SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Happily Evil After


__ADS_3

Acara tasyakuran kelima bayi kembar itu pun berlangsung dengan meriah. Rumah mewah itu didekorasi dengan tema doraemon, bahkan hampir semua benda di sana rata-rata berwarna biru. Dress codenya pun berwarna senada. Tentu saja semua itu seusai keinginan Lisa.


Suasana saat ini juga cukup riuh karena semua keluarga besar turut hadir di sana. Bahkan seluruh anggota perusahaan dan puluhan anak yatim pun ikut memeriahkan acara tersebut karena Erkan mengundang mereka tanpa terkecuali. Tidak heran jika kado untuk kelima putra dan putrinya itu sudah menggunung padahal acara baru setengah hari.


Setiap rangkaian acara pun berjalan dengan khidmat. Lalu ditutup dengan doa dan santunan anak yatim. Semuanya benar-benar berjalan dengan mulus tanpa kendala.


Para tamu yang penasaran pun langsung mendekati ayunan kelima bayi Erkan dan Lisa sambil memberikan pujian dan doa terbaik. Juga memberikan hadiah kecil pada kelima bayi mungil itu.


Kelima bayi itu pun kini sudah memiliki nama masing-masing. Yang diberi panggilan Jay, Joy, Jian, Jidan dan Jihan. Rayden, sebagai seorang Kakak pun merasa bangga karena memiliki lima adik yang begitu menggemaskan meski belum bisa membedakan keempatnya. Beruntung Jihan memakai bando, jadi Ray bisa tahu itu adik perempuannya. "Mama, kok mereka tidur terus sih?" Celetuknya.


Sontak semua ibu-ibu yang tengah berkumpul di dekat ayunan baby pun tertawa geli.


"Namanya juga bayi, sayang." Jawab Lisa mengusap rambut Rayden yang kemudian memilih duduk di samping sang Mamah.


"Ray kan pengen ajak adek ngomong. Ini mereka malah tidur semua." Keluh Rayden menatap kelima adiknya sedih.


"Sabar dong, Ray. Nanti juga bangun, mending temenin Rehan main." Ujar Violla.


"Enggak ah, Rehan bandel. Capek jagainnya." Celetuk Rayden tanpa dosa. Sontak yang lain pun tertawa mendengarnya.


"Ya udah, mending temenin Ciko sama Ciki aja gih."


"Sama aja, mereka juga bandel. Ray gak mau main bareng mereka. Mending di sini aja jagaian dedek."


"Dih, namanya juga mereka lagi aktif-aktifnya." Kesal Bella.


"Lagian kalian malah nyuruh Ray jagain anak. Terus kerja kalian apa?" Ketus Lisa.


"Gosip." Jawab Bella dan Violla bareng.


"Ish, gak abis-abis itu gosip." Kesal Lisa.


"Eleh, tar juga lo ikutan." Ledek Mona yang sedang mengajak anaknya bermain.


Lisa pun mesem. "Buat sekarang enggak dulu, punya boneka idup soalnya."


"Huh, berhubung jahitan lo belum kering aja makanya ngomong gitu."


"Tau aja, lo." Lisa terkekeh lucu.


"Mana bisa ratu sejagat ketinggalan gosip. Runtuh istana." Timpal Desi.


"Serah deh." Sahut Lisa memutar bola matanya jengah.


Tidak lama Devi dan Asep pun menghampiri mereka. Di mana keduanya masing-masing menggendong anak. Sontak semua orang pun memusatkan perhatian pada mereka. "Neng, Teteh ke kamar dulu ya? Ini si dedek ngerengek terus minta mimik."


"Terus Aa juga mau ikutan mimik?" Tanya Lisa terkekeh lucu.


"Ulah ngisin keun atuh, Neng (jangan malu-maluin dong, Neng)." Sahut A Asep memberikan tatapan tajam pada sang adik.


"Dih, padahal mah pengen." Ledek Violla.


"Diem jarry." Ketus Asep.


