SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)

SIANIDA (Siap Nikah Sama Duda)
Bayi Kolot


__ADS_3

Keesokan hari. Erkan, Lisa dan Rayden terlihat menikmati kebersamaanya di ruang keluarga. Menonton serial anak-anak yang menjadi favorit Rayden. Lisa terlihat bergelayut manja di pelukan suaminya. Sedangkan Rayden berbaring di depan mereka sambil ngemil.


Karena merasa bosan, Rayden pun mulai merengek sambil bergelayut manja di kaki Lisa. "Mama, Papa, jalan-jalan yuk. Ray bosen di rumah terus."


"Emang mau jalan-jalan ke mana sih?" Tanya Erkan mengalihkan perhatiannya pada sang anak.


"Ke mana aja, Pa. Asal jangan di rumah. Ray bosen." Sahut Rayden tiduran di kaki Erkan.


"Tapi Papa lagi pengen di rumah, gimana dong?" Canda Erkan yang ingin menggoda putranya.


"Yah... Papa. Padahal ini kan masih pagi buat jalan-jalan. Ayolah, Pa, Ma." Rengek Rayden.


"Sayang, Mama itu gak boleh capek. Kamu lupa ya di perut Mama ada adek kamu huh?" Tanya Erkan seraya mengusap perut Lisa.


"Mas, kayaknya gak papa kalau kita jalan-jalan bentar. Kasian juga Ray." Bisik Lisa.


"Enggak, sayang. Kamu itu gak boleh terlalu capek. Mas gak mau kamu kenapa-napa nantinya." Cemas Erkan.


Duh... kayaknya Mas Erkan makin posesif aja deh pas tahu aku hamil.


"Mama, Papa, kalau gitu kita di rumah aja deh. Ray juga gak mau Mama kenapa-napa." Rayden merubah posisinya jadi duduk. Kemudia diusapnya perut Lisa dengan lembut. "Adek, jangan nakal ya di dalam. Kasian Mama kalau adek nakal. Nanti kalau adek udah keluar, kita main sama-sama ya?"


Lisa dan Erkan pun saling melempar senyuman. Kemudian ditatapnya Rayden dengan penuh cinta.


"Iya, Abang. Adek baik-baik kok di dalam." Sahut Lisa menirukan suara anak kecil. Rayden pun menatap Lisa.


"Mama, emangnya adek bisa napas ya di dalam? Kan perut Mama kecil?" Tanyanya dengan polos.


"Bisa dong, sayang. Sekarang kan adeknya masih kecil-kecil. Nanti kalau udah besar, perut Mama juga ikut besar." Jawab Lisa ikut mengusap perutnya sendiri.


"Mama gendut dong kalau gitu. Gak papa deh, walaupun Mama gendut, Ray tetep sayang kok." Rayden memeluk Lisa dengan erat.


"Eh, jangan peluk-peluk Mama. Tar sesak napas. Awas sana, mending nonton lagi aja." Erkan berusaha menjauhkan Rayden dari Lisa.


"Mas." Lisa memperingati.


"Mas gak rela, dada kamu kesentuh dia." Bisik Erkan yang berhasil dapat pelototan dari Lisa.


"Ray anak kecil loh, Mas. Kamu mah cemburuan pisan sama anak sendiri." Protes Lisa.


Erkan menarik napas panjang. "Bukan cemburu, tapi gak rela aja." Diliriknya Rayden yang masih setia memeluk Lisa. Bahkan kepala Rayden berada di antara dada istrinya.


Duh... kesentuh deh punyaku. Si Ray juga enak banget nyari kesempatan. Gimana ya cara misahinnya? Erkan terlihat berpikir keras. Sampai sebuah ide pun muncul.


"Ray, tumben gak nyemil es krim? Lupa ya?" Tanya Erkan. Mendengar itu Rayden langsung duduk tegak.


Yes, berhasil.


"Em... nanti aja deh, Pa. Masih mau peluk Mama soalnya." Sahut Rayden kembali memeluk Lisa. Tentu saja itu membuat Erkan kecewa.


Yah... makin ngedusel aja tu anak.


"Mending sekarang aja gih. Sayang loh es krimnya dianggurin." Bujuk Erkan. Spontan Lisa pun meliriknya. Erkan nyengir-nyengir tak jelas.


"Ada-ada aja kamu, Mas." Lisa menggelengkan kepala.


"Lagi usaha, sayang."


"Hish... udah tua tapi akal masih kayak orok."


