gak usah ikutan kesel. Aa gak mau anak Aa teh mirip Ibu-ibu komplek." Nasihatnya seraya mengusap perut sang istri.


Teh Devi tersenyum. "Aa udah makan?"


"Belum, tadi mau ngajak makan liat muka Mamah sama si Eneng jadi hilang lapar Aa, Neng. Masak apa? Tiba-tiba Aa lapar lagi."


Teh Devi tersenyum geli. "Eneng cuma masak ikan lado sama sayur bening tadi. Gak papa ya?"


"Gak papa atuh, Neng. Itu aja udah enak buat Aa mah. Orang tinggal makan juga." Asep tertawa kecil sambil merangkul istrinya. "Yuk, temenin Aa makan. Gak enak kalau makan sendirian."


Teh Devi mengangguk, lalu keduanya pun beranjak menunju ruang makan.

__ADS_1


Sedangkan di kamar, Lisa menangis haru. "Huhu... makasih ya Allah. Lisa teh gak tahu harus ngucap apa lagi, udah seneng banget."


Cukup lama Lisa menangis sendiri sangking bahagianya. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuknya. Apa lagi harus bertahan dari setiap pertanyaan-pertanyaan orang karena dirinya tak kunjung hamil.


"Gimana ya reaksi Mas Erkan? Pasti dia juga seneng banget, apa lagi Rayden. Udah pengen banget punya adek. Huhu... Mama kangen Rayden."


Diraih ponsel miliknya di dalam tas. Lalu ia langsung menghubungi sang suami. Sebelum itu ia menghapus jejak air matanya.


Tut!


Lisa menggembangkan senyuman saat melihat wajah Erkan. "Sayang, lagi ngapain?" Sapanya.


"Mas masih kerja, Yang. Baru selesai Meeting. Tunggu! Kamu nangis, Yang?" panik Erkan.


Lisa tidak kuasa untuk menutupi kebahagiannya dan kembali menangis. "Mas." Lirihnya. Tentu saja hal itu membuat Erkan semakin panik.


"Sayang, kenapa? Kamu sakit?"


Lisa terdiam sejenak. "Bisa jemput Lisa sekarang gak, Mas?"


Erkan mengangguk. "Mas ke sana sekarang ya?"


Tut!


Lisa terkejut karena Erkan memutus panggilan sepihak. "Lah, aku belum ngomong apa-apa. Udah dimatiin aja."


Lisa pun mengetik pesan untuk suaminya, lalu mengirimnya.


Lisa menghela napas berat. Ditaruhnya ponsel di atas nakas. Lalu ia bangkit dan melepas gaunnya. Ia berdiri miring di depan cermin, dan ia baru sadar jika perutnya memang agak buncit. "Kok aku teh baru sadar ya?" Diusapnya perut itu dengan lembut.


"Maaf ya, sayang. Karena Mama terlalu larut sedih, Mama teh gak sadar kalau udah ada kamu di dalam." Ucapnya. Memang sudah lama Lisa tidak mengecek kehamilan, mungkin lebih ketakut akan kecewa lagi. Karena selama ini tidak ada tanda-tanda kehamilan seperti yang dialami banyak orang.


"Mama seneng banget tahu. Tapi... beneran gak sih kamu gak sendirian?" Lisa kembali mengingat perkataan si Mbah. "Kalau iya, Mama harus nyambut kalian dengan meriah. Kira-kira berapa orang ya? Aaa... apa mungkin ada lima? Emangnya bisa perut kecil ini teh nampung banyak?"


Lisa tersenyum sendiri membayangkan perutnya dihuni banyak makhluk mungil hasil buah cintanya dengan Erkan. Masih membayangkannya saja dada Lisa sudah sesak. "Duh... kayaknya aku harus mandi, Mas Erkan bentar lagi datang. Bau minyak urut. Aku harus siapin kejutan buat Paksu, hehe."


Tanpa menunggu lagi Lisa pun bergegas ke kamar mandi.


Beberapa jam kemudian, Erkan pun datang dan langsung masuk ke kamar istrinya karena panik. Asep yang sejak tadi duduk di ruang tengah pun merasa heran. Bahkan kaget saat Erkan membuka dan menutup pintu kamar dengan kencang. "Dih, kesurupan kali ya?"


