
Berhubung cerita ini aku buat gak banyak babnya, jadi aku mutusin buat cerita baru aja untuk Elkan. Soalnya kalau kebanyakan Bab kesannya menoton banget gak sih? Takut ada yang bilang ceritanya kayak di paksain. Lagian aku buat cerita ini buat menghibur sih senenarnya, jadi gak banyak konflik berat dan isinya romantis semua. So happy aja ya guys... thanks selalu dukung karya-karyaku. Happy reading.
****
"Mamah!" Seru Lisa saat mereka tiba di kampung halaman. Sangking rindunya Lisa pun memeluk si Mamah dengan erat.
"Neng, kamu teh mau bunuh Mamah nya? Sesek atuh Neng, lepas dulu ah." Protes Mamah sambil memukul pelan punggung Lisa.
"Ih Mamah mah, gak kangen kitu ka Eneng teh?" Lisa menarik diri dari pelukan sang Mamah dengan bibir menyebik.
"Kangen atuh, Neng. Tapi gak meluk Mamah kayak gitu juga." Jawab Mamah. Lalu perhatiannya pun teralihkan pada Erkan yang tengah menggendong Rayden.
"Apa kabar, Mah?" Sapa Erkan menyalami tangan Mamah mertuanya.
"Baik. Duh... si kasep tidur ya? Hayuk atuh masuk dulu." Ajak Mamah. Lisa dan Erkan pun langsung masuk ke rumah.
"Wah, manten baru udah balik. Gimana bulan madunya?" Sembur Asep yang baru aja turun dari lantai atas.
"Ih, pertanyaan kamu teh gak berbobot, A." Tegur Mamah.
"Lah, Aa teh nanyanya bener, Mamah. Kan mereka teh baru pulang bulan madu. Udah jadi belum? Mana tahu langsung top cer." Celetuk Asep menatap Lisa penuh seringaian. Lisa yang melihat itu mendengus sebal. Sedangkan Erkan cuma tersenyum simpul.
"Mas, tidurin aja dulu Ray di kamar." Titah Lisa pada suaminya. Erkan pun mengangguk dan langsung masuk ke kamar istrinya itu.
Setelah kepergian Erkan. Lisa pun langsung melayangkan tatapan sengit pada Asep. "Hih, mulut Aa teh lemes pisan. Gak malu apa sama Mas Erkan?"
Bukannya sadar, Asep justru tertawa renyah. "Ngapain malu. Sama-sama lakik, udah paham dia. Enak gak Neng malam pertama?"
"Enak lah." Jawab Lisa spontan. Sontak ia pun terkejut sendiri. "Eh! Ih... Aa mah jebak Eneng nya. Mamah!"
Asep tertawa terbahak-bahak. "Duh... si Eneng teh udah gak polos lagi. Masa ting-tingnya udah habis. Sekarang udah tahu kan cara servis yang bener?"
Lisa melotot mendengarnya. "Ih... Mamah. Kunaon si Aa teh otak na makin ngeres? Minta kawin eta mah. Mamah, buruan kawinin si Aa teh."
Asep pun semakin tergelak. "Si Eneng udah gak ting-ting. Besoknya pasti bunting." Ledek Asep sambil bersenandung tak jelas.
Bukannya membela, Mamah yang melihat itu malah ikut tertawa. "Kamu mah bisa aja nyiptain lagunya, A."
"Mamah!" Kesal Lisa.
"Neng, si Aa teh gak salah. Bentar lagi juga kamu teh hamil, udah jebol kan?"
Lisa terkejut mendengarnya. "Ih, si Mamah sama Aa teh sama aja. Otaknya mesum. Udah ah, Eneng mau ke kamar."
"Cie... mau belah duren lagi ya? Udah basi Neng durennya." Ledek Asep lagi. Sontak Lisa pun melempar bantal sopa ke arahnya.
"Ngeselin." Lisa pun langsung beranjak ke kamarnya.
Erkan mengerut bingung saat melihat wajah merengut istrinya. "Kenapa lagi sih? Rame banget di depan."
"Apa lagi kalau bukan si Aa. Ngeselin pisan." Lisa pun duduk di sebelah Erkan dengan kesal.
Erkan tersenyum geli. "Nginap di sini atau di rumah Mas?" Tanyanya.
Lisa tampak berpikir. "Di rumah Mas aja deh, di sini mah banyak pengganggu."
Erkan tertawa renyah. "Gak jadi masalah di mana pun. Asal kamu nyaman."
