
Erkan masuk ke kamar setelah urusan di luar selesai. "Yang, masih marah?" Tanya Erkan mendekati Lisa yang berbaring membelakanginya di ranjang. Dan tidak ada sahutan. Erkan menghela napas berat. "Mas itu cuma cemasin kondisi kamu, sayang. Kalau sakit lagi kayak kemaren gimana? Mas gak tega liatnya, sekarang sama dulu udah beda kondisinya."
Lisa masih saja diam.
"Kalau kamu masih marah, gak masalah. Mas akan terus perhatiin kamu, kamu itu tanggung jawab Mas yang paling besar, Sa." Erkan ikut berbaring, dipeluknya Lisa dari belakang. "Mas cuma takut kamu sakit, Sa."
Lisa menarik napas panjang. "Lisa teh gak marah, cuma kesel aja. Masak gak boleh ngapa-ngapain? Kan Lisa teh bosen, Mas."
"Mas cuma larang kamu buat kerja yang berat, Sa. Untuk yang lain Mas gak akan larang."
"Tadi juga kerjaannya gak berat."
Erkan terdiam. "Kamu tahu kenapa Mas bersikap gini?"
Lisa terdiam sejenak. Lalu ia pun berbalik menghadap Erkan. Ditatapnya mata suaminya lamat-lamat.
"Keyla juga dulu sama kayak kamu, semua kerjaan dipegang. Bahkan lagi hamil besar juga dia ngerjain semua pekerjaan rumah walaupun ada Bibik. Sampai akhirnya dia kepeleset di tangga dan pendarahan hebat. Dan nyawanya gak tertolong, Sa. Mas gak mau mengulang hal yang sama." Erkan mengecup kening Lisa begitu dalam.
Lisa terenyuh. Sebelumnya ia memang sudah pernah mendengar penyebab Mama Rayden itu meninggal dari Mama Dinar. Tapi rasanya sangat perih saat mendengar itu langsung dari Erkan.
"Dulu Mas mungkin kurang perhatian sama Keyla, sekarang Mas gak akan mengulang hal yang sama ke kamu, Sa. Mas akan terus perhatiin kamu, walau kamu marah sekali pun. Kalau bisa Mas bakal terus ada disebelah kamu. Mas cuma takut kamu juga pergi. Rasanya sakit banget walau cuma bayangin itu." Sambung Erkan dengan tatapan sayu.
Tangan Lisa bergerak mengusap pipi suaminya. "Maafin Lisa ya, Mas?"
Erkan tersenyum. "Mas tahu kamu mungkin bosan sama sikap posesif suamimu ini. Tapi Mas akan terus seperti ini sampai kamu ngerti. Sakit banget Sa ditinggal pas lagi sayang-sayangnya."
"Mas, maafin Lisa." Lisa memeluk Erkan dan mulai menangis. Membenamkan wajahnya di dada Erkan. "Lisa janji gak akan nakal lagi. Lisa janji, Mas."
Erkan mengecup pucuk kepala istrinya. "Mas percaya, sayang. Tolong jangan buat suami kamu ini cemas lagi."
Lisa mendongak. "Gak akan pernah." Dikecupnya bibir Erkan dengan lembut. "Mas bau asem ih, sana mandi dulu."
Erkan tertawa kecil. "Namanya juga abis kerja, sayang. Ya udah, Mas mau mandi dulu. Bentar lagi udah azan." Sebelum pergi Erkan kembali menghadiahi kecupan di kening Lisa. "Mas cinta banget sama kamu, Sa."
Lisa tersenyum. "Lisa juga, Mas. Beruntung banget Lisa teh punya suami kayak kamu. Lisa janji gak akan buat kamu kecewa. Beda lagi kalau itu takdir dari Allah. Lisa berdoa, semoga kita diberi umur panjang. Biar biasa sama-sama terus." Ia menghela napas panjang. Kemudian tersenyum.
Erkan menyecap bibir Lisa penuh kelembutan. Membuat si empu terbuai dan mulai terpejam. Namun, baru saja Lisa melayang. Erkan menyudahinya. Spontan Lisa pun melotot.
