
Besok paginya, Lisa dan Erkan pun kembali ke rumah depan. Dan Rayden terlihat semangat dalam genggaman Lisa. Entah kenapa pagi ini Rayden mau diajak bangun pagi dan begitu semangat. Biasanya anak itu pasti merengek terus karena tidurnya keganggu.
"Mama, kita mau pulang ke kota lagi ya?" Tanyanya dengan suara kecilnya yang khas.
"Iya, besok kita pulang ya?" Jawab Lisa. Ya, mereka memang akan segera menempati rumah Erkan yang ada di kota karena renovasi sudah selesai dua hari yang lalu. Berhubung Erkan juga harus kerja jadi mereka tidak menunda lagi untuk pindah.
"Hm... padahal Ray suka di sini. Ada Nenek, Kakek, ada Uncle jelek juga."
Lisa tertawa mendengar panggilan Rayden untuk Asep.
"Sayang, gak boleh manggil Uncle seperti itu." Tegur Erkan.
"Habis Uncle jelek selalu ganggu Ray sih."
"Biarin aja, Mas. Si Aa teh pantes di bilang jelek." Lisa terkekeh lucu.
"Sa." Erkan memperingati.
"Iya deh, maaf."
"Minta maafnya sama Abang kamu."
"Ih, males ah. Tar aja lebaran, hehe." Erkan yang mendengar itu cuma bisa menggeleng.
"Wah, manten barunya udah ke sini aja pagi-pagi." Sapa Bunda Erkan yang tengah asik menyiram tanaman bunga di teras.
"Kangen rumah, Bun. Rajin banget sih?"
Bunda pun tertawa renyah. "Abis gak ada kerjaan lagi sih."
"Sekalian di pel ya Bun lantainya." Gurau Erkan.
"Bisa aja kamu. Udah sana masuk."
"Iya, Bun." Erkan pun membawa anak dan istrinya masuk.
"Wah, kebetulan kalian datang. Yuk sarapan bareng. Enak makan rame-rame." Ajak Mama Dinar terlihat semangat.
"Mama masak?" Tanya Erkan keheranan. Sontak Mama Dinar pun tertawa.
"Sejak kapan Mama bisa masak? Siapa lagi kalau bukan Bunda kamu yang masak." Sahutnya.
"Mama itu sama kayak Lisa, Mas. Gak bisa masak, taunya cuma makan doang. Hehehe." Timpal Lisa.
Erkan tersenyum. "Gak papa, masih ada Bibik kok."
"Tuh tahu, pokoknya jangan suruh-suruh mantu kesayangan Mama ini kerja berat." Pinta Mama Dinar menekan kata 'mantu kesayangan' karena saat itu Zia lewat. Sepertinya atmosfer mereka memang selalu berbeda setiap bertatap muka.
"Cih, mantu kesayangan konon. Paling juga gak lama dia ngelunjak." Gerutu Zia sambil berlalu pergi.
Lisa syok dong mendengar itu.
"Udah, gak usah di denger mantu durhaka itu. Gak ada sopan-sopannya sama orang tua. Yuk makan. Panggil Bunda kamu, Erkan."
"Iya, Ma."
Dan pagi itu rumah Erkan pun dipenuhi candaan dan tawa bahagia. Tentu saja Zia tidak termasuk karena wanita itu terus mengurung diri di kamar.
****
"Mama, Ray pengen es krim." Rengek Rayden yang langsung duduk di pangkuan Lisa yang tengah asik menonton televisi di kamar.
"Es krim?"
Rayden mengangguk antusias.
"Stok di kulkas habis kayaknya, sayang. Lagian Mas sengaja mau kosongin. Kita kan gak tinggal di sini lagi. Beli aja di warung Buk Een." Ujar Erkan.
"Ya udah, ayok." Ajak Lisa.
"Yey." Sorak Rayden kegirangan. Lisa yang melihat itu tersenyum geli dan mengacak rambut Rayden gemas.
"Nih uangnya." Erkan memberikan uang pecahan lima puluh ribu pada Lisa.
__ADS_1
"Banyak pisan, Mas? Lisa boleh jajan juga kan?" Tanya Lisa sambil cengengesan.
"Terserah kamu, mau jajan kek apa kek. Asal jangan sampe kurang aja uangnya."
Lisa terkekeh lucu. "Emangnya Lisa teh mau beli apa lima puluh ribu masih kurang?"
"Udah ah sana pergi. Kasian Ray udah manyun aja tuh." Ujar Erkan melirik putranya yang sudah menunggu Lisa di depan pintu kamar.
Lisa pun mengangguk dan langsung beranjak keluar sambil menuntun Rayden.
