SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Dasar Kucing Liar


__ADS_3

Hari ini Erkan diperbolehkan pulang setelah lima hari dirawat. Ia bernapas lega karena bisa bebas dari bau rumah sakit yang membuat kepalanya semakin pusing. Dan saat ini Erkan baru saja sampai di rumah.


Lisa membantu suaminya itu berbaring di kasur, lalu menyelimutinya. "Sayang, acnya di matiin aja." Pintanya.


Dengan patuh Lisa pun mematikan ac. "Mas, Lisa keluar sebentar. Mau liat Ray dulu ya?"


"Iya, tapi jangan lama-lama. Tar kangen."


"Ish... orang cuma ke kamar sebelah juga." Lisa tersenyum dan langsung beranjak pergi. Sedangkan Erkan memilih tiduran.


"Ngapain sih asik banget?" Tanya Lisa menghampiri Rayden yang sedang asik menggambar.


"Ray lagi buat gambar Mama, Papa sama Ray." Jawabnya dengan imut.


"Sini Mama lihat."


Rayden menunjukkan gambarnya pada Lisa. Spontan Lisa tersenyum haru saat melihat gambar yang Rayden buat. Meski tidak sebagus gambar pada umumnya, tapi itu cukup menunjukkan gambar keluarga kecil bahagia.


"Bagus banget, sayang. Kok pinter sih?"


Rayden tersenyum bahagia, lalu duduk di pangkuan Lisa. "Ray suka menggambar, Mama. Kalau besar nanti Ray pengen kayak Papa, bisa gambar rumah yang bagus."


"Duh... mau ikut jejak Papa ya? Mama aja boro-boro bisa gambar, kalau nyoret-nyoret mah jago."


Rayden tertawa kecil. "Mama, Ray juga udah bisa berhitung loh."


"Oh ya? Coba, Mama mau dengar."


Dengan semangat Rayden pun mulai berhitung satu sampai lima puluh meski agak tersendat beberapa kali.


"Wah, pinter anak Mama. Pas masuk sekolah udah pinter ini mah. Udah bisa baca sama nulis belum?"


Rayden mengangguk. "Kan Papa selalu ajarin Ray, Mama. Sebelum tidur Papa pasti ajarin Ray baca doa, baca buku, berhitung, terus... Papa juga selalu bilang kalau Ray besar nanti harus jadi anak pintar. Kalau libur pasti Papa juga ajarin Ray nulis sama berhitung."


Lisa terkejut mendengarnya. Ia tidak pernah menyangka Erkan melakukan itu. Pantes kalau malam Erkan selalu lama di kamar Rayden. Kecuali pulangnya kemaleman. Lisa pikir Erkan hanya membacakan dongeng seperti yang dilakukan orang tua lainnya saat menidurkan anaknya. Tidak menyangka Erkan sangat mementingkan pengetahuan putranya.


Duh... Mas Erkan mah suami idaman banget atuh. Kok jadi kangen ya? Udah tidur belum ya?


"Mama." Rayden menoeh pipi Lisa karena melamun.


"Eh? Papa benar, sayang. Ray harus jadi anak pinter ya? Banggain orang tua. Apa lagi nanti udah mau masuk tk."


Rayden mengangguk.


"Kenapa Papa gak masukin kamu ke playgroup ya?"


"Ray gak mau, di sana kerjanya cuma main sama nyanyi aja. Ray gak suka."


Lisa terkejut mendengarnya. Lah... ini anak masih kecil tapi pikirannya udah kayak orang dewasa aja. Duh... kalau bibit unggul mah beda emang.


"Ya udah, mulai besok Mama ajarin Ray nulis sama baca mau?" Tawarnya.


"Mau." Sahut Rayden begitu antusias.


"Ray bisa ngaji gak?"


"Bisa, Papa, Nenek sama Kakek juga sering ajarin Ray ngaji."


"Bagus, kalau gitu tinggal kita perdalam aja. Mulai sekarang Mama bakal jadi guru kamu. Walau pun gak ada bakat sih, tapi kalau buat Ray Mama bakal belajar lagi."


Rayden mengangguk-angguk saja, entah paham atau tidak yang penting mengangguk.


