SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Meet Up


__ADS_3

Hoek!


Lisa terbangun dari tidurnya saat mendengar suara berisik dari kamar mandi.


Hoek!


"Mas?" Kaget Lisa saat sadar jika suaminya tidak ada di sana. Cepat-cepat ia turun dari tempat tidur dan berlari kecil ke kamar mandi.


"Ya ampun, Mas." Lisa menghampiri Erkan yang terus muntah-muntah di closet. Dipijatnya tengkuk Erkan dengan lembut. "Ke dokter aja yuk? Gak tega Lisa liatnya kalau gini terus mah. Tiap hari kamu teh kayak gini, Mas."


"Gak papa, sayang. Tar juga mualnya hilang. Itu, kok aroma sabun mandinya jadi aneh ya? Enek banget." Erkan kembali muntah-muntah.


Lisa mengerutkan dahi. "Lah, itu kan sabun mandi biasa, Mas."


"Baunya aneh."


"Duh... tar Lisa ganti deh." Lisa terus mengusap punggung suaminya dengan tatapan iba.


"Ya udah, Lisa buatin teh anget ya? Biar mualnya berkurang." Tawar Lisa yang langsung dijawab anggukan oleh Erkan. Dengan terburu Lisa beranjak dari sana. Sebelum meninggalkan kamar, Lisa mengambil ponselnya. Setelah itu ia keluar dari kamar.


Dihubunginya sang Mamah untuk meminta saran.


"Halo, Neng. Ada apa subuh-subuh gini hubungin Mamah? Kamu sakit?" Panik Mamah saat menerima panggilan dari Lisa.


"Alhamdulillah Eneng teh sehat, Mah. Tapi Mas Erkan udah berapa hari ini mual-mual terus. Mamah tahu gak resep minuman herbal buat pereda mual? Teh Devi sering mual juga kan?" Lisa mengambil gelas besar. Lalu menaruhnya di atas pantry. Dan mulai memanaskan air.


"Lah... kok jadi Erkan yang mual atuh, Neng? Mamah baru denger suami yang mual pas istri lagi hamil. Mamah biasanya kasih teh jahe sih buat Teh Devi. Cobak aja kasih itu. Aya-aya wae atuh nya."


"Iya Mah, ini Eneng teh mau buatin teh anget. Berati pake jahe ya?"


"Enya, Neng. Dikasih jeruk lemon juga bisa atuh Neng. Biar seger."


"Eneng kasih teh jahe aja dulu, Mah. Tar kalau gak mempan baru Eneng kasih lemon."


"Sok atuh. Duh... kasian mantu Mamah."


"Iya, Mah. Maaf nya Mah, Eneng teh ganggu pagi-pagi buta gini. Habis Eneng bingung harus ngapain? Kasian liat Mas Erkan sampe lemes gitu." Adu Lisa.


"Ya udah sok atuh dibuat minumannya. Agak panas aja, Neng. Biar perutnya anget."


"Iya, Mah. Ya udah atuh, Mah. Eneng mau buat dulu. Makasih nya, Mah."


"Sama-sama, Neng."


Lisa menutup panggilan, lalu menaruh ponselnya di atas pantry. Kemudian mulai meracik minuman herbal.


Setelah itu, ia kembali ke kamar. Erkan pun sudah duduk bersandar di atas pembaringan. Lisa duduk di sebelahnya. "Diminum dulu, Mas. Biar perutnya anget."


Erkan menerimanya dan perlahan meminumnya.


"Gimana? Anget gak?"


"Lumayan, sayang." Erkan kembali menyesapnta perlahan sampai habis. Dengan sigap Lisa mengambil gelas kosong itu dan meletakkannya di atas nakas.


"Mas, meet up malam ini kita batalin aja ya? Kamu juga lemes gini."


"Gak perlu, sayang. Bentar lagi aja Mas udah baikan. Biasanya juga cuma pagi mualnya. Kasian teman-teman kamu pasti udah kesenangan karena mau ketemu."


Lisa menghela napas berat. "Ya udah, selagi nunggu azan Mas tidur aja lagi. Lisa mau bangungin Rayden dulu."

__ADS_1


Erkan yang masih lemas pun mengangguk. Lisa menyelimuti suaminya, setelah itu beranjak dari sana.


Lisa tersenyum lebar saat memasuki kamar Rayden. "Duh... nyenyak banget lagi boboknya."


