SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Janda Dadakan


__ADS_3

Setelah salat subuh, Lisa pun langsung beberes untuk pulang kampung. Tidak lama Rayden pun masuk, membuat Lisa menoleh.


"Hai, sayang." Sapanya dengan senyuman ramah.


"Mama, padahal Ray mau ikut. Tapi ujian," lirih Rayden menghampiri Lisa.


Lisa mengusap kepala putranya itu. Lalu membawanya dalam pelukan. "Mama gak akan lama kok, belajar yang rajin ya? Mama sayang, Ray."


"Ray juga sayang Mama. Mama jangan lama-lama di sana." Rayden mulai menangis. Dan itu berhasil mengundang tawa Lisa.


"Jangan nangis atuh kasep. Mama cuma berapa hari di sana. Mama janji balik lagi. Jangan nangis, kan Ray udah besar. Udah kelas tiga sd juga."


Rayden mengeratkan pelukannya. "Ray pasti kangen Mama, gak ada lagi yang bangunin Ray salat subuh."


Lisa tertawa lagi. "Kan ada Papa, sayang."


"Papa mah suka lupa, yang ada Ray telat ke sekolah." Keluh Rayden.


"Enak aja, kamunya aja yang kebluk. Udah ayok, keburu siang. Mas ada meeting hari ini." Ajak Erkan berjalan keluar membawa tas milik sang istri.


"Mama pergi ya. Jangan bandel. Nanti Bibik yang bakal bangunin Ray sama siapin baju sekolah. Kalau mau bawa bekel bilang aja sama bibik." Lisa mengecup kening Rayden dengan penuh cinta.


"Mama, Ray janji pas Mama pulang nanti Ray ikut jemput Mama."


"Iya, sayang. Mama pergi ya? Ingat, jangan bandel."


"Iya, Mama sayang." Rayden tersenyum begitu manis. Lalu keduanya pun beranjak keluar.


"Dadah...." seru Rayden saat mobil yang Papanya kemudikan meninggalkan pekarangan rumah. Lisa yang melihat itu cuma tersenyum sambil melambaikan tangan.


Sepanjang perjalanan Lisa lebih banyak diam dan termenung. Erkan yang melihat itu merasa iba. Bahkan ia seolah kehilangan sosok istrinya yang dulu, Lisa yang selalu ceria dan cerewet. Ternyata benar, sekuat apa pun hati seseorang. Jika berada di lingkungan toxic, maka hati itu akan lemah juga. Sama halnya seperti Lisa, ia sudah sering mendapat tekanan dari lingkungannya. Sehingga merubah sifat cerianya menjadi pemurung seperti saat ini.


Erkan tahu istrinya sedang memikul beban berat. Ia tahu perasaan istrinya. Karena itu ia tak pernah membahas masalah anak saat bersama sang istri. Erkan percaya suatu hari nanti mereka akan dikaruniai seorang anak dari rahim Lisa. Mungkin tidak sekarang, tetapi suatu hari nanti. Erkan sangat yakin akan hal itu.


"Sayang, nanti kita video callan terus ya? Mas gak biasa jauhan sama kamu." Erkan mengusap pipi istrinya.


Lisa tersenyum yang diiringi anggukan kecil.


"Sebenarnya Mas pengen juga nginep di sana. Tapi mau gimana lagi, kerjaan Mas lagi numpuk banget. Kamu tahu sendiri kalau lagi akhir bulan." Oceh Erkan berusaha mengalihkan pikiran istrinya.


"Lisa paham kok, Mas. Maaf ya Lisa malah nyusahin kamu. Padahal kamu ada meeting, tapi harus diundur karena ngantar Lisa ke kampung." Lisa menatap Erkan dengan perasaan bersalah. Perasaannya menjadi sensitif sekarang.


Erkan tersenyum. "Gak masalah, asal kamu seneng. Lagian lumayan lepas jenuh, di kantor terus juga bikin kepala mumet."


Lisa tertawa kecil. "Makasih ya, Mas. Mas teh selalu ngertiin Lisa. Maaf kalau Lisa belum bisa jadi istri yang baik."


"Siapa bilang kamu belum jadi istri yang baik? Justru kamu itu hebat, buktinya Rayden sekarang jadi anak pinter berkat didikan kamu. Dia juara satu terus. Rumah juga selalu tertata sejak ada kamu. Pokoknya kamu itu istri terbaik di dunia."


Lisa terkekeh lucu. "Bisa aja kamu, Mas. I love you." Sebuah kecupan Lisa berikan dipipi Erkan.


"Kok pipi doang? Yang lainnya enggak?" Goda Erkan melirik Lisa sekilas.


"Kamunya lagi nyetir, jangan macem-macem ah."