Lisa yang sudah bersiap akting pun kini berbaring di tempat tidur dengan berbalut baju tebal. Bahkan tanpa ragu ia membuat wajahnya terlihat pucat.


"Sayang, kamu sakit apa sih? Demam?" Erkan duduk di tepian. Lalu mengecek suhu tubuh istrinya. "Gak panas, tapi kamu pucet banget. Sayang, Mas udah bilang kan. Jangan mikirin omongan orang. Jadinya kamu sakit kayak gini. Udah berapa kali cobak kamu sakit karena mikirin perkataan orang. Sayang, jangan gini ya? Mas merasa kehilangan kamu yang dulu. Jangan dengeri omongan orang ya?"


Lisa tersenyum tipis saat mendengar ocehan Erkan dengan nada panik yang kental. "Mas, Lisa gak papa kok. Cuma pusing aja."


"Ck, udah ke rumah sakit?"


Lisa menggeleng. "Lisa nunggu kamu, Mas."

__ADS_1


"Ya udah, ayo kita ke rumah sakit."


"Mas, Lisa mau ganti baju dulu. Bantu bukain jaket ya?"


Erkan mengangguk. Lalu dengan hati-hati ia membuka jaket sang istri. Namun, pergerakkannya tertahan saat melihat kaos putih yang Lisa kenakan terdapat tulisan 'Hi Papa'. Ya, tulisan itu Lisa buat sendiri pakai spidol. "Tumben kamu pake baju imut kayak gini?"


Ih... Mas Erkan mah gak peka. Gak seru ini mah.


"Mas. Gak baca tulisannya?"


"Baca, Hi Papa. Emang kenapa?"


Lisa menghela napas berat. Sepertinya kejutan itu harus gagal karena ketidak pekaan Erkan.


"Tunggu!" Seru Erkan. Seketika wajah Lisa pun berbinar. "Kamu mau pamer baju baru ya?"


Seketika Lisa kembali lemas. Ya elah, punya suami beneran gak peka ini mah.


"Iya, imut kan baju barunya?" Lisa tersenyum geram.


"Iya, kayak kamu." Sahut Erkan yang masih tidak mengerti tujuan istrinya.


"Mas!" Geram Lisa. "Kamu tuh kenapa gak peka banget sih?"


"Gak peka gimana?"


"Ih... ngeselin deh. Mas gak liat ini tulisannya apa?" Tanya Lisa geram sendiri sambil menunjukkan tulisan di bajunya.


"Liat, sayang. Kan udah Mas bilang bajunya imut. Lagian tumben banget kamu seneng pamer baju gini. Biasanya juga bodo amat."


"Ish... kamu mah gak peka ih. Ngeselin tahu. Lisa mau kasih tahu, kalau Lisa teh hamil, Mas." Kesal Lisa.


"Oh." Sahut Erkan. Namun, detik berikutnya mata lelaki itu membulat sempurna. "Apa?"


Lisa terkekeh lucu melihat reaksi menggemaskan Erkan. "Iya, Lisa teh hamil."


"Kamu bercanda?" Seru Erkan dengan ekspresi yang sulit diungkapkan.


"Kok bercanda sih? Beneran hamil ini, Mas. Liat tuh." Lisa sedikit mengangkat kaosnya. Lalu menunjukkan perutnya yang sedikit menyembul. "Sadar gak sih kalau perut Lisa teh udah gede, Mas. Kitanya aja yang gak peka."


Mata Erkan langsung berair. Bahkan tangannya langsung bergerak mengusap perut Lisa. "Sa, ini beneran? Kok Mas gak sadar sih? Padahal tiap malam Mas cium loh. Mas pikir kamu gendutan. Mas gak curiga sama sekali kalau kamu hamil."


Lisa terkekeh lucu. "Sama, Mas. Lisa jugak sadar kalau Lisa udah hamil."


Tangisan Erkan pun pecah, dipeluknya Lisa dengan erat. "Makasih, sayang. Mas seneng banget."


Lisa mengangguk dan ikut menangis. "Lisa juga seneng, Mas. Lima taun kita nunggu, akhirnya kita berhasil."


"Hm." Erkan mengecup kepala istrinya. "Mas bahagia, sayang. Ini kejutan luar biasa. Ah... Rayden bakal punya adik."

__ADS_1


"Iya, Mas. Bahkan adiknya bukan satu."


"Apa?" Kaget Erkan.


__ADS_2