"Wih... mau kemana nih?" Tanya Elkan yang kebetulan baru keluar dari kamar.
"Jajan, Uncle." Jawab Rayden.
"Jajan? Boleh ikut gak nih? Bosen Uncle di rumah terus."
"Boleh kok. Boleh kan, Ma?" Tanya Rayden pada Lisa.
"Boleh, emang Bang Elkan beneran mau jajan?"
Elkan terseyum tipis. "Enggak sih, pengan jalan-jalan aja. Belum pernah soalnya jalan ke depan."
"Ya udah atuh hayuk." Ajak Lisa kembali melanjutkan langkahnya. Elkan pun mengekorinya di belakang.
Sesampainya di warung, Rayden pun langsung berlari ke arah freezer. "Mama, Ray mau yang ini." Tunjuknya. Lisa pun membantu Rayden mengambilnya.
"Wah... bawa pengawal segala Neng?" Tanya Buk Een saat melihat Lisa datang bersama Elkan.
Elkan tersenyum ramah. "Cuma pengen jalan-jalan aja, Buk."
"Sok atuh, kasep. Bebas di sini mah, jalannya gak dipager." Canda Buk Een.
"Bisa aja si Ibu."
Lisa sama sekali tidak menanggapi, ia pun mulai memilih beberapa jajanan untuk cemilan di kamar.
"Lah, masih suka jajan juga kamu, Sa?" Tanya Elkan duduk di kursi.
"Neng Lisa mah kalau udah di kampung tiap hari jajan, Mas." Sambar Buk Een. Sedangkan Lisa malah tertawa kecil.
"Uncle bukain." Rengek Rayden pada Elkan.
"Sejuk ya kalau di desa, padahal ini kan udah mau siang." Ujar Elkan sambil membukakan penutup es krim Rayden.
"Iya atuh, Mas. Di sini masih asri, sering-sering atuh main ke sini."
Elkan tersenyum. "Iya deh, tar saya balik lagi kalau libur. Lagian rumah adek saya juga kosong."
"Lah, emang Neng Lisa mau pindah ke kota nya?" Tanya Buk Een yang sepertinya kaget.
"Iya, Buk. Kasian soalnya Mas Erkan kalau bolak-balik terus. Kerja soalnya. Kalau di kota kan deket rumah sama kantor." Jawab Lisa ikut duduk di sebelah Elkan sambil membuka bungkus premen lolipop.
"Satu dong." Tanpa persetujuan Elkan langsung menyambar premen punya Lisa.
"Ih, main comot aja." Kesal Lisa. Sedangkan si pelaku cuma tersenyum tanpa dosa.
"Duh... pasti kita teh jarang ketemu lagi kan, Neng? Baru aja pulang dari kota kemaren, udah mau balik lagi aja ke sana."
Lisa tersenyum. "Namanya juga udah nikah, Buk. Ya harus ikut suami."
"Iya, sih. Jangan lupa balik, Neng."
"Pasti atuh, Buk." Jawab Lisa. "Berapa Buk?"
Buk Een pun terlihat sedang menghitung. "Dua belas ribu aja, Neng."
"Saya ambil tiga ribu lagi deh biar genap lima belas." Lisa pun bangun dan mengambil jajanan lagi. Kemudian langsung membayarnya.
"Sa, mau premennya lagi dong." Pinta Elkan tanpa malu.
"Huh, tadi aja ledekin Lisa. Gak taunya dia juga doyan." Ledek Lisa yang kemudian melempar premen pada Elkan. Refleks Elkan pun menangkapnya.
"Makasih, Neng." Ucap Elkan yang berhasil mendapat pelototan dari Lisa karena memanggilnya Neng.
__ADS_1
Buk Een tersenyum senang melihat kekompakan mereka. "Duh... seneng liatnya kalau kompak gini. Jarang-jarang loh iparan kompak gini."
"Kita kan udah jadi sodara, Buk. Udah semestinya akur. Saya mah seneng punya adek cewek. Adek yang bungsu aja sering saya gangguin. Sekarang nambah lagi satu. Untung Erkan dapat istrinya kocak, jadi bisa di ajak becanda." Jelas Elkan panjang lebar seraya merangkul Rayden yang anteng dengan es krimnya.
Buk Een tertawa renyah. "Terus istri Masnya kok gak di ajak sih? Padahal saya teh pengen kenalan. Kemaren belum sempat kenalan udah hilang aja istrinya."
Lisa dan Elkan pun saling melempar pandangan.
"Istri saya mah pemalu." Jawab Elkan sekenanya.