Lisa duduk di bibir ranjang. Tangannya mulai bergerak mengusap kepala putranya. "Sayang, bangun yuk. Udah mau subuh."


Rayden menggeliat kecil. "Masih ngantuk, Mama." Rengeknya.


Lisa tertawa kecil. "Udah mau subuh, bangun terus mandi. Habis itu salat dulu ya?"


Rayden mengangguk dengan mata terpejam.


"Loh, ngangguk tapi masih merem. Bangun dong, sayang." Lisa menepuk pipi Rayden dengan lembut. Kemudian mengusapnya dengan gerak memutar karena hal itu akan membangunkan anaknya itu.


Rayden tersenyum dan mulai membuka matanya. "Mama, Ray masih ngantuk. Abis salat bobok lagi boleh kan? Kan hari ini libur."


"Huh, kalau udah libur kebluknya keluar. Ya udah, asal jangan tinggal salatnya. Mama gak mau dengar kamu ketiduran."


Rayden memeluk pinggang Lisa. "Iya. Mama."


"Anak pinter. Ya udah, Mama ke kamar lagi ya? Jangan lupa salat, sana mandi dulu."


"Iya, Mama bawel."


Lisa tertawa kecil, dikecupnya pucuk kepala Rayden dengan lembut. Rayden tersenyum, seakan enggan melepaskan pelukannya.


****


Malam harinya, Lisa terlihat sudah cantik dengan balutan dress selutut berwarna navy. Begitu pun dengan Erkan, lelaki itu terlihat begitu tampan dengan kemeja warna senada. Saat ini Lisa sedang sibuk menatap ponselnya.


"Mas, mereka udah mau berangkat katanya. Yuk, kita juga otw. Ini Ray udah siap belum ya?"


"Cobak cek aja, Yang." Titah Erkan yang tengah merapikan rambutnya. Lisa menghampirinya. Lalu berdiri di depan Erkan, memperhatikan kondisi suaminya.


Erkan tersenyum. "Udah, sayang. Gak lihat Mas udah seger gini?"


Lisa pun mengangguk. "Ganteng banget sih suami Lisa, udah kayak anak muda aja. Keren ih."


"Makanya harus bangga punya suami ganteng."


Lisa tertawa kecil. "Awas aja kalau lirik cewek lain. Lisa jotos matanya."


"Liat kamu aja Mas udah puas, sayang. Ngapain liat orang? Kalau kamu udah jelas Mas tahu luar dalam ya. Lah di luar sana, muka cantik belum tentu dalamnya cantik. Mending lirik yang pasti-pasti aja."


"Bisa aja kamu, Mas."


Erkan membungkuk, dikecupnya perut Lisa dengan lembut. "Kangen kalian, kira-kira kapan ya Papa boleh jenguk kalian lagi?"


Lisa memutar bola matanya malas. "Malam kemaren udah, Mas. Dokter bilang gak boleh terlalu sering."


"Hah, sabar ya? Papa pasti jenguk kalian lagi kok."


"Ish... mulai deh. Udah ah, Lisa mau liat Ray dulu. Takutnya dia belum siap." Lisa menyambar tasnya. "Mas, Lisa tunggu di depan ya?"


"Iya, sayang." Jawab Erkan. Lisa pun bergegas keluar dan berjalan ke kamar sebelah. Dibukanya pintu kamar perlahan. Seulas senyuman terbit dibibirnya saat melihat Rayden sudah rapi dan saat ini sedang menyisir rambutnya.


"Duh... anak Mama ganteng banget." Puji Lisa yang berhasil membuat Rayden kaget dan langsung menoleh.


"Mama, Ray kaget."

__ADS_1


Lisa tertawa. "Maaf, sayang. Udah siap kan? Yuk berangkat."


Rayden mengangguk. Kemudian menghampiri Lisa. Keduanya pun beranjak keluar. Tidak lama Erkan pun menyusul.


Beberapa menit berikutnya, mereka tiba di restoran ternama yang sudah dibooking sebelumnya. Tentu saja ruangan khusus itu sudah ramai karena hanya Lisa dan Erkan yang baru datang.


"Sa, ya ampun. Kangen banget gw sama elo. Sumpah, pangling gw. Lo makin cakep." Seru Mona memberikan pelukan singkat. Begitu pun dengan Desi. Sedangkan Bella terlihat sibuk mengasuh si kembar yang sedang belajar berjalan itu. Rayden yang melihat itu ikut bergabung.