"Kan aku orok gede kamu, Yang. Tiap malam aja aku mimik terus, hehe."


"Mas, ih... ada Ray loh." Geram Lisa tidak habis pikir dengan tingkah suaminya itu.


"Aman, dia mah masih polos. Gak ngerti apa-apa." Bisik Erkan dengan tangan yang sudah menyelusup ke punggung Lisa.


"Mulai deh, mending kamu buatin aku apa kek, Mas. Lagi pengen nyemil. Dari pada ganggu gini, lupa ya kita lagi quality time?"


"Emang kamu mau makan apa huh?" Erkan mengendus leher Lisa.


"Lagi pengen puding, Mas. Tapi kamu yang buat ya? Pengen banget, gak boong."


"Ck, kamu lupa Mas gak bisa masak? Boro-boro puding, masak telor aja gosong."


"Kan belum dicoba, mau ya? Kayaknya enak kalau kamu yang buat. Kan bisa liat di youtube caranya."


Erkan berpikir sejenak. "Terus kalau nanti hasilnya gagal gimana?"


"Belum dicoba juga."


"Iya deh, Mas coba buat. Ambil hp dulu di kamar." Erkan bangun dari duduknya dengan malas. Lisa yang melihat itu tersenyum geli.


"Hihi... sesekali repotin suami gak masalah kali yah?" Gumamnya.

__ADS_1


"Mama ngomong apa?" Tanya Rayden mendongak.


"Eh, enggak kok. Mama cuma bilang kalau kamu itu manjanya gak ketulungan. Tapi Mama tetep sayang kok." Lisa mengecup kening Rayden dengan mesra.


"Ray juga sayangggg banget sama Mama. Ray janji, kalau Ray udah besar nanti. Ray bakal jadi orang sukses, terus Mama sama Papa Ray bawa jalan-jalan keliling dunia deh."


Lisa tertawa kecil. "Aamiin... Mama doakan kamu jadi anak sukses ya? Bisa banggain orang tua dan berguna untuk banyak orang."


Rayden mengangguk. Lalu tiba-tiba Lisa teringat suaminya yang tak kunjung kembali.


Lah, ke mana itu Mas Erkan? Lama banget ambil hp. Ketiduran kali ya?


Tidak lama Erkan pun muncul. "Yang, Mas ke dapur dulu ya?"


Lisa tersenyum yang diiringi anggukan kecil. "Bisa kan, Mas?"


"Buat kamu apa yang gak bisa sih?" Erkan tersenyum penuh percaya diri. "Bahannya lengkap kan?"


"Lengkap, Mas. Ada di kabinet."


"Oke." Erkan pun langsung bergerak menuju dapur.


Lisa tersenyum geli. "Kira-kira Mas Erkan bisa gak ya?" Gumamnya. "Biarin aja dulu ah, sebentar lagi baru intip."


Di dapur, Erkan mulai kebingungan mencari bahan-bahannya. "Waduh, ini yang mana sih. Ini kali ya? Ada gambar pudingnya, kayaknya iya nih."


Erkan mengambil satu bungkus powder puding. Lalu membaca cara membuatnya. Namun, tiba-tiba saja ia marasa ada aroma aneh menyeruak masuk dalam hidung dan menimbulan rasa mual. "Bau apa ini?" Cepa-cepat Erkan menutup hidungnya.


"Loh, Tuan sedang apa?" Tanya Bik Inah yang tiba-tiba muncul. Sontak Erkan pun menoleh dengan hidung masih ditutup.


"Ini, Lisa pengen puding katanya Bik. Pengennya dibuatin sama saya. Tapi kok ada bau gak enak, apa sampahnya belum dibuang, Bik?" Tanya Erkan sambil melihat sekeliling dapur.


"Gak ada sampah kok, Tuan. Udah saya buang tadi subuh." Jawab Bik Inah jujur. "Biar bibik aja yang buat kalau enggak, Tuan."


"Eh, gak usah, Bik. Tar Lisa ngambek, soalnya dia pengen saya yang buatin."


"Duh, lagi ngidam ya si Nyonya?" Tanya Bibik. "Pake celemek atuh, Tuan. Biar bajunya gak kotor."


"Iya, Bik. Tapi ini aroma dapur gak enak banget." Keluh Erkan seraya mengambil celemek dan memakainya dengan cepat.