"Mama, malam ini Ray mau bobok sama Mama Papa boleh gak?" Rengek Rayden memainkan rambut Lisa.


"Boleh, sayang."

__ADS_1


"Yey! Makasih, Mama." Rayden mencium pipi Lisa dengan lembut. Lalu memeluknya dengan erat. Lisa tertawa renyah dan langsung menggedongnya.


"Ke kamar yuk, kasian Papa sendirian."


"Tapi Ray mau susu dulu, Mama."


"Ya udah, habis minum susu baru kita ke kamar. Let's go."


"Gooo...." Seru Rayden terlihat semangat. Lalu mereka pun beranjak ke dapur untuk membuat susu lebih dulu. Setelah itu mereka pun ke kamar, dan ternyata Erkan sudah tertidur.


****


"Bang Elkan mau numpang di sini untuk beberapa waktu." Ujar Erkan yang berhasil membuat Lisa kaget. Lisa yang sedang merapikan tempat tidur pun menoleh.


"Bang Elkan udah pulang? Sama Bella?"


Erkan mengangguk. "Mama sama Papa marah besar pas tahu soal pernikahan Bang Elkan sama Bella."


"Ck, wajar aja sih. Mereka buat scandal gitu."


"Kamu setuju kan nampung mereka di sini untuk sementara?" Tanya Erkan meminta persetujuan Lisa.


"Boleh lah, Mas. Mereka kan sodara kita. Lagian aku juga pengen ngomong empat mata sama Bella."


"Kalau gitu Mas hubungin Bang Elkan lagi. Tadi Mas belum ngasih kepastian karena belum nanya kamu." Jelas Erkan.


"Iya, Mas. Sok bilang aja kalau mereka boleh tinggal di sini. Lagian rumah ini banyak juga kamarnya."


Erkan mengangguk, ia meraih ponselnya dan langsung menghubungi Elkan. Sedangkan Lisa kembali melanjutkan kegiatannya.


"Gimana?" Tanya Lisa duduk di sebelah suaminya.


"Paling besok mereka baru ke sini, sekarang mereka ada di hotel. Bella masih belum siap ketemu kamu katanya. Mungkin dia malu." Jelas Erkan.


"Hais... sejak kapan dia punya malu?" Kesalnya.


"Abis, pake belum siap segala ketemu Lisa, emang na Lisa teh mau makan dia apa? Aneh pisan."


"Lah, kenapa kamu jadi marah-marah gitu sih? Apa karena belum Mas kasih cium ya?"


"Ih... orang lagi serius juga. Kamu mah bisa aja belokinnya. Au ah, Lisa teh jadi kesel sama Bella kalau gini." Omel Lisa dengan bibir manyun.


"Jangan manyun gitu, bikin Mas gak tahan aja. Mana tadi malam gak jadi kangen-kangenan lagi karena ada Rayden."


"Ck, namanya juga anak kangen orang tuanya, Mas. Kamu mah egois ih. Lagian Mas itu belum sembuh total, itu obat dari malem gak di minum kan?"


"Kamu gak mau suapin." Jawab Erkan tanpa beban.


"Ya Allah, Mas. Lisa teh kayak punya orok gede tahu gak? Masak minum obat aja harus disuap dari mulut ke mulut. Bisa-bisa Lisa yang over dosis." Cerocos Lisa yang berhasil menggelitik hati Erkan. "Lagian anak kecil aja gak ada yang kayak kamu, Mas." Imbuhnya.


"Kan sekalian, Sa. Ibarat pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlapaui."


"Dihh... untung di kamu buntung di Lisa. Udah ah, Lisa teh laper mau sarapan dulu. Mas mau sarapan di sini apa di luar?" Lisa bangun dari duduknya.


"Di sini aja biar bisa disuapin, masih pengen dimanja soalnya. Kalau di kamar kan bisa sekalian pijit-pijit manjah, kangen loh sama pijitan kamu, sayang."


"Ish... bilang aja pengen dibelai. Pake alesan pijit-pijit segala. Ya udah, Lisa ambil makanan dulu. Kayaknya enak makan sepiring berdua." Lisa terkekeh lucu.