Sedangkan Erkan bergabung dengan Elkan dan Nichole.


Lisa duduk diapit oleh keduanya. "Elo juga makin cantik, Mon. Beneran sendirian nih?" Tanya Lisa saat tak menemukan keberadaan suami Mona.


Mona memasang wajah sedih. "Besok suami gw baru pulang, sedih tahu. Dia malah mentingin kerjaannya."


"Cih, Abang gw kerja juga buat elo, Monalisa binti Sugihin." Ketus Desi.


"Tetap aja gw agak sedih, Desol. Kalian bawa keluarga lengkap, sedangkan gw sendirian." Lirih Mona.


"Sabar, Mon. Gak jadi masalah lo sendiri. Kan ada kita." Kata Lisa memberikan semangat pada Mona.


Mona pun mengangguk. "Mana lima pandawa? Pengen elus dong."


Lisa mengangguk. Dengan semangat Mona mengusap perut Lisa. "Wah, udah agak nimbul ya? Emang selama ini lo gak sadar apa?"


"Enggak, soalnya gak ada gejala apa-apa. Gw juga haid walau gak banyak. Kirian perut gw buncit biasa karena gendutan." Jawab Lisa jujur.


"Duh... masih dalam perut aja udah pinter main petak umpet ya?" Timpal Desi ikut mengusap perut Lisa.


"Kira-kira anak lo lakik semua apa ada ceweknya ya?" Tanya Mona mulai menerka-nerka.


"Gw harap ada ceweknya, biar gw ada temen. Jangan Papanya aja yang menang." Jawab Lisa. Erkan yang mendengar itu tersenyum ke arahnya.


"Hah, jadi iri gw. Pengen juga disenyumin suami." Keluh Mona saat melihat Erkan dan Lisa saling melempar senyuman.


"Pergi aja lo ke Amsterdam, susul suami." Sambur Desi.


"Sewot aja lo sama gw? Punya dendam lo ya? Perasaan gw gak pernah buat salah sama lo deh. Heran gw. Durhaka lo sama Kakak ipar." Ketus Mona.


"Suka-suka gw kali." Desi mendengus sebal. Sedangkan Lisa malah tertawa kecil melihat pertengkaran mereka. Kemudian pandangannya beralih pada Bella.


"Sorry ya, anak-anak gw udah aktif banget." Ucap Bella sadar akan tatapan Lisa.


"Aman kok." Jawab Lisa.


"Selamat menikmati, gw udah ngalamin duluan pas Keano lagi aktif-aktifnya belajar jalan. Ampe sakit pinggang gw." Desi melirik putranya yang sudah tidur di gendongan sang suami.


"Hah, gw juga nih lagi ngerasain baby yang super aktif di dalam perut. Gak bisa tidur, nendang terus. Kayaknya dia bakal jadi pemain bola." Ujar Mona sambil mengusap perutnya yang menyembul.


"Lah, anak lo kan cewek." Sinis Desi.


"Emangnya kenapa kalau cewek? Gak boleh main bola?" Ketus Mona sambil menyandarkan kepalanya di bahu Lisa.


"Jelas enggak lah, kalau anak lo beneran cewek. Gw yakin tuh si Abang bakal jadiin dia anak emas. Soalnya Abang gw seneng banget sama anak cewek."


"Anak emas apanya? Pas gw kangen banget dia malah sibuk kerja, sampe nangis gw nahan kangen. Sedih tahu gak, gw udah kayak istri kedua. Kan... pengen nangis gw." Mona menyeka air matanya. "Gw rasa dia memang punya istri lain di sana. Kayaknya dia emang gak cinta sama gw. Gak tahu deh kenapa nikahin gw. Kepaksa kali ya karena gw ngejar dia terus? Hiks... sakit banget."


Semuanya terdiam seketika sambil melihat pintu yang terbuka. Kecuali Mona tentunya, karena terlalu tenggelam dalam kesedihan Mona tidak mendengar suara pintu terbuka.


"Hiks... kok kalian malah diam sih? Maaf ya kalau gw jadi melow gini. Gak tahu mau curhat sama siapa soalnya."

__ADS_1


Lisa menggoyangkan bahunya. Memberi kode pada Mona jika suaminya sudah berdiri di ambang pintu.


"Apaan sih?" Mona mengangkat kepalnya, lalu menoleh kesamping. Seketika tubuhnya menegang saat melihat sang suami sudah berdiri di sana. "Mas?"


__ADS_2