SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Dasar Pengganggu


__ADS_3

Erkan berdeham kecil. "Hanya mantan, lupakan saja."


Lisa mengacak pinggang. "Pantes aja dia teh lengket-lengket sama kamu, Mas. Masih punya perasaan rupanya. Ih... ngeselin. Jangan deket-deket sama dia pokoknya mah. Lisa teh gak iklas."


Erkan menatap Lisa lekat. "Udah, tidur aja. Katanya ngantuk tadi."


"Gak jadi ngantuk. Matanya langsung seger pas denger nenek sihir itu mantan kamu, Mas." Napas Lisa mulai tak beraturan. "Kamu masih cinta sama dia?"


Erkan mengerut bingung. "Kok nanya gitu?"


"Kan dia mantan kamu, Mas. Pasti masih ada perasaan pas ketemu. Apa lagi satu atap." Kesal Lisa.


"Memangnya mentang-mentang mantan harus masih cinta? Kan sekarang Mas udah punya kamu, Sa. Lagian selama ini Mas juga gak tinggal di sini."


Lisa menyebikkan bibirnya. "Besok kita pulang, Lisa teh gak suka Masnya deket-deket sama nenek sihir. Ngeselin ih."


Erkan tersenyum, kemudian menarik Lisa dalam dekapannya. "Gak perlu cemburu sama mantan, mantan itu cuma masa lalu. Mas udah lupain semuanya, sekarang kamu masa depan Mas, Sa. Jadi jangan mikir yang aneh-aneh."


Lisa memeluk Erkan dengan erat. "Pokoknya kalau ketemu nenek sihir jangan lirik-lirik ya? Lisa gak suka." Rengeknya.


"Iya, sayang." Erkan mengecup kening Lisa dengan lembut. "Udah sana tidur."


"Mas gak tidur?"


"Kayaknya Mas harus siapin kerjaan dulu. Besok udah ke kantor soalnya."


Lisa terdiam sejenak. "Lisa boleh ikut ke kantor gak?"


Erkan tidak langsung menjawab. "Boleh."


Lisa tersenyum bahagia. "Makasih, Mas. Makin cinta deh."


"Emang kamu cinta sama saya?" Tanya Erkan yang dibarengi senyuman hangat.


"Cintalah, kalau gak cinta mana mau Lisa teh nikah sama kamu, Mas." Lisa membenamkan wajahnya di dada Erkan. Menghirup aroma maskulin suaminya dalam-dalam.


Erkan bahagia mendengarnya. Dan kembali menghadiahi kecupan di pucuk kepala istrinya.


"Gak jadi tidur nih? Main bentar yuk." Ajak Erkan.


Lisa pun mendongak. "Emang bisa main sebentar?"


"Bisalah, yang penting masuk. Gak tahan, yuk sekarang." Ajak Erkan yang berhasil membuat pipi Lisa merona. Lalu gadis itu pun mengangguk.


Erkan pun membawa Lisa berbaring. Dan mulai melakukan pemanasan. Erkan mencium bibir istrinya dengan lembut. Yang lagi-lagi membuat Lisa melambung ke udara. Erkan selalu saja berhasil membuat Lisa melayang.


"Udah basah, kamu hayalin apa tadi?" Bisik Erkan tersenyum geli.


"Kamu." Jawab Lisa malu-malu.


"Nakal kamu ya?" Erkan pun langsung menindih Lisa dan kembali menyambar bibir istrinya.


"Gak perlu buka baju ya? Sebentar aja, aku harus kerja soalnya." Bisik Erkan yang langsung dijawab anggukkan oleh Lisa. Erkan pun tersenyum dan kembali melanjutkan kegiatannya.


"Mas." Lirih Lisa saat Erkan terus mempermainkan miliknya yang sudah basah di bawah sana. "Langsung aja, Mas. Gak tahan."


Erkan tersenyum penuh kemenangan. Tanpa banyak berpikir lagi Erkna menyatukan dirinya dengan sang istri. Keduanya pun mengerang bersamaan. Dan mulai bergerak liar di atas ranjang. Sampai suara pintu terbuka pun membuat keduanya terperanjat kaget.


