SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Sekretaris Cantik


__ADS_3

Lisa berbalik, ditatapnya wajah Erkan dengan seksama. "Sejak kapan Mas mencintai Lisa?"


Erkan tersenyum, lalu dikecupnya bibir sang istri sekilas. "Mungkin sejak pertama kali kita bertemu. Mas sudah tertarik sama kamu. Jantung Mas selalu berdegup kencang pas liat kamu senyum."


Wajah Lisa pun merona parah karena mengingat semua kejadian memalukan saat pertama kali mereka berjumpa. "Ih... Lisa malu tahu. Jadi ingat kejadian memalukan. Kejebur, terus Mas teh mergokin Lisa lagi haid kan? Jadi malu sendiri pas ingat itu."


Erkan tertawa kecil. "Tapi itu kenang-kenangan indah untuk Mas. Kamu lucu, bahkan bikin gemes. Dari situ Mas sadar, kalau kamu itu perempuan langka. Blak-balakan dan jujur tentunya. Harus segera dihalalin."


Lisa tersenyum lebar. "Bukannya kita teh memang harus jujur ya? Gak baik bohong. Lisa mah orangnya ngomong terus terang, mau suka atau enggak."


"Itu yang Mas suka dari kamu. Gemesin banget sih istri siapa huh?" Erkan mencubit kedua pipi Lisa gemas.


"Ihh... sakit atuh Mas. Pasti pipi Lisa teh merah kan? Jahat pisan ih." Kesal Lisa sambil mengusap pipinya yang memerah.


Erkan tersenyum. "Ya udah, Mas kerja dulu. Kamu kalau mau keliling boleh kok. Di sini aman, gak akan ada yang berani nyulik kamu."


Lisa tertawa kecil. "Siapa yang berani nyulik Lisa, Mas? Tar Lisa sleeding biar jumpalitan. Enak aja mau nyulik Lisa, salah orang atuh."


Erkan tertawa lucu. "Kalau gini Mas gak perlu khawatir lepasin kamu di luar. Udah sana main, kalau di sini terus Mas gak akan fokus."


"Jadi Mas teh ngusir Lisa nih?" Gurau Lisa.


"Iya, biar Mas bisa fokus kerja. Udah sana main." Titah Erkan.


"Dih... udah kayak anak kecil aja di suruh main. Ya udah deh, Lisa teh main dulu ya Papa. Uang jajannya mana?" Lisa menengadahkan tangannya seperti anak kecil yang meminta uang jajan pada Ayahnya.


Erkan merogoh dompetnya, kemudian mengeluarkan black card dan memberikannya pada Lisa. Sontak Lisa terkejut. Padahal dia kan cuma bercanda. "Pegang itu, penuhi semua kebutuhan kamu. Sekarang kamu tanggung jawab Mas."


Lisa menatap Erkan penuh haru. "Makasih, Mas. Lisa terima ya?"


"Iya, itu memang jatah kamu." Erkan mengusap kepala istrinya.


Lisa tersenyum senang. "Yey! Berhubung udah ada uang jajan. Lisa teh pamit buat main ya, Papa." Lisa menarik tangan Erkan dan menciumnya dengan mesra.


"Kayak anak kecil aja."


"Siapa suruh Mas beneran ngasih uang jajan. Mana isinya pasti tanpa limit lagi. Ini mah bisa jajan satu emol." Celetuk Lisa yang berhasil mengundang tawa Erkan.


"Ya udah, Lisa pergi keluar sebentar. Love you, Mas." Lisa pun berjinjit dan mengecup pipi Erkan sebelum melesat pergi. Erkan tersenyum geli melihat tingkah lucu istrinya itu.


"Love you too, sayang." Setelah itu Erkan beranjak menuju meja kerjanya dan mulai berkutat di sana.


Sedangkan di luar, Lisa terlihat menikmati kesendiriannya.


"Pagi, Buk." Sapa para karyawan yang berpapasan dengan Lisa.


"Pagi." Sahut Lisa tersenyum ramah.


Duh... jadi gini ya rasanya jadi Ibu bos? Lisa terkekeh dalam hati.


Lisa pun terus menyusuri lorong perusahaan dengan perasaan bahagia.


Setelah puas berkeliling, Lisa pun kembali ke ruangan suaminya dengan gontai. Erkan yang melihat itu mengerut bingung.


"Kenapa loyo gitu?" Tanya Erkan sedikit melonggarkan dasinya.


Lisa pun menjatuhkan bokongnya di sofa. "Capek, Mas. Padahal mah belum habis Lisa teh keliling."

__ADS_1


Erkan pun bangkit dan ikut duduk di sebelah istrinya. Ditatapnya wajah Lisa yang berkeringat. "Lumayan kan olahraga pagi."


Lisa menghela napas panjang. "Ray belum bangun?"


"Sepertinya belum." Erkan terus memperhatikan Lisa yang terlihat seksi saat berkeringat seperti itu. Erkan jadi ingat adegan panas yang sering mereka lakukan.


"Mas suka kalau kamu keringetan gitu."


Lisa melotot mendengarnya. "Hih, pasti pikiran kamu teh udah kemana-mana kan? Emang ya, kayaknya semua cowok itu otaknya gak jauh dari sana." Lisa bangkit dan berjalan ke arah kulkas. Mengambil minuman dingin, setelah itu kembali ke sofa.


"Padahal Mas cuma bilang kalau Mas suka kamu yang keringatan. Kenapa jadi bahas ke sana? Kayaknya kamu yang ngeres pikirannya."


Uhuk!


Lisa tersedak mendengar perkataan suaminya.


Bener juga ya? Apa bener pikiran aku yang mulai ngeres sejak nikah. Duh... jadi malu.