"Mulai deh, susah memang kalau tom and jarry bersatu mah. Rusak ini mah pestanya." Cibir Bella.

__ADS_1


"Ih... udah sana Aa gabung aja sama yang lain." Titah Lisa sadar jika pertemuan Asep dan Violla akan membuat kehebohan.


"Dih, siapa juga yang mau gabung sama kalian. Saya mah mau makan enak, ke sini cuma mau anter Ayang doang. Iya kan, Vin?" Sahut Asep mengecup pipi putranya. Anak kecil itu pun cuma manggut-manggut karena dirinya sibuk mengunyah.


"Udah, A. Hayuk anterin ke kamar. Kasian si dedek haus." Ajak Teh Devi sambil menggoyangkan tubuhnya supaya Alvina berhenti merengek.


"Hayuk." Asep pun segera membawa istrinya ke kamar. Sebelum putri mereka menangis kejer. Namun, sebelum itu Asep sempat menjulurkan lidahnya pada Violla.


"Eh! Ngeledek ya?" Kesal Violla mengacak pinggang. Sedangkan yang meledek berlalu begitu saja tanpa dosa. Yang lain pun cuma bisa menggeleng saat melihat hal itu.


"Gak ada abis-abisnya kalian berantem." Kata Mama Dinar tidak habis pikir dengan anak bungsunya itu.


"Abis dia ngeselin banget, Ma."


Mamah Endang yang mendengar itu tertawa kecil. "Si Asep mah emang jail, sama kayak Abahnya. Orang si Eneng aja dari orok dijailin terus."


"Bahkan sampe sekarang, Mah." Sambar Lisa disambut tawa sama yang lain.


"Mama, Ray pengen gendong adek Jihan." Rengek Rayden terus mendekati Bella yang masih menggendong si mungil Jihan.


"Gak boleh, adeknya masih kecil. Masih rawan." Sahut Bella.


"Mama." Adu Rayden menghampiri Lisa dengan mata berkaca-kaca.


"Ray, jangan ngelendot sama Mama. Mama masih sakit." Tegur Mama Dinar saat Rayden hendak bergelayut manja pada Lisa. Spontan Rayden pun membeku ditempatnya dengan pandangan sendu.


Lisa yang melihat itu merasa tak tega. Ia tersenyum begitu manis seraya meraih tangan Rayden. "Sabar ya? Dedeknya masih kecil, belum bisa digendong sembarangan. Memangnya Ray mau apa dedeknya pada sakit?"


Cepat-cepat Rayden menggeleng. "Ray gak mau dedek sakit, Mama."


Rayden pun mengangguk paham yang dibarengi dengan senyuman menawannya. Kemudian ikut duduk disebelah Lisa.


Lalu tidak berapa lama Chelyn pun tiba bersama sang kekasih dan putranya.


"Duh, maaf ya kami telat datang." Ucapnya memeluk Lisa singkat.


"Gak papa, Mbak. Acaranya sampe malem kok." Sahut Lisa. Chelyn pun tersenyum dan beranjak ke arah ayunan baby.


"Duh, masih pada bobok ya? Boleh kan gendong satu?" Chelyn memberikan tatapan memohon pada Lisa.


"Boleh kok, Mbak." Jawab Lisa memperbolehkan. Mendapat izin langsung, wanita cantik itu pun langsung menggendong salah satu dari mereka. Dan Jay lah yang terpilih.


"Mommy, mau lihat baby." Pinta si tampan Austin terus menarik gaun sang Mommy.


Bak Ayah yang sigap, calon suami Chelyn pun langsung menggendong Austin. Supaya anak itu lebih leluasa melihat bayi menggemaskan milik Lisa dan Erkan.


"Handsome." Ucap Austin seraya menoel pipi bayi mungil itu.


"Kamu mau punya adik juga gak?" Tanya Mona menggoda. Sontak Chelyn pun memberikan tatapan tajam pada mantan adik iparnya itu.


"Ya." Jawab Austin mengangguk. Sontak Mona pun tertawa.


