SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Kumpulnya Keluarga Besar


__ADS_3

Saat hendak pulang, lebih tepatnya di dalam mobil. Lisa menghajar Erkan habis-habisan. Bahkan tidak ragu Lisa menjambak suaminya itu sangking kesalnya.


"Ihhh... ngeselin." Geram Lisa terus menarik rambut dan mencubit Erkan.


"Aduhh... sakit, sayang." Keluh Erkan.


Rayden yang melihat itu juga kaget. "Mama, kenapa Papa dipukul?" Tanyanya dengan polos.


Lisa menoleh dengan wajah kusut. "Papa kamu nakal, Ray. Makanya harus dihukum." Kesal Lisa.


"Papa nakal ya? Tapi dari tadi Papa main sama Ray, Ma. Emang Papa salah apa?"


Lisa menatap Erkan, spontan Erkan tersenyum penuh kemenangan.


"Hayo... mau jawab apa huh? Mas kan gak salah apa-apa, Yang." Gumam Erkan.


"Ihhh... ngeselin. Ray juga ngeselin." Lisa mengubah posisi duduknya jadi lurus ke depan.


"Mama, marah sama Ray juga ya?" Ray bangun, lalu memeluk Lisa dari belakang. "Ray minta maaf, Mama."


Mendengar itu kekesalan Lisa pun mendadak sirna. "Sini, sayang." Lisa menarik Rayden ke dalam gendongannya. Lalu dikecupnya kening Rayden. "Mama gak marah kok sama Ray, Mama marahnya cuma sama Papa aja."


Rayden mengangguk, kemudian menatap Erkan. "Papa gak boleh nakal lagi, nanti Mama marah."


Lisa tertawa geli. "Tuh dengeri anaknya, Ray aja paham. Uhh... Mama makin sayang deh sama Rayden." Dipeluknya Rayden penuh cinta. Tentu saja Erkan merasa iri dan langsung melajukan mobil.


"Ray aja yang dipeluk, Mas enggak, Sa?"


"Gak ada peluk-peluk selama satu bulan. Siapa suruh bikin Lisa malu."


"Cuma peluk doang kan yang gak boleh? Kalau gitu gak papa, selagi yang lain masih bisa."


"Ihh... ngarep banget. Gak ada yang lain juga. Pokoknya gak Lisa kasih jatah sampe sebulan."


"Duh... mana boleh gitu sayang. Dalam agama aja gak boleh loh suami istri ninggalin hubungan suami istri terlalu lama. Ibarat sumur yang gak pernah ditimba, lama-lama bisa kering." Bujuk Erkan.


"Hih... kalau masalah gituan aja tahu sampe hadis-hadisnya. Terus kenapa gak belajar gimana caranya jaga mulut? Lemes banget, kayak pasta gigi."


Erkan tertawa geli. "Ada pedes-pedesnya ya, Yang?"


"Ihh... malah becanda lagi. Gak lucu." Ketus Lisa. Dan itu kembali mengundang tawa Erkan.


"Manis banget kalau lagi ngambek. Jangan lama-lama ya? Tar Mas bisa diabetes loh."


"Bodo."


"Tuh kan, makin manis. Kayak gulali."


Lisa memeloto suaminya itu. "Bisa diem gak, Mas? Fokus aja nyetir."


"Iya, bawel." Erkan mencubit pipi Lisa gemas.


"Mas!" Geram Lisa. Dan Erkan tertawa lagi. Sepanjang perjalanan pun dihiasi dengan tawa dan ocehan Lisa. Rayden yang tidak tahu apa-apa pun cuma bisa nyimak sambil meluk Lisa.

__ADS_1


****


Sesampainya di rumah, Lisa mengerutkan dahi saat melihat mobil Asep.


"Abah, Mamah." Pekiknya. Lisa pun langsung membawa Rayden masuk tanpa menunggu suaminya. Erkan yang melihat itu cuma bisa menggeleng.


"Nenek, Kakek." Seru Rayden langsung berhambur dalam pelukan Mamah Endang.


"Duh... kangennya sama si kasep." Mamah menggendong Rayden dan mengecup pipinya. Lisa pun menyalami mereka dengan penuh rindu. Kemudian duduk di sebelah Abahnya.


"Nginep kan, Bah?"


"Iya, Mamah kamu ngerengek terus pengen nginep katanya. Pengen cobak tinggal di rumah gede."


Lisa terkekeh lucu mendengarnya. "Boleh atuh, Mah. Mau tinggal di sini selamanya juga boleh."


"Bisa aja kamu. Terus Erkan mana, Neng?" Tanya Abah.


"Wah, Abah sama Mamah udah sampe ya?" Sapa Erkan yang baru saja masuk. Kemudian ia pun menyalami mertua dan Abang iparnya.


"Baru aja sampe, Er. Gimana kabar kamu, udah mendingan kan? Udah seger banget kayaknya." Abah tersenyum menatap Erkan.


"Berkat kegigihan anak Abah makanya Erkan bisa sesehat ini," jawab Erkan apa adanya. Kemudian ia ikut duduk. Diatatapnya Rayden yang bergelayut manja pada Mamah mertua.


"Jelas lah, dikasih servis tiap hari." Celetuk Asep yang berhasil mendapat cubitan dari Mamah. "Ck, Aa teh ngomong apa adanya, Mah. Iya kan, Neng?"


"Iya aja deh biar cepet." Sahut Lisa yang juga bergelayut manja di lengan Abah. "Bah, bawa ikan mas gak?" Bisiknya.


