
Sesampainya di rumah, Lisa dan Erkan langsung disambut oleh semua penghuni rumah. Dan yang paling heboh itu tentu saja Asep.
"Kumaha Neng? Mana hasilnya, Aa mau liat." Sambarnya dengan wajah pucat.
"Kasih aja, Neng. Dari tadi Aa kamu gak mau diem. Ngoceh mulu." Titah si Mamah tersenyum geli.
"Gimana Aa gak kepikiran, Mamah. Si Eneng teh adek Aa satu-satunya yang langka." Asep mendekap Lisa. "Gak kenapa-kenapa kan, Neng?"
Lisa tersenyum geli. "Eneng teh gak papa atuh, A. Duduk dulu yuk, Lisa teh capek."
Asep mengangguk, bahkan dengan hati-hati membawa Lisa duduk. Erkan yang melihat itu cuma bisa menggeleng dan ikut duduk di sebelah Lisa.
"Sakit apa kata dokter, Neng?" Kali ini Abah ikut bertanya.
"Sebenarnya Lisa gak sakit, Bah. Ini hasilnya, diliat aja." Erkan memberikan amplop hasil usg pada Abah.
Abah membukanya sambil melirik semua orang. Kemudian mengeluarkannya perlahan. "Ya Allah, kamu hamil, Neng?"
Asep dan Devi yang mendengar itu kaget dan langsung menatap Lisa.
Lisa pun mengangguk antusias. "Ada lima pandawa di dalam sini." Katanya sambil menunjuk perut.
"Apa? Lima?" Kaget mereka.
Lagi-lagi Lisa mengangguk.
"Kamu teh beneran hamil lima bayi, Neng?" Seru Asep bangun dari duduknya karena kaget.
"Iya atuh, Aa. Kalau gak percaya liat aja tuh hasil usgnya."
Karena tidak percaya, Asep mengambil hasil usg itu dari tangan Abah. Ditatapnya benda itu lamat-lamat. "Wih... beneran ini mah ada lima. Udah kayak anak kucing aja, Neng."
"Aa!" Serang Lisa, Devi dan Mamah.
"Hehe, maaf keceplosan. Abis kamu mah aneh, Neng. Lama gak hamil-hamil, sekali hamil langsung lima. Hebat ih, bagi tipsnya atuh."
"Ih, Aa." Kesal Devi. Sedangkan yang lain malah tertawa.
"Hah, akhirnya kamu teh hamil kan Neng? Selamat atuh, semoga kamu teh sehat sampe lahiran. Dijaga istrinya baik-baik, Kan. Adek saya itu, lagi hamil. Anaknya lima, keren." Asep tersenyum lebar sambil menatap hasil usg itu takjub.
"Anak saya ini, A." Kata Erkan mengusap perut istrinya.
"Tahu, saya. Adek saya gak mungkin hamil sama kucing."
"Ish... mulut si Aa mah." Mamah menatap putranya sengit. Lalu beralih menatap Lisa. "Alhamdulillah, si Mbah gak bohong kan Neng? Anaknya lebih dari dua. Duh... kayaknya Mamah teh harus ikutan ngurus ini mah."
"Iya, Mamah. Jaga anak satu aja repotnya gak ketulungan kalau lagi rewel. Kuhama kalau lima nya?" Sahut Teh Devi. Sedangkan suaminya masih asik melihat hasil usg sambil senyum-senyum sendiri.
Erkan dan Lisa pun tersenyum. "Insya Allah kami bisa jaga sama-sama kan, sayang?" Kata Erkan. Lisa pun mengangguk.
"Itu, Mama kamu udah di kasih tahu belum, Er?" Tanya Abah.
"Belum, Bah. Nanti aja pas pulang kami mampir dulu ke sana."
"Ya udah, sok atuh istrirahat dulu. Kamu juga baru sampe udah ke klinik. Besok pagi aja pulangnya." Saran Mamah.
