SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Isi Hati Elkan


__ADS_3

Erkan membawa Lisa duduk di sofa. Lalu di hapusnya sisa air mata di pipi istrinya itu.


"Lisa teh gak tahu apa-apa, Mas. Tadi Lisa mau jatuh, terus Bang Elkan nolongin. Tiba-tiba aja Teh Zia datang dan nyerang Lisa." Adu Lisa mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada suaminya.


Keluarga mereka yang baru masuk pun tentu mendengar itu.


"Erkan, cobak lihat kepala Lisa bengkak enggak? Pasti sakit banget itu." Titah Mama Dinar.


Erkan pun menurut dan melihat kondisi kepala istrinya. Sontak Lisa pun meringis karena kepalanya masih berdenyut. Sepertinya jambakan Zia kuat juga tadi.


Mamah Endang yang melihat itu langsung duduk di sisi lain Lisa. Lalu meneliti kindisi wajah putrinya. "Gak pernah-pernah nya Neng ada yang nyakitin kamu gini. Anak Mamah mah selalu baik sama orang, bisa-bisanya diserang kayak gini. Lagi sial nya, Neng?"


Mendengar itu Erkan dan keluarganya yang lain merasa bersalah. Termasuk Elkan yang baru saja masuk.


"Buk, saya sebagai suami Zia minta maaf atas kejadian ini. Salah saya karena jadi suami gak bisa didik istri." Lirih Elkan, terlihat jelas penyesalan di wajahnya.


"Apa sih, Mas. Dianya aja emang kegatelan. Bilang aja pengen di peluk sana sini." Sembur Zia. Sontak semua mata pun tertuju padanya.


"Cukup Zia. Mau sampe kapan kamu buat aku malu?" Bentak Elkan. "Ikut aku sekarang." Zia sempat terhuyung karena tarikan suaminya.


"Buk, maaf ya atas sikap manantu kami yang itu." Kali ini Mama Dinar ikut menimpali. Ia benar-benar malu kali ini.


Mamah Endang menghela napas berat. "Gak papa atuh, Buk. Saya mah gak nyalahin siap-siapa. Cuma kaget aja anak saya teh tiba-tiba diserang sama macan betina. Untung gak dicakar. Kalau sempat dia nyakar anak saya tadi, saya gak akan segan nyakar balik."


"Mamah." Lisa memperingati.


"Udah, bawa aja istri kamu ke kamar, Er. Agak di kompres aja kepalanya biar gak bengkak." Titah Bunda Erkan.


"Iya, Bun. Ayok, sayang." Ajak Erkan membantu istrinya bangun.


"Mama, Papa, Ray ikut." Rengek Rayden berlari ke arah mereka.


"Ayok, sayang." Lisa mengamit tangan Rayden. Lalu mereka pun berpamitan ke kamar.


Langkah Lisa dan Erkan sempat tertahan saat mendengar suara ribut di kamar Elkan. Lisa yang merasa bersalah pun menatap suaminya.


"Gak papa, Bang Elkan pasti bisa nanganin istrinya. Zia memang gak pernah berhenti buat ulah dari dulu." Jelas Erkan. Lalu mereka pun melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Aw aw... pelan-pelan, Mas." Ringis Lisa saat Erkan mengompres kepala istrinya. "Sakitnya sampe ke otak rasanya. Baru kali ini Lisa teh di jambak. Dari kecil Lisa gak pernah beratem kecuali adu mulut. Sebenarnya bisa aja Lisa sleeding tadi, tapi Lisa teh inget Bang Elkan."


Erkan tersenyum geli. "Udah kayak gini aja kamu masih mikirin orang, Sa. Lain kali kamu sleeding aja orang yang mau nyakitin kamu."


"Ih... Mas mah malah nyuruh istrinya yang bukan-bukan."


Erkan tertawa kecil. Lalu pandangan Lisa pun beralih pada Rayden yang sejak tadi terus menatapnya. Lisa mengusap kepala anak itu dengan lembut. "Mama gak papa, sayang."

__ADS_1


"Mama gak usah ketemu Tante jahat lagi. Ray gak mau Mama sakit." Pinta Rayden memeluk Lisa begitu erat.


"Duh... anak Mama gemesin banget sih? Iya deh, besok-besok Mama gak akan deket-deket lagi sama Tante jahat." Lisa mengecup kepala Rayden penuh cinta. Erkan yang melihat itu cuma bisa tersenyum.


"Kayaknya Ray bener, kalau bisa kamu gak usah ketemu dia lagi. Mas gak mau kamu kenapa-napa."


"Makasih, Mas. Lagian kedepannya Lisa gak akan biarin orang nyentuh Lisa lagi. Tadi mah karena masih kaget aja mau jatuh, eh langsung diserang. Jadinya Lisa teh gak bisa ngindar." Jelas Lisa apa adanya. Erkan pun mengusap pelan kepala istrinya.


"Maaf Mas gak bisa lindungin kamu. Seharusnya Mas selalu siaga jaga kamu."


"Ck, gak ada yang tahu hal ini bakal kejadian, Mas. Udah atuh gak perlu merasa bersalah. Lisa teh baik-baik aja. Paling besok juga udah ilang sakitnya." Lisa tersenyum tulus.


Tidak lama, terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk." Sahut Erkan. Dan pintu pun terbuka. Menampakkan Elkan dengan wajah kusutnya.


Lelaki itu pun masuk dengan kantong plastik berisi jajanan Lisa di tangannya. Elkan pun menaruh itu di atas meja dan ikut duduk di bibir ranjang.


