SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Dasar Bocah Tengil


__ADS_3

Daniel menutup pintu perlahan. Mona pun langsung berdiri. Seketika suasana pun menjadi canggung.


"Maaf saya terlambat." Ucap lelaki berperawakan tinggi itu tersenyum pada yang lain.


"Gak masalah, kita juga belum lama." Jawab Erkan.


Lisa, Desi dan Bella saling melempar pandangan. Lalu ketiganya pun menggeleng bersamaan.


"Mas," sapa Mona meremat ujung gaunnya. "Kenapa gak bilang kalau mau pulang?"


Daniel menatap istrinya. "Maaf, cuma mau ngasih kejutan. Ikut Mas sebentar."


Mona mengangguk.


"Maaf, saya ingin bicara sebentar. Kalian lanjut aja ngobrolnya." Daniel membawa istrinya ke balkon.


Desi, Lisa dan Bella yang kepo pun ngintip dari jendela. Bahkan agar bisa mendengar, mereka membuka jendela sedikit.


Mona tidak berani bersuara, sejak mereka menikah. Daniel memang terkesan cuek dan irit bicara. Bahkan lelaki itu tidak pernah mengungkapkan perasaanya meski mereka sering berhubungan badan, sampai Mona hamil sekali pun. Karena itu Mona sering minder dan tidak berani banyak bicara. Padahal sebelum menikah Mona selalu berinisiatif lebih dulu. Akan tetapi nyalinya ciut saat mereka sudah satu atap. Lebih tepatnya Mona bingung harus bersikap seperti apa lagi.


"Maaf." Ucap Daniel. Mona menatap suaminya penuh kerinduan.


"Kenapa gak bilang kalau mau pulang, Mas?"


Danile membalas tatapan sang istri. "Aku udah bilang, mau kasih kejutan."


Mona menggigit bibir bawahnya. Ia tidak sanggup menahan tangisan bahagianya. Melihat itu, Daniel menarik Mona dalam dekapan. Spontan tangisan Mona pecah. "Aku kangen banget, Mas. Seminggu kamu gak pulang. Bahkan kamu jarang banget buat hubungin aku."


Daniel mengecup pucuk kepala istrinya. "Biasanya kamu yang hubungin aku, jadi aku nunggu. Aku pikir kamu sibuk, jadi aku gak berani ganggu."


"Huaaa... kamu gak tahu gimana rasanya kangen kelewat kangen, Mas. Apa lagi sejak aku hamil, pengennya kamu peluk terus."


"Kenapa gak ngomong? Biasanya juga kamu ngomong." Tanya Daniel.


"Aku takut kamu marah karena ganggu kerjaanmu, Mas. Setahun kita nikah, aku liat pekerjaan lebih penting dibanding aku sebagai istri kamu. Aku tahu, aku bukan cewek yang kamu mau. Aku terlalu maksa kamu buat jatuh cinta sama aku. Tapi... kalau emang kamu gak cinta, kenapa kamu nikahin aku, Mas?" Mona benar-benar mengeluarkan segala aral di hatinya.


Lisa, Desi dan Bella pun saling memandang sejenak. Setelah itu mereka kembali fokus menonton.


Daniel menghela napas berat. "Aku kerja buat kamu, Mona. Aku kerja keras supaya kamu bahagia. Aku takut kamu berpaling saat aku gak punya apa-apa. Karena itu aku kerja lebih keras setelah menikah. Supaya bisa terus menuhin kebutuhan kamu, apa lagi bentar lagi kita bakal punya anak. Aku pikir semua itu bisa menunjukkan rasa cintaku sama kamu. Tapi kayaknya aku salah. Tetap aja kamu butuh pengakuan. Kalau aku gak cinta, aku gak mungkin maksa diri buat nikahin kamu, Mona."


Mona terdiam dalam tangisannya.


"Aku gak pernah pacaran, Mon. Bahkan cewek yang deket sama aku cuma Desi, adek aku sendiri. Jadi aku gak paham gimana caranya dapetin hati cewek. Aku juga selalu kaku pas berhadapan sama kamu. Anggap aja aku ini cemen. Kalau boleh jujur, aku udah jatuh cinta sejak pertama kali kita ketemu. Kamu gadis ceria, bahkan berani ngungkapin perasaan dengan gamblang. Aku suka cewek agresif."


"Terus... kalau suka kenapa biarin aku kayak orang bodoh ngejar kamu, Mas. Sampe aku berpikir kamu kepaksa nerima aku karena aku sahabat adik kamu." Kesal Mona.


