
Tiga hari lamanya di rumah sakit, akhirnya Lisa diperbolehkan pulang. Dan malam ini adalah malam pertama yang cukup panjang bagi Erkan. Karena lelaki itu tak bisa hanya untuk sekadar memejamkan mata, belum sempat ia duduk, kelima anaknya bergantian merengek. Lisa terus memperhatikan Erkan yang sibuk menggantikan popok anak mereka. "Mas, capek ya?"
Erkan menoleh dengan senyuman lebar. "Enggak kok." Sahutnya.
"Maafin Lisa ya, Mas. Jadi repotin kamu terus." Lisa memasang wajah sedih. Andai saja luka jahitannya sudah tidak sakit, mungkin ia tak akan membiarkan Erkan repot sendiri. Sayangnya bekas jahitan di perut masih terasa perih, membuatnya belum berani banyak melakukan pergerakkan.
"Sayang, udah kewajiban Mas buat bantu kamu. Lagian kamu masih sakit. Kan ada Mamah sama Mama juga yang bantuin. Jadi Mas gak terlalu capek. Yah, paling tengah malam gini gak bisa tidur." Erkan pun kembali memusatkan perhatian pada bayi mungilnya yang berjenis kelamin laki-laki.
Lisa terdiam sejenak. "Coba aja gak sakit lagi, pasti Lisa yang gantiin popok mereka. Gak nyangka dibelek itu sakit banget."
"Namanya juga melahirkan, sayang. Wajar aja kok. Lagian Mas gak keberatan jagain mereka. Kan kita buatnya bareng-barang, jaganya juga harus bareng dong." Erkan tertawa kecil. Lisa pun tersenyum lebar. "Beruntung banget kan Lisa punya suami kayak kamu, Mas."
"Heem, makanya harus bersyukur. Dimana lagi coba cari yang kayak Mas? Limited adition." Sahut Erkan dengan percaya diri.
"Dih, kepedean. Pantang banget dipuji." Ledek Lisa sambil terus memperhatikan Erkan yang begitu hati-hati memakaikan popok pada putra mereka.
"Kan Mas ngomong apa adanya, Yang." Setelah berhasil mengganti popok, Erkan pun kembali naik ke ranjang. "Masih perih gak?"
Lisa mengangguk. "Gak seperih kemaren sih. Tapi masih takut kalau jalan-jalan."
Erkan menatap wajah istrinya sambil tersenyum. Tentu saja Lisa yang melihat itu merasa heran. "Kenapa sih? Ada yang aneh sama wajah Lisa ya? Pasti makin jelek kan?" Lisa pun menangkup wajahnya sendiri.
Erkan semakin melebarkan senyuman. "Enggak kok, malah kamu makin cantik. Pipi tembem kamu bikin gemesin."
"Ih... ngeledek ya?" Rengek Lisa dengan bibir manyun.
"Kok ngeledek sih? Mas kan ngomong apa adanya loh. Kamu itu makin gemesin." Erkan menoel bibir manyun Lisa dengan gemas.
"Emang nya Lisa teh masih cantik gituh? Kan Lisa udah gendut, Mas."
"Mau gendut, kurus, ngembang sekali pun kamu tetap cantik di mata Mas, Sa. Harus kamu tahu, Mas tuh kalau udah jatuh cinta sama sesuatu. Gimana pun bentuknya, seberubah apa pun kondisinya. Mas akan tetap menyukainya. Apa lagi itu kamu, perempuan yang Mas pilih sebagai pendamping masa depan. Mana mungkin Mas sia-siain kamu, gadis desa yang punya banyak kejutan." Ujar Erkan panjang lebar dan cukup serius.
Lisa tersenyum geli, juga merasa terharu mendengar keseriusan suaminya. "Makasih ya, Mas. Lisa juga bahagia punya suami sebaik Mas. Rasanya Lisa bakal nyesel kalau pas itu gak balik kampung."
"Namanya juga udah jodoh." Erkan masih setia memandangi wajah cantik istrinya itu.
"Oh iya, buat acara tasyakuran aqiqah anak-anak gimana?" Tanya Lisa.
"Kita buat acaranya minggu ini aja ya? Takutnya minggu depan Mas sibuk, Yang. Udah banyak libur soalnya."
Lisa mengangguk. "Gak masalah, Mas. Kamu juga jangan terlalu capek, Mas. Takutnya sakit."
