
"Wah...." Lisa terperangah saat melihat rumah yang akan ditempati mereka mulai hari ini. Bagaimana tidak, rumah itu benar-benar sangat mewah dan lebih besar dari rumah Erkan di kampung.
"Ayo masuk." Ajak Erkan memboyong anak dan istrinya masuk ke dalam rumah. Dan mereka pun langsung disambut hangat oleh seorang wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga Erkan sejak lama.
"Selamat datang, Tuan, Nyonya." Sapanya.
"Ini asisten rumah tangga yang akan nemenin kamu di sini, Bik Inah." Ujar Erkan yang berhasil mengembangkan senyuman Lisa.
"Salam kenal, Bik. Orang sunda juga ya?"
"Eh, iya Nya." Kaget Bik Inah.
"Duh... kalau gitu mah kita teh satu suku atuh Bik. Seneng kalau gini mah, Lisa teh bisa punya temen ngobrol."
"Bibik juga seneng atuh kalau gini mah." Bibik tersenyum ramah.
"Bik, Mang Ujangnya di mana? Saya mau minta tolong bantuin bawa barang ke kamar." Tanya Erkan.
"Oh, itu si Mamang teh lagi bersihin kolam, Tuan. Kalau gitu saya panggil dulu. Mari, Tuan, Nya."
"Iya, Bik." Jawab Erkan. "Mang Ujang itu tukang kebun di sini. Suami Bibik." Jelas Erkan karena melihat kebingungan di wajah istrinya.
"Oh." Lisa pun manggut-manggut.
"Mama, ini kamar Ray. Ayo masuk, Mama." Ajak anak itu begitu semangat seraya menarik tangan Lisa.
Lisa pun tersenyum dan mengikuti keinginan putranya. Lalu Rayden pun membuka kamarnya yang sudah di renovasi dan jauh lebih luas dari sebelumnya. Kamar itu didominasi warna biru dan putih. Juga terdapat lukisan doraemon tiga dimensi di atapnya.
"Wah, kamarnya penuh sama doraemon."
Rayden mengangguk antusias. "Ray kan suka sama doraemon, Mama."
"Seneng banget kayaknya ya?" Tanya Erkan yang ikut masuk ke kamar putranya.
"Iya, Papa. Ray seneng karena kamarnya warna biru. Terus pas Ray bobok bisa liat doraemon." Oceh anak itu naik ke atas ranjang dan melompat-lompat di sana.
Lisa menatap suaminya dengan senyuman manis.
"Ayo lihat kamar kita. Kamu juga bisa langsung istirahat." Ajak Erkan merangkul istrinya.
"Ray mau ikut." Seru anak itu kembali turun dari tempat tidur.
"Ayo, sayang." Ajak Lisa. Lalu ketiganya pun keluar dari kamar itu dan beranjak ke kamar utama. Lagi-lagi Lisa terksiap melihat kamar yang sangat luas dan mewah itu.
"Wah, Mas. Ini kamar kita? Gede banget ih. Bisa main bola ini mah."
Erkan tertawa renyah. "Mas tidak suka kamar yang sempit. Kalau gini kita bisa banyak nyetak gol."
Lisa melotot mendengar itu. "Mesum. Jebol atuh Mas gawangnya kalau kebanyakan gol." Gumamnya.
Erkan tertawa geli dan mulai menyusuri kamar luas itu. Lalu memperkenalkan ruangan demi ruangan yang ada di sana pada sang istri.
"Ini kamar ganti, Mas udah isi sebagian lemari kamu dengan pakaian baru. Sisanya kamu isi sendiri." Ujarnya seraya membuka pintu berwarna gold itu. Memperlihatkan lemari dengan sepuluh pintu, meja rias yang sudah dipenuhi berbagai alat kecantikan. Lalu ia beralih pada pintu yang lain. "Ini kamar mandi, terus di sebelah sana itu ruang kerja Mas."
__ADS_1
Lisa mengangguk paham. Dan yang menjadi ketertarikannya saat ini yaitu jendela kaca raksasa yang langsung menampakkan kolam renang. Lisa pun berjalan ke sana.
"Kamu bisa renang?" Tanya Erkan. Sontak Lisa pun menoleh dan menggeleng.
"Lisa takut, dulu hampir tenggelam pas di sungai. Abis itu gak pernah lagi renang."
Erkan tertawa renyah. "Kalau gitu kalah sama Rayden dong. Dari umur dua tahun Ray udah pinter renang."
"Ck, mau gimana lagi. Lisa takut, Mas." Keluh Lisa.
"Nanti Mas ajarin kamu renang."
"Beneran?" Tanya Lisa begitu semangat.
"Hm, kita bisa belajar seminggu dua kali. Mas cuma libur hari sabtu sama minggu."
Lisa pun mengangguk antusias. "Boleh, Mas." Lalu keduanya pun masuk lagi ke kamar.
"Mama, Ray lapar." Rengek Rayden yang sudah duduk lemas di atas ranjang.
Lisa tertawa renyah. "Kebanyakan loncat-loncat sih. Yuk, Mama juga lapar sih."
"Mas pesen makanan di luar aja ya? Kayaknya Bibik juga belum sempat masak. Mas belum sempat isi dapur soalnya."
"Boleh, Mas." Jawab Lisa.