__ADS_1
"Iya, Mah. Erkan juga emang gak mungkin bolak-balik. Penat juga."
"Heem, sok atuh istirahat."
"Semalat nya, Neng. Teteh seneng, sampe gak tahu mau bilang apa. Kamu teh bisa bungkam tuh mulut pedes ibu-ibu sama lima pandawa."
Lisa tersenyum haru. "Makasih, Teh. Selama ini Teteh juga selalu nyemangatin Lisa."
"Harus atuh, Neng. Kamu teh da adek Teteh."
Lisa tertawa kecil. "Pokoknya mah makasih buat semuanya yang udah selalu doain Eneng. Selalu semangatin Eneng."
"Iya, Neng. Jangan lupa bersyukur nya?" Kata Abah.
"Pasti, Bah." Sahut Lisa dan Erkan. Lalu kedunya pun berpamitan untuk ke kamar.
Dengan sigap Erkan membaringkan Lisa, kemudian ia pun ikut duduk. Digenggamnya tangan Lisa dengan hangat.
Lisa menatap Erkan teramat dalam, begitu pun sebaliknya. "Terima kasih, Mas. Kamu selalu terima apa pun kekurangan Lisa. Sampai Lisa teh akhrinya bisa kasih keturunan buat kamu." Lisa mencium tangan suaminya begitu dalam.
Erkan tersenyum, dikecupnya pucuk kepala Lisa dengan lembut. "Mas selalu berdoa untuk kebahagian kamu, sayang. Mas akan selalu buat kamu bahagia."
Lisa mengangguk. Lalu keduanya pun kembali berpelukan. "Sekarang Lisa bahagia banget, Mas."
"Iya, sayang. Mas juga bahagia. Makasih banyak karena kamu selalu menjadi sumber kebahagian Mas dan Rayden." Lisa mengangguk, dan menangis bahagia dalam pelukan Erkan.
****
Keesokan harinya, Erkan dan Lisa pun kembali ke kota.
"Kangen Mama." Balas Lisa.
"Uh... Mama juga kangen tahu. Yuk masuk dulu, Bella juga di dalam. Tadi lagi mandiin si kembar."
Lisa mengangguk. Kemudian mereka pun beranjak masuk.
"Wih, ada angin apa ini pagi-pagi udah nongol? Biasanya juga anti banget mampir." Sapa Elkan yang sudah berpakaian santai.
"El." Mama memperingati.
"Abis sombong sih, rumah deket tapi main aja sebulan sekali kagak." Imbuh Elkan lagi.
"Namanya juga sibuk." Sahut Erkan dengan santai.
"Terus, Ray gak ikut?"
"Kita baru balik dari kampung, sebenarnya ke sini cuma mau ngasih kabar baik." Kata Erkan.
"Kabar baik?" tanya Mama bingung.
"Tapi nanti aja, aku lapar. Makan dulu yuk," pinta Erkan yang disambut tawa oleh yang lainnya.
"Sa! Ya ampun, akhirnya lo ke sini juga." Sapa Bella yang baru nongol sambil menggendong Ciko dan Ciki yang sudah cemong. "Mas, pegangin mereka dulu."
Dengan sigap Elkan pun menggandong keduanya. "Anak-anak Daddy udah wangi."
__ADS_1
"Sa, kangen tahu." Bella pun memeluk Lisa. Lisa membalas pelukannya. Memang sudah lama sekali mereka tidak bertemu, karena selama ini Lisa yang selalu menghindar. Bahkan ia selalu menolak saat sahabat-sahabatnya ingin main ke rumah. Ya, karena alasan minder.
"Maafin gw ya? Gw harap lo paham perasaan gw. Rasanya gw pengen nangis terus kalau liat kalian udah pada punya anak." Ucap Lisa dengan tulus.
"Sa, kenapa harus minder sih? Kita juga gak bakal ledekin elo. Kita paham kok."
"Hah, lo gak akan ngerti perasaan gw, Bell. Liat kalian bawa anak aja gw merasa minder."