"Mama, Papa!" Pekik Rayden yang sudah berdiri di ambang pintu. Sontak Erkan dan Lisa pun memisahkan diri dan merapikan pakaian masing-masing.


Rayden yang polos pun berlari menghampiri ranjang dan naik ke sana. Jantung Lisa berdegup kencang karena hampir kepergok mesum oleh Rayden.


"Mas, pintu gak kita kunci." Cicit Lisa malu setengah mati.


Erkan mendengus sebal. "'Mas belum lepas, Sa."


"Mama, Papa, Ray kangen." Rayden memeluk Lisa dengan erat. Lisa melirik suaminya yang masih terlihat kesal.


"Mama juga kangen, sayang. Kok belum bobok?" Lisa mengecup kening Rayden. Kemudian melirik suaminya lagi.


Erkan yang belum mendapat kepuasan pun kesal setengah mati dan langsung beranjak ke kamar mandi. Lisa menghela napas panjang, sejujurnya ia merasa bersalah pada Erkan. Namun, di sini tetap mereka yang bersalah karena tidak mengunci pintu. Rayden masih kecil mana tahu apa yang sedang orang tuanya lakukan.


"Ray kebangun. Mama, Ray mau tidur sama Mama ya?" Rengek Rayden tidak mau lepas dari Lisa.

__ADS_1


"Boleh, sayang. Kok kamu tahu Mama sama Papa udah pulang?"


"Lampu kamarnya udah hidup."


Duh... pintar juga dia. Kasian Mas Erkan. Kok bisa lupa kunci pintu sih?


"Mama, tiap malam Ray nunggu Mama sama Papa pulang. Ray kangen... banget sama Mama." Oceh Rayden.


"Iya, sayang. Tidur yuk." Lisa pun mengusap punggung Rayden. Dan anak itu pun mulai tertidur.


Setelah dirasa Rayden tidur nyenyak. Lisa pun menyusul suaminya ke kamar mandi. Di sana Erkan terlihat merendam diri di bathup. Dan kali ini Lisa tidak lupa mengunci pintu.


"Mas." Lisa pun ikut masuk ke dalam sana. Erkan membuka mata.


"Jangan marah sama Rayden, dia gak salah. Kita yang salah karena gak ngunci pintu." Lisa mengusap rahang suaminya.


Erkan memandangi wajah cantik istrinya. "Mas gak marah, cuma agak kesel aja."


Lisa tersenyum. "Lanjut di sini aja. Habis ini langsung tidur, gak boleh kerja lagi."


Erkan mengangguk. Dan keduanya pun kembali melanjutkan kegiatan panas yang sempat terpotong tadi. Tentu saja itu tidak sebentar, karena Erkan tidak pernah puas dengan istrinya itu.


****


Besok paginya Lisa bangun lebih awal, ia beranjak ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian kantor suaminya. Setelah itu Lisa pun memilih mandi lebih dulu.


Erkan pun terbangun saat mendengar suara gemercik air. Ia menggeliat kecil, dan seulas senyuman terbit di bibirnya saat melihat putra kecilnya masih tertidur pulas.


"Dasar pengganggu." Erkan pun mengecup pipi Rayden dan langsung bangkit dari tempat tidur.


Tidak lama Lisa pun keluar dengan bathrobe dan rambutnya yang basah. Erkan tersenyum lagi saat mengingat malam tadi, di mana ia kembali menyerang Lisa. Padahal saat itu mereka sudah mandi.


"Udah bangun, Mas? Mandi dulu gih, bentar lagi subuh." Lisa berjalan menuju ruang ganti.


Erkan menggeleng dan langsung masuk ke kamar mandi.


Seperti pagi sebelumnya, Lisa terlihat bahagia karena bisa menjadi makmum suaminya. Dikecupnya punggung tangan Erkan dengan lembut. Bukannya di lepas, Lisa malah menempelkan tangan suaminya di pipi. Tentu saja Erkan kaget.


"Tangan Mas anget. Enak." Lisa pun memejamkan matanya sambil menggesek-gesekkan tangan Erkan di pipinya.


"Biarin, habis enak."


"Sa, mau sampe kapan?" Tanya Erkan karena sang istri tak kunjung melepaskan tangannya.


"Bentar lagi, Mas. Jangan pelit-pelit sama istri." Jawab Lisa sekenanya.


