SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Kang Erkan


__ADS_3

Lisa tidak berani bicara sejak Erkan membelikannya perhiasan super mahal. Anggap saja gadis itu masih shock.


"Sa." Panggil Erkan karena sejak tadi tidak ada sahutan dari calon istrinya itu. Padahal ia sudah bertanya beberapa kali.


Lisa tersentak. "Ha?"


"Mau makan apa? Kamu kenapa sih?" Tanya Erkan. Ya, saat ini mereka memang sudah berada di restoran.


Lisa tersenyum. "Saya gak papa, pesan apa aja yang penting jangan salad. Gak kenyang soalnya hehe."


Erkan mengangguk paham. Kemudian memesan dua porsi makanan dan minuman pada sang waiter.


Setelah itu Erkan kembali memusatkan perhatian pada Lisa. "Saya jadi takut kalau kamu diam kayak gini. Biasanya juga cerewet. Kamu kesambet?"


Lisa tertawa renyah. "Ck, saya teh masih kepikiran sama kalung tadi. Harganya itu loh, Pak. Bisa buat beli tanah sehektar."


Erkan tersenyum kecil. "Itu berlebihan, harganya gak sampe segitu. Lagian kalung itu juga bisa buat simpanan kamu kan? Jadi apa masalahnya? Saya cuma mau kasih hadiah sama calon istri kok."


Wajah Lisa pun merona mendengarnya. "Si Bapak mah bisa aja."


Erkan menghela napas pendek. "Sa, tolong ganti panggilan kamu ke saya itu. Gak enak dengarnya. Saya juga belum tua-tua kali. Kita cuma beda sepuluh tahun, Sa."


Lisa tertawa renyah. "Ya udah, kalau gitu saya panggil Om ya?" Candanya. Sontak Erkan pun melotot.


"Emangnya saya Om kamu?"


"Iya, Om duda ganteng."


"Ck, pokoknya ganti."


"Panggil apa atuh nya? Jadi bingung saya."


"Terserah, asal jangan Bapak, Om, atau paman."


Lisa tampak berpikir. "Ya udah, saya panggil Kang Erkan aja ya?"


"Kang?" Kaget Erkan. Ia merasa seperti tukang jual sayur yang sering lewat di depan rumah. "Masak saya di panggil Akang sih? Udah kayak Kang sayur aja."


Lisa terkekeh lucu. "Terus saya teh manggil apa atuh?"


"Mas, Abang atau apalah gitu." Sahut Erkan.


"Ya udah, saya panggil Mas aja ya? Lebih dapet kayaknya."


Erkan tersenyum. "Boleh."


Keduanya kembali terdiam. Sampai makanan yang mereka pesan pun sampai. Lalu keduanya pun makan dengan khidmat. Dan setelah makan mereka pun beranjak untuk pulang.


"Ah... akhirnya pulang juga. Udah kangen banget sama Ray." Ujar Lisa saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Jadi kamu gak seneng ya habisin waktu berdua sama saya?"


"Eh?" Lisa pun langsung menoleh. "Saya teh gak ada bilang gitu."


"Dari tadi kamu kayak gak sabar pengen pulang terus."


"Oh... itu tuh karena saya udah capek keliling terus. Pengen rebahan. Nanti saya boleh numpang tidur siang kan?"


Erkan tersenyum tipis. "Boleh, tapi di kamar saya."


"Eh? Enggak perlu, di kamar Ray aja." Kalau di kamar Bapak mah bisa-bisa saya menghayal yang aneh-aneh. Sambungnya dalam hati.


"Kamar Ray kecil, mending di kamar saya aja. Lebih luas."

__ADS_1


Lisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Liat nanti aja deh."


Erkan menghela napas panjang. "Saya gak mungkin apa-apain kamu, saya masih waras."


Huh, terus malam tadi apa atuh? Malah ngasih kecupan maut. Bikin saya jantungan aja. Pesona duda mah emang beda.


"Kamu gak ada kesan apa-apa gitu hari ini?" Tanya Erkan merasa penasaran dengan perasaan gadisnya itu. Karena sejak awal Lisa tidak menunjukkan reaksi apa-apa.


"Kesan gimana?"


"Ya... kesan kita jalan berdua gitu."


Lisa pun ber 'oh' ria tanpa menjawab lebih spesifik.


"Kok cuma oh doang?"


Lisa cengengesan sendiri. "Bingung mau jawab apa. Seneng sih, kita kayak kencan gitu kan? Apa lagi tadi makan cuma berdua." Jujur Lisa. Tentu saja Erkan senang mendengarnya karena itu jawaban yang ia tunggu.


"Jadi kamu merasa kita sedang kencan?"


"Iya." Lisa tersenyum malu.


"Habis istirahat kita kencan lagi gimana?"


"Terus kapan dong mau pulangnya?"


"Besok aja, biar sekalian persiapan prewed." Jawab Erkan tanpa beban. "Nanti saya yang minta izin sama orang tua kamu."


Lisa pun cuma bisa mengangguk pasrah.


"Em... kamu punya pacar sebelum ini?" tanya Erkan melirik Lisa sekilas.