Erkan tertawa, ditoelnya hidung Lisa dengan gemas. "Kecewa ya? Nanti malam kita lanjut, ini mau magrib. Mas mandi dulu, sabar ya?" Setelah mengatakan itu Erkan pun beranjak dari tempat tidur. Meninggalkan Lisa yang masih terlihat kecewa.
"Ck, udah dibuat melayang, eh dihempas gitu aja. Nyebelin banget sih." Gerutunya dengan wajah ditekuk.
****
Malam harinya, semua keluarga besar tampak berkumpul di ruang keluarga. Melepaskan rasa penat sambil bercanda ria.
"Yey!" Seru Rayden saat mendengar kabar jika liburan kali ini akan mereka habiskan di kampung. "Ray nanti perginya sama Nenek Kakek aja ya? Soalnya Ray kangen banget sama Nenek." Pinta anak itu bergelayut manja di pangkuan Mamah.
"Boleh, apa yang enggak buat cucu Nenek ini huh? Nenek juga kangen pisan sama kamu," kata Mamah memberikan kecupan di pipi Rayden.
"Er, Mama mau ikut juga ah. Udah lama gak main ke sana. Boleh ya, Pa?" Pinta Mama antusias.
"Boleh, Papa juga mau ikut, hehe." Sahut Papa Zein yang berhasil membuat yang lain tertawa.
"Gini aja deh, kita pergi aja semua. Lagi libur juga. Rumah Erkan kan gede, cukup kayaknya buat nampung kita. Dulu aja pas nikahan cukup." Usul Elkan.
"Emang kamu gak ada jadwal, Mas?" Tanya Bella yang sedang menidurkan si kembar.
"Kebetulan minggu ini jadwal Mas kosong, Bel. Jadi sesekali kita liburan. Kamu juga asik di rumah terus kan sejak si kembar lahir." Jawab Elkan.
"Iya sih, boleh lah Mas. Seru juga di sana, sejuk-sejuk gimana gitu." Kata Bella.
"Wih... rame atuh kalau ikut semua. Tar kita bacakan lagi nya Mah? Kebetulan ikan Mas sama Lelenya mau panen. Bisa pas pisan gini nya?" Kata si Abah yang dijawab anggukkan oleh si Mamah.
"Itu namanya rezeki, Pak." Sahut Mana Dinar yang disambut tawa oleh yang lain.
"Jadi kapan nih mau berangkat?" Tanya Papa Zein.
"Rencana sih besok, Pa. Biar Ray puas main di sana." Jawab Erkan. Sedangkan Lisa sudah tertidur dan menjadikan kakinya sebagai bantal.
"Duh... istri kamu kayaknya kecapekan, Er. Kenapa gak suruh istirahat aja sih?" Tanya Mama menatap Lisa iba.
"Kayak baru kenal Lisa aja Mama, dia mana mau ketinggalan kalau udah ngumpul." Jawab Erkan.
"Ck, kalau lagi hamil itu emang bawaanya capek sama ngantuk terus. Apa lagi Lisa hamil anak kembar lima. Bella aja yang dua dulu tidur aja kerjanya," celetuk Mama.
__ADS_1
"Bener banget, Ma. Kalau bisa nih bantal dibawa ke mana-mana." Bella tertawa lucu.
Erkan memperhatikan wajah tenang istrinya. Diusapnya kepala Lisa dengan lembut.
"Bang, kira-kira aku diajak gak nih?" Tanya Violla.
"Terserah kamu, mau ikut enggak?" Sahut Erkan.
"Ikutlah, aku kan ke sini pengen liburan bareng keluarga, masak iya ditinggal."
"Gak capek emangnya?" Tanya Mama.
"Mana mungkin dia capek, Ma. Kalau masalah liburan mah nomor satu." Kata suami Violla, dr. Danar.
"Maklum lah, Mas. Aku kan bosen juga di rumah sakit terus. Untung aja ada Rehan jadi obat penat." Violla mencium pipi gembul putranya yang masih berusia satu tahun itu.
Danar tersenyum. "Minggu ini puas-puasin deh, minggu depan bertempur lagi."
"Iya, hehe."