Lisa menyandarkan kepalanya di pundak Erkan. "Mas, capek gak sih?"
Erkan mengangkat sebelah alisnya. "Kok nanya gitu?"
"Habis Mas keliatan gak pernah capek. Kerja tiap hari, terus nyetir dari kota ke sini. Pasti capek kan?"
__ADS_1
Erkan tersenyum. "Sebenarnya capek, tapi kan sekarang Mas udah punya obatnya. Capek Mas meluap pas liat wajah cantik kamu."
"Ih... kok malah gombal sih. Lisa teh lagi serius, Mas."
"Mas juga serius, sayang. Sekarang kamu itu obat dari segala obat penat yang Mas alami. Terserah kamu percaya atau enggak."
Lisa pun mendongak, menatap wajah Erkan lamat-lamat. Dan Erkan pun membalas tatapannya.
Lisa tersenyum. "Lisa teh bahagia... banget. Bisa punya suami ganteng dan romantis kayak kamu, Mas. Untung Lisa teh cepet pulang ke sini kan. Jadi kita teh bisa ketemu."
Erkan tertawa kecil. "Pada dasarnya kita udah jodoh, Sa."
"Iya sih, padahal mah Lisa teh gak ada niat loh buat nikah cepet. Tapi pas liat ketampanan duda di depan rumah, eh hati Lisa teh malah kepincut."
Erkan mengecup bibir cerwet Lisa dengan gemas. "Mas juga sebenarnya gak ada niat buat nikah lagi. Tapi pas ketemu kamu semuanya berubah. Mas pengen cepet-cepet nikahin kamu. Takut diambil orang."
Lisa tertawa geli. "Emang Lisa teh cantik nya? Sampe Mas kelepek-kelepek gitu? Padahal mah Lisa teh sadar diri, kalau Lisa teh masih pecicilan. Ngomong asal jeplak aja. Sempat mikir gini dulu, ada gak ya yang suka sama Lisa? Gak tahunya pulang kuliah langsung dinikahin sama duda."
Erkan tertawa lagi. "Nyesel gak dinikahin sama duda?"
"Enggak sih, soalnya Lisa teh sianida."
"Sianida?" Tanya Erkan bingung.
"Iya. Siap nikah sama duda."
Erkan tersenyum geli mendengarnya. "Mas baru tahu ada istilah itu. Setahu Mas sianida itu racun membahayakan."
"Lah, emang Mas gak pernah denger lagunya? Ada loh, gini nih liriknya." Lisa pun menegakkan tubuhnya dan berdeham kecil. Lalu ia pun mulai menyanyikan lirik lagu. "Aku sianida. Aku siap nikah sama duda. Punya anak tak masalah. Yang penting duda kaya."
Erkan tertawa lucu. "Beneran ada ya? Mas gak pernah denger loh. Tapi kok bisa pas gitu ya?"
"Gak tahu. Lisa aja heran, lagunya pas banget buat kisah kita hehe." Lisa ikut tertawa lucu.
"Ada-ada aja kamu. Udah ah, Mas pengen mandi dari tadi. Gerah."
"Iya, Mas ambil dulu sabun di mobil." Erkan pun beranjak keluar.
Di depan Erkan tidak sengaja berpapasan dengan Abah. Spontan Erkan pun mencium tangan Abah.
"Wah, udah balik ya?" Sapa Abah seraya mengusap punggung Erkan.
"Udah, Bah. Baru aja." Jawab Erkan tersenyum ramah.
"Ini mau kemana?" Tanya Abah penasaran.
"Mau ambil barang di mobil, Bah."
"Oh, ya udah atuh. Abah masuk duluan ya?"
Erkan mengangguk patuh. Lalu Abah pun bergegas masuk. Sedangkan Erkan berjalan ke mobil untuk mengambil barang-barang penting. Setelah itu ia pun kembali ke dalam rumah.
****
Seminggu kemudian....
Hari ini merupakan hari tersibuk bagi keluarga Lisa maupun Erkan karena acara resepsi akan digelar besok. Bahkan sanak keluarga Erkan sudah berkumpul di rumahnya. Termasuk Violla dan kedua temannya.
Saat ini Erkan sedang berdiri di depan rumahnya, melihat ke arah rumah Lisa yang sudah dipenuhi warga yang bantu-bantu. Bahkan janur kuning sudah menghiasi pagar rumah Lisa.
"Loh, ngapain kamu di sini, Er?" Tanya Bunda Erkan, adik dari Mama Dinar.