"Kamu ngomelin Mas sampe mulut berbuih, sekarang kamu sendiri pengen mersra-mesraan. Emang ya perempuan itu suka malu-malu kucing." Ledek Erkan.


"Namanya juga lagi berhadapan sama kucing jantan, pasti malu-malu tapi mau lah." Balas Lisa tidak mau kalah.


"Awas loh kena terkam." Erkan memperingati.


"Gak takut, tinggal cakar balik aja." Lisa menjulurkan lidahnya dan langsung berlalu pergi. Meninggalkan Erkan yang tengah tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Dasar kucing liar."


Menit berikutnya, Lisa kembali dengan nampan ditangannya. Kemudian ia duduk ditempat semula.


"Kok lama banget, Yang?" Tanya Erkan dengan mata masih tertuju pada layar televisi yang sedang menayangkan berita hangat.


"Tadi nyoba masak nasi goreng, lumayan praktekin ajaran Mas Nichole."


Mendengar nama laki-laki lain Erkan pun langsung menoleh. "Siapa Mas Nichole?"


Lisa tersenyum. "Itu, tutor masak Lisa di tempat kursus."


"Oh... udah tua ya?" Erkan mengambil gelas jus dan menyeruputnya.


"Enggak, masih muda terus ganteng lagi."


Uhuk!


Erkan menyemburkan minumannya kembali dan langsung menatap sang istri.


"Ih... kok disembur sih? Kotor kan jadinya. Bikin kerjaan aja." Kesal Lisa mengambil tisue dan memberikannya pada Erkan.


"Masih muda? Udah nikah?" Tanya Erkan mulai serius.


Dengan polos Lisa pun mengangguk. "Jomblo malah."


Wajah Erkan seketika berubah datar. "Besok gak usah pergi lagi."


Sontak Lisa kaget dong. "Lah... kenapa, Mas?"


"Nanti dia malah suka lagi sama kamu." Ketus Erkan. Sontak Lisa tergelak.


"Ya Allah, Mas. Kamu mah malah cemburu buta. Mana mungkin Mas Nichole suka sama Lisa. Orang dia tahu Lisa udah punya suami."


"Ck, sama aja. Zaman sekarang bukan pelakor aja yang lagi hits, pebinor juga lagi marak di mana-mana. Udah gak usah lanjut, lagian Mas gak minta kamu bisa masak."


"Ihh... Lisa teh kan pengen bisa masak. Lagian Mas Nichole itu sukanya sama Desi. Udah Lisa jodohin malah. Mereka lagi pdkt sekarang."


"Bisa aja dia modus, padahal mah incarnya kamu." Kekeh Erkan.


Lisa menghela napas berat. "Gini aja deh kalau Mas gak percaya. Lusa teh Lisa kursus lagi. Mas boleh ikut kok. Tar Lisa kenalin sama Mas Nichole deh."


"Gak perlu." Ketus Erkan.


"Mas! Mau ya? Biar kamu percaya kalau Mas Nichole itu memang tutor baik, bukan pebinor."


Erkan tidak langsung menjawab.


"Pokoknya Mas kudu ikut. Sini biar Lisa suapin, rasa deh nasi goreng pertama istri kamu ini." Lisa menyendok nasi goreng, lalu menyuapi suaminya.


Erkan menerima suapan itu meski hatinya masih dongkol. Namun, rasa dongkol itu langsung sirna karena rasa nasi gorengnya enak. "Yang, kok enak banget sih?"


"Beneran?" Lisa terlihat berbinar.


"Iya, mau lagi." Pinta Erkan membuka mulutnya. Dengan senang hati Lisa menyuapinya lagi.


"Ini tuh resep Mas Nichole loh, Mas. Enak kan?"


"Enggak, biasa aja. Enaknya karena tangan kamu aja yang ngerjain. Mas tahu kamu masaknya pake cinta." Sahut Erkan.


Lisa tertawa renyah. "Cemburuan banget sih? Makin cinta deh."


"Hm."


Lisa semakin terkekeh, cara Erkan cemburu memang selalu membuatnya gemas sendiri.

__ADS_1


Tbc...


Cie yang awet muda karena senyum-senyum terus...


__ADS_2