
Nih buat yang tadi minta tambah... aku kasih kok tenang aja. Gak ngalunjak atuh kalau minta tambah mah, yang ngalunjak itu udah baca gak like. Ehe... becanda kok ðŸ¤ðŸ¤
Tar dibalas sama yang baca... "Udah syukur di baca."
Hehe... kan udah aku bilang cuma canda. Biar uratnya gak tegang.
****
Erkan dan Lisa pun kembali ke rumah setelah tiga hari tiga malam menghabiskan waktu bulan madu. Dan mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua Erkan karena tidak mungkin pulang ke kampung di mana hari mulai gelap.
"Aaa... mantu Mama udah pulang." Mama Dinar menyambut Lisa dengan mesra. Bahkan mengabaikan putra kandungnya sendiri. "Gimana bulan madunya? Erkan muasin kan?"
Pipi Lisa pun merona mendengar pertanyaan absurd Mama mertuanya. Dan Lisa pun cuma bisa mengangguk malu.
"Ma, biarin Lisa istirahat." Tegur Erkan masuk duluan ke rumah sambil menggeret koper.
"Erkan, kamu gak memforsir istri kamu kan?" Tanya Mama.
"Tanya aja sendiri sama orangnya." Jawab Erkan melenggang pergi karena sangat lelah dan butuh istirahat.
Mama menghela napas berat. "Udah, sana susul suami kamu. Mama tahu kamu capek. Bilang sama Erkan malam ini gak perlu olah raga, Mama liat kamu capek banget."
Lisa tersenyum kikuk. "Iya, Ma. Kalau gitu Lisa pamit ke kamar ya, Ma."
"Iya, sayang. Istirahat yang banyak. Minggu depan kalian butuh tenaga lagi buat acara."
"Iya, Ma." Lisa pun bergegas menyusul suaminya. Namun, sebelum masuk ke kamar Lisa berpapasan dengan Zia. Seperti biasa, wanita itu selalu memberikan tatapan permusuhan pada Lisa.
"Dih... itu mata juling atau apa ya? Astagfirullah, masih ada ya orang kayak gitu?" Gumam Lisa yang kemudian bergegas masuk ke kamar.
"Gak jadi ngobrol sama Mama?" Tanya Erkan yang baru keluar dari ruang ganti. Dan sekarang Erkan sudah berganti pakaian tidur.
"Enggak, Mas. Lisa capek." Sahut Lisa berjalan ke arah ranjang dan duduk di sana.
Erkan pun ikut duduk di sebelah Lisa. "Ganti baju dulu kalau mau tidur."
"Iya." Lisa pun hendak bangun, tetapi Erkan menahannya. "Boleh buatin kopi dulu sebelum tidur?"
"Boleh, Mas. Nanti Lisa buatin. Lisa mau ganti baju dulu."
Erkan tersenyum yang disusul dengan anggukan kecil. Lisa pun bergegas ke ruang ganti. Tidak perlu lama ia keluar dan sudah memakai piyama.
Lisa tersenyum saat melihat Erkan sibuk dengan gawainya. "Katanya capek, Mas? Kok malah main hp?"
Erkan menoleh. "Cuma cek email aja, sayang."
"Ya udah, Lisa buat kopi dulu ke dapur."
"Iya, sayang." Jantung Lisa selalu berdegup kencang kala mendengar panggilan sayang dari Erkan.
Lisa pun bergegas pergi. Jika terus berada di sana bisa-bisa Lisa pingsan. "Duh... padahal udah tiga malam jadi istri Mas Erkan. Tapi kok masih gugup aja ya?" Gumam Lisa sambil terus berjalan ke arah dapur.
Sesampainya di dapur, Lisa terkejut karena di sana ada laki-laki yang mirip dengan Erkan, yaitu Elkan.
__ADS_1
"Loh, udah pulang bulan madunya?" Sapa lelaki itu ramah.
Lisa bernapas lega karena Elkan rupanya sangat ramah. Ia pikir sama seperti istrinya. Karena ini kali pertama Lisa bersitatap dengan Abang iparnya.
"Udah, Bang. Baru aja sampe tadi. Mau buat kopi juga?"
"Iya, nih. Punya istri tapi kayak jomblo gini ya?" Gurau Elkan memecah kecanggungan.
Lisa tertawa renyah. "Sini biar Lisa aja yang buat. Sekalian ini juga mau buatin kopi buat Mas Erkan." Tawar Lisa.
"Wah, boleh banget tuh. Pengen cobak juga kopi buatan adik ipar." Elkan pun menarik kursi dan duduk di sana sambil menemani Lisa membuat kopi.