"Bawa atuh, tar kita panggang sama-sama."


"Dih... ngasih kode itu mah. Iya atuh nanti Mamah masakin. Kasian juga anak Mamah."


Lisa pun bersorak kegirangan. "Pokoknya mah kita makan bareng di belakang ya? Atau enggak nanti malam kita pangang-panggang di halaman depan."


"Boleh, Sayang. Nanti Mas hubungin Mama sama Papa. Katanya Vio juga mau pulang sore ini. Kali aja mereka mau ikutan."


"Wah... ngumpul semua dong. Bang Elkan sama Bella pulang gak ya?" Seru Lisa kesenengan.


"Itu yang Mas gak tahu, sayang." Sahut Erkan.


"Ya udah, Abah sama Mamah teh istirahat dulu nya? Yuk Eneng anterin ke kamar."


"Eh... tar aja. Abah masih mau ngobrol sama suami kamu."


"Oh, ya udah sok atuh." Lisa pun mengalihkan perhatiannya pada Asep yang asik bermain game. Bahkan Rayden juga kini sudah duduk di sebelahnya.


"A!"


Asep menoleh. "Naon? Mau ngasih duit? Sinih." Seraya menengadahkan tangannya.


"Ihh... bukan atuh. Cuma mau nanya, kenapa Teh Devi gak diajak? Kangen ih."


"Oh. Gak mau ikut, udah diajak juga."

__ADS_1


Lisa pun manggut-manggut. "Itu Ray kenapa udah lengket aja, si Aa mah virus ih."


"Lah, kok nyalahin Aa sih?" Asep tidak terima seraya melirik Rayden yang tidak sabar pengen ikutan main.


"Tuh buktinya lengket gitu?" Lisa terkekeh lucu.


"Kangen sama Uncle ya? Nih, Uncle kasih deh."


Rayden pun kegirangan. Tentu saja hal itu membuat semua orang tersenyum bahagia.


Malam harinya, rumah Erkan benar-benar ramai karena semua keluarga hadir tanpa terkecuali. Termasuk Mona, Desi dan Chelyn ikut hadir meramaikan suasana. Hebatnya lagi Desi mengajak Nichole yang ternyata sudah menjadi kekasihnya.


Saat ini semua orang terlihat sibuk dengan tugas masing-masing. Bapak-bapak urusan manggang memanggang. Sedangkan Ibu-ibunya ada yang siapin sambel kecap sama lalapannya. Juga ada yang masak nasi.


"Duh... perih banget kena asep. Mata cantik guah ternodai." Keluh Bella saat asap panggangan lari ke arahnya.


"Masih mending asep atuh, Bel. Nih, si bawang merah bikin gua nangis kejer. Udah kayak bawang putih guah." Sahut Lisa dengan air mata bercucuran akibat memotong bawang merah.


"Sabar ya Ibu-ibu. Saya mah aman, kebagian motong buah bang Mamat. Hahaha." Desi ikut nimbrung sambil nyincang buah tomat.


"Lah, masih mending. Gua di kasih jatah cabe-cabean. Apa gak pedes tangan gw? Sempat lupa, abis mata gw." Adu Mona yang kebagian nyincang cabai rawit.


"Saya dong lebih aman.... di kasih babang mentimun. Aman tentram, damai...." kata Viola berbangga hati.


"Udah jangan pada ngeluh, liat nih saya. Kebagian ngulek mengulek. Sambel terasi nih, gak ada lawan." Heboh Mama Dinar berhasil membuat yang lain tertawa.


Tidak lama dari itu Mamah Endang datang bersama Bik Inah membawa sebaskom besar nasi liwet. "Ini mau ditarok di mana atuh?"


"Di situ aja dulu atuh, Mah. Tar kita amparin daun pisangnya." Sahut Lisa.


"Duh... seneng pisan meni rame." Kata Bik Inah.


"Iya dong, Bik." Sahut yang lain kompak.


"Terus ini teh yang Bapak-bapak gimana? Udah mateng belum ikannya? Udah laper pisan atuh. Tos teu sabar bade nyobian ikan ala chef Nichole. Jarang-jarang dimasakin sama chef langsung." Ujar Mamah Endang menambah kehebohan malam ini.


"Siap, Buk. Sebentar lagi juga mateng." Sahut Nichole.


"Mama, Ray laper." Rengek Rayden bergelayut di pundak Lisa.


"Duh... anak Mama udah gak sabar ya? Bentar lagi ya, sayang. Ikannya belum mateng." Lisa mengecup pipi gembul Rayden.


"Mama, mata Ray perih." Keluh anak itu sambil mengucek matanya.


"Duh... makanya jangan deket sama Mama. Ini Mama teh lagi iris bawang. Sana sama Nenek aja. Mah, tolongin Ray atuh. Katanya udah lapar."


"Sini, kasep." Rayden pun langsung berlari ke arah sang Nenek. "Laper, Nenek."


"Ya udah, yuk minta ikannya sama chef ganteng."


Rayden pun mengangguk dan tersenyum bahagia.


Suasana itu heboh itu pun baru pertama kali terjadi di rumah Erkan. Tentu saja hal itu membuat kesenangan tersendiri dalam hati Erkan. Menikah dengan Lisa merupaka berkah untuknya. Karena selain menambah keluarga, suasana yang tadinya sepi kini semakin harmonis dan penuh kehangatan.

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2