
Lisa menggenggam tangan Erkan dengan erat, hari ini adalah hari terpenting untuk mereka berdua. Di mana kelima bayinya akan segera lahir ke dunia. Menghiasi hari-hari mereka tentunya.
Lisa terbaring di brankar, hanya dalam hitungan menit operasi caesar akan segera dilaksanakan. Terlihat jelas ketegangan diwajahnya. Erkan yang sadar akan hal itu pun memeluk dan mengecup kening Lisa dengan mesra. "Jangan takut, Mas selalu ada di sini."
Lisa mengangguk meski ia sangat ketakutan saat ini. Dirematnya punggung Erkan dengan erat. "Lisa minta maaf ya, Mas. Mungkin selama ini Lisa selalu membuat Mas kesel, nyusahin kamu terus."
"Enggak, sayang. Kamu gak pernah nyusahin Mas." Erkan kembali memberikan kecupan di kening Lisa.
"Mas, Lisa deg-degan. Sakit gak sih?"
Erkan terdiam sejenak. "Mas gak tahu, sayang. Katanya sih sakit, Mas kan gak pernah melahirkan."
Lisa terkekeh lucu. "Bener juga ya? Ngapain Lisa teh tanya sama kamu."
Erkan menatap mata Lisa begitu dalam. "I love you."
Lisa semakin mengembangkan senyuman. "Me too. Lisa gak sabar pengen liat anak-anak kita. Kira-kira mirip siapa ya mereka? Pengennya sih ada yang mirip Ray."
Erkan tersenyum, diusapnya kepala Lisa dengan lembut. "Gak masalah mereka mirip kamu, Mas atau pun Ray. Yang penting kamunya sehat, mereka juga lahir dengan selamat."
"Iya, Mas. Tapi sayang Lisa teh gak tahu rasanya mules sebelum melahirkan kayak gimana." Keluh Lisa. Ya, Lisa memang harus melakukan operasi diusia kandungan yang baru memasuki delapan bulan sesuai anjuran dokter dan kesepakatan keluarga besar, karena jumlah bayi dalam perut Lisa tidak memungkinkan lagi untuk menunggu sampai usia sembilan bulan penuh. Bahkan beberapa kali Lisa mengeluh sesak dan sakit dalam waktu bersamaan.
"Gak papa, kamu dan yang lain sama-sama seorang Ibu yang berjuang buat lahirin anak. Mas percaya kamu bisa melewati semuanya. Setiap Ibu punya cerita masing-masing saat melahirkan anak-anaknya."
Lisa mengangguk. "Duh... cobak aja Mamah dan Mama bisa masuk. Pasti seru kan?"
"Ck, seru apanya? Yang ada tambah tegang kalau mereka ada di sini. Kayak gak tahu kelakuan mereka berdua aja, heboh gak karuan."
Lisa terkekeh lucu. "Bener juga kamu, Mas. Kok lama ya dokternya? Gak sabar mau liat dedek bayinya. Pasti gemesin kayak boneka kan?"
"Hm, yang jelas pasti lucu kayak kamu." Erkan mengecup bibir Lisa sekilas. "Makasih, sayang. Sejak pertama kita bertemu. Kamu selalu ngasih berbagai kejutan dan kebahagian dalam diri Mas. Mas bersyukur dikasih istri secatik dan sebaik kamu. Mas selalu berdoa kita bisa bersama terus sampai anak-anak dan cucu-cucu kita tumbuh dewasa."
"Aamiin... Lisa juga selalu berdoa semoga punya banyak waktu buat berdampingan sama kamu, Mas. Terima kasih juga sudah menjadi suami dan Ayah yang siaga." Lisa membalas kecupan dibibir Erkan. "We love you, Papa."
"Me too." Erkan mengusap perut buncit Lisa. Lalu mereka pun saling mengunci pandangan dan tersenyum penuh kebahagian, menanti buah hati yang sebentar lagi akan meramaikan rumah dengan suara tangisan mereka.
Beberapa jam berikutnya, operasi pun berjalan dengan lancar. Lisa dan kelima bayi kembarnya pun selamat dan dalam keadaan sehat meski tubuh mereka terbilang kecil.
"Selamat, Pak. Empat jagoan dan satu bidadari." Kata sang dokter. Erkan pun menangis penuh haru. Apa lagi saat mendengar suara tangisan anak-anaknya yang saling bersahutan. Lisa sendiri masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat anestesi.
Erkan menatap kelima anaknya bergantian. Wajah mereka belum bisa diprediksi mirip siapa karena masih sangat merah. "Terima kasih, Dok." Ucapnya dengan tatapan penuh haru.
Dokter itu tersenyum ramah. "Kami akan membawa bayi-bayi bapak ke ruang NICU untuk mendapat perawatan khusus. Sedangkan si Ibu akan kami pindahkan ke ruang transisi."