Daniel tersenyum. "Kan aku udah bilang, aku selalu kaku kalau udah di dekat kamu. Kemarin Desi hubungin aku, dia minta aku pulang. Padahal aku berharap banget kamu yang minta, sayang."


Mona mengeratkan pelukannya. "Aku cuma takut kamu marah, Mas."


"Emang selama ini aku pernah marah sama kamu? Gak pernah kan?"


Mona menggeleng. "Maaf."


Daniel mengecup pucuk kepala istrinya. "Udah, jangan nangis lagi. Tuh tiga sejoli dari tadi ngintip."


Mendengar itu Mona langsung berbalik dan memergoki ketiga ibu-ibu kepo itu dengan tatapan tajam. Ketiganya pun cengengesan, setelah itu mereka pun bubar.


Mona kembali memusatkan perhatian pada suaminya. "Kangen banget, Mas."


"Sama, aku juga kangen. Buat minggu ini aku bakal habisin waktu di rumah bareng kamu. Maaf ya, aku sering ninggalin kamu. Mulai sekarang aku akan lebih perhatiin kamu." Daniel mengusap pipi mulus Mona.

__ADS_1


Mona tersenyum senang. "Makasih, Mas. Itu yang aku tunggu. Qualiti time bareng kamu."


Daniel tersenyum, kemudian ia membungkuk. Menyejajarkan wajahnya dengan perut buncit Mona, lalu memberikan kecupan hangat. "Apa kabar anak Papa?"


"Baik, Papa." Mona menirukan suara anak kecil. "Dia aktif banget, Mas. Tiap malem aku gak bisa tidur nyenyak, gerak terus soalnya."


"Oh ya? Jadi penasaran seperti apa baby kalau gerak. Maafin Papa ya, sayang. Papa jarang banget nyapa kamu. Abis kecantikan Mama kamu bikin Papa gugup dan kikuk. Tenang aja, sekarang Papa udah belajar jadi suami dan Papa yang baik untuk kalian."


Mona tertawa lucu. "Emang belajar sama siapa?"


"Youtube." Jawab Daniel apa adanya.


"Ya ampun, Mas. Sampe segitunya."


Daniel kembali menegakkan tubuhnya. Ditatapnya wajah cantik Mona begitu dalam. "I love you."


Mona tersenyum haru, setahun menikah baru hari ini ia mendengar ikrar cinta dari mulut suaminya. "I love you too, Mas."


"Yuk masuk lagi, kasian mereka nunggu. Kita lanjut mesra-mesraannya di rumah." Ajak Daniel menggenggam tangan Mona. Lalu keduanya pun masuk kembali.


"Ekhemm... yang abis temu kangen. Mesra bener." Sindir Desi mengerlingkan matanya pada Mona.


"Jelas dong, emang kalian aja yang boleh mesra-mesraan? Gw juga bisa kali." Mona menjulurkan lidahnya.


"So, lanjut ngobrol apa makan dulu? Kasian nih makanan udah mau basi." Canda Erkan.


"Makan dulu deh, laper banget." Sahut Elkan.


"Sama nih." Timpal Nichole sambil membenarkan posisi tidur putra kecilnya.


"Lah, kirain chef mah gak lapar." Cibir Daniel.


"Dih... chef juga manusia, Bang. Butuh asupan nutrisi." Sahut Nichole yang disambut tawa oleh yang lainnya.


"Duh... pantes dari tadi diperhatiin ngelirik ke sana terus. Ya udah sok atuh dimulai, siapa yang pimpin doa?" Tanya Lisa.


"Ray aja, Mama." Sambar Rayden yang berhasil mengundang tawa. Lalu dengan khidmat Rayden mulai membaca doa makan. Dan makan malam itu pun berjalan dengan penuh kehangatan.


Namun, saat sedang asik menikmati hidangan. Erkan merasa mual mencium aroma lobster. Lisa yang melihat gelagat aneh suaminya pun langsung bertanya. "Mas, gak papa kan? Mual ya?"


Erkan mengangguk. "Maaf." Ucapnya langsung bangkit dan beranjak keluar. Spontan semua orang menatap Lisa untuk meminta jawaban.


"Jangan bilang hamil simpatik ya?" Tanya Desi yang langsung dijawab anggukan oleh Lisa.


"Duh... sweetnya. Beneran cinta mati kayaknya suami lo, Sa." Sahut Mona. "Jadi iri."


"Iri pala lo, yang ada gw kasian sama suami. Tiap saat mual terus. Udah ah, gw nyusul doi dulu. Ray, di sini dulu ya. Mama mau liat Papa."


Dengan patuh Rayden mengangguk. Anak itu sepertinya sangat menikmati makan malamnya.