"Bercanda, sayang. Abis kamunya bikin gemes terus, pengen cium mulu."


"Ish... pengennya kamu itu mah."

__ADS_1


Erkan tertawa lucu. Kemudian mereka pun kembali terdiam. Dan beberapa jam kemudian mereka sampai di depan rumah orang tua Lisa.


"Mampir dulu, Mas. Temuin Abah sama Mamah." Ajak Lisa.


"Iya, sayang."


Keduanya pun turun bersamaan. Namun, Lisa masuk duluan sedangkan Erkan mengambil barang bawaan istrinya. Juga sedikit oleh-oleh. Setelah itu ia pun menyusul Lisa masuk.


Mamah yang sudah tahu Lisa akan datang pun menyambutnya dengan hangat.


"Loh, si kasep gak diajak?"


"Ray ujian, Mah." Jawab Erkan meletakan barang bawaanya di lantai, lalu mencium tangan sang Mamah mertua. "Abah sama A Asep mana?"


"Baru aja pergi, katanya sih mau beli bibit ikan."


"Oh, iya gak papa. Ini... Erkan kayaknya gak bisa lama, Mah. Ada meeting soalnya." Ujar Erkan yang berhasil membuat Mamah kaget.


"Loh, Mamah kira mau nginep juga. Jadi cuma Lisa aja yang mau nginep teh?"


"Iya, Mah. Maaf, Erkan belum bisa ikutan karena kerjaan di kantor lagi numpuk. Jadi Erkan mau titip Lisa sebentar."


"Ck, gak usah dititip juga Mamah mah pasti jaga anak Mamah dengan baik. Kangen soalnya, hampir sebulan gak ketemu. Oh iya, gak mau sarapan dulu?"


Lisa tersenyum sambil bergelayut manja di lengan Mamahnya itu.


"Gak usah, Mah. Buru-buru soalnya. Titip istri Erkan pokoknya." Erkan tersenyum, kemudian mengalihkan perhatian pada sang istri. "Mas pulang ya, sayang. Jangan nakal di sini."


Lisa mengangguk, diraihnya tangan Erkan dan dikecup lembut. "Hati-hati di jalan, Mas."


"Iya, sayang. Jangan mikirin apa-apa, bawa happy aja. Dengar?"


"Waalaikumsalam." Jawab Lisa dan Mamah kompak. Kemudian Erkan pun langsung beranjak pergi.


Sepeninggalan Erkan. Mamah menatap putrinya lekat. "Ayo sarapan, Teh Devi udah nunggu di ruang makan. Lagi nyuapin Alvin."


Lisa mengangguk antusias. Lalu kedunya bergegas ke ruang makan.


"Sa." Sapa Teh Devi memberikan senyuman manisnya. Lisa pun membalas senyumannya dan menyalami sang Kakak ipar. Kemudian mata Lisa beralih pada si kecil Alvin yang sedang disuapi oleh Devi. Alvin sendiri merupakan anak pertama Asep dan Devi yang usianya masih dua tahun. Dan saat ini Devi juga sedang hamil anak keduanya.


"Duh... makin cubby aja pipinya si Ujang. Padahal cuma sebulan Bibik teh gak ke sini." Lisa mencubit pelan pipi gembul Alvin. Anak itu pun tertawa bahagia.


"Gimana gak cubby, Sa. Kerjaanya makan terus sejak Teteh sapih." Ujar Teh Devi seraya menyapu bibir Alvin yang belepotan.


Lisa pun duduk di sebelah Devi. Menatap si mungil Alvin dengan senyuman penuh arti.


Andai aku teh udah hamil, pasti seneng punya anak gemesin kayak Alvin. Ah... kenapa yah orang gampang banget hamil? Bahkan Teh Devi udah hamil lagi. Sedangkan aku teh sampe sekarang belum ngisi juga. Pasti Mas Erkan juga kecewa banget.


Mamah yang melihat putrinya melamun pun menghela napas berat. "Neng, sok atuh sarapan. Kok malah bengong."


Lisa terkejut. "Ah, iyah." Dengan malas Lisa menuang nasi ke dalam piring.


Mamah dan Teh Devi pun saling melempar pandangan. Tentu saja mereka paham apa yang sedang Lisa rasakan saat ini. Akan tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan semangat pada Lisa.


"Sok atuh di makan, Teteh tadi masak sayur asem sama sambel terasi kesukaan kamu." Kata Teh Devi ingin memperbaiki suasana.


"Iya, dari tadi juga itu yang Eneng liat. Sayur asemnya bikin meleleh. Udah manggil-manggil kayaknya." Gurau Lisa mencoba menghibur diri sendiri.

