
"Sayang." Teriak Erkan saat memasuki kamarnya. Sontak Lisa yang sedang mengobati bengkak di pipinya pun terperanjat kaget. "Mas, kok udah pulang?"
Erkan menghampiri Lisa dengan tatapan yang sulit di artikan. Lisa pun bangkit dan menatap Erkan bingung.
"Mas....ssstt" ucapan Lisa tertahan karena Erkan menyentuh pipinya yang bengkak.
"Kenapa kamu gak bilang Zia nyerang kamu huh?" Kesal Erkan dengan tatapan marah. Tidak, Erkan sama sekali tidak marah pada Lisa. Ia marah pada wanita yang sudah berani menyakiti istri tercintanya. "Vio yang bilang, kenapa kamu diam aja huh?"
Lisa tersenyum. "Mas, aku gak papa loh. Besok juga udah sembuh."
"Gak apa-apa gimana? Pipi kamu bengkak kayak gini. Mas gak terima. Vio udah ceritain semuanya. Ayo ke rumah Mama sekarang." Erkan pun langsung menarik Lisa keluar.
"Mas, Lisa gak papa. Jangan kayak gini, Mas. Lisa gak mau Mas ribut sama Teh Zia. Lisa teh gak enak sama Bang Elkan."
Erkan menahan langkahnya, dan itu membuat Lisa kaget. Apa lagi Erkan memberikan tatapan yang cukup mengerikan. "Kalau dibiarin dia bakal nyakitin kamu lebih dari ini, Sa. Aku tahu perangai wanita itu. Lebih baik kita selesaikan semuanya dari sekarang, aku gak peduli Bang Elkan mau cerein atau ngusir wanita itu sekali pun."
Lisa menelan air liurnya saat melihat kemarahan di mata suaminya. Ia tidak menyangka Erkan akan semarah ini. "Mas."
"Mas gak mau dengar protesan kamu. Sekarang juga kita ke rumah Mama." Erkan kembali menarik Lisa dan membawanya pergi menuju rumah orang tuanya. Sepanjang jalan Lisa tidak berani protes karena Erkan terus memasang wajah datar dengan mata memerah.
Duh... kayaknya Mas Erkan marah besar. Gimana kalau semuanya jadi kacau. Ck, Vio juga buat apa pake ngadu segala.
Sesampainya di rumah orang tua Erkan, lelaki itu langsung masuk dengan langkah cepat. Dan meninggalkan Lisa. Sontak Lisa pun berlari menyusulnya.
Duh... auto perang ini mah. Keluhnya dalam hati. Jujur Lisa masih kaget dengan kemarahan Erkan saat ini.
"Zia!" Teriak Erkan dengan kilatan amarah di matanya. Sontak para penghuni pun pada keluar karena kaget.
"Mas." Lisa meraih tangan suaminya dan mencoba menenangkan Erkan.
"Er." Mama menghampiri putranya karena tak kalah terkejut.
"Di mana wanita itu? Keluar kamu, Zia." Teriak Erkan penuh amarah dan terus melangkah menuju kamar Abangnya.
Sedangkan orang yang dicari justru bersembunyi di dalam kamar karena ketakutan. Ia tahu betul seperti apa jika Erkan sudah marah.
Sialan kau, Lisa! Dasar tukang ngadu.
"Zia! Keluar sekarang atau aku dobrak pintunya." Teriak Erkan dari luar. Membuat Zia semakin gemetar ketakutan.
"Mas, udah yuk. Kita pulang ya?" Lisa masih berusaha membujuk suaminya.
"Gak bisa, dia harus diberi pelajaran. Beraninya dia mukul kamu. Dia pikir dia siapa? Aku gak akan segan laporin kamu ke polisi, Zia. Keluar sekarang. Mungkin dulu aku hormatin kamu karena kamu istri Bang Elkan. Tapi kalau gini terus jangan salahkan aku buat lempar kamu ke penjara." Erkan terus menggedor pintu kamar Zia dengan kencang.
Tidak lama Elkan pun datang dan sepertinya lelaki itu juga terlihat marah. Namun, ia cukup terkejut saat melihat adiknya terus menggedor pintu kamarnya.
"Er." Panggilnya. Sontak Erkan pun menatap Elkan dengan tatapan tak bersahabat.
__ADS_1
"Bilangin sama istri kamu, Bang. Sekali lagi dia nyakitin Lisa. Aku gak akan segan laporin dia ke polisi." Ancam Erkan.