"Perasaan Bibik gak nyium bau apa-apa, Tuan. Soalnya udah bibik pel juga tadi." Kata Bibik ikut mengendus aroma yang Erkan maksud. Tapi tak menemukannya. "Jangan bilang Tuan ikutan ngidam juga ya? Duh... romantisnya."


Erkan menutup setengah wajahnya dengan kaos yang ia kenakan. Lalu mulai menghidupnya cara memasak puding di youtube.


"Kok cepet banget sih?" Gerutu Erkan saat tutorial yang dilihatnya terlalu cepat. Berulang kali ia memutar ulang.


Duh... gemesin banget si Tuan. Pikir Bibik.


Tidak lama Lisa dan Rayden pun muncul. Bibik hendak menyapanya, tetapi Lisa memberikan kode supaya Bibik diam. Dan kini mereka pun menonton Erkan yang sedang asik sendiri.


"Gulanya banyak banget dia pake, gak takut diabetes apa? Aku kurangin aja deh, gak bagus juga kebanyakan gula buat bumil." Gumam Erkan yang masih dapat mereka dengar.


Lisa tersenyum geli, Erkan benar-benar lucu apa lagi celemek yang dipakainya kekecilan.


"Ck, ternyata susah juga masak. Padahal cuma ginian. Mendingan beli aja, gak perlu repot, tinggal makan." Gerutu Erkan. "Bik, capek ya masak tiap hari?"


Bibik terkejut mendengar pertanyaan Tuannya itu. "Lumayan sih, Tuan."


"Kasian banget Bibik, bulan depan aku naikin gaji deh. Alhamdulillah tahun ini performa perusahaan naik terus." Ujar Erkan masih belum sadar istri dan anaknya ada di sana sedang menonton dirinya.


"Wah... Alhamdulillah seneng Bibik dengernya. Buln depan tinggal dua hari lagi loh, Tuan. Beneran nih naik gaji?" Tanya Bibik melirik Lisa. Spontan Lisa mengacungkan jempol.


"Iya, saya gak pernah ingkar janji. Dengar-dengar Bibik lagi buat rumah ya di sana? Udah rampung berapa persen?" Tanya Erkan lagi.


"Baru naik bata, Tuan. Alhamdulillah lah dikit-dikit rumah Bibik di kampung kerehab."


Erkan mengangguk. "Tar kalau kurang dana bilang aja, jangan sampe berhenti di tengah jalan."


"Siap, Tuan."


Lagi-lagi Erkan mengangguk dan fokus lagi mengaduk adonan. "Perasaan gak panas-panas ya?"


Bibik tertawa kecil. "Gimana mau panas, Tuan. Orang kompornya belum dihidupin."


"Loh, iya? Ya ampun, lupa saya, Bik." Kaget Erkan yang berhasil membuat Lisa tak sanggup menahan tawanya. Spontan Ekan pun menoleh. "Loh, kok kalian di sini?"


Lisa masih tertawa geli. "Aduh... lucu banget kamu, Mas."


Erkan pun nyengir. "Maklum, udah lama gak main di dapur."


Lisa menghampiri suaminya. Lalu menghidupkan kompor. "Kalau kompornya gak hidup gimana mau masak, Mas? Kamu mah bikin sakit perut aja."


Lisa mengambil alih pekerjaan suaminya. Ia tahu sampe lebaran monyet pun pudingnya tidak akan jadi jika Erkan yang ngerjain.

__ADS_1


"Ya maaf, namanya juga lagi usaha. Bukannya di kasih penghargaan kek." Erkan memeluk Lisa dari belakang. Bibik yang melihat itu langsung pergi dari sana. Sedangkan Rayden cuma bisa menonton kemesraan orang tuanya sambil makan apel.


"Penghargaan apaan? Kerjanya juga belum, Mas. Ujung-ujungnya Lisa juga yang turun tangan. Ck, itu tangan jangan macem-macem, Mas." Tegur Lisa saat tangan Erkan malah menyelusup ke balik kaosnya.


Erkan tertawa kecil. "Curi-curi dikit kan gak papa, Yang. Siapa suruh gak pake bra."


"Ada Ray di belakang." Spontan Erkan menoleh. Benar saja, Rayden sedang memperhatikannya sambil terus mengunyah.


"Papa jangan peluk Mama terus. Kasian Mama gak bisa gerak." Tegurnya. Lisa yang mendengar itu tertawa geli.


"Tuh, anak kamu aja ngerti."


"Ck, sana ke kamar. Ganggu aja. Mending kamu belajar, besok masih ujian kan?"