"Padahal mah sama aja rasanya, orang kopinya udah di racik dari pabrik." Ujar Lisa seraya mengambil gelas.
"Iya juga sih. Kopinya di atas kabinet." Elkan memberi tahu karena Lisa terlihat bingung.
"Oh, baru aja mau ditanya." Lisa terkekeh sendiri dan berjinjit untuk mengambil kopi yang dimaksud.
"Suami kamu mana? Mabok ya?"
"Di kamar, kayaknya kecapean." Jawab Lisa apa adanya.
Elkan tertawa geli. "Mabok kayaknya kebanyakan makan duren."
Lisa mengerut bingung. "Perasaan Mas Erkan teh gak makan duren."
Elkan terdiam.
Duh... kayaknya aku salah ngomong. Lupa kalau adek iparnya masih polos.
"Oh. Mungkin sih. Kan Mas Erkan yang nyetir terus."
"Emang kamu gak bisa nyetir?"
Lisa menggeleng. "Takut."
"Lah, enak loh kalau bisa bawa mobil. Bisa jalan-jalan tiap hari. Kayak Zia, tiap hari jalan-jalan gak jelas. Habisin duit sama minyak aja kerjanya."
Lisa tertawa kecil. "Nanti deh saya teh minta diajarin sama Mas Erkan."
"Bagus itu, lagian penghuni di sini bisa semua. Mama yang udah tua aja jago balapan."
Lisa memberikan secangkir kopi pada Elkan. "Makasih."
"Sama-sama."
"Oh iya, Sa. Temen kamu yang cantik itu siapa namanya?"
Lisa mengerut bingung. "Yang mana? Temen Lisa teh banyak."
"Yang kemaren datang pas akad. Duh... yang ada lesung pipinya. Yang manis itu."
"Oh... Bella?"
__ADS_1
"Mungkin."
"Iya, kalau yang ada lesung pipinya itu Neng Bella. Kenapa nanyain Neng Bella? Abang teh suka sama dia? Dih... udah punya istri juga."
Elkan pun nyengir kuda. "Enggak, cuma nanya aja. Manis soalnya, saya suka sama yang manis-manis."
"Ingat umur sama status, Om. Saya juga gak bakal kasih izin situ godain Neng Bella. Lagian situ mau di hajar sama Pak Bupati karena godain anaknya?"
"Bupati? Jadi itu anak bupati?" Kaget Elkan yang hampir tersedak kopi.
"Iya, jadi jangan gatal. Emang gak takut diamuk sama istri situ?"
Elkan cuma tersenyum.
"Udah ah, saya ditunggu sama Pak suami. Awas, Om. Jangan gangguin anak gadis orang, ingat ada istri."
"Iya bawel."
Lisa menjulurkan lidahnya dan langsung melesat pergi ke kamarnya.
"Kok lama?" Tanya Erkan menerima kopi buatan istriya. "Nyasar ya nyari dapurnya?"
"Enggak kok, tadi ngobrol dulu sama Om-om." Jawab Lisa duduk di atas ranjang. Kemudian menarik selimut.
"Om-om?" Tanya Erkan bingung.
Lisa pun tertaw geli. "Itu maksunya Bang Elkan. Habis ganjen sih."
"Hah? Dia godain kamu?" Erkan sampai tidak jadi menyeruput kopinya.
"Ih... enggak, Mas. Abang kamu itu mau godain Neng Bella, temen Lisa yang kemaren pas akad datang. Yang cantik itu."
"Oh, kirain godain kamu." Erkan pun bernapas lega dan melanjutkan menyeruput kopinya.
"Oh iya, Mas. Tadi teh sebelum Lisa masuk. Pas tadi pertama mau masuk, Lisa teh papasan sama Teh Zia. Kok dia masih jutek aja ya sama Lisa? Aneh aja."
Erkan menoleh. "Gak usah ditanggapin. Dia emang gitu, semua dimusuhin."
Lisa terdiam sebentar. "Mas punya mantan berapa?"
Erkan terkejut mendengarnya. "Kenapa jadi bahas mantan?"
"Pengen tahu aja. Kalau gak mau bilang gak papa sih." Lisa pun berbaring menghadap ke Erkan.
Erkan menatap istrinya. "Mantan Mas banyak. Gak kehitung kayaknya."
Lisa terkekeh lucu. "Wajar sih, Mas kan kasep. Pasti banyak cewek yang antri."
"Hm. Zia salah satunya."
"Apa?" Kaget Lisa yang langsung bangun dari posisinya.
Tbc...
__ADS_1
Hayo... jangan pada panik... selow bae atuh hehe