Lisa menggeleng. "Saya gak pernah pacaran."


Erkan mengerut bingung. Ia tidak percaya jika gadis seperti Lisa tidak pernah pacaran. "Kenapa?"


Erkan tersenyum senang, itu artinya ia lelaki pertama untuk Lisa. "Jadi ceritanya saya yang pertama dan terakhir nih?"


Lisa mengangguk yakin. "Asal Bapaknya gak bertingkah aja pas kita udah nikah. Kalau bertingak aneh-aneh, ya monmaaf aja saya mundur."


"Kok Bapak lagi sih?"


"Eh, maksud saya Masnya."


"Saya gak suka aneh-aneh kok, orang sekarang saya udah punya yang aneh kayak kamu."


Lisa tertawa kecil. "Emang saya teh aneh kitu? Perasaan biasa aja."


"Ya, kamu itu cewek aneh bin ajaib. Langka kayaknya yang seperti kamu. Cantik tapi gak pernah pacaran, terus tingkahnya bikin geleng-geleng."


"Ini kan saya lagi pacaran." Jawab Lisa terkekeh lucu.


"Iya juga sih."


"Terus, Mas sendiri kenapa milih saya sih? Padahal kita kan baru kenal seminggu kalau gak salah."


Erkan tidak langsung menjawab. "Mungkin kamu jodoh saya."


"Lah... itu mah bukan jawaban atuh Pak."


Erkan berdecak sebal karena Lisa kembali memanggilnya Pak.


Lisa tersenyum kecil, sebenarnya ia memang sengaja melakukan itu. Senang aja gitu pas lihat wajah kesal Erkan.

__ADS_1


"Emang Bapak udah punya perasaan sama saya?" Tanya Lisa penasaran. Jujur saja ia ingin mendengar ungkapan Erkan.


Erkan menoleh sekilas. "Belum."


Ya ampun anak ini, jadi dia gak paham sama semua sikap aku sama dia? Ck, masak iya aku harus ngomong cinta? Gak ngerti sama perempuan.


"Lah... terus gimana ceritanya mau nikah sama saya, Pak?"


"Kan kamu suka sama saya, dan saya rasa itu udah cukup. Jadi kamu gak bakal lari dari saya nantinya."


Lisa tertawa renyah. "Kalau saya lari kan bisa Bapak kejar."


"Capek kayaknya kalau kejar kamu, terlalu gesit."


Lagi-lagi Lisa tertawa. "Bisa aja si Bapak mah."


"Sa."


"Hm?" Lisa memandang Erkan untuk meminta jawaban.


"Saya...." Erkan terlihat kesulitan bicara.


Akh sial! Kenapa sangat sulit bicara masalah hati? Kamu pasti bisa, Erkan.


"Bapak teh mau ngomong apa sih?" Tanya Lisa penasaran.


"Em... sebenarnya saya... sa-saya ci...."


Perkataan Erkan pun harus terpotong oleh suara deringan ponsel Lisa. "Sebentar, Pak. Si Aa nelepon."


"Hm, angkat aja."


Ck, ada aja pengganggu. Kesal Erkan dalam hati.


"Halo, A."


"Neng, di mana?"


"Masih di kota, A. Aya naon?"


"Itu, Aa mau nitip kepala carger nya? Nu asli. Nanti Aa bayar uangnya di rumah. Jangan takut."


"Ih... sugan teh aya naon? Iya deh nanti Eneng beli kalau ingat hehe."


"Ck, pokoknya jangan lupa, Neng. Aa tagih pas pulang nanti. Menderita hidup Aa kalau gak ada carger."


"Eleh... bilang aja karena gak bisa main game kan? Makanya hp tuh jangan di cas 24 jam." Omel Lisa.


"Dih, kunaon jadi ngomel-ngomel kamu teh? Pokoknya mah jangan lupa beliin. Kalau lupa Aa bakal bilang sama Mamah kalau tadi malam kalian teh ciuman."


"Hah?" kaget Lisa yang berhasil menarik perhatian Erkan.


"Kenapa?" tanya Erkan penasaran.


"Si Aa tahu kalau tadi malam kita teh ciuman." Bisik Lisa yang berhasil membuat Erkan kaget.


"Aa teh ngintip nya? Ih... pikasebelen da."


"Bukan ngintip atuh Neng, cuma gak sengaja liat hehe."


"Ih... udah ah. Iya nanti Eneng beliin. Tapi jangan ngomong apa-apa sama si Mamah, malu atuh A. Kayak Aa gak pernah nyium teh Devi aja."


Terdengar suara gelak tawa Asep di sana. Kemudian sambungan telepon pun terputus.

__ADS_1


"Ih, gak bisa kayaknya sehari aja gak bikin kesel. Kalau ada di depan mata udah saya pitek-pitek." Omel Lisa memarahi ponselnya sendiri.


Erkan yang melihat itu cuma bisa tersenyum geli. Sepertinya memang belum saatnya ia bicara jujur soal perasaan. Mungkin ada waktu yang lebih tepat.


__ADS_2