Elkan pun menatap ke arah Lisa, dan pandangannya pun jatuh pada pipi Lisa yang membengak dan merah kebiruan. "Maafin istri Abang ya, Sa. Abang gak tahu dia bakal senekat ini."
"Maaf? Abang pikir dengan maaf rasa sakit yang Lisa rasain bakal hilang?" Bentak Erkan yang sejak awal sudah dirasuki amarah.
"Mas." Lisa memeluk suaminya itu dengan erat. "Udah cukup."
"Er, kita bicarain ini baik-baik." Ujar Papa Zein yang juga sudah tahu inti permasalahannya. Karena Violla sudah menceritakan semua yang terjadi pada kedua orang tuanya.
Mama Dinar pun menatap putrinya tajam. Sejak awal ia sudah mengingatkan Violla agar tidak mengadukan ini pada Erkan. Mama Dinar percaya Lisa bisa mengatasi kemarahan putranya itu. Karena Erkan sudah pasti akan marah besar jika tahu semuanya dari orang lain. Dan benar saja, sekarang semuanya jadi kacau karena Violla mengadu.
"Mas, duduk dulu ya." Ajak Lisa mendongak, menatap suaminya penuh harap.
Napas Erkan memburu, matanya juga masih memerah. Dan tanpa di duga ia mendendang pintu kamar Elkan dengan keras. Dan itu berhasil membuat semua orang terperanjat kaget. Termasuk Zia yang ada di dalamnya. Wanita itu semakin terpojok karena ketakutan.
"Mas, Lisa mohon. Jangan kayak gini. Gak baik luapin amarah pake kekerasan. Gimana kalau kamu masuk penjara, Lisa gak mau." Bujuk Lisa semakin mengeratkan pelukannya. "Kita bicarain baik-baik ya?"
Erkan menarik napas panjang. Lalu ia pun melayangkan tatapan sengit pada Elkan. "Sekali lagi aku dengar dia nyakitin Lisa, habis dia."
"Mas." Lisa memperingati. Sedangkan Elkan masih terdiam. Antara syok dan malu bercampur menjadi satu.
Lisa pun menuntun Erkan ke ruang keluarga. Sedangkan Mama beranjak ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk putranya.
"El, panggil istri kamu ke luar. Kita selesaikan semuanya sekarang." Titah Papa Zein. Elkan pun mengangguk patuh.
Violla dan Papa Zein pun duduk bersebrangan dengan mereka.
"Diminum dulu." Mama Dinar pun memberikan air putih pada Erkan.
"Makasih, Ma." Ucap Erkan menyesapnya sedikit. Lalu ditaruhnya gelas itu dia atas meja.
"Mama, Papa." Seru Rayden berlari ke arah Lisa. Anak itu naik ke atas pangkuan Lisa. Lalu menatap Erkan dengan tatapan takut.
"Mama, kenapa Papa marah-marah? Ray takut." Bisik Rayden memeluk Lisa dengan pandangan masih tertuju pada Erkan.
"Gak papa, sayang." Lisa mengecup pucuk kepala Rayden sambil terus memandangi suaminya.
Erkan menoleh, ditatapnya pipi Lisa dengan seksama. "Masih sakit?" Tanyanya seraya menarik dagu istrinya supaya ia bisa melihat dengan jelas pipi bengkak itu. "Lain kali ngomong sama Mas, Sa."
"Iya, Mas. Lisa pasti ngomong kok." Lisa mengusap lengan suaminya.
Tidak lama dari itu Elkan pun datang bersama istrinya. Zia terlihat menunduk dan tak berani menatap orang.
"Duduk." Titah Elkan dengan nada tegas. Zia pun ikut duduk di samping suaminya.
Erkan memberikan tatapan permusuhan pada Kakak iparnya itu. Tentu saja semua orang sadar akan hal itu.
__ADS_1
"Jelasin apa permasalahannya, Zia?" Tanya Papa dengan lembut.
Wanita itu pun mengangkat wajahnya dan langsung melayangkan tatapan tak suka pada Lisa. "Dia berusaha menggoda Mas Elkan, Pa. Aku sering dengar dan liat Mas Elkan hubungin perempuan. Pasti itu Lisa. Cuma dia yang berani ngomong blak-blakan sama Mas Elkan. Bener kan orangnya dia, Mas?"