"Duh... seneng pisan kalau keluarga ngumpul semua gini. Belum lagi nanti lima pandawa lahir ya? Makin rame aja keluarga kita," ujar Mamah Endang.
"Ini aja gak lengkap semua, Buk. Kalau lengkap ini rumah pasti heboh." Mama Dinar dan Mama Endang pun tertawa bersama.
"Bang, masih mual gak?" Tanya Violla pada Erkan.
"Masih, pagi yang parah. Siang sama malam mual kalau nyium bau aneh aja." Jawab Erkan apa adanya.
"Lucu pisan nya, nu hamil teh Lisa. Tapi nu ngidam na Erkan. Jadinya teh kompak gitu. Adil pokoknya mah." Kata Mamah Endang masih tidak habis pikir apa yang dialami menantunya itu.
"Biasa, Buk. Si Abang terlalu bucin sama anak Ibu. Makanya dia ikutan ngidam." Ledek Violla terkekeh lucu.
"Gak papah atuh, yang penting mah Erkan sama Lisa sehat-sehat terus."
"Aamiin." Jawab semuanya kompak.
Tidak lama Lisa pun terbangun. Matanya terbuka perlahan, pandangannya juga masih kabur. "Kok belum pada tidur sih?" Tanyanya dengan suara serak.
"Masih jam delapan, Sa. Kamu aja yang kecepetan tudirnya." Jawab Mama.
"Gw juga gitu pas hamil si kembar, Sa. Sampe Mas Elkan marahin aku terus karena pagi-pagi udah tidur. Dia gak tahu aja kalau udah ngantuk, mata rasanya kayak dilem." Ujar Bella.
"Bener banget, Bell. Gitu juga yang gw alamin sekarang. Oh iya, dulu bibir lo pecah-pecah gak? Gw pecah-pecah gini, liat tuh." Lisa menunjukkan bibirnya pada Bella.
"Enggak sih, panas dalem kali." Kata Bella.
"Mungkin juga."
"Biar lebih jelas konsul ke dokter dulu, Kak." Saran Violla. "Bisa jadi itu bawaan hamil juga. Yang aku tahu sih kalau hamil kembar harus sering konsul sama dokter. Karena resikonya lebih gede."
"Besok sebelum berangkat Abang bawa Lisa ke doker dulu." Ujar Erkan. Violla pun mengangguk.
"Tapi makan selera kan?" Tanya Violla pada Lisa.
"Alhamdulillah sih kalau makan mah selera banget, malah sering lapar sekarang."
"Wajar lah, orang nutrisinya harus dibagi enam."
Lisa tersenyum. "Cuma kadang lemes tiba-tiba, bahkan sampe pusing banget. Makanya gak bisa kemana-mana, tiduran aja kerjanya." Jelasnya.
"Hm... harus banyak istirahat Kak. Jangan maksa diri buat ngelakuin hal ekstrim. Takutnya bahaya buat kondisi Kakak. Soalnya kan jarang banget yang hamil lebih dari tiga. Di keluarga kita yang anaknya kembar cuma Kakak sama Kak Bella."
"Tuh dengerin, sayang."
Lisa mengangguk. "Iya, Mas. Lisa gak akan capek lagi. Mulai sekarang Lisa mau jadi ratu aja."
"Iya, tar kita bawa Bibik juga. Supaya ada yang bantu kamu."
Lisa pun cuma bisa pasrah, ia tidak mungkin menolak karena akan membuat Erkan kecewa. "Makasih, Mas."
"Sama-sama, sayang."
"Nenek, Ray mau bobok. Tapi Boboknya sama Nenek ya?" Rengek Rayden dengan mata yang sudah lima watt.
"Boleh, yuk ke kamar kalau udah ngantuk mah." Ajak Mamah Endang. "Mamah duluan nya? Kasian si kasep udah ngantuk."
__ADS_1
"Iya, Mah. Gak usah digendong, biarin aja Ray jalan. Udah gede juga." Kata Erkan.
"Ray mau digendong Nenek."
"Kamu itu berat, Ray. Jalan aja jangan manja." Tegas Erkan.
"Nenek." Rengek Ray memeluk Mamah dengan erat.
"Ck, udah gak papa, Er. Mamah masih sanggup gendong Ray mah. Dia kan enteng." Dengan sigap Mamah menggendong Rayden.