Erkan mengangguk. "Sekali lagi terima kasih, dok."
"Sama-sama, Pak."
Erkan pun memusatkan perhatian pada istrinya yang masih terlelap. Dikecupnya kening Lisa dengan lembut. "Terima kasih, sayang."
****
Lisa tak henti-hentinya menangis sejak dirinya siuman. Rasa bahagia bercampur haru membuat air matanya tak dapat terbendung lagi. Erkan dan keluarga besar yang melihat itu sampai ikut terharu. Bahkan Mama Dinar dan Mamah Endang ikut menangis.
Sejak tadi Erkan terus memeluknya tanpa kata. Benar-benar bingung harus bicara apa.
"Huhu... sekarang Lisa udah jadi Mama beneran, Mas. Masih gak percaya, hampir enam tahun Lisa nunggu momen kayak gini, Mas." Isak Lisa terdengar parau dalam dekapan Erkan.
"Iya, sayang." Erkan mengecup pucuk kepala Lisa dengan penuh cinta.
"Mas." Lisa mendongak.
"Apa, sayang?" Erkan menatap Lisa lekat.
"Laper." Rengek Lisa yang berhasil membuat suasana haru menjadi lucu.
__ADS_1
"Ish, orang udah kebawa suasana kamu mah malah bikin lucu. Jadi dari tadi teh nangis karena lapar?" Protes Mamah seraya menghapus jejak air matanya dengan tisue.
Lisa menggeleng. "Enggak, Mah. Eneng teh beneran terharu. Tapi lapar juga iya? Emang Eneng lama ya tidurnya?"
"Lumayan, hampir seharian." Jawab Erkan.
"Huhu... pengen liat baby twins," rengeknya.
"Tunggu kondisi kamu baikan, anak-anak masih harus menjalani perawatan. Kata dokter juga butuh waktu buat bawa mereka pulang. Mereka terbilang lahir prematur." Jelas Erkan.
"Terus aku gak bisa nenenin dong kalau gitu? Kalau mereka lama di rumah sakit, kering atuh Mas asinya." Keluh Lisa.
"Jangan takut, kamu masih bisa kasih asi kok buat mereka. Dipompa aja, asi pertama itu penting banget loh buat bayi. Dulu pas Elkan lahir juga prematur. Mama masih bisa nyusuin dia kok, asal rajin mompanya aja supaya gak kering." Jelas Mama Dinar.
Lisa yang mendengar itu bernapas lega. "Syukurlah, Lisa pikir gak bisa."
Mama tersenyum. "Bisa kok, asal kamunya jangan panikan dan stress. Supaya asinya banyak. Lima loh yang harus kamu susui."
Lisa mengangguk. "Lisa mau jaga pola makan, Ma. Supaya asinya keluar lancar. Mas, laper pengen disuapin."
Erkan tersenyum geli, ditoelnya hidung Lisa dengan lembut. "Masih aja manja."
"Abis mau manja sama siapa lagi kalau bukan sama kamu, Mas?"
"Iya juga sih." Erkan menganbil makanan, lalu mulai menyuapi istrinya. "Idung kamu merah banget, mampet kayaknya ya?" Tanya Erkan menyentuh ujung hidung istrinya.
"Heem, agak mampet." Jawab Lisa dengan suara sumbang.
"Makanya jangan nangis terus."
"Abis terlalu seneng, Mas." Lisa pun kembali menerima suapan dari suaminya. Lalu mengunyahnya perlahan. "Mas, kalau bekas operasinya membekas gimana? Pasti Lisa teh jelek."
Erkan tersenyum. "Apa hubungannya belas jahitan sama jelek?"
"Justru bekas luka itu akan terus mengingatkan Mas jika perjuangan kamu itu gak main-main."
Lisa mengangguk sambil tersenyum manis. Namun, ia meringis kecil saat melakukan pergerakan kecil. "Ssstt... agak perih, pengaruh biusnya udah mau ilang kayaknya."
"Makanya kamu gak boleh banyak gerak, lukanya masih basah banget." Sahut Mama Dinar.
"Nanti Mamah buatin jamu, supaya lukanya dalemnya cepet kering." Timpal Mamah Endang.
Lisa pun mengangguk. "Oh iya, Ray mana?"
"Lagi liat adek-adeknya kali sama Abah dan Papa kamu. Dari tadi ngerek terus pengen liat dedek bayi."
Lisa menatap Erkan. "Kayaknya Ray bakal seneng kalau adek-adeknya pulang ke rumah. Pas Yuna lahir aja dia ribut terus pengen adek bayi."
Yuna adalah anak pertama Mona dan Daniel, yang lahir beberapa bulan yang lalu.
"Bukan lagi, Mas rasa dia gak akan ninggalin kamar adek-adeknya."