Pemalu apanya? Yang ada buat rusuh kalau di bawa. Imbuh Elkan dalam hati.
Lisa tertawa geli mendengarnya. Dan itu membuat Buk Een dan Elkan kaget. "Duh... kok sakit perut ya?"
"Kenapa ketawa, Neng?" Tanya Buk Een.
"Udah stres kayaknya dia, Buk. Yuk kita balik sebelum gilanya nular." Ajak Elkan langsung membopong Rayden.
"Aaa... Ray mau jalan sama Mama." Teriak Rayden. Lisa yang melihat itu langsung menggeleng.
"Nih kembaliannya, Neng. Lucu juga Abang iparnya. Mana kasep lagi, sama kayak Pak Erkan."
Lisa mengambil kembaliannya dan memasukkan ke saku celananya. "Namanya juga satu cetakan, Buk."
"Iya juga sih." Buk Een pun tertawa geli.
"Ya udah, saya teh pulang dulu."
"Sok mangga. Hatur nuhun nya, Neng."
"Sami-sami, Buk." Lisa pun langsung berlari menyusul Elkan dan Rayden.
"Tunggu atuh, Bang." Lisa pun mengimbangi langkah Elkan. Saat mereka hampir tiba di dekat gerbang, kaki Lisa tiba-tiba saja tersandung batu dan hampir tersungkur. Bertuntung Elkan langsung menangkapnya. Jantung Lisa hampir copot karena dipikirnya akan nyungseb ke tanah. Bisa habis mukanya kalau beneran jatuh.
"Ya Allah, Sa. Hati-hati, dong." Ucap Elkan kaget.
"Dasar pelakor!" Teriak Zia yang berhasil membuat keduanya kaget. Sontak Lisa pun langsung menarik diri. Dan tanpa di duga dan disangka wanita itu mendekati Lisa, lalu menjambak rambutnya.
"Aaa... lepasin." Teriak Lisa kesakitan. Belum juga kaget tadi hilang sekarang Lisa sudah dikagetkan dengan serangan dari Zia.
"Zia, stop!" Bentak Elkan berusaha memisahkan istrinya dari Lisa. Sayangnya Zia menjambak rambut Lisa begitu kuat.
"Mama! Jangan sakitin Mama Ray, Tante jahat." Rayden pun ikut nimbrung dan memukul-mukul kaki Zia karena tidak terima sang Mama disakiti.
"Dasar perempuan gatel! Udah punya suami masih aja ganggu suami orang." Sarkas Zia terus menjambak rambut Lisa. Lisa pun berusaha melawan dengan menarik rambut Zia. "Aaa... sialan."
"Lepasin." Bentak Lisa menarik rembut Zia tidak kalah kuat.
Mendengar keributan di luar, Erkan dan yang lain pun langsung bergegas keluar. Dan betapa kagetnya mereka saat melihat adegan mengerikan itu. Sontak Erkan pun menghampiri mereka.
"Stop, Zia!" Teriak Erkan. Sontak Zia pun menghentikan aksinya. Erkan pun menarik Lisa dalam dekapannya.
"Kamu gila, Zia?" Bentak Erkan seraya memeluk Lisa yang sudah menangis sesegukan.
Tidak lama dari itu Mamah, Abah dan Asep pun datang. "Ada apa ini?" Tanya Abah.
Zia mendengus sebal. "Lain kali kalau punya anak itu di ajarin, jangan suka gatal sama suami orang."
"Zia!" Bentak Elkan, Erkan dan Mama Dinar kompak.
"Mas, Lisa gak gitu. Tadi itu...."
"Mas percaya, sayang. Ayo masuk." Sela Erkan langsung membawa istrinya masuk. Dan sebelum itu Erkan sempat melayangkan tatapan tak bersahabat pada Zia. Dan itu membuat Zia kesal setengah mati.
Mama Dinar menatap orang tua Lisa tak enak. "Buk, Pak, yuk masuk dulu. Kita omongin di dalam." Ajak Mama Dinar sesopan mungkin.
Mamah dan Abah pun mengangguk.
"Elkan! Bawa istri kamu masuk. Malu-maluin aja." Ketus Mama Dinar yang langsung beranjak masuk. Kemudian disusul oleh yang lainnya. Hanya ada Elkan dan Zia sekarang di sana.
"Kamu kelewatan, Zia. Habis ini kita bicara empat mata." Tegas Elkan yang langsung meninggalkan istrinya itu.
"Aaaa.... sialan!" Umpat Zia yang kemudian menyusul suaminya.
__ADS_1
Tbc....
Duh... kira-kira enaknya diapain ya Nenek sihir itu? Kita sate aja yuk...