"Guys... titip anakku ya. Bentar aja cuman." Lisa pun langsung menyusul suaminya.


"Duh... jangan bilang Mas Erkan masuk toilet cowok lagi? Gimana mau masuk?" Gumam Lisa berdiri di depan toilet pria dengan gelisah.


Lima menit kemudian, Erkan keluar dari sana. "Mas, gak papa kan? Masih mual gak?"


Erkan menggeleng. "Kayaknya mual karena bau lobsternya. Aneh banget baunya, bikin enek."


Lisa tersenyum geli seraya mengeluarkan minyak kayu putih. Lalu memberikannya pada Erkan. "Namanya juga ngidam mas. Duh... jadi gimana dong? Kalau masuk ke sana pasti kamu mual lagi."


"Mas cari meja lain aja deh. Masih laper soalnya. Kamu gabung aja sama yang lain."

__ADS_1


"Lah, mana bisa Lisa biarin Mas sendiri."


"Gak papa, sayang. Mas gak masalah. Lagian mereka kan bestie kamu. Udah lama juga kalian gak ngumpul."


"Ck, gak papa nih?"


"Enggak, sayang. Mas bisa duduk sendiri."


"Kalau ada yang godain kamu gimana?"


Erkan tertawa renyah. "Jauh banget mikirnya. Udah sana, lagian kalau ada yang mau goda pun Mas gak bakal tertarik."


Lisa menarik napas panjang. "Ya udah, Lisa ke dalam lagi ya? Kalau ada yang godain, cepet-cepet hubungin Lisa loh. Awas aja kalau kegoda."


"Iya bawel."


Lisa tersenyum. "Ya udah, Lisa masuk lagi. Jaga mata jaga hati, awas loh."


Erkan mengangguk pasrah. Lisa tertawa kecil, lalu kembali ke ruangan tadi. Sedangkan Erkan mencari meja yang masih kosong.


"Loh, Erkan mana?" Tanya Elkan saat melihat Lisa datang sendirian.


Lisa duduk di tempatnya semula. "Mas Erkan mual nyium aroma lobster. Makanya milih duduk di luar."


"Lah, kok gitu? Sendirian dong?" tanya Bella.


"Mau gimana lagi, Bel. Kalau udah mual suami gw keterusan nantinya, kasian ih. Kadang sampe lemes. Padahal gw yang hamil, dia yang menderita."


"Baguslah, jadi dia rasain apa yang harusnya lo rasain. Ibaratnya itu kerja sama yang baik, jangan cuma lo aja yang susah. Kayak gw waktu hamil Keano, semuanya gw yang rasain, mual, pusing, ngidam, sakit. Lah suami gw mah anteng aja." Celetuk Desi.


Nichole yang sedang dibicarakan pun terlihat santai. Ya, lelaki itu memang selalu santai dalam segala hal.


"Gini aja deh, kita yang cowok-cowok di luar buat nemenin Bang Erkan. Kalian yang cewek di sini aja, gimana? Lagian kita udah selesai juga makannya." Usul Daniel.


"Boleh, kita ngopi di meja luar aja. Di sini pengap juga." Sahut Nichole melirik istrinya.


"Dih... terus Keano sama siapa?" Sahut Desi.


"Kamulah, tar kalau diluar dia minta mimik gimana?"


Desi menghela napas pasrah. "Ya udah sini. Dasar, kalau udah nongkrong lupa sama anak." Kesalnya.


"Sesekali, Yang." Jawab Nichole seraya memberikan Keano pada istrinya.


"Ssssttt...." Desi agak menggoyangkan tubuhnya saat Keano terkejut.


"Aku ikut mereka ya?" Izin Daniel pada istrinya. Mona pun mengangguk.


"Bel, Cika sama Ciki aku bawa apa sama kamu aja?"


"Di sini aja, Mas. Kasian nanti kamu gak bisa ngobrol." Jawab Bella menatap si kembar yang sedang bermain di dalam stroler.


"Makasih, sayang." Ucap Elkan yang disambut anggukan oleh Bella.


Para lelaki pun langsung beranjak keluar.


Lisa menatap putranya yang masih asik memakan daging lobster. "Ray, asik banget? Emang gak pengen ikut Papa?"


Rayden menoleh. "Enggak ah, gak enak kalau ikut Papa. Dulu aja Ray cuma diem aja, habis Papa bahasnya bisnis terus. Ray kan gak ngerti. Ray di sini aja ngegosip sama Mama."


Lisa, Bella, Mona dan Desi yang mendengar itu langsung tertawa.

__ADS_1


"Dasar bocah tengil." Ledek mereka berempat kompak.


Tbc....


__ADS_2