"Papa, Ray mau ayam kfc." Rengek Rayden bergelayut manja di kaki Erkan.
****
"Mas, nanti sore temen-temen Lisa teh mau ke sini. Boleh kan?" Tanya Lisa saat mengantar suaminya yang hendak ke kantor.
"Boleh, sayang. Rumah ini juga luas buat nampung mereka semua." Jawab Erkan yang disambut tawa oleh Lisa.
"Cuma bertiga, Mas. Emang Mas pikir semua temen Lisa gitu datang ke sini?"
Erkan memgerut. "Tadi kan kamu bilangnya temen-temen. Siapa yang salah?"
"Iya sih, hehe." Lisa meraih tangan Erkan lalu mengecupnya. "Hati-hati di jalan, Mas."
"Iya, sayang. Mas pergi dulu, ada meeting soalnya satu jam lagi." Ucap Erkan memberikan kecupan singkat di bibir istrinya. "Padahal masih kangen kamu, tapi kantor juga butuh Mas hari ini."
Lisa terkekeh lucu. "Nanti malam masih banyak waktu, Mas. Udah ah sana pergi, nanti telat lagi."
Erkan tersenyum. "Masuk ke mobil sebentar aja."
"Ngapain, Mas?"
"Masuk aja, sayang."
Lisa terkekeh lucu dan langsung menuruti perintah suaminya. Dan kini keduanya sudah berada di dalam mobil. Erkan pun menuntun Lisa untuk duduk dipangkuannya.
"Mas, nanti baju kamu kusut lagi loh." Bisik Lisa tersenyum geli.
__ADS_1
"Bentar aja, kusut dikit gak masalah." Sahut Erkan langsung menyambar bibir istrinya. Lalu keduanya pun terhanyut dalam ciuman panas.
Napas mereka tersengal saat tautan keduanya terlepas. Erkan menatap bibir bengkak istrinya. "Rasanya gak pernah berubah, manis."
Lisa tersenyum malu. "Mas, kamu bisa telat."
Erkan melihat arloji. "Masih ada waktu setengah jam. "Main bentar ya?"
Lisa memukul dada suaminya. "Semalam udah Lisa kasih juga. Nanti aja, Mas. Lisa mau bantu Bibik beberes."
"Bentar aja, sayang. Kayaknya Mas hari ini lembur. Tadi Kak Linda ngasih tahu bakal ada klien datang dari Jepang."
Lisa terdiam sejenak. "Ya udah, bentar aja. Padahal Lisa udah mandi loh, Mas." Rengeknya.
"Gak papa, mandi lagi biar makin wangi."
Lisa mengerucutkan bibirnya. Melihat itu Erkan kembali meyambar bibir istrinya. Dan keduanya pun benar-benar melakukan olahraga pagi di dalam mobil. Untung mobilnya masih digarasi jadi gak ada yang lihat saat bergoyang.
Napas Lisa tak beraturan saat keduanya selesai melakukan kesenangan pagi. "Capek, Mas." Lisa memeluk Erkan dengan lemas.
Erkan tersenyum geli. "Udah sana keluar, Mas harus pergi."
"Ih... udah dapat enaknya main usir aja. Tega banget sih kamu, Mas. Lisa teh masih lemes tahu." Kesal Lisa masih bergelayut manja dalam pelukan Erkan. "Baju kamu kotor, Mas."
"Gak papa, Mas punya baju ganti di kantor. Tar Mas ganti di sana aja."
"Ck, kerja dua kali kalau gini mah. Kamu sih gak ada puas-puasnya. Emang gak capek?" Tanya Lisa menghirup aroma maskulin suaminya.
"Mas gak pernah capek kalau sama kamu. Semangat terus." Goda Erkan.
"Ish." Lisa menarik diri dari pelukan suaminya. Lalu Erkan pun membantu Lisa merapikan pakaiannya lagi. Begitu pun sebaliknya.
Setelah itu Lisa pun bergegas keluar dari mobil Erkan. "Hati-hati, Mas."
"Iya, sayang. Mas pergi, nanti malam gak usah nunggu kalau Mas pulangnya kemaleman."
"Iya, Mas."
Erkan tersenyum. "Bukain gerbangnya dong, sayang."
"Eh, iya lupa." Lisa terkekeh lucu dan langsung beranjak untuk menbukakan gerbang. Erkan yang melihat itu cuma bisa menggeleng.
"Dadah, sayang. Makasih servis paginya, kamu makin hebat aja. Love you, sayang." Ucap Erkan yang berhasil mendapat pelototan dari istrinya. Untung rumah tetangga agak jauhan. Kalau enggak bisa malu Lisa kalau ada yang mendengar ucapan frontal Erkan.
Duh... punya suami mantan duda ternyata gini ya? Tapi aku suka sih, hehe.
"Love you too, hati-hati."
Erkan menekan klakson sebelum melajukan mobilnya. Lisa menggeleng pelan, setelah Erkan benar-benar pergi ia pun menutup pintu gerbang dan kembali masuk ke rumah. "Hah, harus mandi lagi ini mah. Punya suami doyan banget gituan. Bikin lemes aja." Gumamnya sambil tersenyum sendiri.
Tbc...
Cuma mau nyapa aja... met siang semuanya.
__ADS_1