Mama dan Elkan yang mendengar itu ikut iba.
"Ya Allah, Sa." Bella mengusap punggung iparnya itu. "Jangan gini terus dong, gw ikut sedih tahu gak?"
"Hm." Lisa pun melerai pelukan mereka.
"Wah, ada apa ini pagi-pagi udah pada ngumpul?" Tegur Papa Zein. "Ikutan ah main peluk-pelukan."
"Papa!" Kesal Mama. Sontak tawa yang lain pun pecah.
"Udah ah, mendingan yuk makan dulu. Ini perut beneran lapar loh." Ajak Erkan tidak bohong dengan rasa lapar di perutnya.
Kemudian mereka pun beranjak ke ruang makan. Seperti biasa, suasana ruang makan tidak pernah sepi oleh candaan. Setelah itu mereka pun berkumpul di ruang keluarga.
"Ma, Pa." Erkan berusaha menarik perhatian semua orang. Dan itu berhasil, semua mata kini tertuju pada Erkan dan Lisa yang terus bergelayut manja pada suaminya.
"Ada apa nih? Horor banget suasananya?" Tanya Elkan yang sedang menggendong Ciki dan Ciko.
"Begini...." Erkan mengeluarkan amplop hasil usg Lisa dari tas istrinya. "Kita udah periksa Lisa ke rumah sakit. Aku harap kalian gak kaget dengan hasilnya."
"Er, jangan bikin Mama takut ah." Mama menatap Lisa lekat, dan yang ditatap terlihat memilin baju suaminya. Seolah sedang ketakutan. Kalau masalah akting jelas Lisa jagonya.
"Nih, Mama sama Papa lihat sendiri hasilnya." Erkan memberikan benda itu. Cepat-cepat Mama mengambil dan membukanya. Seketika matanya terbuka lebar. "Aaa... apa Mama gak salah liat?"
Bella yang kepo pun duduk di sebelah Mama Dinar. Sekejap matanya juga ikut terbelakak. "Aaa... Lisa hamil?"
"Hah, seriusan?" Kaget Elkan.
Erkan dan Lisa pun tertawa kecil. "Iya, udah dua bulan lebih. Kembar lima." Ungkap Erkan.
Mama yang teramat bahagia pun bangkit dan menghampiri Lisa. Dipeluknya menantu tersayangnya itu dengan penuh cinta. Tangisan keduanya pun pecah.
"Lisa hamil, Ma. Gak akan ada lagi yang berani katain Lisa mandul."
"Iya, sayang. Mama memberikan kecupan bertubi-tubi. "Selamat, sayang. Mama senang dengarnya. Mama tahu gimana sakitnya hinaan yang kamu dapat. Tar kita datang lagi ke sana dan bungkam mulut mereka.
Bella yang melihat itu ikut menangis haru. Bukan hanya Bella, Erkan, Elkan dan Papa pun ikut menitikan air mata haru.
"Dengerin Mama, sayang. Mulai sekarang kamu gak boleh capek ya? Banyak-banyak istirahat." Mama mengusap jejak air mata Lisa. Kemudian kembali memeluk menantunya itu. "Mama senang, sayang. Mama gak bisa berkata-kata lagi."
Lisa mengangguk. "Ini berkat doa Mama dan yang lain. Terima kasih, udah dukung Lisa apa pun yang terjadi."
"Pasti, sayang. Ini juga buah kesabaran kalian. Alhamdulillah Ya Allah." Ucap syukur Mama.
"Selamat ya, Sa. Sekarang udah gak perlu minder-minder lagi. Malah sekali cetak lo bisa produksi lima. Kalah gw sekarang. Ciko sama Ciki bakal punya pengawal ini mah. Gw share ke grup alumni kejora ya? Biar heboh."
Lisa tersenyum yang diringi dengan anggukan kecil. Dengan semangat Bella memoto hasil usg Lisa dan membagikannya ke grup. "Heboh deh pasti."
__ADS_1
Tbc...