"Tuh, udah di kasih kode. Percepat aja deh akadnya, biar babynya cepet hadir." Timpal Desi memberikan tatapan menggoda pada Chelyn.


"Saya sih siap aja," sahut dokter tampan itu ikut melirik calon istrinya itu.

__ADS_1


"Ck, semuanya butuh persiapan matang." Sahut Chelyn tersenyum ramah.


"Ish, persiapan apa lagi sih, Mbak? Lagian udah tahu kan cara goyang ngebor? Buktinya udah ada Autsin." Goda Desi terkekeh lucu.


"Ish, otak kalian memang rada-rada." Ledek Lisa mendengus kesal.


"Buk bos mah diem aja. Jangan iri karena belum bisa goyang ngebor lagi." Cibir Desi memberikan tatapan sinis.


"Dih." Ketus Lisa.


"Iya nih, iri aja Buk Bos." Timpal Mona.


"Buk Bos mah bukan iri. Cuma udah gak sabar pengen goyang ngebor lagi. Sayangnya coran belum kering." Kali ini Bella ikut meledek.


"Bodo." Ketus Lisa. Chelyn yang menyaksikan itu cuma bisa geleng-geleng. Meski mereka sudah menjadi emak-emak, tapi sikap mereka tak pernah berubah.


"Hush... kalian bahas apa sih? Masih banyak tamu juga." Tegur Mamah Endang.


"Ups... lupa ada orang tua di sini. Maaf ya Mamah-mamah." Ucap Desi pada Mamah Endang dan Mama Dinar dengan wajah tanpa dosa.


"Kalian ini."


Di waktu bersamaan, Erkan pun bergabung. "Kita foto dulu yuk? Selagi lengkap semua." Ajaknya.


"Hayuk." Sahut yang lain kompak.


"Tapi teh Devi masih nenenin Alvina di kamar, Mas."


"Panggilin aja sebentar. Lagi pas ini momennya." Titah Erkan.


"Biar gw aja yang panggil, Sa." Tawar Desi.


"Boleh deh." Sahut Lisa. Tanpa menunggu lagi Desi pun bergegas untuk memanggil Devi dan Asep.


Beberapa menit kemudian, keluarga besar pun sudah berkumpul semua dan mengambil posisi masing-masing. Erkan menggendong dua bayinya sekaligus. Sedangkan yang lainnya di gendong oleh Mama, Mamah dan Chelyn. Sang fotografer pun mulai mengatur posisi mereka supaya lebih sempurna.


"Siap!" Seru lelaki tampan itu memberikan kode.


"Siap!" Jawab mereka kompak. Sang fotografer memberikan jempol dan mulai berhitung.


"Satu... dua... tiga... cisss."


"Cissss." Sahut mereka kompak.


Cekrek!


Momen bahagia itu pun berhasil diabadikan. Tidak ada satu pun keluarga yang tertinggal. Semuanya ikut serta dan memancarkan kebahagian yang kekal. Terutama Erkan dan Lisa tentunya. Keduanya yang berdiri berdampingan pun saling memandang.


"I love you, Sayang." Bisik Erkan.


"I love you too, Mas." Balas Lisa tersenyum begitu menawan. Dan momen itu pun tanpa mereka ketahui diabadikan oleh sang fotografer dan diperhatikan oleh semua orang.


"Cieee...." sorak semua orang kompak. Sontak Lisa dan Erkan yang merasa terciduk pun cuma bisa tersenyum malu.


...\~The End\~...

__ADS_1


Ah... akhirnya aku bisa tamatin juga ini cerita. Maaf ya kelamaan hiatus. Tapi makasih nih kalian selalu setia menunggu kehadiran Erkan dan Lisa. Selalu mendukung cerita ini dari awal sampai akhir. Thank you so much teman-teman semua. Tanpa kalian cerita ini gak akan bisa sempurna. Jangan lupa ikutin terus karya2 aku yang lain ya.... jangan sampe ada yang ketinggalan. See you.... 🥰❤️


__ADS_2