Erkan menggeleng. "Enggak kok, Mas masih kuat. Lagian tanggung jawab kita udah banyak sekarang."
Lisa menggangguk. "Duh, kayaknya tukang kambing kesenengan. Sembilan ekor cuma buat anak kita doang. Panen duit."
"Rezeki itu namanya. Anak-anak kita membawa berkah buat orang lain. Semoga mereka juga jadi anak-anak yang soleh dan solehah. Berguna buat banyak orang." Ucap Erkan sembari melempar padangan pada box bayi.
"Aamiin." Sahut Lisa. Tidak lama salah satu dari kelima bayinya itu pun menangis. Cepat-cepat Erkan turun dari tempat tidur. Lisa yang melihat itu tersenyum geli. Ada rasa kasihan, juga haru karena Erkan benar-benar menjadi Ayah yang sigap.
"Ssssttt...." Erkan mengangkat bayinya yang menangis dalam gendongan. Bayi mungil itu semakin kencang menangis. Spontan yang lainnya pun ikutan menangis. "Haus kayaknya ya?"
__ADS_1
"Bawa ke sini, Mas." Pinta Lisa. Erkan pun dengan senang hati membawa putra tampannya itu pada Lisa. Dengan hati-hati pula ia memberikannya pada sang istri.
"Cup cup cup... anak manis gak boleh nangis. Aus ya?" Lisa mencoba menenangkan putranya dengan memberikan asi. Sedangkan Erkan mencoba menenangkan yang lain.
"Apa kita kasih susu formula aja, Yang? Kasian kayaknya pada haus."
"Boleh, Mas. Dari pada mereka kehausan karena nunggu." Jawab Lisa yang tengah menyusui.
"Bentar ya, sayang. Papa buatin susu buat kalian dulu." Kata Erkan.
"Mas, bawa aja ke sini susu sama air panasnya. Biar Mas gak capek bolak-balik." Perintah Lisa.
"Iya, Sayang. Nanti Mas bawa sekalian."
"Dodotnya jangan lupa dicuci dulu pake air panas, masih baru soalnya." Titah Lisa lagi. "Maaf ya Mas, Lisa jadi nyuruh-nyuruh." Katanya jadi gak enakan.
"Ck, kayak sama orang lain aja. Ya udah, Mas ambil dulu." Lisa pun mengangguk. Kemudian Erkan bergegas keluar karena tak mau anaknya menunggu terlalu lama.
Selang beberapa menit, Mama Dinar pun masuk. "Pada nangis terus ya? Tadi Mama ketemu Erkan di dapur, makanya langsung ke sini." Tanyanya seraya berjalan ke arah box bayi.
"Pada laper sama haus kayanya, Ma. Abis pada puup semua soalnya." Jawab Lisa.
"Duh kasiannya. Harus gantian mimiknya ya? Sabar ya, Papa kalian lagi buatin susu." Mama Dinar pun mengangkat cucu perempuannya. "Ini nih yang paling kenceng nangisnya."
Lisa tersenyum. "Beda sendiri, yang paling cantik tapi cengeng."
Mama Dinar tertawa kecil. "Lama-lama kok mirip Erkan kecil ya mereka? Bayi segede ini mah masih berubah-ubah wajahnya."
"Duh, itu si gembul rakus amat. Jangan diabisin dong. Kasian adek-adeknya gak kebagian." Ledek Mama Dinar menatap cucunya yang tengah menyusu.
"Iya nih, kayaknya udah haus banget." Lisa menoel hidung mancung bayi kecilnya dengan gemas.
"Mending mereka boboknya bareng kalian aja, Sa. Biar gak capek bolak-baliknya."
"Boleh juga, Ma. Kasian juga Mas Erkan harus bangun kalau mereka nangis." Sahut Lisa.
"Ya udah, tar Mama bantu pindahin mereka."
"Makasih, Ma."
"Sama-sama. Udah gantian. Tar kalau dia belum kenyang, kita kasih susu formula aja. Biar semuanya kebagian. Soalnya asi bagus banget buat imun bayi. Takutnya yang terakhir keabisan."
Lisa pun mengangguk patuh. Dengan sigap Mama membantu Lisa menukar bayinya. "Duh, ternyata ribet juga ya punya anak kembar lima gini. Gimana yang dua belas ya?"
Lisa tersenyum geli. "Gak kebayang, Ma."