__ADS_1


"Ya udah atuh sok di makan. Jangan cuma diliatin." Titah Mamah.


Lisa pun mengangguk. Lalu mereka pun makan dengan suasana tenang.


Setelah makan, mereka pun berkumpul di ruang keluarga. Menonton sambil sesekali mengobrol.


"Teh, gimana sih rasanya hamil? Katanya mual terus ya?"


Teh Devi mengangguk. "Iyah, tiap pagi utah uger."


Lisa tersenyum. "Duh... gak nyangka Alvin bakal punya dedek secepat ini."


"Tahu nih, padahal mah Teteh teh udah kb. Masih aja jebol."


"Namanya juga rezeki, mana boleh nolak." Sambar Mamah.


"Eneng juga pengen rasain hamil. Tapi sampe sekarang Allah teh belum kasih kepercayaan itu. Apa Eneng teh gak pantes yah jadi Mamah?"


"Hus... ulah sok ngomong kitu atuh Neng. Gak baik. Belum waktunya aja, ada saatnya kamu juga hamil. Mamah gak suka ah kamu teh ngomong gituh." Tegur Mamah.


Lisa menggigit ujung bibirnya.


Teh Devi menghela napas berat. "Sa, kamu teh jangan patah semangat gitu atuh. Bukan kamu aja yang lama nunggu buat punya anak. Teh Dina aja tujuh taun baru bisa punya anak. Terus Teh Wiwin, sepuluh taun nunggu-nunggu, eh sekarang malah lahirin anak kembar. Intinya mah rezeki orang itu gak ada yang sama. Ada yang cepet, baru nikah langsung punya anak kayak Teteh. Ada juga yang lama, Sa. Malah di luar sana teh ada yang lebih lama lagi sampe harus buat bayi tabung."


Lisa terdiam. Apa yang Teh Devi katakan memang benar. Namun, tetap saja Lisa minder.


"Ck, gini aja deh. Besok Mamah bawa kamu ke Mbah Inem. Tukang urut legendaris di kampung sebelah. Katanya beliau teh bisa tahu masalah kesuburan. Bisa ngobatin juga. Biar kamu teh gak mikir macem-macem. Padahal mah dokter juga udah bilang kamu teh sehat. Kamu na nu teu sabaran." Kesel Mamah.


Lisa mengangguk pasrah. Ia juga memang ingin tahu ada masalah apa sebenarnya dengan keseburan dirinya sampai detik ini belum bisa hamil.


****


Sekitar jam sembilanan, Lisa dan Teh Devi pun jalan-jalan keliling lorong buat cari udara segar. Dan Lisa pun terlihat senang sembari mendorong stroller Alvin.


Di penghujung lorong, mareka pun bertemu kelempok ibu-ibu yang lagi berkumpul.


"Wah... kompak pisan atuh. Mau pada ke mana, Neng?" Tanya salah satu Ibu-ibu.


"Cuma jalan-jalan, Buk. Udah lama saya teh gak keliling." Jawab Lisa.


Karena Lisa yang menjawab, Ibu-ibu itu pun mulai berbisik-bisik aneh. Sontak Lisa dan Teh Devi saling memandang.


"Neng, beneran ya udah cerai sama Pak Erkan?" Celetuk salah seorang dari mereka.


"Eh? Dapet gosip dari mana, Buk?" Tanya Lisa kaget.


"Yah... adalah yang bilang. Katanya tadi pagi Eneng teh dianterin sama Pak Erkan. Dicerei karena gak hamil-hamil ya, Nenng?"


"Astagfirullah, Buk. Punya mulut teh meni teu sopan ih." Sahut Teh Devi tidak terima.


"Mungkin aja jadi janda dadakan. Kayak anak sebelah sana tuh. Dicerei karena gak hamil-hamil. Mandul katanya."


Lisa menghela napas berat. Kemudian tersenyum lebar. "Alhamdulillah status saya teh masih istri resmi Mas Erkan. Bukan janda dadakan. Soal na Mas Erkan teh gak permasalahin saya mandul atau enggak. Kita nikah memang buat saling melengkapi, Ibu-ibu. Bukan cuma fokus bikin anak doang. Hayuk ibu-ibu, kami teh pamit. Masih pagi loh, Buk. Jangan ngerumpi terus. Kasian suami belum sarapan. Punten."


Ibu-ibu itu pun mendadak diam.


Lisa pun melanjutkan langkahnya yang disusul oleh Teh Devi. "Sa, keren ih. Diem semua mereka."

__ADS_1


Lisa tertawa. "Cuma ngomong apa adanya. Enak aja ngatain aku teh janda dadakan. Orang suami aku lagi kerja juga." Keduanya pun tertawa bersama.


Tbc....


__ADS_2