Rayden mengangguk. "Tapi Ray mau di sini aja, temenin Papa sama Mama."


"Ck, gak perlu. Mama sama Papa mau jenguk adek. Sana ke kamar."


"Mas... kok ngomong gitu? Kalau Ray nanya macem-macem gimana? Mulut kamu ih... pengen dicabein ya?" Gerutu Lisa agak berbisik.


"Gak papa, dia mana ngerti."


"Emang adeknya sakit apa? Gimana cara Papa jenguknya? Kan adek di dalam perut Mama." Tanya Rayden.


"Tuh kan apa Lisa bilang, Mas." Kesal Lisa. Sontak Erkan pun tertawa.


"Tar kalau kamu udah gede, pasti tahu kok cara jenguknya gimana." Jawab Erkan sekenanya.


"Mas!" Geram Lisa.


"Ray kan udah besar, Papa. Ray boleh jenguk adek juga kan?"


"Eh? Mana boleh, cuma Papa yang boleh jenguk adek-adek kamu. Kamu gak perlu ikutan, tunggu aja sampe adeknya keluar. Enak aja mau ikutan jenguk." Protes Erkan.


"Mas, kamu mah anak kecil malah diladenin. Lagian mana ngerti dia. Ih... dasar tua keladi." Lisa pun mematikan kompor, kemudian berbalik. "Sayang, kamu tunggu di kamar aja ya? Nanti Mama panggil kalau pudingnya udah siap."


Rayden pun mengangguk patuh. Lalu anak itu pun mengambil susu kotak dalam kulkas. Setelah itu beranjak pergi.


Erkan bernapas lega. "Syukur deh dia pergi. Yuk lanjut."


"Lanjut naon huh?" Ketus Lisa memelototi suaminya.


"Jenguk-jengukan, hehe."


"Hish... punya suami kok mesumnya gak ketulungan sih." Ketus Lisa seraya menuangkan puding tadi ke dalam wadah.


"Kalau suami kamu gak mesum, gimana ceritanya di perut kamu ada lima pandawa. Lagian Mas yakin semua suami pasti mesum sama istrinya. Apa lagi istrinya cantik kayak kamu. Siapa yang bisa nahan, Yang? Pengennya kelonan terus." Ujar Erkan panjang lebar.


"Gak usah gombal."


"Kok gombal sih? Mas ngomong fakta loh. Mana ada suami yang gak mesum pas lagi sama istrinya. Tanya aja sendiri sama bestie-bestie kamu. Pasti suaminya mesum semua kalau lagi berduaan."


"Gak ada kerjaan banget nanya-nanya gitu." Jawab Lisa menaruh puding di atas meja. "Udah, biarin dia keras dulu."


"Kirain bisa langsung makan?"


"Bisa kok, kamu seruput aja kayak kopi." Seloroh Lisa.


"Bisa aja kamu, Yang. Yuk atuh lanjut," ajak Erkan tersenyum penuh arti.


"Yuk." Sahut Lisa yang berhasil membuat Erkan berbinar.


"Beneran mau lanjut nih?"


"Iya, lanjut nonton kan? Hayuk atuh," ajak Lisa yang langsung meninggalkan Erkan.


"Yang, bukan itu atuh. Lanjut yang lain, masak gak paham sih?" Erkan pun mengekori istrinya dengan wajah ditekuk.


Lisa tersenyum geli karena berhasil mengerjai suaminya. "Kan tadi kita lagi nonton, Mas. Kamu minta lanjut, ya udah hayuk lanjut."


Lisa duduk kembali di depan televisi.


"Ck, yang lain atuh, sayang. Selagi Mas libur nih. Besok Mas harus ke luar kota, paling bisa pulang tengah malem." Erkan duduk di depan Lisa dengan wajah memelas.


"Masih ada besok kan?"


"Ck, itu beda lagi dong. Yuk, di kamar aja biar gak keganggu." Erkan tersenyum penuh harap. "Mau ya? Mau dong, sayang." Rengeknya seperti anak kecil minta susu.


"Ck, kayak anak kecil ih. Makin ke sini kamu kayak bayi kolot tahu gak? Ya udah hayuk, tapi jangan lama-lama."


Seketika wajah Erkan bercahaya. "Yes! Iya, gak lama kok. Paling juga sampi siang."


"Mas! Itu mah sama aja."

__ADS_1


Erkan tertawa puas. Lalu tanpa menunggu lagi ia langsung menggendong Lisa ke kamar.


__ADS_2