"Dih... udah mau punya adek juga masih manja. Kasian tar gak disayang Mama sama Papa lagi." Ledek Asep.
"Nenek! Uncle jelek jahat."
"Udah, gak usah diladenin Uncle jelek kamu itu. Yuk ke kamar." Mamah pun langsung membawa Rayden ke kamar.
"Ya ampun, panggilannya gak berubah ya?" Violla tertawa geli.
"Cih, jelek-jelek gini perkasa loh." Asep memainkan alisnya untuk menggoda Violla.
"Dih... bodo amat." Violla mendengus kecil. Spontan Asep pun tertawa.
"Dasar dokter judes, kasian pasien kalau dokternya kayak kamu mah. Untung bukan dokter anak, kalau enggak sawan mereka." Ledek Asep. Sejak awal mereka memang tidak pernah akur. Entah apa yang membuat keduanya selalu memanas kalau bertemu.
"Enak aja, aku itu terkenal dokter paling ramah tahu di rs. Emang situ, cowok jadi-jadian."
"Lah, kalau saya teh cowok jadi-jadian. Gak mungkin istri saya hamil dua kali."
Violla menggerakkan mulutnya seolah meledek Asep.
"Dosa kamu teh ledekin orang tua, minta maaf sekarang."
"Oh, sadar diri rupanya udah tua. Maaf ya orang tua." Violla menjulurkan lidahnya dan menyunggingkan senyuman meledek.
"Ya Allah, sabar-sabar." Kata Asep.
Yang lain cuma bisa menggelengkan kepala saat melihat itu.
"Udah pada punya anak juga kelakuan kayak masih anak sd. Lucu kalian," kata Papa Zein tertawa geli. "Jangan sampe salah satu anak-anak kalian jodoh lagi."
"Dih... jangan sampe. Gak iklhas punya besan model ginian," celetuk Violla. "Yang ada aku tua belum waktunya."
"Ya Allah, mudah-mudahan anak saya teh yang ini beneran perempuan. Terus jodohnya Rehan, aamiin." Asep tersenyum penuh kemenangan.
"Ya Allah, jauhin-jauhin. Sayang, kayaknya kalau Rehan udah gede. Kita sekolahin di luar negeri aja ya? Biar gak ketemu sama keturunan manusia kayak gini." Pinta Violla pada suaminya.
"Terserah kamu aja, tapi yang namanya jodoh mana bisa dijauhin." Sahut Danar.
"Ish... jadi kamu setuju gitu anak kita punya mertua kayak ginian?" Kesal Violla.
"Why not?"
"Ih... sejak kapan kamu jadi ngeselin gini, Mas?"
"Kok ngeselin? Ini perihal jodoh, sayang."
"Au ah, terserah kamu aja. Ngeselin deh, pokoknya aku gak setuju kalau dia jadi besan kita, titik gak pake koma."
"Ck, kenapa jadi pada ribut masalah jodoh anak-anak kalian sih? Lagian Rehan aja masih bocil, kenapa kalian udah sibuk." Protes Mama Dinar.
"Tau nih, kalau udah ketemu kayak tom and jarry. Musuhan mulu." Tutur Erkan.
"Dia tuh yang ngeselin, cari gara-gara terus." Ketus Violla dengan wajah masamnya. Sedangkan yang dibicarakan terlihat santai sambil senyum-senyum.
"Awas loh kemakan omongan sendiri, Dek." Kali ini Elkan ikut menimpali.
"Bodo, serah kalian aja. Pokoknya aku gak akan biarin Rehan ketemu anaknya A Asep. Bapaknya aja ngeselin, apa lagi anaknya."
"Anaknya kalem kok, soalnya nurun Emak dia, hehe."
"Sep, gak bosen-bosen kamu gangguin Vio? Kalau gak Vio, adek kamu yang kamu ganggu. Meni resep pisan gangguin anak orang." Tegur si Abah.
"Abis mereka mirip, Bah. Serasa punya adek kembar, sama-sama enak dikerjain, hehe."
"Huh dasar." Ledek Lisa dan Violla kompak.
__ADS_1
Tbc....