Elkan memijat batang hidungnya.
"Elkan?" Papa meminta jawaban putra sulungnya itu.
"Itu bukan Lisa." Jawab Elkan.
"Mereka mana mau ngaku, Pa, Ma. Orang selingkuh gak akan pernah ngaku. Wanita murahan kayak dia itu gak pantes jadi istri Erkan." Tuding Zia.
"Dia bukan Lisa, Zia. Aku udah bilang kalau dia bukan Lisa." Bentak Elkan mulai tersulut emosi. "Apa aku salah kalau aku butuh teman curhat? Selama ini kamu gak pernah memahami kondisiku, Zia. Aku pulang kerja capek dan kamu selalu nuduh aku yang bukan-bukan. Kamu selalu buat aku pusing. Aku capek. Sekarang kamu malah libatin Lisa yang gak tahu apa-apa." Imbuhnya yang berhasil membuat semua orang bungkam.
"Aku cuma butuh seseorang buat nampung semua rasa sakit yang aku tanggung. Aku butuh saran dan masukkan. Ya, aku yang salah di sini. Tapi gak seharusnya kamu nyalahin orang lain, Zia. Kenapa kamu gak serang aku yang udah jelas salah. Kenapa harus Lisa yang gak tahu apa-apa soal hubungan kita." Elkan terus mengeluarkan aral dihatinya.
"Tapi siapa lagi wanita itu kalau bukan wanita murahan ini." Zia menunjuk Lisa.
"Cukup, Zia! Berhenti ngatain istri aku wanita murahan. Dia gak tahu apa-apa, bahkan dia gak punya nomor suami kamu." Sarkas Erkan kembali terbakar api amarah.
Zia bungkam seketika. Sedangkan Lisa ikut terkejut karena Erkan bisa tahu jika dirinya tidak memiliki nomor ponsel Elkan.
Lisa memeluk Rayden yang sedang ketakutan. "Vi, tolong bawa Ray ke kamar." Pintanya.
Violla pun mengangguk dan langsung membawa Rayden ke kamar. Kemudian Lisa pun merengkuh tangan suaminya. "Mas."
Papa Zein dan Mama Dinar memijat keningnya karena pusing melihat permasalahan rumah tangga anak sulungnya itu yang tiada habisnya. Keduanya akan meneriman semua keputusan Elkan apa pun nantinya. Sudah cukup putranya itu hidup dalam tekanan batin.
"Sebaiknya kita cerai, Zia. Aku gak bisa hidup kayak gini terus sama kamu."
Zia dan Lisa terkejut mendengar itu.
"Mas, kamu gak bisa cerein aku gitu aja dong." Protes Zia.
"Aku suami di sini. Aku berhak ambil keputusan apa pun. Mulai besok aku akan urus perceraian kita. Aku gak sanggup hidup dengan wanita egois kayak kamu, Zia."
"Okay, kita bercerai. Tapi aku minta rumah dan uang untuk tunjangan." Seru Zia bangun dari posisinya. Sontak semua orang terkejut.
Elkan tertawa hambar. "Kamu pikir aku bodoh huh? Kamu gak akan dapat sepeser pun harta keluargaku, Zia. Jangan kamu pikir aku gak tahu kamu sering tidur sama om-om di hotel. Kamu pikir aku gak tahu kamu jadi simpanan beberapa pengusaha sukses di kota ini. Aku tahu semuanya. Semua bukti udah aku kantongin. Jangan harap kamu bisa bodohin aku. Aku udah terjun ke lapangan dan nanganin bebagai kasus. Termasuk kasus perceraian. Kita ketemu di persidangan nanti." Elkan pun langsung bangun dan meninggalkan rumah.
Sedangkan yang lain terdiam membisu setelah mendengar semua penjelasan Elkan barusan. Tidak ada yang menyangka jika Elkan yang selama ini diam mengetahui semua perbuatan tak terpuji istrinya.
"Argghhh!" Zia berteriak histeris dan langsung beranjak ke kamarnya.
"Sebaiknya kalian pulang." Titah Papa Zein yang juga meninggalkan tempat itu. Membuat suasana semakin canggung.
Tbc...
__ADS_1
Udah sampe sini dula ya tegang uratnya... jangan terlalu tegang gitu atuh... tar kebablasan bisa fatal. Ciee... pasti pada esmosi nih 🤣🤣🤭