"Tapi seru juga sih kalau banyak gini. Rame. Walaupun kitanya kuwalahan, tapi tar enaknya kalau mereka udah gede. Pasti gemesin banget. Tar Mama bawa ke arisan deh. Pasti heboh ibu-ibu rempong liat mereka yang gemesin lari ke sana kemari." Celetuk Mama sudah membayangkan gimana hebohnya jika cucu-cucunya ikut ke arisan.
Beliau pun merapikan tempat tidur Lisa untuk dijadikan tempat tidur kelima cucunya. Lalu memindahkan bayi-bayi mungil yang masih menangis itu ke sana.
"Takutnya mereka malah ngacak-ngacak, Ma."
__ADS_1
Mama Dinar tertawa renyah. "Bener juga, abis tar kue orang diberantakin." Lisa tersenyum geli. "Tapi Mama tetep bakal bawa mereka ke arisan. Pasti malu tuh si mulut ember yang dulu ngatain kamu mandul. Sekali beranak langsung lima. Tar Mama sindir balik, biar tahu rasa tuh orang. Puas banget Mama pas liat dia gak bisa ngomong apa-apa."
"Ya Allah, Ma. Gak boleh ih dendam gitu." Tegur Lisa.
"Biarin aja. Siapa suruh dia hina menantu Mama di depan banyak orang. Harga diri kamu harus dia bayar mahal." Ketus Mama Dinar.
Lisa tertawa kecil. "Mama sama Mamah kayaknya sebelas dua belas."
"Jelas dong, namanya juga besanan." Sahut Mama Dinar tertawa puas. "Tunggu. Si Er kemana ini gak nongol-nongol? Ketiduran apa di dapur?"
"Gak mungkin, Ma. Mungkin Mas Erkan kesusahan kali."
"Biar Mama liat dulu." Baru saja Mama Dinar hendak pergi. Pintu kamar sudah terbuka lebih dulu, membuat Mama mengurungkan niatnya tadi. Erkan terlihat kesusahan lima botol susu beserta kotak susu dan termos mini dalam dekapan. Cepat-cepat Mama pun membantunya.
"Ck, kan bisa balik lagi Er. Pake di bawa semua gini. Kalau jatuh gimana?" Ome Mama.
"Biar sekalian Ma." Erkan meletakkan kotak susu dan termos di atas nakas. "Loh, kok udah pada pindah ke kasur aja?" Tanya Erkan saat melihat anak-anaknya di sebelah Lisa.
"Biar enak pas mereka nangis. Kamu juga gak capek bolak-balik bangun." Jawab Mama naik ke atas ranjang. Lalu memberikan susu itu pada cucunya yang tadi sudah minum asi.
Erkan yang hendak ikutan memberi anaknya susu pun langsung ditahan oleh sang Mama. "Tar dulu, biarin Lisa kasih mimik dulu. Baru dikasih susu formula."
"Lah, makin kejer dong Ma kalau nunggu lagi." Sahut Erkan.
"Makanya bantuin istri kamu buat gantiin anak-anak." Perintah Mama seraya mengusap dada cucunya dengan lembut.
"Duh, kok pada rakus sih? Sisain dong buat Papa, jangan diabisin ya?"
"Mas!" Tegur Lisa. Spontan Erkan pun tertawa geli.
"Canda, sayang."
"Dasar bayi kolot." Ledek Mama Dinar untuk putranya.
"Bayi Mama lebih kolot lagi."
"Mas!" Lisa memelototi suaminya itu. Sedangkan yang dipelototin malah cengengesan tak jelas. "Ngeselin ih."
"Ngeselin-ngeselin gini juga kamu doyan kan?"
"Mas! Ih... jangan bikin Lisa kesel deh malam-malam gini."
"Cubit aja, Sa. Biar tahu rasa dia." Titah Mama.
"Aw... mau dong dicubit hatinya." Sahut Erkan dibuat-buat.
"Dih, suami kamu kayaknya mulai rada-rada, Sa. Kelamaan puasa kali." Kata Mama menatap putranya geli.
"Heem, gak sabar nih pengen buka puasa. Udah aus banget." Sahut Erkan tanpa rasa malu di depan sang Mama.
"Mas!" Suara pekikan Lisa tertahan karena takut membangunkan anaknya yang sudah terlelap. Sedangkan Erkan malah tertawa senang karena berhasil menjahili istrinya.
__ADS_1