"Nanggung kalau cuma tangan, Sa. Yang lain gak sekalian?"


Mendengar itu Lisa pun langsung menjauhkan wajahnya dari tangan Erkan. "Kamu mah taunya itu aja. Udah ah, Lisa teh mau siap-siap dulu. Kan mau ikut Mas ke kantor, hehe."


"Lah, gak jadi ngelendot dulu?"


"Enggak. Tar kamu mah minta lebih." Jawab Lisa yang langsung bangkit dan beranjak dari sana. Erkan yang melihat itu cuma bisa menggelengkan kepala.


Lisa pun sedikit memoles wajahnya dan berpakaian rapi karena ingin ikut ke kantor. Setelah puas mempercantik diri, kini saatnya menganggu si kecil Rayden.


"Duh, mana masih nyenyak lagi boboknya. Mau ditinggal gak tega." Gumamnya. Akhirnya Lisa pun duduk di ranjang.


"Ray, bangun yuk." Lisa pun menoel-noel hidung Rayden gemas. "Ikut Mama gak? Mama mau ikut Papa ke kantor."


Rayden sedikit menggeliat, tetapi anak itu tak kunjung bangun.


Lisa menghela napas berat. "Sayang, bangun yuk."


"Ini belum jam dia bangun, agak susah banguninnya." Kata Erkan yang baru keluar dari ruang ganti. Lelaki itu terlihat tampan dengan balutan kemeja hitam dan celana kain warna senada. Juga sebuah dasi ditangannya.


Lisa pun bangkit, lalu mengahmpiri suaminya. "Mau Lisa pasangin, Mas?" Tawarnya.


"Boleh." Erkan pun memberikan dasinya pada Lisa. Lisa menerimanya dan langsung memakaikan itu pada Erkan dengan sedikit berjinjit.


Erkan terus memandangi wajah istrinya dengan jarak yang begitu dekat. Dan yang menjadi pusat perhatian Erkan adalah bibir istrinya yang terlihat menggoda. Erkan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Lisa.


"Udah." Kata Lisa seraya merapikan kemeja dan rambut suaminya. "Ganteng."

__ADS_1


"Kamu juga cantik." Puji Erkan masih setia memandangi wajah cantik Lisa.


Lisa mengalungkan tangannya di leher Erkan. Dan sedikit memajukan bibirnya. "Lisa pengen kerja. Boleh gak?"


Alis Erkan terangkat sebelah. "Kalau kamu kerja, siapa yang urus Mas huh?" Erkan menoel hidung istrinya gemas.


"Lisa teh pengen rasain aja gimana dunia kerja. Pas magang kurang puas karena cuma tiga bulan."


"Gak usah kerja, di rumah aja. Lagian kalau udah pindah rumah, kasian Rayden sendiri."


Lisa tampak berpikir. Ia hampir tidak memikirkan itu.


"Lagian buat apa lagi kamu kerja, sayang? Apa uang Mas gak cukup?"


"Bukan gitu, Lisa teh pengen juga bantu Abah. Kayak yang lain itu bisa kasih orang tua uang. Setidaknya ngurangin beban Abah. Walaupun Abah gak minta, tapi Lisa teh pengen aja jadi anak berguna."


Erkan tersenyum. "Ya udah, nanti Mas cariin posisi yang pas buat kamu di kantor."


"Beneran?" Lisa terlihat antusias.


"Iya, tapi Mas gak janji."


Lisa mengangguk senang. "Makasih, Mas. Love you."


Erkan mengecup bibir istrinya gemas. "Tugas kamu masih belum selesai."


"Tugas?"


"Iya, itu...." Erkan mengerlingkan matanya ke arah Rayden yang masih tidur pulas. Lalu keduanya pun tertawa bersamaan.


Tbc....


Part bonus buat kalian semua... kalau gak cocok dicocok-cocokin aja ya. Hehe



...Lisa dan Erkan...



...Si kasep Rayden...



...Elkan...



...Zia...



...A' Asep...



...Teh Devi...



...Violla...



...Bella...



...Desi...



...Mona...

__ADS_1


Jangan protes ya... kalau gak suka bayangin aja seuai imajinasi kalian... love you all


__ADS_2