"Maaf." Ucapnya menatap Lisa penuh rasa bersalah.


Lisa pun tersenyum. "Gak perlu minta maaf, Bang. Justru Lisa mau ucapin makasih loh tadi Abang teh nolongi Lisa. Kalau enggak mah muka Lisa teh penyot tadi."


Elkan menghela napas berat. "Kayaknya aku mau cerein dia."


"Gak bisa, Sa. Udah sering dia bikin Abang malu. Gak tau lagi mau ditaruh di mana muka Abang ini."


Lisa dan Erkan pun saling melempar pandangan. Kemudian Lisa pun menatap Elkan lekat. "Jangan ambil keputusan pas lagi emosi, Bang. Dinginin dulu hatinya."


Elkan menatap Lisa dan Erkan bergantian. "Abang minta maaf sekali lagi. Kedepannya ini gak akan terjadi lagi, Abang akan pastikan itu."


"Bang, aku sama Lisa gak permasalahin yang udah terjadi. Udah gak perlu dipikirin." Kata Erkan.


"Tetap aja Abang merasa bersalah. Entahlah... Abang gak sanggup lagi hidup sama Zia. Dia gak pernah hargain Abang sebagai suaminya. Baiknya pas di awal nikah aja. Makin ke sini sikapnya makin gak terkontrol. Suami mana yang betah, Sa?"


Lisa mengusap punggung Abang iparnya itu. "Sabar, Bang. Mungkin ini cobaan rumah tangga kalian. Atau Teh Zia teh mungkin punya masalah lain?"


"Abang gak tahu dan gak mau tahu lagi. Semuanya udah Abang lakuin. Abang kasih perhatian bahkan cinta yang lebih buat dia, tapi dia malah kayak gitu. Bosan lama-lama Abang, Sa. Mungkin dia gak bisa nerima kondisi Abang yang gak bisa ngasih keturunan." Keluh Elkan panjang lebar. Lelaki itu pun memijat batang hidungnya.


Lisa menatapnya penuh iba.


"Bang, emang kalian udah coba ke dokter?" Kali ini Erkan yang bertanya.


Elkan mengangguk. "Emang aku yang ada masalah kata dokter."


Lisa dan Erkan pun terdiam.

__ADS_1


"Ck, sorry Abang jadi melow gini depan kalian. Ya udah, Abang keluar dulu. Kayaknya Abang harus hubungin partner curhar dulu biar hati ini lebih tenang." Elkan pun bangkit dari posisinya.


"Partner curhat?" Tanya Lisa merasa dejavu mendengar kata itu.


Elkan mengangguk. "Dia selalu punya solusi yang baik, lumayan lah buat pelipur lara. Abang pergi dulu, makasih udah mau dengerin keluh kesah Abang kalian ini. Abang minta maaf ya, Sa. Kedepannya gak akan terjadi hal kayak tadi lagi." Setelah mengatakan itu Elkan pun beranjak pergi. Meninggalkan Erkan dan Lisa yang masih terdiam.


"Mas baru tahu Bang Elkan punya partner curhat." Ujar Erkan yang berhasil menarik perhatian Lisa.


"Mas, Lisa juga kayak pernah denger orang bilang soal partner curhat deh. Tapi siapa ya?" Lisa tampak berpikir keras.


Erkan yang melihat itu tersenyum geli. "Udah, gak usah dipikirin. Tuh liat anak kamu." Erkan mengerlingkan matanya ke arah Rayden yang tengah melahap jajanan Lisa.


"Lah... itu kan punya Mama, sayang." Kaget Lisa.


Rayden pun menoleh dengan tatapan polosnya. "Mama mau?" Tanyanya.


Sontak Lisa dan Erkan pun tertawa.


"Anak kamu gemesin banget sih, Mas."


Erkan mengusap pipi mulus istrinya. "Tar kita bikin yang lebih gemesin lagi. Jangan lupa nanti malam, kamu harus obatin rindu yang udah menggebu-gebu ini."


Lisa menatap Erkan tak percaya. "Enggak, Lisa teh lagi sakit, Mas."


"Gak ada hubungannya sakit di kepala sama kewajiban kamu, sayang. Pokoknya Mas minta lebih nanti malam." Kekeh Erkan.


"Dih... pemaksaan itu mah. Tapi kan, Mas. Lisa teh kayaknya nanti malam gak bisa deh."


Erkan terkejut mendengarnya. "Kenapa? Kamu haid?"


Lisa menggeleng. "Nanti malam drakor kesukaan Lisa teh tayang di tv. Lisa mau nonton." Hebohnya.


"Lah... Mas pikir apa tadi. Gak ada nonton-nonton. Emangnya kamu gak kasian apa sama Mas yang udah puasa seminggu lebih?"


Lisa pun nyengir kuda. "Engga." Jawabnya dengan enteng.


Erkan terkejut mendengarnya. "Dosa loh, Sa."


"Ck, iya deh Lisa kasih. Tapi bentar aja, Lisa tetap mau nonton pokoknya mah. Mas gak boleh memforsir Lisa terus. Soalnya Lisa teh suka banget sama drakor yang satu ini. Pemainnya kasep-kasep semua. Aaa... jadi gak sabar pengen cepet-cepet tayang."


Erkan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Jadi pesonaku harus kalah sama pemain drakor nih ceritanya? Apa aku kurang tampan kali ya? Huh, sabar Erkan.


Tbc...


Ketemu terus deh sama pembaca yang bucin sama cerita ini... jangan bosan ya sama ceritaku... karena aku akan selalu datang ke mimpi kalian... see you all

__ADS_1


__ADS_2