"Gak sabar liat rumah rame sama ocehan mereka. Mas, anak-anak mirip siapa sih? Sedih banget belum bisa liat mereka." Lisa memasang wajah sedih.
"Tar kalau ada dokter kita minta izin buat liat anak-anak. Mereka juga pasti pengen liat Mamanya."
Lisa mengangguk.
"Mama rasa anak kalian yang cewek mirip banget sama Ray. Idungnya, matanya, bahkan bibirnya juga. Kalau yang lain kayaknya lebih mirip Lisa." Ujar Mama Dinar.
"Beneran, Ma? Huhu... pengen liat sekarang, Mas." Rengek Lisa menatap Erkan penuh harap.
"Sabar, sayang. Ini makannya habisin dulu." Erkan kembali menyuapi istrinya.
"Mas cepetan minta izin ke doker ya? Lisa gak sabar mau liat anak-anak." Rengek Lisa lagi.
__ADS_1
"Iya, sayang. Setelah ini Mas temuin dokter dulu."
Lisa tersenyum senang.
Setelah mendapat izin dari dokter, Erkan pun membawa Lisa ke ruangan di mana anak-anaknya dirawat. Air mata Lisa kembali luruh saat melihat anak-anaknya berada di dalam incubator. Bahkan ukuran mereka sangat kecil juga tiga diantaranya memakai alat bantu pernafasan.
"Rata-rata berat mereka cuma sekilo. Yang agak gede yang cewek." Kata Erkan memberi informasi pada istrinya.
Lisa menatap anak-anaknya bergantian. "Mereka kecil banget, Mas. Lisa jadi gak tega."
"Kata dokter pelan-pelan mereka bakal tumbuh normal kok. Kita doakan mereka sehat-sehat sampai dewasa."
"Aamiin." Lisa tak henti-hentinya menitikan air mata. "Kemaren mereka masih gerak-gerak di perut Lisa, Mas. Sekarang udah di luar aja. Kayak mimpi."
Erkan tersenyum, dikecupnya kepala Lisa dengan lembut. "Kamu hebat tahu. Bisa ngeluarin lima sekaligus."
"Kan buah sabar kita, Mas. Lima tahun kita nunggu, ibarat nabung satu tahun satu. Pas tabungannya dibongkar, langsung dapat lima." Kata Lisa tersenyum penuh haru.
Erkan tertawa kecil.
"Makasih ya, Mas. Selama ini kamu gak pernah nuntut apa-apa dari Lisa. Bahkan kamu selalu dukung Lisa apa pun kondisinya. Bahkan disaat Lisa terpuruk sekali pun, kamu masih setia menggenggam tangan Lisa." Imbuh Lisa berucap dengan tulus.
"Mas itu tulus cinta sama kamu, Sa. Apa pun yang terjadi, gimana pun kondisi kamu, Mas akan selalu ada buat kamu." Erkan memeluk Lisa dari belakang seraya menyandarkan dagunya dibahu sang istri. "Setelah ini kita masih harus berjuang sama-sama buat besarin mereka."
Lisa mengangguk. "Kayaknya harus lebih banyak sabarnya, pasti ngerawat lima anak sekaligus gak semudah yang dibayangin."
"Akan mudah kalau kerja sama kita bagus. Jangan cemas, Mas pasti bantu kamu rawat mereka."
"Harus, mereka hadir juga kan ulah kamu, Mas."
Erkan tertawa lagi. "Ulah kita berdua, sayang." Ralatnya.
"Ck, masih aja gak mau ngalah."
Erkan tersenyum. "Mas seneng banget, Sa. Rasanya kebahagian kita makin lengkap deh."
"Lisa juga, Mas. Rasanya bahagia banget."
"Tar kita buat lima lagi ya? Biar rumah makin rame."
Lisa kaget mendengarnya. "Ih... luka diperut Lisa aja belum kering, Mas. Kamu udah bahas ke sana aja. Enggak dulu ah, tunggu sampe mereka gede dulu. Mas kira gak sakit dibelek huh?"
Erkan tersenyum lucu. "Mas kan cuma mengusulkan. Mana tahu kamu tertarik."
"Mas!"
Erkan tertawa kecil. "Gemesin, istri siapa sih?"
"Entah," ketus Lisa yang berhasil menggelitik hati Erkan.
"Makin cinta deh."
"Hm."
"Kok cuma hm sih? Gak mau balas?"
"Gak perlu balas pun Lisa rasa Mas tahu jawabannya." Lisa tersenyum geli.
"Awas aja, kalau udah sehat jangan harap bisa bangun dari ranjang."
"Siapa takut?" Tantang Lisa.
"Dih... nantang dia. Oke, kita liat kamu bakal minta ampun atau enggak?" Erkan tersenyum penuh arti.
"Oke, liat aja nanti." Lisa pun menyunggingkan senyuman penuh arti.
__ADS_1