Erkan menoleh. "Cuma lagi mantau aja, Bun. Ternyata kalau di kampung itu lebih seru acaranya. Semua tetangga ikut kerja, gak kayak di kota. Semuanya serba catering."
__ADS_1
Bunda Diana pun tertawa renyah. "Beruntung kamu dapat orang kampung kan? Jadi bisa rasain gimana adat di sini. Jadi gak menoton adat kota. Terus kangen gak sama istri? Udah mau seminggu di pingit."
"Kangen lah, Bun. Sehari aja gak ketemu kangen. Apa lagi ini udah mau seminggu gak di kasih ketemu." Jawab Erkan jujur.
Ya, selama seminggu ini Erkan memang tidak diberi izin menemui istrinya. Katanya sih biar mesra pas habis pesta nanti. Walau pun Erkan sering menghubungi istrinya lewat video call. Akan tetapi tetap aja itu tidak bisa mengobati rasa rindunya. Bahkan Lisa pun sering merengek karena kangen. Tetapi mau gimana lagi, Erkan gak mungkin matahin adat istiadat di sini.
"Sabar, besok juga udah bisa peluk lagi. Oh iya, itu Elkan kok sering banget ke sana? Dari kemarin Bunda perhatiin bolak-balik aja ke sana ke mari. Auranya juga beda, kayak orang lagi kasmaran aja."
Erkan tersenyum. "Kan Bang Elkan jadi perantara keluarga, Bun. Biarin aja, kapan lagi Abang bisa berbaur gitu sama orang desa."
"Iya sih, Bunda pun pengen banget liburan di sini. Suasananya asri, tapi Ayah kamu tuh sibuk dan gak mau ditinggal."
"Minta cuti aja, Bun. Sesakali harus refreshing juga loh."
"Iya sih, tar deh Bunda ngomong sama Ayah."
"Iya, Bun."
Kembali ke Lisa. Saat ini ia tengah di kamar bersama ketiga sahabatnya. Ketiganya pun terlihat sibuk dengan tugas masing-masing. Yaitu memanjakan Lisa tentunya.
"Sa, gw mau nanya dong?" Bella pun duduk di sebelah Lisa.
"Nanya apa?" Lisa pun menatap Bella penasaran.
"Biasa, Sa. Dia lagi ngincar Abang ipar lo."
"Hah? Bang Elkan?"
Gadis itu pun tersenyum geli. "Gak gitu ceritanya, gw sama Abang ipar lo murni partner cuhat doang. Lo tahu kan gw butuh inspirasi dan referensi buat novel baru gw. Kebetulan kisah hidup Abang ipar lo cocok sama cerita gw."
"Hah? Jadi kalian teh udah sering komunikasi?"
Bella mengangguk. "Pas akad lo, dia sempat minta nomor gw. Ya gw kasih lah, abis dia ganteng banget. Cocok sama karakter cerita gw. Gak nyangka dia beneran hubungin gw dan cerita semua keluh kesahnya ke gw. Kita juga udah ketemu sih beberapa kali."
"Terus?" Lisa, Desi dan Mona pun menatap Bella penasaran.
Bella pun tersenyum kikuk. "Em... kayaknya gw mulai suka deh sama dia."
"Tuh kan." Kompak ketiganya.
"Udah gw tebak." Kata Desi.
"Bener dugaan gw kan?" Mona ikut menimpali.
Sedangkan Lisa masih setia menatap sahabatnya yang satu itu. "Bel, lo tahu kan Bang Elkan udah punya istri?"
Bella manggut-manggut. "Tapi pernikahan mereka emang gak sehat dari awal. Bang Elkan bilang mareka mau cerai."
"Apa?" Pekik ketiganya kompak. Sedangkan Bella cuma bisa menghela napas berat.
"Beneran lo, Bel? Bang Elkan mau cerai?" Tanya Lisa yang masih kaget.
Bella pun ngangguk lagi.
"Gak bisa gitu. Gimana kalau si nenek sihir itu ngejar suami gw lagi? Duh... bahaya ini mah."
Kali ini Lisa yang menjadi sorot perhatian ketiga sahabatnya.
"Maksud lo?" Tanya Bella bingung.
Lisa menghela napas berat. "Istri Bang Elkan itu mantan suami gw."
"Apa?" Teriak ketiganya kompak.
__ADS_1
Tbc...
Dah... di sini aja dulu... capek tangan ini ngetiknya. Otak juga mulai ruwet hehe...