"Ih... tetap aja salah kamu, Mas. Lisa kan ngeres juga kamu yang ngajarin." Kekeh Lisa tidak mau kalah.


Erkan tersenyum geli. "Perempuan emang gak pernah mau ngalah."


"Iya dong. Kan cewek selalu bener."


"Iya aja deh, Mas pasti kalah kalau debat sama kamu."


Lisa terkekeh lucu. "Oh iya, Mas teh udah selesai kerjanya?"


Erkan menggeleng. "Kerjaan Mas gak akan selesai-selesai."


Lagi-lagi Lisa terkekeh lucu. "Lupa kalau Mas teh bos. Oh iya, biasanya kan bos punya sekretaris cantik. Kok Lisa mah gak lihat Mas punya sekretaris."


Lisa terkejut mendengarnya dan langsung meletakkan botol minum di atas meja. "Seriusan?"


Erkan mengangguk yang diiringi senyuman penuh arti. "Sebentar lagi dia akan datang untuk meminta tanda tangan."


Lisa menyebikkan bibirnya. "Emang beneran cantik ya?"


Erkan mengangguk. "Cantik banget malah."


Lisa memasang wajah tidak senang. "Terus kalian teh sering ketemu gituh?"


"Hm. Dia kan sekretaris Mas. Ke mana-mana pasti ikut."


Lisa menyebikkan bibirnya. "Dia gak gatal kan? Lisa teh sering baca di cerita kalau kebanyakan sekretaris perempuan itu sering goda bosnya. Kalian gak punya scandal kan?"


Erkan tersenyum geli. "Entahlah."


"Mas!" Kesal Lisa melipat kedua tangannya di dada. "Awas aja kalau dia gatel. Lisa teh bakal jambak rambutnya."


"Hm. Kamu liat aja sendiri nanti. Kita lihat gatal atau enggak dia."


Tok tok tok


Lisa dan Erkan pun saling memandang. "Dia datang." Kata Erkan.


"Masuk." Sahut Erkan masih setia memandangi istrinya.

__ADS_1


Tidak lama pintu ruangan pun terbuka. Memperlihatkan seorang wanita paruh baya. Mulut Lisa terbuka saat melihat sekretaris cantik yang dimaksud.


"Maaf, Bos. Saya menganggu?" Tanya wanita itu tersenyum ramah.


Erkan bangkit. "Tidak, silakan." Lelaki itu kembali ke mejanya.


Lisa pun mencoba menormalkan ekspresinya. Dan terus memperhatikan Erkan yang sedang berbincang dengan wanita itu.


"Di mana harus saya tanda tangani?" Tanya Erkan.


Wanita paruh baya itu pun menunjuk bagian yang harus Erkan tanda tandangi. "Jangan lupa setelah makan siang ada meeting, Bos."


"Terima kasih, saya tidak lupa. Sudah?"


"Sudah, bos." Wanita itu tersenyum ramah. Erkan mengangguk dan mengembalikan dokumen itu pada sang sekretaris.


"Oh iya, Kak. Perkenalkan itu istriku." Erkan melirik ke arah Lisa yang sedang nyengir sendiri.


"Hallo, saya Linda. Sekretaris suami Anda. Senang bisa bertemu dengan Anda, Nona."


Erkan tesenyum geli saat melihat ekpresi istrinya.


"Panggil aja Lisa." Pinta Lisa bangun dari duduknya.


Linda pun mengangguk patuh.


"Gimana, sayang? Cantik kan sekretaris Mas?"


Lisa tersenyum malu. "Cantik pake banget." Jawabnya.


Linda tersenyum geli.


"Oh iya Kak, tadi istriku bertanya. Apa Kakak pernah tertarik padaku?" Tanya Erkan ingin menggoda Lisa.


Lisa memelototi suaminya. Sedangkan Linda yang mendengar itu tertawa lucu. "Jangan cemas, Lisa. Saya gak pernah tertarik sama berondong. Lagian saya sudah punya suami dan tiga anak."


Lisa menggigit ujung bibirnya. "Maafkan saya, Kak Linda. Saya pikir sekretaris Mas Erkan itu masih muda seperti yang sering ada di novel-novel, hehe."


Linda terkekeh lucu mendengarnya. "Bos, Anda sangat beruntung punya istri selucu ini. Semoga kalian selalu bahagia."


"Aamiin. Terima kasih, Kak." Ucap Erkan.


Linda pun tersenyum ramah. "Sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu ya?"


"Silakan." Sahut Erkan. Linda pun langsung bergegas pergi dari sana. Dan sekarang hanya ada mereka berdua lagi.


Erkan menghampiri istrinya. "Gimana? Sekretaris cantik, seksi dan sering menggoda huh?"


Lisa menunduk malu. "Maaf."


Erkan menarik dagu istrinya. Ditatapnya wajah cantik itu begitu dalam. "Mulai sekarang hilangkan stereotip dari kepalamu. Tidak semua sekretaris wanita seperti itu. Mungkin ada, tapi tidak semua."


Lisa mengangguk dan langsung memeluk Erkan. "Maaf."


"Sudah, lupakan. Sekarang berikan suami kamu semangat."


"Hah?" Lisa mendongak dengan tatapan bingung. Dan itu sangat menggemaskan bagi Erkan. Secepat kilat Erkan menyambar bibir manis istrinya itu. Lisa sempat kaget, tetapi perlahan ia ikut terbuai. Lisa mengalungkan kedua tangannya di leher Erkan. Dan Erkan menarik tengkuk Lisa, memperdalam ciuman. Hingga lagi-lagi suara kecil yang menggemaskan itu mengejutkan keduanya.

__ADS_1


"Papa, Mama."


__ADS_2